
Chapter 29
Kedua sahabat yang menghabiskan malam panjang setelah wisuda dan dengan pertama kali nya mereka merasakan yang namanya minuman beracun alias alkohol mereka berjanji ini adalah yang pertama dan yang terakhir mereka menyentuh minuman laknat itu..
" aduh kepalaku sakit " gumam Jesi lirih sambil memegang kepalanya yang terasa sakit..
setelah mengumpulkan nyawanya sejenak Jesi turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi berendam mungkin lebih baik..
selama setengah jam Jesi baru keluar dari kamar mandi Jesi melirik ke arah sahabatnya dia menggeleng gelengkan kepalanya melihat gimana gaya tidur sahabatnya lalu Jesi keluar dari kamar menuju dapur dia ingin membuat sup pereda pegar biar dirinya dan Raisa bisa beraktivitas seperti biasa walaupun sekarang masih menyandang pengangguran..
setelah selesai Jesi berjalan menuju kamar dia ingin membangunkan Raisa karena ini sudah siang..
" Sa bangun dah siang " ucap Jesi sambil menggoyangkan badan sahabatnya..
" lima menit lagi ya kepala aku masih berat " gumam Raisa
" ini dah siang mandi gih aku dah buatin sup buat kita " ucap Jesi
" iya-iya " ucap Raisa sambil duduk mengumpulkan nyawanya..
Jesi menatap sahabatnya dengan tatapan dingin Raisa sadar kalo sahabatnya sudah mode galaknya dia pun berdiri dan berjalan menuju kamar mandi..
Jesi pun membereskan tempat tidur yang sangat berantakan Jesi mendengar suara gemicrik air pertanda Raisa sudah mulai mandi..
" aku tunggu di mini bar jangan lama-lama " teriak Jesi yang di tanggapi deheman oleh Raisa dari dalam..
Jesi pun keluar dari kamar Raisa tidak lupa dia menyambar ponselnya ternyata mati pantes smartphone nya sepi Jesi sempat berfikir apa Dave mencarinya saat dirinya tak pulang Jesi pun kembali ke kamar Raisa untuk mengambil chargers..
saat Jesi melamun Raisa sudah duduk di samping Jesi tanpa mengganggu lamunan Jesi sampai pertanyaannya membuyarkan lamunan Jesi..
" lamunin apa sampai gak sadar aku dah duduk disini " ucap Raisa
" gak lamunin apa-apa yuk kita makan aku dah lapar " ucap Jesi
mereka pun makan dengan lahap seperti orang yang tak makan berhari hari..
" habis ini kita mau kemana kita masih pengangguran " tanya Raisa
" entahlah " ucap Jesi singkat
" gimana kalo kita shopping dah lama kita gak habiskan uang buat belanja " ucap Raisa
" boleh tapi aku ganti baju dulu ya di apartment " ucap Jesi
" oh iya ngomong-ngomong kamu gak di cariin sama Dave " tanya Raisa
" gak tau soalnya smartphone aku mati tuh lagi di charges " ucap Jesi sambil menunjuk smartphone nya dengan dagu Raisa hanya mengangguk kan kepalanya..
mereka pun selesai dengan makan mereka setelah semua rapi Jesi pun keluar dari apartment Raisa menuju apartment miliknya setelah menekan password Jesi pun masuk kedalam suasana sepi saat dirinya masuk ada rasa kangen dengan suasana seperti dulu..
Jesi pun mengganti pakaiannya dengan pakaian yang dulu dia pakai semenjak tinggal dengan Dave koleksi pakaian maupun sepatu dan aksesoris Jesi selalu bertambah setiap minggunya sampai dia bingung mau pakai yang mana setelah selesai Jesi pun keluar dari apartment nya dan disana sudah ada sahabatnya menunggu..
" dah selesai ini smartphone kamu dan tas kamu kita berangkat sekarang " ucap Raisa sambil memberikan barang-barang Jesi
" thanks " ucap Jesi
mereka pun berjalan menuju lift Jesi menghidupkan smartphone nya banyak sekali pesan dan panggilan dari Dave Jesi yang menerima banyak panggilan menjadi sangat berasalah karena semalam dia lupa untuk memberi tahukan Dave kalo dirinya tidak pulang Jesi pun memasukan smartphone nya kedalam tasnya tanpa membalas pesan Dave atau menghubunginya balik..
setelah sampai di parkiran Jesi dan Raisa yang ingin masuk kedalam mobil mereka mengurungkan karena ada seseorang yang memanggil mereka yang tak lain adalah Jino Jesi dan Raisa yang namanya di panggil membalikan badanya..
" Ana.. Raisa kalian mau kemana " tanya Jino
" ada apa " tanya Raisa dingin semenjak kejadian yang menimpa sahabatnya karena ulah Jino sifat Raisa menjadi dingin seperti Jesi kalo berhadapan dengan Jino sedangkan Jesi hanya memperlihatkan wajah datarnya..
" aku kan cuma bertanya kalo kalian gak keberatan aku mau ikut soalnya disini aku gak punya teman " ucap Jino
" emang pantes kamu gak punya teman kamu orang jahat apalagi buat sahabatku " ucap Raisa ketus sambil melirik Jesi Jino mengikuti lirikan Raisa wajahnya jadi sendu menatap Jesi..
Jesi yang mendapat tatapan dari sahabatnya dan Jino hanya memutar matanya malas bisa tidak dia tenang sedikit...
" baiklah kamu boleh ikut " ucap Jesi dingin
" terima kasih daripada pakai mobil Raisa mending kalian ikut mobilku " ucap Jino semangat
" baiklah lumayan ngirit bensin " ucap Raisa
Jesi yang mendengar penuturan sahabatnya hanya menghela nafas panjang sahabatnya perhitungan banget..
mereka pun pergi menuju mobil Jino tujuan mereka menuju mall terbesar di kota suasana di dalam mobil sunyi hanya suara mesin yang terdengar Raisa yang duduk di samping pengemudi sedangkan Jesi duduk di belakang dan Jino tentu saja yang mengemudi..
mereka pun sampai di mall tersebut dan keluar dari mobil dan masuk ke dalam mereka bertiga seperti sahabatan yang sudah lama banyak yang melirik Jino karena posisi Jino ada di tengah anatara Jesi dan Raisa pemandangan yang langka..
" kita mau kemana dulu Jes " tanya Raisa
" terserah " ucap Jesi singkat
" gimana kalo kalian temenin aku beli baju dulu bantuin milih gimana " ucap Jino
Jesi dan Raisa sejenak terdiam " boleh lah " ucap mereka berdua..
mereka bertiga pun berjalan ke toko perlengkapan laki-laki..
" kamu mau beli apa " tanya Raisa ke Jino
" beli baju dulu deh soalnya stok baju aku disini sedikit " ucap Jino
mereka bertiga pun berpencar berkeliling mencari pakaian yang cocok di kenakan oleh Jino..
" ini pilihanku " ucap Raisa
" banyak banget " ucap Jino
" cobain dulu biar kita nilai cocok apa enggak " ucap Raisa yang disetujui oleh Jesi..
Jino mau tidak mau masuk ke ruang ganti baju demi baju dia coba dan di perlihatkan ke Raisa dan Jesi..
" kalo yang ini gimana " tanya Jino
" bagus sih tapi kayanya agak kekecilan ya gak Jes " tanya Raisa yang ditanggapi anggukan oleh Jesi
" udah ah cape aku sudah banyak baju yang aku coba " ucap Jino
" banyak ngeluh banget " ucap Raisa ketus
Jino pun kembali ke ruang ganti dan Jesi bangkit dari duduknya dan melangkah menuju deretan kameja dan kaos oblong dia mengambil beberapa pakaian itu menurut dia ukurannya cukup buat Jino Jesi pun melangkah ke ruang ganti dan mengetuk pintu keluar lah Jino dengan bertelanjang dada Jesi yang melihat itu hanya menatap Jino dengan tatapan datar..
" ini coba cepetan jangan pake lama " ucap Jesi dingin
" thanks Ana " ucap Jino sambil tersenyum
Jesi pun berjalan kembali ke tempat duduk yang disana sahabatnya yang lagi sibuk dengan smartphone nya..
" gak apa-apa cuma ngecek ajh soalnya aku sudah masukin lamaran ke beberapa rumah sakit " ucap Raisa
" terus gimana ada tanggapan " tanya Jesi
" belum " ucap Raisa lesu
" sabar ya " ucap Jesi sambil menepuk pelan punggung sahabatnya..
" kamu sendiri apa ada kabar tentang beasiswa yang kamu ajuin " tanya Raisa
" belum juga tapi aku mau ngajuin daftar umum ajh " ucap Jesi
" apa Dave tau " tanya Raisa yang ditanggapi gelengan oleh Jesi
Jesi dan Raisa yang sedang serius membahas tentang masa depan yang mereka inginkan harus terhenti saat Jino sudah berdiri dengan stelan baju yang sangat modis terlihat wajah Oriental nya yang menambah ketampanannya..
" wah keren kalo yang ini " ucap Raisa
" benarkah " tanya Jino semuringah
" bener tapi perasaan aku tadi gak ambil pakaian ini deh " ucap Raisa heran
" emang ini bukan pakaian yang kamu pilih tapi pakaian yang Jesi pilih " ucap Jino sambil tersenyum
" iya deh yang tau " ucap Raisa menyindir Jesi
" udah jangan bahas.. udah selesai " tanya Jesi sambil melihat ke arah Jino yang ditanggapi anggukan oleh Jino..
setelah selesai membantu Jino memilih baju sekarang giliran Raisa yang ingin memanjakan matanya..
mereka bertiga pun masuk ke pusat perlengkapan perempuan Jino sedikit risih karena ditatap oleh perempuan-perempuan disana Jesi yang tau Jino yang sedikit tidak nyaman menyuruh Jino duduk ditempat tunggu..
" kamu duduk saja disana " ucap Jesi sambil menunjuk ke arah kursi yang dimana disana sudah ada para laki-laki yang mungkin menunggu kekasihnya berbelanja denga rasa tak nyaman Jino pun melangkahkan kakinya dan duduk manis disana dengan para lelaki..
Jesi pun menghampiri Raisa yang sedang memilih baju..
" Sa jangan lama ya aku mau pulang ke rumahnya Dave " ucap Jesi
" kamu gak mau beli sesuatu " ucap Raisa
" gak deh " ucap Jesi
" ya sudah sebentar aku cuma butuh dress ajh " ucap Raisa yang ditanggapi anggukan sama Jesi..
ditempat lain...
" gimana james kamu sudah tau lokasinya dimana " tanya Dave dingin
" sudah tuan nona Jesi semalam bermalam di apartment temannya dan sekarang mereka lagi ada di pusat perbelanjaan " ucap James
" apa kurang pakaian yang aku selalu pesan apa dia gak suka " gumam Dave
" ya sudah siapkan mobil sepuluh menit lagi kita menuju kesana " ucap Dave
" baik tuan saya permisi " ucap James sambil membungkuk kan badannya dan berlalu keluar..
sepuluh menit kemudian Dave dan James pun pergi dari perusahaan menujutempat Jesi berada..
setengah jam Dave pun sampai disana saat Dave keluar dari mobil mata nya menangkap sosok yang sedari kemarin membuat dirinya khawatir saat Dave mau memanggil Jesi suaranya tertahan saat Jino berjalan di samping Jesi amarah Dave seketika memuncak dia pun berjalan cepat ke arah Jesi dan menarik tangan Jesi pegangan ditangan Jesi membuat Jesi merasa sedikit sakit..
" kau apa-apaan maen kasar ke perempuan " ucap Jino marah saat tangan Jesi di tarik dengan kasar..
" kau yang apa-apaan ngapain kau bawa-bawa kekasih orang " ucap Dave marah Jino yang mendengar itu hanya tertawa mengejek..
" kekasih heyy bung coba kau fikir kapan kau mengajak Ana untuk menjadi kekasihmu selama ini kau hanya terobsesi terhadapnya " ucap Jino
" brengsek " ucap Dave sambil melayangkan tinjuan ke wajah Jino sampai Jino tersungkur di lantai..
Jesi yang melihat baku hantam antara Dave dan Jino sangat kaget Jesi mencoba melerai perkelahian antara Dave dan Jino untungnya Raisa dan James datang dan membantu meleraikan perkelahian mereka..
" udah Dave malu sama orang " teriak Jesi karena Dave masih saja memukul wajah Jino sampai babak belur..
" kau ikut aku " ucap Dave sambil menarik tangan Jesi..
" tunggu " ucap Jesi menghentikan langkah mereka
" ada apa lagi " teriak dave
" tunggu sebentar Dave " ucap Jesi
" Sa kamu bawa Jino kerumah sakit jangan khawatirin aku, aku bakalan baik-baik saja " ucap Jesi sebenarnya dirinya takut melihat kemarahan Dave dan khawatir melihat keadaan Jino yang menghawatirkan..
Dave pun membawa Jesi pergi dari sana perkelahian antara Dave dan Jino sempat direkam oleh beberapa pengunjung disana dari sebagian orang disana mengetahui siapa yang sedang berkelahi..
Dave dan Jesi pun sampai di phenthouse Dave pun keluar dari mobil sambil menarik tangan Jesi masuk kedalam aksi Dave membuat anak buahnya menjadi heran tidak biasanya tuannya terlihat sangat marah saat bersama kekasihnya..
" lihat lah apa yang aku persiapkan untukmu " teriak Dave Jesi yang melihat dekorasi dirumah Dave sangat terkejut dia tidak menyangka kalo Dave akan memberikan kejutan kelulusan unutuknya..
" maaf aku gak tau " ucap Jesi lirih
" kau gak akan tau karena kau tidak pernah menganggapku ada " teriak Dave
" gak begitu Dave " ucap Jesi
" terus apa HaH kurangnya aku apa semua kebutuhanmu aku sanggup memenuhinya bahkan kalo kamu mau aku bisa memberikan semua yang aku miliki asal kamu bisa membalas perasaanku " ucap Dave sambil memegang kedua pundak Jesi..
Jesi yang mendengar penuturan Dave hanya menangis dia tidak menyangka kalo orang yang angkuh dan bersikap dingin bisa terlihat rapuh juga..
" maafin aku bukannya aku gak mau membalas perasaanmu tapi aku sadar diri Dave siapa aku sebenarnya aku hanya wanita biasa " ucap Jesi di sela menangisnya..
" aku gak pernah memandang setatus orang apalagi orang yang aku cintai yang aku inginkan kamu selalu ada disampingku dan membalas perasaan yang aku punya itu saja sudah cukup " ucap Dave badannya merosot ke lantai..
" tapi gimana dengan keluargamu " ucap Jesi
" aku sudah tidak memiliki orang tua, ayah dan ibuku meninggal saat aku masih kecil aku di asuh oleh nenek ku tapi sekarang beliau juga sudah meninggal " ucap Dave
" maafin aku Dave " ucap Jesi sambil memeluk Dave yang terlihat rapuh untuk pertama kalinya Jesi memeluk Dave duluan..
Dave pun membalas pelukan Jesi dan bertanya apakah Jesi mau menjadi sebagian dari hidupnya yang selalu ada di sampingnya Jesi pun hanya memberi jawaban dengan menganggukan kepalanya pertanda dia setuju..
Dave pun merasa bahagia Dave pun langsung menyatukan bibirnya dan bibir Jesi mereka saling menyecapi satu sama lain lidah yang saling berbelit dan saling menukar slavina Dave pun berdiri dan membopong Jesi menuju arah kamarnya sambil menggendong Jesi Dave pun kembali menyatukan bibirnya dan bibir Jesi dan Jesi mengalungkan tangannya di leher Dave dan terjadilah malam yang panjang buat mereka...
thanks jangan lupa like and komen jangan lupa juga tambahin ke favorite 😉😉
happy reading guys 😉😉
jangan lupa baca juga novel author yang baru judulnya " My Perfect Boyfriend " klik bio author makasih 😊🙏