
Chapter 14
Kejadian yang terjadi di persimpangan kota yang membuat orang gehger bukan hanya karena kebakaran yang begitu besar tapi mayat yang terdapat di tempat kebakaran itu banyak tanda tanya dan keganjalan atas kejadian itu..
seorang perwira polisi yang memiliki jabatan yang lumayan tinggi yaitu sebagai letnan apalagi dia adalah detektif yang menangani kasus tersebut dia adalah Letnan Mahesa Atmajaya sebagai deketif dia selalu bisa memecahkan kasus apapun dan sekarang dia curiga dengan kasus yang baru-baru ini karena setelah penelusuran ditempat kejadian atau bisa dibilang TKP semakin memperkuat instingnya kalo ini diakibat kesengajaan..
Tiba-tiba dering telepon genggam nya berbunyi tertera di layar smartphone Distrik Call.. sang letnan pun menekan tombol hijau..
" hallo " ucap letnan
" hallo letnan Mahesa saya dari distrik yang menangani otopsi mayat yang terbakar itu " ucap pihak distrik..
" oh ya gimana " tanya letnan
" hasilnya sudah keluar kapan anda mau kesini saya juga ada yang harus saya beritahu kan pada anda " ucap pihak Distrik
" sekarang saya langsung kesana " ucap letnan
" baiklah " ucap pihak Distrik sambil menutup panggilan..
semoga ajh ada petunjuk gumam letnan Mahesa..
Letnan Mahesa pun bergegas menuju rumah sakit tapi langkahnya berhenti saat dia melihat benda kecil yang menyerupai bentuk korek api kalo orang awam pasti akan mengira kalo itu hanya sampah saja tapi beda dengan Letnan Mahesa dia mengambil benda itu dengan sapu tangannya dan bergegas pergi..
.......
Sesampainya di rumah sakit Letnan Mahesa langsung menuju ruang otopsi dan disana sudah ada dokter paruh baya yang sedang menangani mayat-mayat yang terbakar karena kejadian itu...
Letnan Mahesa tanpa mengetuk pintu dia langsung menerobos kedalam tindakan sang letnan sudah di bilang biasa oleh dokter paruh baya itu...
" gimana ada petunjuk " tanya letnan the to point'..
" seperti yang kau lihat " ucap dokter sambil menyerahkan hasil otopsi tersebut..
Letnan Mahesa pun membaca hasil otopsi mayat-mayat tersebut dengan jeli karena dia tidak ingin melewatkan sekecil apapun dan ketika letnan Mahesa membaca dahinya mengkerut menandakan ketidak pahaman..
" maksudnya apa mayat-mayat ini kehilangan jari kelingking, lidah, dan telinga mereka " tanya Letnan heran..
" seperti yang kau lihat mereka masing-masing kehilangan organ tubuh mereka kau ikut aku " ucap dokter dan Letnan Mahesa pun mengikuti langkah sang dokter sebelum itu dia memasang sarung tangan karet berwarna putih yang di berikan oleh dokter..
" kau lihat ini " ucap dokter itu sambil menunjukan tangan mayat yang jari kelingking nya hilang dan berjalan menuju mayat yang satunya lagi..
" dan ini " ucap dokter sambil membalikan kepala mayat itu ke kiri dan menunjukkan lubang yang terdapat di pinggir kepala yang menandakan tidak adanya telinga..
" dan yang ini " ucap dokter yang sudah berganti ke mayat terkahir dan seketika dokter itu membuka mulut mayat itu dan seketika sang Letnan mual melihat mulut mayat yang menganga lebar dan terlihat lidah yang terputus..
" dan kau tau " ucap dokter paruh baya itu menggantungkan perkataannya..
" apa " selidik Letnan sambil mengangkat sebelah alisnya dokter itu hanya tersenyum melihat raut wajah penasaran sang letnan..
" di sekujur tubuh mereka masing-masing terdapat luka tusukan yang hanya lima belas centi saja yang menandakan mereka ditusuk dengan benda kecil tapi tajam " ucap sang dokter
" maksud anda mereka di tusuk oleh gunting atau pisau kater gitu " tanya Letnan Mahesa..
" itu bukan tusukan pisau kater tapi itu tusukan gunting kecil lebih tepatnya gunting bedah yang selalu dokter bedah pake saat operasi " ucap dokter
" jadi menurutmu yang melakukannya adalah dokter " ucap Letnan Mahesa
" itu tugasmu detektif tengik " ucap dokter paruh baya itu sambil berjalan keluar meninggalkan sang Letnan yang sedang mendengus kesal karena disebut detektif tengik..
Letnan Mahesa pun pergi dari rumah sakit itu menuju kantor nya untuk mengecek hasil dari TKP..
lelah pasti karena kasus ini dibilang sulit karena sang pelaku melakukannya sangat-sangat apik tanpa celah mungkin sang pelaku adalah penjahat kelas kakap atau juga sang Psychopat gila entahlah yang pasti Mahesa begitu tertarik dengan kasus ini...
.
.
.
.
.
ditempat lain..
suara dari dalam mempersilahkan seseorang itu untuk masuk terlihatlah pemuda tampan yang tak lain adalah James Arthur sang asisten dari sang Milioner muda Devano Davidson..
" maaf tuan saya mengganggu " ucap James sambil membungkuk kan badannya..
" ada apa " ucap Dave dingin
" ada masalah tuan " ucap James seketika tangan Dave berhenti dari acara mengetik di laptopnya dan menatap tajam ke arah James
" masalah apa " ucap Dave
" anu tuan soal kejadian kebakaran itu " ucap James seketika Dave langsung berdiri dan berjalan menghampiri James sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya..
" ada apa dengan kasus itu " tanya Dave
" salah satu anak buah kita mengabari kalau kasus ini sedang berlangsung di bawah kendali sang Letnan Mahesa Atmajaya " ucap James takut
Dave yang mendengar itu hanya manggut-manggut kepalanya dan berjalan santai ke sofa yang ada diruangannya dan duduk sambil melipat kakinya ke kaki satunya lagi dan tangannya dilipat di dada bidangnya..
James yang melihat sang bos yang santai hanya menggeleng gelengkan kepala karena dia tau bukan hanya sekali dia berurusan dengan detektif yang satu ini banyak kasus yang melibatkan keduanya selalu bertemu..
" cari tahu sampai mana kasus ini " ucap Dave santai dan dingin..
" baik tuan saya permisi " ucap James sambil keluar dari ruangan Dave..
letnan Mahesa Atmajaya gumam Dave setelah itu sudut bibirnya tersenyum menyeringai..
.......
Jesi berjalan di lorong-lorong kampusnya menuju tempat biasa dia dan Risa selalu janjian Jesi akan memberikan sesuatu yang mungkin akan membantu penyidik..
sesampainya disana Jesi melihat sahabatnya yang sedang fokus dengan laptopnya..
" kau sibuk " ucap Jesi sesampainya disana
" eh ya ampun kaget aku " ucap Risa sambil memegang dadanya dan Jesi hanya tersenyum melihat itu..
" ini " ucap Jesi sambil menyodorkan benda kecil yang bisa di sebut flashdisk..
" ini apa " tanya Risa
" itu adalah benda yang bisa membantu penyidik dan bilang kalau Phantom gak bisa membantu lebih " ucap Jesi
" tapi gimana caranya mengirim email yang ada di flashdisk ini kan kamu yang selalu mengerjakan nya " ucap Risa
" kau itu bodoh atau apa kalo aku mengirim email ini lewat IP Phantom bisa-bisa mereka akan terus meminta bantuan kita " ucap Jesi
" trus " ucap Risa yang masih bingung..
Jesi yang kesal melihat Risa yang mendadak otak pintarnya jadi oleng langsung mengacak-acak rambutnya..
" kau kirim tuh flashdisk ke kantor polisi yang sedang menangani kasus itu dan kamu tulis juga hanya itu yang bisa kita bantu " ucap Jesi kesal
" ohhh hehe santai dong jangan emosi " ucap Risa
" tapi Jes darimana kamu dapat video ini " ucap Risa setelah melihat isi flashdisk yang di berikan Jesi..
" aku ngeretas cctv yang ada disana " ucap Jesi
" ko bisa bukannya cctv itu gak berfungsi ya " tanya Risa
" berfungsi ko buktinya aku bisa memulihkan nya " ucap Jesi santai
" ko bisa kata pihak polisi cctvnya gak berfungsi " ucap Risa heran
" orang bodoh saja yang berfikiran kalo itu cctv gak berfungsi " ucap Jesi
" maksud kamu itu di sengaja " ucap Risa yang ditanggapi anggukan oleh Jesi..
mereka pun terdiam dengan pikiran-pikiran masing-masing dimana Jesi harus menghapus sebagian dari cctv itu dan menghapus keseluruhan kejadian itu dan Risa yang memikirkan siapa dalang di balik kejadian ini dan sang pelaku begitu sangat misterius...
**thanks jangan lupa like and komen jangan lupa juga tambahin ke favorit 😉😉
happy reading guys 😁😁**