
BAB 9
***Di kantor***
Pukul 03.30 pagi....
Bela dan Donie masih tertidur bersebelahan di sofa kantor. Bahkan kepala Donie bersandar di bahu Bela.
Tut...tut...tut.... suara alarm di HP Bela berbunyi. Tetapi Bela sempat mengecilkan suara HP sebelum tidur semalam, sehingga dia tidak mendengar suara Hpnya. Justru Donie yang mendengar suara itu.
Donie terbangun....matanya terbuka sedikit. Dan ketika tersadar, ia terkejut mendapati dirinya tidur dengan menyandarkan kepala di bahu Bela. Huft... untung saja Bela masih tidur. Kalau tidak, mau disimpan di mana rasa malunya.
Pelan-pelan Donie bangun dari sofa karena takut membangunkan Bela.
Alarm di HP Bela berbunyi lagi. Kali ini Bela merasakan getaran di kantung bajunya dan suara alarm yang terdengar lembut. Bela belum membuka mata. Tapi sudah bangun. Biasanya sebelum membuka mata, ada ritual aneh yang dilakukannya jika bangun tidur.
Duuutttt dredeeeeet dut.............
Donie kaget setengah mati....
Suara apa itu? ........OMG.... baunya.......Bela..........kamu........ngentut.......?
“Beeellllaaaaaaa......!!!!”
Bela terkejut mendengar namanya dipanggil dengan keras. Ia segera membuka matanya dan berusaha untuk
sadar.
Oh, di mana gue?
Apa???? Gue di ruangan bos? Dan tadi itu gue ngentut? Ah.....sialan..... Kena lagi gue.
“Kamu....bangun pagi.... malah kentut. Bau lagi.... Kamu ini Bel.... jadi cewek jorok banget.” Donie segera pergi meninggalkan ruangan.
Bela belum sempat mengatakan maaf, tapi Donie sudah keluar ruangan terlebih dahulu.
Aduh.... dasar bodoh. Kenapa nggak nyadar gue ......shit.....
Bela mengerutu sendiri. Menyesali apa yang telah terjadi. Sejenak ia membersihkan ruangan, menyemprotkan pewangi ruangan. Lima belas menit kemudian ia keluar ruangan.
Ceklek
Bela membuka pintu ruang kerja Donie dan hendak keluar. Ia menunduk ingin segera melarikan diri ke toilet. Sayangnya, lagi-lagi Bela menabrak seseorang di depannya dan terjatuh.
“Maaf.....maaf....”
Bela hendak melihat siapa yang ia tabrak, namun Bela hanya melihat punggung seorang laki-laki yang berjaket hitam, dan bertopi hitam. Lelaki itu tampak berjalan terges-gesa meninggalkan Bela.
Ah, siapa dia ya? Jam segini ada di kantor? Aneh.... rasa-rasanya tidak ada karyawan yang akan datang sepagi ini kek kantor kecuali mbak Hilda dan gue. Itu pun biasanya atas paksaan dari si Bos Donie. Pak Sugi juga rasanya tidak mungkin. Kemarin Bos Donie menyuruhnya pulang sore. Dan postur tubuh Pak Sugi tidak seperti laki-laki tadi. Pak Sugi pendek, sedangkan laki-laki tadi cukup tinggi. Jadi siapa laki-laki itu ya?
Bela berpikir keras dan merasa sedikit curiga.
Ah, pengen pipis.
Bela segera berlari ke toilet.
........
Ceklek...
Donie masuk kembali ke dalam ruangannya. Terlihat sudah bersih, rapi dan harum.
Sialan si Bela itu...pake ngentut bau pagi-pagi. Hih.... lagian ngapain gue semalem tidur di sebelahnya. Pake nyender pula. Untung tadi dia nggak tau. Ah....
Tok tok tok....
“Masuk...”
“Pak, saya izin keluar sebentar mengambil baju di rumah karena saya lupa kemarin tidak bawa baju ganti.”
“Kamu ikut saya saja. Sebentar, tunggu di ruang parkir. Lima menit lagi saya turun.”
“Baik pak.”
Tak lama kemudian...
“Ayo....” Donie mengajak Bela masuk ke dalam mobil.
“Kita mau ke mana pak?”
“Makan....saya laper. Kamu?”
“Eh, iya pak. Saya juga laper banget.”
Kruk...kruk...kruk....
Pipi Bela bersemu merah menahan malu.
Donie melirik ke arah Bela mendengar perut Bela yang berbunyi. Ia tersenyum melihat Bela yang wajah yang bersemu merah dan menunduk, sementara tangannya memegang perutnya.
Hehe...kamu Bela....tadi kentut keras. Sekarang perut berbunyi keras. Agaknya kamu tidak bisa mengontrol badan kamu sendiri.
Donie senyum senyum sendiri.... sambil menyetir.
Tak lama kemudian mereka sampai ke warung tenda dekat kantor. Tidak ada resto atau cafe yang buka di pagi hari begini kecuali warung tenda yang sebentar lagi akan tutup.
Pemilik warung tenda menanyakan pesanan Donie dan Bela. Agaknya pemilik warung cukup mengenal Donie
karena ia sering makan di warungnya ketika lembur.
“Lembur lagi pak Donie?”
“Iya pak. Pak, saya pesan yang seperti biasa ya. Bela, kamu pesan makanan kamu.”
“Iya pak.”
.........
“Pak Donie....”
“Hhmmmm...”
“Pak, apa ada karyawan lembur semalam selain kita?”
“Saya tidak tahu jadwal karyawan yang lembur Bela? Mana mungkin saya hafal jadwal mereka?”
“Bu...bukan begitu pak. Maksud saya, karyawan yang lembur di ruangan bapak dan di ruangan saya.”
“Sepertinya tidak ada.”
“Kenapa?”
“Tadi saya lihat ada seorang lelaki keluar dari ruangan saya. Sewaktu saya keluar dari ruangan Bapak. Saya tidak sempat melihat wajahnya. Hanya melihat postur tubuhnya dari belakang dan saya rasa saya tidak mengenal posturnya.”
“Tadi pagi?”
Donie menyipitkan matanya. Ia menerka nerka siapa kira-kira yang ada di ruangan itu tadi pagi.
Sepertinya tidak mungkin Andri dan Reino. Hanya mereka yang sering ke ruangannya. Seingatnya mereka berdua pergi sejak sore karena ada janji. Jadi siapa yang datang? Bahkan ini masih dini hari.
“Nanti dipikir lagi. Sekarang makan dulu.”
“Iya pak.”
........
“Rumah kamu di mana?”
“Di kampung Mangga pak.”
“Ok. Saya antar kamu ambil pakaian, sekalian saya mau pulang ke apartemen.”
“Terima kasih pak. Maaf jadi merepotkan Bapak.”
Donie menjalankan mobilnya ke arah rumah Bela. Sepanjang jalan mereka hanya terdiam, disibukkan dengan pikiran masing-masing. Hanya alunan lagu lawas dari Celine Dion menemani mereka di perjalanan. Tanpa terasa meraka sampai di jalan yang menuju ke rumah Bela.
“Jalan ini lurus pak, nanti di pertigaan belok ke kanan. Rumah saya ada di sisi sebelah kanan.”
“Iya ibu penumpang....”
“Eh, maaf pak... kebiasaan ngomong sama ojek online jadi begini.”
Doni tersenyum. Diliriknya Bela sekali lagi.... manis walaupun baru bangun tidur dan belum mandi. Tapi tetap aja..... jorok.... hahaha....
“Sampai pak.”
“Ok... nanti kamu datangnya agak siangan. Jam 9 juga tidak apa-apa. Karena saya hari ini ada keperluan, jadi setelah jam makan siang baru ke kantor.”
“Baik pak. Terima kasih sudah diantar sampai rumah.”
Bela segera keluar dari mobil. Kemudian berjalan ke rumahnya.
Donie memperhatikan Bela sampai ia masuk ke pagar rumahnya. Rumah sederhana bercat biru. Di depan rumah
ada taman kecil tertata apik dengan bunga-bunga yang bermekaran. Ada pohon mangga yang sedang berbuah. Di bawah pohon mangga ada kolam hias kecil dengan pot bunga warna-warni si sekeliling kolam. Rumah itu tampak asri dan terawat walaupun sederhana.
Donie segera memacu mobilnya menuju apartemen. Hari ini ia ada janji dengan dokternya.