
Malam itu di dalam ruang makan kediaman keluarga Wijaya, tampak Donie sedang makan malam bersama Lidya. Keduanya tampak akrab. Keadaan yang sangat dirindukan oleh Donie sejak dulu.
Setelah mereka berdua selesai menyantap makan malam, keduanya menuju teras samping rumah untuk sekedar mengobrol. Mbak Sari menyediakan makanan ringan dan dua cangkir kopi. Donie dan Lidya sama-sama pecinta kopi hitam.
Donie menyeruput kopinya sedikit. “Mam, mami tahu kan kalau aku tidak jadi berhubungan dengan Stefani?”
“Iya. Kenapa?” Lidya menanggapi ringan.
“Lebay mam.”
Lidya terkikik mendengarnya. Ia membayangkan gaya Stefani yang berlebihan.
“Dia juga sekarang berpacaran dengan Reino.” Donie menambahkan.
Lidya menengok ke arah Donie. Matanya menatap geli melihat anaknya yang sudah dewasa ini. Tapi tampaknya gaya curhatnya masih seperti anak-anak. Ia teringat akan almarhum suaminya yang selalu sabar mendengarkan cerita Donie yang manja ini. Donie dan papinya selalu dekat. “Oh, jadi kamu kalah bersaing?” Katanya meledek.
Melihat tatapan meledek dari Lidya, Donie mengerucutkan bibirnya, “Bukan itu, mam. Aku tidak bersaing dengan Reino. Mam, aku serius dengan Bela.”
“Iya, mami tahu, dari sorot mata kamu. Belum pernah kamu seserius ini. Biasanya dengan gadis-gadis lain yang pernah kamu kenalkan ke mami.....”
“Mam....stop. Aku malu.”
“Hemmm tampaknya anak mami tidak lagi playboy seperti dulu.”
“Kapok, mam.”
Lidya tertawa mendengar pengakuan anaknya. “Donie.... Donie....” Lagi-lagi Lidya terkekeh karena mengingat gadis-gadis yang dulu pernah dikenalkan kepadanya. “Bagus kalau begitu. Berarti kamu tinggal memikirkan lamaran dan pernikahan kamu.”
Namun malam ini Donie tidak ingin membicarakan hal itu lebih jauh. Ia ingin membicarakan tentang adik ibunya, “Mam .... aku ingin membicarakan tentang om Thomas.”
“Apa yang ingin kamu ketahui?” Mata Lidya menyipit.
“Bagaimana sifatnya, kehidupannya sejak kecil, dan apakah dia pernah berkeluarga.”
“Apa lagi yang dia lakukan selain menggelapkan uang perusahaan, Don?”
“Banyak mam.... Nanti aku ceritakan. Tapi aku lebih ingin mami bercerita lebih jauh tentang om Thomas.”
“Baiklah. Tapi tampaknya kita harus begadang.”
“Tak apa, mam. Aku ingin mengobrol berdua dengan mami. Semalaman pun akan aku dengarkan.”
Lidya mulai menceritakan tentang Thomas.
“Thomas itu adik mami satu-satunya. Seharusnya ada dua adik mami, yaitu Thomas dan Maya, tetapi Maya meninggal ketika berumur lima tahun karena terkena demam berdarah. Umur mami dan Thomas selisih tiga tahun. Sejak kecil, dia terlihat sangat cerdas, jauh lebih cerdas dari mami. Kalau diingat-ingat, mami serasa melihat Thomas kecil ketika kamu datang ke sini. Terkadang sifatmu juga mirip dengan Thomas. Cerdas, pintar, tetapi nakal dan playboy.”
“Mam.... kenapa aku disamakan dengan om? Aku berbeda, mam.”
Lidya hanya tertawa mendengar protes anaknya. “Mungkin karena kamu mirip dia, makanya dia sayang sekali sama kamu. Malah dia cemburu kalau aku mulai mendekati kamu, Don. Ingat kan, dia selalu memanjakanmu?”
“Iya sih mam. Dia selalu menuruti keinginanku.”
“Masa sekolahnya dilalui dengan lancar. Kakek dan nenekmu sangat senang dengan nilai akademisnya yang selalu memuaskan. Beberapa kali dia mendapatkan beasiswa juga, sehingga sangat membantu keuangan keluarga. Ketika memasuki bangku SMA, walaupun pintar, dia termasuk anak yang nakal juga. Beberapa kali kakek dipanggil ke sekolah karena dia berkelahi. Kalau dipikir-pikir, alasan dia berkelahi waktu itu karena masalah perempuan. Sama kan denganmu, Don?”
“Beda mam. Papi dan mami dulu tidak pernah sampai dipanggil ke sekolah karena aku berkelahi kan?”
“Tapi kamu berkelahi karena perempuan juga. Benar kan?”
“Dia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi negeri di Bandung. Di sana dia tinggal di kos. Karena biaya hidup yang mahal, dia juga bekerja paruh waktu. Saat kuliah itu kami sekeluarga tidak terlalu mengerti dengan tindak tanduknya karena jauh dari pantauan.“
Lidya berhenti sejenak. Ia menyeruput kopi hitamnya dan mengambil cemilan dari meja. “Kamu yang bawa bakpia ini?”
“Iya mam. Oh ya, ada baju juga untuk mami. Tadi aku letakkan di meja rias mami. Bela yang memilihkan. Semoga mami suka.”
“Oh ya? Terima kasih. Kamu sekarang perhatian sekali, Don. Mami senang.”
Donie tersenyum melihat binar bahagia dari maminya.
Lidya kembali melanjutkan ceritanya.
“Selama kuliah, seingat mami ada dua perempuan yang datang ke rumah, meminta pertanggungjawaban Thomas. Katanya mereka mengandung anaknya Thomas. Dia tidak mengakuinya dan perempuan-perempuan itu tidak lagi datang. Setelah kuliahnya selesai, dia mulai melamar ke sana kemari. Beberapa perusahaan memanggilnya, tapi dia hanya tertarik dengan perusahaan papi. Lalu ia mulai masuk sebagai karyawan kontrak. Lama kelamaan posisinya naik, tentu saja karena dia cerdas dan supel. Dia juga yang mengenalkan mami kepada papi. Waktu itu mami sudah bekerja di salah satu bank. Kemudian mami menikah dengan papi. Thomas sangat senang. Tak lama
kemudian mami mengandung, Donita.” Tatapan mata Lidya berubah menjadi sedih saat menyebut nama anaknya yang telah meniggal itu. “Donita dan kamu seumuran. Hanya berselisih tiga bulan lebih tua Donita. Kalau Donita masih hidup, kalian pasti terlihat seperti anak kembar.” Lidya mencoba berandai-andai. Ia kembali tersenyum.
“Maaf mam. Mami jadi bersedih.”
“Tidak apa-apa. Ini lebih baik, mami bisa lega setelah mengeluarkan isi kepala mami kepada kamu.”
Lidya berhenti sebentar, “Mami jadi kangen dengan papi. Biasanya malam-malam begini kalian ngobrol yah, di sini. Mami sering dengarkan kalian ngobrol dari sudut sana. Papi selalu menasihati kamu dan kamu selalu bilang ‘tapi pap.....aku kan hanya.....’ begitu kamu selalu menjawawab papi. Untungnya papi sabar mendengar kamu. Terus terang mami jengkel mendengarnya waktu itu.” Ia mengenang mas-masa indah itu.
“Hehe.... papi sabar, mam. Beliau tidak pernah marah menghadapi aku.” Kenang Donie.
“Mami lanjutkan lagi ya Don, Suatu waktu pada saat Thomas telah bekerja, kembali ada seorang perempuan yang mengaku hamil lima bulan ke rumah kakek. Ia meminta pertanggung jawaban kepada Thomas. Kali ini perempuan itu tidak hanya sekali datang, seperti perempuan-perempuan sebelumnya. Menurut cerita kakek, berkali-kali dia datang. Kakek pun sempat luluh dan tampaknya kakek mulai percaya dengan ucapan perempuan itu. Perempuan itu lembut dan manis. Apalagi saat tertawa, sangat manis karena ada lesung pipinya. Sebenarnya mami berharap perempuan itu benar mengandung anak dari Thomas karena mami merasa dia baik dan cocok dengan Thomas. Tapi lagi-lagi tidak ada kabar lebih lanjut tentang perempuan itu. Mami tidak berada di sana sehingga kurang mengetahui cerita selanjutnya. Kemudian lagi-lagi Thomas tidak mengakuinya. Entah apa yang dikatakannya kepada perempuan itu sampai akhirnya ia tidak pernah lagi terlihat di rumah kakek. Dan anehnya, Thomas yang playboy itu tidak pernah memperkenalkan pacarnya kepada kakek nenek maupun mami. Juga ia tidak pernah berkeluarga sampai sekarang. Mami pernah menanyakan alasannya. Katanya dia tidak ingin terikat dengan keluarga.”
“Kakek dan nenek tidak pernah memintanya untuk menikah, mam?”
“Tidak, mereka tidak pernah memaksa. Walaupun pasti ada keinginan untuk itu. Setelah bekerja ia tinggal di apartemennya. Dia sangat jarang pulang ke rumah kakekmu. Ketika papi meninggal dan kamu pergi kuliah di Ausie, Thomas mulai tinggal di sini. Kamu tahu, dialah yang merawat mami yang sedang dalam kondisi down."
"Maaf mam. Aku menyesali keputusanku untuk bersekolah di luar dan meninggalkan mami."
"Tak apa. Sekarang semua baik-baik saja. Jadi apa yang hendak kamu ceritakan, Don?”
Donie merasa agak berat saat ingin menceritakan hal ini kepada Lidya. Ia takut jika Lidya kembali depresi seperti pada saat Steven Wijaya, papinya meninggal.
“Mam, aku minta izin untuk melaporkan om Thomas. Selain menggelapkan dana perusahaan, dia juga terlibat dengan beberapa tindak kriminal.” Donie tidak sampai hati menceritakan dengan rinci dugaannya. “Apalagi akhir-akhir ini sikap om semakin aneh dan juga membahayakan nyawa orang lain.”
Lidya membulatkan matanya merasa heran. “Benarkah sejauh itu yang dilakukan Thomas, Don?”
“Iya mam.”
Lidya berpikir sejenak. Mengambil nafas dalam-dalam sebelum berkata lagi. “Dia memang saudaraku satu-satunya, tapi mami melihat sikapnya yang semakin aneh dan mencurigakan. Bahkan terakhir sebelum dia pergi dari rumah ini, kami bertengkar hebat. Mami khawatir juga dia akan mencelakai kamu.”
“Om sempat berkata akan mencelakaiku mam?” Donie terkesiap dengan perkataan maminya. Sebenarnya ia sangat heran dengan sikap pamannya itu. Di suatu sisi sikap pamannya itu sangat sayang kepadanya, selalu membelanya dan mengajarinya banyak hal. Tapi di sisi yang lain tatapan mata pamannya itu berkata lain. Ada sesuatu yang disembunyikannya.
“Tidak terus terang ia mengatakannya. Hanya mengancam. Mengancam tidak jelas.”
“Bagaimana mam, apakah mami tidak keberatan?”
“Mami rasa kamu sudah berpikir cukup lama untuk mengambil tindakan itu. Pasti kamu sudah memikirkan kemungkinan yang akan terjadi jika laporan itu sampai ke polisi. Mami tidak keberatan.”
“Aku hanya berharap yang terbaik untuk kita, mam. Kita harus menjaga perusahaan yang telah papi perjuangkan selama hidupnya.”
Apapun yang kamu lakukan, mami akan selalu mendukungmu, Don. Bagi mami, hanya kamulah orang terdekat mami. Tidak ada orang lain lagi. Dan mami tidak mau hidup dalam kesendirian.