
Pukul setengah delapan malam, di apartemen Donie. Keduanya telah selesai membersihkan diri dan
menyelesaikan makan malam mereka.
“Mas, aku masih mau bekerja, dua jam lagi.”
“Aku juga. Ayo, kita mulai supaya cepat selesai.”
Dua jam kemudian, ponsel Donie berbunyi. Donie mengambil ponselnya dan menerima telepon di balkon. Bela tidak bisa mendengarkan apa yang dibicarakan Donie. Pekerjaannya telah diselesaikan. Ia segera merapikan berkas dan laptop di meja kerja.
Bela menyusul Donie ke balkon karena melihat lelaki itu telah selesai menerima telepon. Dari balkon terlihat pemandangan kota Jakarta di malam hari. Terlihat gedung-gedung bertingkat dan kendaraan lalu lalang di jalan raya.
Pria ini.... yang sudah memberikan hatinya untukku. Ia menerimaku apa adanya. Bahkan tanpa ragu ia pun telah meyakinkanku untuk hidup bersama dengannya. Oh Tuhan, aku bersyukur untuk pria yang Engkau kirimkan
untukku. Ibu, aku bahagia. Besok aku akan menengok ibu bersama pria ini, mengenalkan ibu kepadanya.
“Mas...” Bela melingkarkan tangannya di pinggang Donie. Ia menyandarkan kepalanya di punggung lelaki itu dan menghirup aroma tubuhnya. Donie agak terkejut dengan tingkah Bela. Tidak biasanya wanita ini bersikap mesra seperti ini.
“Iya sayang.....” jawab Donie. Ia membiarkan Bela sejenak merangkulnya dari belakang. Tubuh kecil Bela mengalirkan kehangatan dan kedamaian untuk Donie. Bela terdiam, beberapa menit, ia hanya menikmati momen ini.
“Terima kasih sudah mau menerimaku apa adanya. I love you, mas.”
“Love you more, sweetheart.” Donie membalikkan badannya dan merengkuh Bela dalam pelukannya.
“Kita tidak membicarakan acara pernikahan kita mas?”
“Tidak usah memikirkannya. Semua sudah diatur. Jangan boros menggunakan otakmu.”
“Yakin mas?”
“Iya, tenang saja sayang.”
“Mas, besok aku mau ke makam ibu.”
“Aku akan menemanimu. Kita ke sana pagi-pagi, sebelum ke kantor. Bagaimana?”
“Iya.” Bela menyetujui perkataan Donie. Donie pun mengusap puncak kepala Bela dan menciumnya.
“Apakah ibumu wajahnya mirip denganmu?”
“Kamu belum pernah melihat fotonya mas?”
“Belum.”
“Iya. Aku dan ibu sangat mirip. Menurut abang, sifatku dan ibu juga mirip. Termasuk kebiasaan sering menabrak sesuatu itu mas, menurun dari ibuku.”
“Oh, ternyata ....” Donie terkekeh mendengarnya.
Bela pun menceritakan tentang ibunya. Ia bercerita dengan membayangkan sosok ibu yang selalu menjadi pelindung bagi mereka bertiga. Ibu yang sangat hebat, berperan sebagai ayah juga bagi mereka bertiga. Seseorang yang sangat Bela banggakan. Tanpa terasa, mereka cukup lama berbincang di balkon.
“Sudah malam. Lebih baik kita tidur.” Donie mengusap pungung Bela dengan lebut.
“Mas sudah selesai bekerja?”
“Sudah sejak tadi. Aku hanya menemani kamu menyelesaikan pekerjaan. Kalau tidak kutemani, biasanya kamu ketiduran.”
“Haha.... iya.”
“Ayo kita masuk.” Donie membimbing Bela masuk. Ia menutup pintu yang mengarah ke balkon, serta menutup tirainya.
***
“Halo....”
“Oh ya? Bagus sekali Wil....”
“Terima kasih.”
“Baik.... baik.”
“Ok. Besok aku ke sana setelah mengantar Bela ke kantor.”
“Ok.”
Setelah mengunjungi makam ibunya Bela, Donie merencanakan akan menemui lelaki yang telah membantu pamannya itu. Ia ingat dengan lelaki itu. Lelaki itu pernah bekerja di kediaman ayahnya selama beberapa tahun sebagai tukang kebun. Donie tidak menyangka orang itu merupakan suruhan pamannya.
Satu yang masih mengganjal di dalam pikirannya. Ia masih memikirkan cara untuk menyampaikan semua yang telah dilakukan pamannya. Dan yang lebih menyakitkan, ia harus menyampaikan bahwa ia adalah anak kandung dari pamannya.
***
Malam semakin larut. Waktu telah menunjukkan pukul 12 malam. Bela sempat tertidur, namun ia kembali terbangun. Bela merasakan Donie tidak bisa tidur. Walaupun ia tidur di sisi yang lain, ia dapat merasakan kegelisahan Donie.
“Mas.....”
“Iya, sayang....”
“Belum tidur?”
“Belum.”
“Kenapa? Ada yang mengganggu pikiran mas?”
“Aku bingung cara menjelaskan ini semua ke mami.”
“Apa perlu aku temani mas?”
“Iya, mungkin lebih baik jika kamu juga ikut. Sebenarnya yang aku takutkan, mami akan kembali depresi seperti waktu itu.”
“Kita harus mencari waktu yang tepat, mas.”
“Sebaiknya kita katakan kepada mami setelah pernikahan kita saja.”
“Terserah. Berarti kita masih punya banyak waktu. Sekarang tidur mas.”
“Ya....Baiklah tuan putri.”
***
“Ibu, perkenalkan ini mas Donie. Maaf, baru sempat mengenalkan lelaki ini di depan ibu. Mas Donie adalah lelaki yang baik, bu. Ia mengajakku untuk membentuk keluarga, menjadi pendamping hidupnya. Ia menyayangiku, bu. Aku sungguh bersyukur pada Tuhan diberi anugerah seperti ini. Aku bahagia, ibu. Beberapa hari lagi aku akan hidup bersamanya, bu. Aku meminta restu dari ibu agar aku bisa hidup bahagia bersamanya, mengarungi hidup berdua sampai usia memisahkan kami.”
“Ibu Bela, perkenalkan, saya Donie. Saya minta izin kepada ibu, untuk meminang anak ibu sebagai pendamping hidup saya. Saya mencintainya dan menyayanginya, ibu. Kiranya ibu berkenan untuk memberikan izin agar saya
dapat membahagiakan anak ibu sepanjang hidupnya. Terima kasih bu, telah melahirkan seseorang yang sangat berarti bagi saya. Tuhan sangat baik, memberikan anugerah yang sangat indah kepada saya. Saya berjanji akan selalu menjaganya dan membahagiakannya. Saya juga berjanji akan selalu memperhatikan Bang Benny dan Dian. Semoga kami bisa saling mendukung dan menghargai. Kami mohon restu ibu.
***
Bela dan Donie berada di mobil, dalam perjalanan menuju kantor. Donie sempat menyampaikan kepada Bela bahwa ia tidak akan ke kantor pagi ini karena ada keperluan lain. Namun ia juga menyanggupi untuk mengantar Bela ke kantor sebelum ia mengurus keperluannya.
“Mas.....”
“Ya sayang....”
“Ketika kamu sakit, aku melihat foto dari dalam amplop coklat terjatuh di lantai. Foto itu aku masukkan kembali ke dalam amplop. Kenapa foto itu ada di sana mas?”
“Itu dari Wiliam.”
“Siapa dia?”
“Orang suruhan om Thomas.”
“A...a..apa?” Bela memucat. Jantungnya berdetak lebih cepat. “Mak....maksudnya apa mas?”
Donie melihat perubahan di wajah Bela. Ia segera menghentikan mobil di tempat parkir, di sebuah kawasan pertokoan. Donie memperkirakan Bela pernah bertemu dengan orang itu. Atau mungkin saja orang itu pernah mengancam Bela. Atau mungkin juga orang itu bahkan pernah menyakiti Bela.
“Bela, tenang. Lihat aku. Kamu pernah melihat orang itu? Atau dia pernah mengancammu? Atau dia pernah menyakitimu? Jangan takut, dai sudah ditangkap.” Donie menatap curiga ke arah Bela. Ia melepaskan seatbeltnya dan menangkup wajah Bela dengan kedua tangannya. Ia melihat kecemasan di wajah gadisnya. Tapi ia tidak dapat menduga, apa yang sedang dipikirkan Bela.
“Mas, dia ayahku.”
“Whaaattt?”
Oh God, apa ini? Kenyataan apa ini?