My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 19



MOHON MAAF, PEMBACA.


BEBERAPA HARI INI WORK FROM HOME (WFH), DAN TERNYATA LEBIH SIBUK SELAIN TUGAS KANTOR, JADI GURU JUGA UNTUK SI KRUCIL. JADI BARU UP CERITANYA SEKARANG.


BAB 19


Ting.......wa di HP Bela.


(Tommy) Ayo kita makan siang.


(Bela) Ayo..... ajak Virnie ya?


(Tommy) Cafe Citra


(Bela) Sip.


(Tommy) Ok. Aku tunggu di sana. Otw nih.


---------


(Bela) Vir... ayo makan di Cafe biasa.


(Virnie) Ok say..


(Bela) Ada Tommy juga.


(Virnie) Yo’i


 ---------


“Woi...woi.....” Virnie tak sabar menghampiri Tommy dan mengguncang-guncang bahunya.


“Hallo.... Vir.... ini elo ya? Ya ampun... cantik banget elo sekarang.”


“Ya iyalah.... sekarang kan gue kenal yang namanya skincare.”


“Haha.... tapi bener.... tambah cantik lo.”


“Siapa dulu .... Virnie. Elo juga Tom..... tambah ganteng. Beda banget kayak zaman SMA.”


“Kalo dari dulu, dari zaman SMA elo kayak gini, yakin gue.... banyak yang ngantri.”


“Lo kira gue loket ?”


Virnie menonjok bahu Tommy dengan gemas. Kemudian mereka berbincang sambil menunggu kedatangan Bela.


 Ting.... wa di HP Bela berbunyi


(Donie) Sayang, tolong pesenin makan siang dong.


(Bela) Ok. Mas. Apa menunya?


(Donie) Ikan laut bakar. Dua porsi ya.


(Bela) Kok 2 ? Ada tamu mas?


(Donie) Buat kamu juga. Makanlah bersamaku di ruangan.


(Bela) Maaf mas, aku sudah berjanji, makan siang dengan teman-teman SMA di Cafe seberang.


(Donie) Ya udah, pesankan untukku saja satu.


(Bela) Iya mas.


Bela berjalan meninggalkan meja kerjanya sambil memesan makanan untuk Donie.


Teman-teman SMA yang mana ya? Jangan- jangan cowok yang ketemu di bioskop itu. Wah...gue mesti tau.


Donie gelisah di ruangannya. Akhirnya ia putuskan untuk menguping pertemuan Bela dan teman-temannya di Cafe depan kantor. Donie memilih posisi yang paling dekat, namun dibatasi oleh tirai.


“Tommy.....!!” Bela berteriak dan menghampiri dua sahabatnya.


Virni : “Nggak nyangka yah kita bisa bertiga kerja deketan gini.”


Bela : “Kalian sudah dari tadi?”


Virnie : “10 menit tapi hebohnya nggak masuk akal ya Tom.”


Tommy : “Haha...iya.”


Tak lama pelayan mengantarkan pesanan mereka bertiga. Sementara di balik tirai, Donie menajamkan pendengarannya untuk mendengarkan pembicaraan mereka bertiga.


Kriwil cantik. Oh, jadi itu panggilannya.


Virnie : “Lo udah lama kerja di sini Tom?”


Tommy : “Lumayanlah.... sejak lulus kuliah... jadi kalo dihitung-hitung udah 4 tahunan.”


Virnie : “Sama dong, gue juga hampir 4 tahunan. Heran ya, kita nggak pernah ketemu. Ini aja ketemunya karena lo nggak sengaja ketemu Bela.”


Tommy : “Haha iya... pas ketemu Bela sama pacarnya.”


Virnie : “Pacar Tom? Kok Bela nggak pernah bilang? Hallo Bela.... elo hutang penjelasan ke gue.”


Bela : “Ehm.... pacar.... aduh.... gimana gue jelasinnya yah.”


Tommy : “Ayo kita paksa si Kriwil ini ngaku Vir....”


Virnie : “Ayo.... jelasin sayang. Siapa itu?”


Bela : “Bos gue Vir.”


Virnie : “Apa? Pak Bos Ubur-ubur yang galak itu, yang suka marah sama elo, yang suka ngerjain elo? Oh, pantes sekarang nggak galak lagi. Elo santet ternyata.”


Brug...... mereka bertiga tiba-tiba kaget dengan suara berdebum. Namun tidak terlihat apa yang menimbulkan keributan itu.


Sementara di balik tirai, Donie meringis menahan sakit dan juga menahan malu karena beberapa pengunjung memperhatikan kelakuannya.


Oh, jadi mereka berdua ngatain gue bos ubur-ubur? Awas yah.... tau rasa kalian.


Donie tidak jadi meneruskan acaranya menguping. Ia memilih segera meninggalkan Cafe itu dan kembali ke kantornya.


Tommy : “Emang gimana ceritanya Vir? Kok bisa bos ubur-ubur? Tapi iya, Bela tempo hari bilang.... pas ketemu gue di bioskop. Katanya itu bosnya.”


Bela : “Ups.... Tom... udah sih. Gue jadi seperti terdakwa yang harus ngaku di depan kalian.” Bela memonyongkan bibirnya.


Tommy : “Nah, itu....itu yang gue suka bibir lo yang kayak gitu... kayak pantat ayam mau nelor.”


Bela : “Tommy.....”


Virnie : “Ketemu di bioskop? Nah.... nah.... elo memang udah jadian ya?”


Bela : “Hehe... iya. Pacar gue, bos gue. Yang waktu itu ketemu Tommy di bioskop, yang waktu itu elo sempet liat Vir....ketika pak bos video call sama gue. Udah, jelas kalian?”


Virnie : “Selamat deh sayang. Ih, kok merah gitu mukanya.... trus gimana? Bibir elo udah nggak perawan lagi kan say?”


Bela : “Virnie......”


Virnie : “Dan gue tau tatapan mata elo say. Hahah..... selamat....” Virnie memeluk erat Bela turut merasa bahagia.


Tommy : “Jadi ini makan siangnya elo yang bayarin yah Bel... itung-itung syukuran. Biar langgeng.”


Bela : “Hua....ha.... kalian ini. Okay lah. Apa sih yang enggak buat kalian.”


Sejak pertemuan itu, mereka bertiga semakin akrab. Mereka sering menghabiskan waktu makan siang bersama dan terkadang setelah bekerja, mereka bejanji untuk saling bertemu. Kadang mereka pergi menggunakan mobil Tommy, terkadang mobil Virnie.


HALLO READERS, JIKA KALIAN SUKA, JANGAN LUPA YA BERI :


·         Komentar


·         Like


·         Favorit


·         Tip


SELAMAT MEMBACA


SILAKAN MAMPIR KE NOVELKU YANG LAIN “LOVE AFFAIR”