My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 72



Di dalam sebuah kamar hotel berbintang lima, sudah tiga jam lebih penata rias melakukan make over kepada Bela, mulai dari ujung rambut sampai dengan ujung kaki. Karena acara akan dilaksanakan pada sore hari dan malam hari, maka persiapan tidak dilakukan terburu-buru.


“Kakak..... cantik sekali. Seandainya saja ibu dan ayah masih ada.” Dian menatap kakaknya dengan takjub. Ia tidak mengira Bela akan menjadi semakin cantik seperti ini.


“Sudah, jangan bikin aku sedih.” Kata Bela memandang adiknya yang mulai berkaca-kaca. Ia pun teringat, ayahnya yang saat ini berada di dalam tahanan. Dian tidak mengetahui bahwa sang ayah mereka masih ada dan saat ini sedang menunggu hukuman yang akan diterimanya. Hanya abangnya saja yang mengetahuinya. Seharusnya ayahnyalah yang nanti menyerahkannya kepada calon suami. Namun tidak apa, Bela cukup tegar karena masih ada abangnya yang akan mengantarkannya. Ingatan perihal ayahnya justru akan membuatnya merasa tidak sanggup berada di samping Donie.


 


***


Hati Bela bergetar, berbagai perasaan bercampur aduk saat itu. Ada rasa bahagia, terharu, sedih, dan kecewa. Namun lebih didominasi perasaan yang membahagiakan. Hari ini akan dimulai hidup barunya bersama seseorang yang sangat dicintainya. Seseorang yang bisa menerimanya apa adanya.


Bela menggunakan gaun putih panjang yang menunjukkan sebagian bahunya, sedangkan Donie yang berada


di dekat latar, menggunakan jas putih keperakan yang dihiasi  dengan warna hitam. Keduanya terlihat cantik


dan tampan.


Benny mengantar adiknya yang berjalan perlahan di sampingnya. Lagu Here Comes the Bride mengiringi langkah Bela yang didampingi oleh Bang Benny menuju altar. Sementara Donie telah bersiap berdiri di dekat altar menanti calon pengantinnya.  Bela memandangi sekitarnya, orang-orang yang datang. Hatinya dipenuhi rasa bahagia melihat orang-orang yang datang hadir untuk turut mendoakan pernikahannya dengan Donie. Hampir saja air mata menitik dari pelupuk matanya kalau saja ia tidak dapat menguasai luapan emosinya.


Setelah sampai di hadapan altar, Benny menyerahkan adiknya kepada Donie dan acara pemberkatan dimulai.


“Dihadapan imam dan para saksi saya, Donie Wijaya, menyatakan dengan niat suci dan tulus ikhlas, memilihmu Isabela Sanjaya menjadi istri saya. Saya berjanji setia kepadanya dalam untung dan malang, di dalam suka dan duka, di waktu sehat dan sakit, dan saya mau mencintai dan menghormatinya seumur hidup saya.” Itulah


janji yang saling mereka ucapkan. Simbol pengikat mereka adalah cincin yang menandakan cinta yang tak putus, kemurnian, dan kesetiaan.


Acara diakhiri dengan sebuah lagu yang dinyanyikan sendiri oleh Donie. Bela sendiri tidak tahu bahwa Donie yang kini telah menjadi suaminya itu mempersiapkan diri untuk menyanyikan lagu Beautiful in White.


Not sure if you know this


But when we first met


I got so nervous I couldn't speak


In that very moment


I found the one and


My life had found


its missing piece


So as long as I live I love you


Will heaven hold you


You look so beautiful in white


And from now to my very last breath


You look so beautiful in white


Tonight


What we have is timeless


My love is endless


And with this scream


I Say to the world


You're my every reason you're all that I believe in


With all my heart I mean every world


So as long as I live I love you


Will heaven hold you


You look so beautiful in white


And from now to my very last breath


You look so beautiful in white


Tonight


Melihat binar kebahagiaan di mata sepasang pengantin tersebut, membuat mami Lidya, Bang Ben, dan Dian turut merasakan kebahagiaan mereka, walaupun diwarnai dengan air mata. Tapi tentu saja air mata bahagia dan haru. Bang Ben yang paling tahu dengan apa yang terjadi di antara sepasang pengantin yang berbahagia itu. Ia sesungguhnya merasa sesak, melihat Bela bersanding dengan Donie, karena bayangan wajah ayahnya. Namun di atas itu semua ia sungguh merasa bahagia dengan apa yang telah dicapai adiknya. Ia kini merasa lega telah mengantarkan adiknya kepada orang yang tepat. Harapannya, semoga saja kehidupan adiknya akan lebih


berbahagia.


***


Setelah acara pemberkatan, mereka melanjutkan dengan bersantap malam bersama di sebuah hotel berbintang lima, tempat Bela mempersiapkan diri tadi siang. Pakaian keduanya telah berganti menjadi pakaian pengantin yang lebih santai. Gaun yang dikenakan Bela adalah gaun tanpa lengan berwarna merah marun dengan panjang semata kaki. Donie mengenakan jas hitam dengan dlaman kemeja merah marun senada dengan gaun Bela. Keduanya tampak sangat bahagia menyambut tamu yang berdatangan mengucapkan selamat kepada mereka.


Tidak banyak tamu yang diundang, karena acara yang diadakan hanya khusus untuk keluarga dan sahabat terdekat mereka. Tentu saja hadir sahabat-sahabat Donie dan Bela yaitu Reino, Andrianto, Stefani, Virnie, dan Tommy. Acara dikemas tidak terlalu formal. Tidak ada pelaminan yang mewajibkan mempelai duduk di depan. Semua berlangsung santai dan akrab. Donie dan Bela bebas berbicara dan mengunjungi tamu-tamunya. Semua


yang hadir tidak lebih dari seratus orang. Situasi ini membuat siapapun yang hadir merasa suasana keakraban di antara mereka.


Di tengah-tengah acara, diselingi dengan foto bersama. Teman-teman Bela dan Donie selalu mengganggu pengantin baru itu dengan melontarkan candaan yang sedikit mesum. Donie menanggapi dengan santai, sementara Bela berkali-kali menunjukkan wajah malu-malu yang merona merah. Donie semakin gemas melihat Bela yang sering kali tersipu menanggapi candaan teman-temannya.


***


Di sebuah kamar suite room hotel berbintang lima, Bela dan Donie baru saja membersihkan diri dan berganti pakaian.


“Sayang, aku masih lapar yah. Tadi makannya hanya sedikit. Kamu mau makan nggak? Aku mau pesan.” Donie mengusap perutnya yang berbunyi sejak tadi.


“Enggak deh mas. Aku mau pesan tukang urut.”


“Ha? Tukang urut? Malam ini?”


“Iya mas. Pegel banget tau.... Aku tidak terbiasa pakai heels lama-lama. Jadi sakit.”


“Sini aku pijat saja. Masa mau panggil tukang urut sih. Malam pengantin baru, mau panggil tukan urut. Yang benar aja kamu Bela. Kamu ini ada-ada saja.” Setelah selesai membuat pesanan, Donie bersiap untuk mengurut betis Bela.


Tanpa sengaja Donie melihat tas plastik transparan yang berada di atas meja. Di dalamnya terlihat berbagai jenis obat luka, perban, gunting, dan parasetamol. Ia heran dengan adanya obat-obaan itu.


“Sayang, itu obat untuk apa? Kamu ada luka atau bagaimana?”


“Oh, itu untuk siap-siap mas.”


“Siap-siap maksudnya untuk apa?”


“Kata teman aku, kalau malam pertama itu sakit sampai berdarah-darah. Mungkin juga perlu dipersiapkan untuk ke IGD kalau aku pingsan, mas.”


“Astaga sayang.... siapa yang bilang begitu? Siapa yang mau kalau sampai pingsan? Astaga....”


Donie terperangah dengan pikiran aneh istrinya itu. “Memangnya aku mau ngapain kamu, sayang.....? Terus kamu takut?”


“Iya, sedikit. Tapi aku percaya aja sama kamu mas.”


“Astaga sayang....aku janji tidak akan membuatmu pingsan. jangan takut deh.” Donie kembali mengurut kaki istrinya dengan geli. Rasanya ada cicak berlari-lari di perutnya.


Malam ini, setelah acara urut mengurut dan makan malam, Donie dan Bela berbaring di tempat tidur yang nyaman. Awalnya mereka saling berbicara, lama kelamaan tubuh mereka yang saling berbicara. Mereka saling menyalurkan perasaan cinta dan sayang melalui sentuhan dan ciuman, diakhiri dengan penyatuan tubuh mereka. Kini rasa


cinta dan sayang yang semakin dalam mereka rasakan, juga rasa saling memiliki yang semakin kuat. Kamar pengantin itu menjadi saksi cinta suci mereka berdua.


Hai readers tersayang,


Sampai di sini dulu kisah MY SILLY SECRETARY


Terima kasih untuk dukungan dan perhatiannya. Semoga cerita ini dapat menghibur.


Jangan lupa untuk berikan like, tip, komen, dan vote.


 Love you all