My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 38



Dian membantu Bela merias wajahnya. Jarang sekali Bela merias wajah dengan riasan lengkap seperti saat ini. Bahkan ia pun tidak mempunyai keahlian untuk berdandan. Beruntung sekali adiknya termasuk wanita yang senang memperhatikan penampilannya. Dian sering kali mengikuti kelas merias wajah. Bahkan sekarang ia punya channel youtube yang berkaitan dengan tutorial make up dan tata rias rambut.


Kali ini Dian memberikan sentuhan terakhirnya pada wajah Bela. Sekali lagi dilihatnya wajah sang kakak. Ia merasa puas dengan hasil riasannya. Ia merasa wajah sang kakak lebih cantik dua kali lipat daripada biasanya. Apalagi mengingat Bela tidak pernah menggunakan make up yang tebal. Setiap orang yang melihat tentu tidak akan mengira Bela berubah menjadi secantik ini.


“Selesai kakak cantik. Sempurna.” Dian melihat kakanya dengan wajah sangat puas.


Bela melihat wajahnya di cermin. Ia seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “ Ini benar aku kan? Kamu hebat sekali Dian, bisa meriasku menjadi secantik ini.” Bela tersenyum senang melihat dirinya di cermin. Ia pun berdiri dan mencoba berjalan sambil melenggak-lenggok.


“Aku seperti Upik Abu (Cinderella) ya?” tawa Bela.


“Haha.... aku cari dulu kak, kuda dan keretanya.” Jawab Dian ikut tertawa.


“Nanti batasnya sampai jam dua belas malam nih. Berubah lagi jadi orang biasa.” Bela sangat terpesona dengan gaun yang melekat di tubuhnya. Sangat indah.


“Bajunya bagus sekali ya kak.” Komentar Dian.


“Ia, aku hampir saja membatalkan mas Donie yang berniat untuk membelinya. Harganya sama seperti biaya hidup kita beberapa bulan. Aku tidak pernah bermimpi bisa menggunakan pakaian seperti ini. Aku merasa seperti berada di negeri dongeng, Dian.  Terkadang aku juga tidak yakin, apakah ini nyata.” Ucap Bela lagi.


“Santai kak. Aku lihat mas Donie sayang sekali pada kakak.” Dian mencoba meyakinkan kakaknya.


“Oh ya, bagaimana dengan Tommy. Apakah dia baik dan menghormatimu sebagai wanita?” Tanya Bela. Ia tiba-tiba teringat dengan Tommy sahabatnya yang berkencan dengan adiknya ini. Sejak dulu Bela tahu bahwa Tommy adalah orang yang baik, tapi ia ingin meyakinkan bahwa keputusannya untuk embiarkan adiknya berkencan dengan


sahabatnya adalah keputusan yang tepat.


“Baik kak. Dia sangat baik. Kakak pasti sudah sangat mengenalnya. Tidak ada yang berubah, kak. Terkadang dia jemput aku di kampus, kalau aku pulang sore atau malam.”


“Syukurlah. Semoga kalian juga selalu bahagia. Senangnya melihat adikku ini bahagia.” Bela memeluk Dian dengan rasa senang.


Pukul setengah tujuh malam, sebuah mobil menjemput Bela. Sopir Donie hari ini menjemput untuk acara ulang tahun kantor. Setengah jam kemudian Bela sampai di halaman kantor dan segera turun dari mobil sedan hitam ini.


Bela masuk ke lift bersamaan dengan beberapa orang yang akan mengahadiri acara ulang tahun perusahaan.


Ting....


Pintu lift terbuka pada lantai yang dituju. Dengan perlahan Bela berjalan menuju pintu ruang pertemuan. Di pintu ruangan telah berdiri penerima tamu yang mencatat kehadiran tamu dan mempersilahkan agar tamu menuju tempat yang telah disediakan. Beberapa karyawan perusahaan melihat terpesona ke arah Bela. Kali ini tidak ada kaca mata yang bertengger di wajahnya. Bela terlihat cantik dengan gaun yang mahal. Bela merasa beberapa karyawan melihat ke arahnya sambil berbisik-bisik. Namun ia tidak perduli dan memilih untuk berjalan memasuki ruangan.


Ah, pasti orang-orang ini kepo dengan tampilanku. Mereka baru kali ini lihat aku berdandan tebal seperti ini dan bajuku.... uh... mahal sekali. Ini dia si Upik Abu berubah dalam semalam menjadi putri cantik. Aku sangat berharap semoga malam ini aku tidak menabrak orang.


Suasana di dalam ruangan belum terlalu ramai. Yang ada di dalam ruangan adalah karyawan dan panitia. Bela mencari sosok Donie. Ia ingat perkataan Donie tadi, bahwa ia harus membantu Donie untuk mengenali tamu-tamunya.


“Bela.....Bela.... kamu cantik sekali. Uh, seksi sekali. Kamu benar Isabela kan?” Bela menengok ke arah suara yang sangat dikenalnya. Ia sangat tahu dengan pertanyaan yang akan dilontarkan Hilda yang sangat kepo itu.


“Mbak Hilda juga sangat cantik. Baru kali ini aku lihat mbak Hilda dengan baju pesta. Sampai-sampai aku hampir tidak mengenali mbak Hilda. Mbak Hilda sangat cantik dan seksi.” Memang baru kali ini Bela melihat Hilda dengan pakaian selain pakaian kerja. Terlihat lebih muda daripada umurnya, menurut Bela. Dress tanpa lengan berwarna hitam dengan belahan bawah sampai sedikit ke atas lutut  membalut tubuh Hilda yang seksi.


“Bela....baju kamu....bagus sekali... keren.” Hilda melihat dengan teliti dari atas ke bawah.


Sebelum Hilda bertanya lebih lanjut, Bela berkata, “Mbak, pak Donie mana ya? Aku takut nanti tamu-tamu berdatangan, tapi aku belum siap di sampingnya. Bisa-bisa marah dia.”


“Oh iya. Kamu benar. Tadi aku lihat pak Donie di sudut sebelah sana, dekat dengan pemain musik, di dekat pemain biola. Cepat kamu hampiri dia, daripada beliau marah. Aku cukup senang Bela, kamu yang menggantikan aku dengan tugas mengenali tamu-tamu beliau. Aku merasa tidak sanggup menghafal wajah-wajah mereka.” Kata


Hilda lagi.


“Aku kesana dulu ya mbak. Have fun ya....semoga ketemu orang ganteng.” Kata Bela menggodanya. Hilda pun tertawa senang.


Donie terlihat sedang berbicara dengan MC di salah satu sudut ruangan. Bela berjalan mendekati Donie. Agaknya Donie tidak menyadari akan kehadiran Bela. Mungkin karena penampilan Bela yang jauh berbeda daripada biasanya.


Donie malam ini pun terlihat semakin tampan karena rambutnya ditata dengan apik. Setelah dilihatnya Donie selesai melakukan pembicaraan, Bela menghampiri Donie dan menegurnya, “Selamat malam mas tampan.”


Donie melihat ke arah suara yang dikenalnya itu. Ia tidak yakin dengan yang dilihatnya, “Kamu Bela? Benar?”


“Ini aku, mas. Kamu tidak mengenaliku?”


Donie memandang takjub ke arah Bela. Kemudian dilihatnya Bela berputar di depan Donie, ingin meyakinkannya bahwa yang di hadapannya ini adalah Isabela Sanjaya.


“Bela....Bela.... kamu cantik sekali.” Donie menghampiri dan memeluk Bela. “Tapi ini terlalu seksi, sayang. Kamu tidak menunjukkan bagian punggung gaunmu tadi siang. Jadi sekarang kamu harus terus berada di dekatku.” Donie tetap memeluk pinggang Bela dan mengajaknya menemui beberapa tamu yang mulai berdatangan.


Tentu saja karyawan kantor masih terheran-heran melihat Donie dan Bela walaupun mereka mendengar desas-desus tentang Donie yang menggandeng Bela beberpa hari yang lalu. Namun keheranan mereka segera sirna karena tamu-tamu berdatangan dan acara akan segera dimulai.


Bela terlihat mendampingi Donie menyapa para tamu perusahaan. Bela berusaha membisikkan nama tamu dan data singkatnya sebelum Donie menyapa tamu-tamunya karena tidak semua tamu diingat Donie dengan baik. Hanya klien yang sering berhubungan dengannyalah yang ia pahami dengan baik. Donie sangat terlihat protektif kepada Bela. Ia tidak membiarkan kekasihnya itu menjauh darinya. Bahkan sesekali tangannya memeluk pinggang Bela dengan erat. Sehingga Bela pun menahan diri untuk tidak mengambil makanan dan minuman yang tersedia di meja. Ia hanya menerima minuman dan makanan yang diantarkan oleh pelayan ke arahnya.


Aduh, aku kan lapar. Tapi mas Donie ini menempel terus. Padahal makanan yang tersedia di meja itu terlihat sangat lezat, membuat air liurku menetes.


“Selamat malam , mam.” Sapa Donie.


“Malam Don.” Wanita itu menyambut tangan Donie, kemudian sejenak mereka berpelukan. Akhir-akhir ini hubungan Donie dengan maminya semakin membaik. Donie sempat bercerita bahwa ia kini telah mempunyai seorang kekasih dan ia sangat yakin akan menikahinya suatu saat nanti.


“Mam, perkenalkan, ini Bela. Bela, ini mami Lidya.” Donie memperkenalkan kekasihnya itu kepada maminya. Tapi Donie tidak berkata lebih lanjut. Ia diam saja. Kekakuan itu masih sedikit tertinggal di antara mereka berdua.


Reino sangat mengerti dengan kekakuan ini. “Tante, sudah lama sekali Donie tidak mengenalkan wanita cantik kepada tante kan? Tante tidak tanya siapa dia?” Reino berbisik di samping telinga Lidya Wijaya.


Sambil tersenyum Lidya berkata kepada Donie. “Siapa Bela ini, Don?”


“Dia calon istriku, mam.” Kata Donie lagi. Perkataan Donie ini membuat Bela dan Reino sangat terkejut. Calon istri? Secepat itu?


Blush.... pipi Bela merona.


Apa-apaan mas Donie ini? Batin Bela.


“Oh, ini nona yang pernah kamu ceritakan, Don. Mami turut senang, kamu akhirnya bisa dekat dengan wanita pilihanmu sendiri. Cantik sekali, calon menantuku.” Kata Lidya lagi. Ia menghampiri Bela dan memeluk Bela dengan hangat.


“Tante juga cantik.”


“Jangan panggil tante, panggil saja mami.” Jawab Lidya dengan ramah. Sebenarnya ia masih teringat akan tindakan konyolnya yang hendak menjodohkan Donie dengan Stefani, namun perjodohan itu tidak lagi diperlukan sekarang. Ia berfikir, sebentar lagi Thomas pasti akan tersingkir dari kursi Presiden Direktur.


“Oh, iya mami.” Bela merasa tersentuh dengan tindakan Lidya, sungguh di luar dugaan. Ia sebelumnya tidak menyangka bahwa mami Donie akan sebaik ini.


“Lain kali kita ngobrol lebih banyak ya, Bela. Tidak enak berbicara di tengah pesta seperti ini. Mami juga ingin lebih kenal dengan calon menantu mami.”


Bela tersenyum dan mengangguk hormat.


Sementara itu Reino terlihat menyambut wanita cantik dengan make up maksimal dan pakaian yang sangat seksi. Kemudian wanita itu bergelayut mesra di bahu Reino. “Pacar, aku rindu berat....” sapa wanita itu dengan manja.


“Aku juga, pacarku.” Jawab Reino tak kalah lebay.


Donie mendengar percakapan Reino dan pacarnya itu. Sungguh di luar dugaan, ternyata cinta bisa mengubah segalanya. Reino berubah menjadi se-lebay sang pacar.


“Tante Lidya. Kenalkan, ini pacarku, tante. Wanita paling cantik se-Indonesia.” Reino mengajak Stefani menyapa tante Lidya.


Uhuk....uhuk... Donie tersedak minuman mendengar ucapan Reino. Sungguh, ia ingin muntah mendengar ucapan alay sahabatnya itu.


“Selamat malam tante Lidya. Saya Stefani. Lama tak berjumpa, ya tente. Terakhir berjumpa saat saya masih SMA. Mungkin tante tidak ingat dengan saya.” Stefani menyapa sahabat orang tuanya itu.


“Benar kata Reino, kamu sekarang semakin cantik. Tante selalu ingat dengan gaya centilmu, Stef. Bagaimana mungkin tante bisa lupa.”


Reino mendekati Donie dan berbisik di telinganya, “Don, gue ke Yogyakartanya mau berangkat besok aja. Lo sendirian aja berangkat hari Minggu sore, ya Bro. Gue mau jalan-jalan sama Stefi dulu. Bosen gue, setiap dinas luar kota temennya lo lagi lo lagi. Takut jatuh cinta sama elo.”


“Dasar.... kenapa baru bilang sekarang? Ah, nggak asyik.”


“Sorry, bro....”


Bela merasa terlalu banyak minum, perutnya terasa penuh dan harus segera dikeluarkan. Ia pun meminta izin untuk ke toilet, “Mas, aku mau ke toilet sebentar.”


“Ya. Perlu aku temani?” Donie mengedipkan sebelah matanya.


“Tidak usah. Aku bukan penakut.” Jawab Bela ketus. Lebih tepatnya ia tau pandangan genit Donie, sehingga lebih baik ia menghindar.


**di toilet**


Aduh, heels ini tinggi sekali. Capek rasanya kakiku ini. Kebetulan sekali tidak ada antrian di sini. Aku bisa bersantai sejenak.


Bela meluruskan tangannya ke atas, memiringkannya ke samping, ke depan dan ke belakang. Sejenak ia melakukan stretching. Setelah puas melakukan stretching, ia melepas heelsnya, meletakkannya di bawah wastafel, kemudian ia masuk ke toilet.


Tak berapa lama


Ceklek...


Dari dalam toilet Bela mendengar suara pintu dibuka. Kemudian ada suara langkah kaki. Entahlah, Bela mempunyai firasat yang tidak baik mendengar suara langkah kaki itu. Seperti suara langkah kaki pria. Bela bergidik dan bulu kuduknya berdiri. Kemudian didengarnya air mengucur dari kran wastafel, agak lama.... dan terus mengalir


tidak dimatikan. Perut Bela menegang, jantungnya berdetak lebih cepat, dan tidak sanggup membayangkan apa yang akan dihadapinya nanti. Ia hanya menahan diri berlama-lama di dalam toilet.