
BAB 20
Hari ini Reino menemui Stefani Hotman di Perusahaannya. Stefani menemui Reino dengan gaya centilnya.
Reino melihat tingkah Stefani dan merasa gadis ini sangat lucu dan menggemaskan. Terutama saat berbicara, kepalanya bergoyang-goyang sehingga rambut panjangnya yang berombak berkibar-kibar. Wajahnya cantik kebarat-baratan karena keturunan Belanda yang didapat dari ayahnya.
Hmmm jadi ini gadis yang dijodohkan dengan Donie. Tapi Donie lebih memilih Isabela Sanjaya yang sifatnya bertolak belakang dengan Stefani. Stefi sangat cantik. Gue terpesona.... bukan pura-pura terpesona. Aroma tubuhnya harum ..... membuat gue membayangkan yang tidak-tidak. Ups...
Tak berbeda dengan Reino, agaknya Stefani juga tertarik dengan Reino yang ramah, wajah tampannya, senyum manisnya, rambut ikalnya yang berkibar-kibar diterpa angin.
Ruang Kerja Stefani
Ruangan Stefani tidak terlalu besar, dibatasi dinding kaca sehingga dapat melihat pemandangan di sekitarnya. Pemandangan gedung-gedung bertingkat tentunya. Selain dua buah kursi tamu, terdapat sebuah sofa di sebelahnya. Tidak banyak pernak-pernik di ruang kerjanya. Hanya ada sebuah rak kaca untuk menyimpan miniatur hotel-hotel.
Stefani adalah pengusaha yang bergerak di bidang perhotelan dan restoran. Ia dan orang tuanya telah lama berkecimpung di bidang itu. Sehingga tak heran, pundi-pundi kekayaan terkumpul dan lebih dari cukup untuk menunjang gaya hidupnya yang mewah.
Reino duduk di kursi tamu yang terletak di depan Stefani. Dengan detil, ia mendiskusikan kontrak kerjasama dengan Stefani. Setelah pembicaraan yang formal, mereka agak lebih santai dan mengobrol seperti layaknya teman lama.
Dengan gaya lebaynya, Stefani berbicara sambil mengibaskan rambut ikalnya.
“Pak Reino, bisa kita akhiri diskusi ini? Saya ada keperluan lain.”
“Oh, silahkan bu Stefani. Jika ada yang keperluan yang lain, saya mohon pamit. Dan ini kartu nama saya, jika ada yang ingin dibahas lebih lanjut, silahkan menghubungi saya.”
“Hmmm begini pak Reino, saya ada keperluan untuk mengobrol secara santai dengan bapak.”
“Maksudnya?”
“Panggil saya Stefi.... saya juga akan panggil kamu Reino.”
“Oh baiklah nona Stefi.”
Dan selanjutnya obrolan mereka semakin akrab dan menyenangkan. Tak terasa menghabiskan lebih dari tiga
jam. Namun agaknya belum cukup karena mereka berjanji untuk bertemu kembali dua hari lagi, bukan di kantor.
***
Reino segera kembali ke kantor dan menyampaikan kepada Donie tentang kesepakatan yang baru saja ia bahas dengan Stefani.
“Bagaimana hasilnya No?”
“Lancar Don. Rencananya dia tertarik dengan pembangunan hotel di Balikpapan.”
“Ada bagusnya juga. Bisa kerjasama sekalian sama rencana pembuatan resort kita.”
“Dan sekalian kita bolak balik ke Kalimantan. Oh ya, minggu depan kita harus ke sana lagi. Seperti kemarin, hari Minggu sore kita berangkat.”
“Lama banget lo meetingnya tadi sama Stefi. Apa ada masalah?”
“Lancar kok. Lancar banget malah. Hmmm... ada urusan pribadi....haha.” jawab Reino dengan tersenyum.
“Gak usah senyum-senyum gitu di depan gue. Gk akan naksir gue.”
“Haha.... tapi bener ya, elo gak minat sama Stefi kan?”
“Gak... gue udah ada Bela.”
“Bener gak masalah kalo gue deketin dia kan?”
“Iya, gue dukung.”
Mereka berdua tos....
Tak lama kemudian masuklah Andrianto.
Andri : “Hai bro....”
Donie : “Nyelonong aja lo.”
Donie : “Hilda lagi cuti. Tapi yakin Bela nggak ada?”
Andri : “Nggak ada siapa-siapa.”
Donie langsung mengambil Hpnya yang tergeletak di meja. Ia menghubungi Bela.
Ddrrtt....ddrrtt....ddrrtt....
“Hallo mas.” Terdengar suara Bela menjawab telepon dari Donie.
“Kamu di mana?”
“Sedang dalam perjalanan kembali ke kantor dari apartemen mas. Ngambil dokumen yang ketinggalan. Kan mas tadi yang nyuruh. Ada apa ya mas?”
“Oh iya, aku lupa tadi aku nyuruh kamu. Kamu sama Supri kan?”
“Iya mas. Sebentar lagi sampai kok mas.”
“Ok sayang.” Donie menutup teleponnya.
Andrianto terkejut mendengar Donie. Lain halnya dengan Reino yang tersenyum.
“Cie... sayang.... Gue ketinggalan berita ya? Elo jadian sama Bela?”
Donie mengangguk.
“Cepet juga lo.Hampir gue jadiin nominasi calon istri. Yah.... kalah cepat gue.”
“Sekarang, cari yang lain. Bela udah gue stempel.”
"Distempel di bibir, di leher, atau di dada?"
"Memangnya elo hah?" Donie mengendus dengan kesal.
Tak lama kemudian....
Tok tok tok....
“Masuk.”
Ceklek....
Bela masuk dengan membawa berkas.
“Ini berkasnya pak.” Bela agak canggung melihat teman-teman Donie ada di dalam ruangan.
“Letakkan di sana, sayang.” Jawab Donie cuek.
Blush....
Mendengar perkataan Donie, pipi Bela bersemu merah.
“Saya permisi dulu pak.” Bela bermaksud keluar dari ruangan.
Namun Andrianto menahannya dengan berkata, ”Sayang, tolong buatkan kopi ya.”
Donie melotot ke arah Andri dan melempar bantal sofa ke arahnya, “Sayang pala lo , Ndri...!”
“Maksud gue, sayangnya elo......hehehe....”
HALLO READERS, JIKA KALIAN SUKA, JANGAN LUPA YA BERI :
· Komentar
· Like
· Favorit
· Tip