My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 8



BAB 8


Donie masih memeriksa berkas dengan teliti. Laptop juga masih terbuka di mejanya. Tumpukan kertas terlihat menggunung di mejanya yang berantakan. Dilihatnya Bela yang mencari-cari file yang Donie inginkan di tumpukan file di depan Bela.


Bela duduk di sofa yang terletak di depan meja kerja Donie. Walaupun mengantuk, ditahannya kantuk itu sambil membuka-buka berkas dengan teliti. Sesekali Bela menguap.


Dilihatnya jam menunjukkan pukul 21.00 dan Bela masih berada di kantor dengan Donie. Donie memang pekerja keras. Ada target yang hendak dicapainya, maka ia bekerja keras untuk mencapai keinginannya. Hal inilah yang terkadang membuat sekretarisnya tidak betah. Bahkan untuk tahun ini saja Donie harus berganti sekretaris sampai


tiga kali. Bela adalah sekretaris yang ketiga.


Sudah lebih dari sepuluh kali Bela menguap....dan kali ini, Bela sungguh tidak tahan, dia menguap dan tiba-tiba matanya terpejam. Kepalanya tertunduk makin dalam....makin dalam dan.... braaakkkk...... Bela jatuh. Badannya terguling ke lantai. Beruntung lantai beralaskan karpet bulu, sehingga tidak terlalu sakit rasanya.


“Ada apa Bela?”


“Nggak pak.... nggak papa.”


Aduh, kepalaku sakit.


Bela mengusap usap kepalanya dan meringis. Saat bangun dari lantai, kepalanya kembali terbentur meja di depannya.


“Aawww....sakit.” Bela terjatuh lagi.


“Kamu ambil kopi dulu.... minum kopi dulu kalo ngantuk.”


“Iya pak.”


Aduh, sakit, malu gue.... Kenapa sih gue jatuh terus, nabrak terus di depan bos? Lagian, tau gue jatuh, bukannya ditolong, malah nyuruh ngopi. Ngantuk gue ini. Butuh tidur, bukan butuh kopi. Ah....


Bela berjalan menuju pantry.


Eh, si bos tadi mau kopi juga nggak ya? Apa mau teh? Kanapa gue gak nanya sih. Ah... bloon banget gue. Ah, gue telepon aja deh.


Ddrrtt......ddrrrttt.....ddrtt....


Bela membuat dua cangkir teh pahit.


“Silahkan pak.”


“Ya. Taruh di pojok situ.”


“Baik pak.”


Bela kembali duduk di sofa. Dia meminum sepertiga kopinya. Tidak lebih dari sepuluh lembar kertas ia bolak balik, tetapi matanya sangat lelah. Akhirnya ia tertidur dengan posisi duduk sambil menyeder ke senderan sofa. Tak  berapa lama terdengar nafas teratur Bela yang menandakan bahwa ia telah tertidur pulas.


Donie masih mengerjakan sesuatu di laptopnya.


“Bela.... tolong ambilkan catatan bulan Juli.......”


Donie tidak mendengar suara apapun. Dialihkan pandangannya dari laptop ke depannya. Ternyata Bela telah tertidur.


Ah, dasar Bela.... baru jam sebelas segini sudah molor. Katanya kuat melek. Dasar.....


Donie memperhatikan Bela dari tempat duduknya. Ia teringat kata-kata dua sahabatnya. Katanya Bela itu cantik. Dilihatnya dengan seksama. Badannya ramping, rambut keriting diikat satu. Di wajahnya yang mungil, terlihat mata bulatnya yang tertutup kacamata besar, hidung kecil yang tidak bisa dikatakan pesek, bibir merah yang mungil,


dagu lancip....dan.... memang semakin dilihat semakin cantik. Donie baru menyadarinya. Mungkin beberapa  inggu ini dia tidak melihat kecantikan Bela yang tersembunyi.


Ah, kenapa aku baru sadar? Cewek mungil ini sangat cantik, tapi tak terlihat.


Donie menghampiri Bela di sofa. Ia duduk di samping Bela dengan perlahan, takut membangunkannya. Dengan lembut, Donie merapikan poni keriting yang menutupi wajah Bela. Dilihatnya dengan lebih dekat wajah cantik itu. Dilihatnya bibirnya yang merah... rasanya ingin menciumnya.


Donie juga mengantuk. Diseretnya selimut yang ada di rak sebelahnya. Diselimutinya tubuh Bela. Kemudian ia mengambil jasnya untuk menutupi dirinya sendiri dan ia tidur di samping Bela dalam posisi duduk juga.


Tak lama kemudian keduanya tertidur berdampingan di sofa.