My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 59



Donie melangkah melewati meja Hilda sebelum memasuki ruangannya.


“Selamat siang pak.”


“Hemm....” Jawab Donie. Namun ia mengurungkan niatnya untuk melangkah menuju ruangan. “Bela ke mana?”


“Ke bawah pak, katanya ada yang ingin menemuinya.”


Donie mengernyitkan dahinya, “Siapa?”


“Maaf pak, saya tidak tahu. Bela tidak bilang tadi.”


“Hubungi dia, untuk segera menemui saya.”


“Baik pak.”


Haduh Bela, kamu ke mana sih? Ini ponsel kamu juga kenapa ditinggal di sini?


Hilda meringis khawatir. Tentu saja ia khawatir Donie akan marah jika Hilda tidak dapat segera mendapatkan Bela. Hilda meminta salah satu office boy yang tadi lewat di ruangannya untuk mencari Bela. Tapi ini sudah hampir satu jam, Bela juga belum kembali. Sementara itu ponsel Bela yang tertinggal di meja sejak tadi berbunyi tiada henti. Hilda menjadi semakin khawatir.


Kring....


Hilda tersentak kaget mendengar suara telepon.


Ini pasti pak Donie ingin bertanya tentang Bela.


“Hallo.... ada yang bisa saya bantu pak?”


“Mana Bela?”


“Belum kembali, pak. Ponselnya juga tertinggal di mejanya.”


Klik.... telepon ditutup.


 


Ceklek...


Donie keluar dari ruangannya, bersamaan dengan office boy yang datang tergopoh-gopoh menghampiri Hilda.


“Bu Hilda, bu Bela sedang bertengkar di toilet.” Katanya dengan tersengal-sengal.


“Aapa? Toilet mana?” Hilda terkejut. Ia berharap Bela tidak mendapatkan masalah dengan ketiga nenek lampir tadi.


“Toilet di lobby, bu.”


Mendengar itu Hilda dan Donie berlari menuju lift untuk turun.


 


***


Dengan terburu-bura Bela meninggalkan ruangannya. Ia hanya berpesan kepada Hilda bahwa ada temannya yang ingin menemuinya di lobby. Bela memperkirakan Virnie atau Tommy yang datnag menemuinya. Jika mereka datang tanpa terlebih dahulu memberi kabar pada waktu seperti ini, tentunya ada hal penting yang ingin disampaikan,


atau ada kejutan. Ia berjalan tergesa-gesa menuju lift. Ditekannya tombol angka 1 yang akan membawanya menuju ke lobby.


Sesampainya di lobby, ia tidak menemukan siapapun kecuali petugas receptionis yang sedang duduk manis di kursinya.


“Mbak, ada tamu yang mencari saya tadi ya?” Tanya Bela kepada petugas.


“Tidak ada tamu, mbak.” Jawab petugas dengan ramah.


Tak lama kemudian ada seseorang yang menghampiri Bela dan menariknya menuju toilet. Setelah menuju toilet, dilihatnya tiga nenek lampir yang tadi mengganggu acara makannya.


Mereka terlibat pertengkaran. Ketiga nenek lampir itu masih tidak terima dengan sikap Bela yang selalu menempel kepada Donie.


“Hei.... mulai hari ini, aku tidak mau melihatmu menempel pada pak Donie. Tidak boleh ada satupun pegawai wanita yang mendekatinya.”


“Cih... aku ini sedang bekerja, mbak. Aku juga sekretarisnya pak Donie. Mana mungkin aku tidak dekat dengannya? Lagipula apa urusannya dengan mbak-mbak sih?”


“Kamu berani membantah ya?” Nila menarik rambut Bela dengan kasar.


Bela kesakitan dan  membalas dengan tinju ke wajah Nila. Nila terkejut melihat keberanian Bela. Ia meringis menahan sakit di dagu yang terkena pukulan Bela.


“Oh, berani kamu?” Neli menarik baju Bela dengan sekuat tenaga. Tanpa sengaja, kepala Bela membentur dinding sehingga meninggalkan bekas memerah di dahinya.


Lagi-lagi Daniati menjambak rambut Bela, sementara Nila membawa air seember dan diguyurkannya ke kepala Bela. “Nih, supaya kamu bisa berfikir jernih.” byur......


Bela kerepotan menghadapi ketiganya, tapi ia masih saja memberontak, “Hei kalian beraninya keroyokan. Kalau mau, satu lawan satu. Bukan begini caranya.” Katanya lagi. Ia tidak memperdulikan dengan tubuhnya yang basah kuyup tersiram air. Ia cukup gemetar  menghadapi ketiga orang itu. Namun bukan bergetar karena takut, melainkan karena marah. Matanya melirik ke arah sudut, di sana ada tongkat untuk mengepel, segera diambilnya tongkat itu dan diarahkannya kepada ketiga orang itu.


“Sini.... siapa berani.... maju...” Tantangnya lagi.


Dari luar toilet, beberapa orang berdatangan karena keributan dari dalam toilet. Seorang satpam berusaha melerai pertengkaran mereka.


“Bela.... Bela.... kamu tidak apa-apa?” Hilda menerobos kerumunan itu dan menghampiri Bela yang terlihat sangat kacau.


Di belakang Hilda terlihat Donie yang juga berlari mendekati Bela, “Sayang, apa yang kamu lakukan?”


Kenapa pak Donie memanggil Bela dengan sebutan sayang? Memangnya dia siapa?


“Hei... awas kalian, akan kubalas kalian.” Kata Bela dengan mengacungkan tongkat pel ke arah ketiga nenek lampir itu.


Astaga, pacarku yang bar-bar sedang beraksi.


“Kalian bertiga, sekarang juga, menghadap ke bagian personalia. Hilda, pastikan mereka bertiga menghadap manajer personalia.”


“Baik pak.” Jawab Hilda. Ia memberi isyarat kepada ketiganya agar segera mengikuti perintah Donie.


Hilda merasa senang karena ia juga masih dendam dengan ketiganya. Dulu ia tidak berani mengatakan tentang perundungan yang dialaminya kepada siapapun. Namun kini ia bisa memberi mereka bertiga pelajaran. Ia berharap ketiganya mendapatkan balasan.


Melihat baju Bela yang basah kuyup, Donie segera melapaskan jasnya untuk menutupi tubuh Bela. “Tenang sayang, ayo ikut aku.” Donie merangkul Bela dan membimbingnya keluar.


“Sayang, aku tidak bisa meninggalkan kantor. Masih ada yang harus aku selesaikan. Tapi bajumu basah seperti itu. Mau diantar sopir ke rumah atau menunggu di ruanganku?” Donie berbisik kepada Bela. Ia masih melihat pancaran kemarahan di mata Bela.


Bela diam saja. Tidak menjawab pertanyaan Donie. Ia malah memainkan ujung jas Donie dan menunduk.


“Ya sudah, kamu ikut aku ke ruanganku saja.” Donie menarik tangan Bela agar mengikutinya.


Sesampainya di dalam ruangan, Bela menhempaskan pantatnya di sofa. “Mas, aku pinjam bajunya dong, aku mau ganti.”


“Beli saja ya sayang, biar nanti aku suruh Hilda yang membelikan.”


“Tidak usah, lama. Aku mau ganti sekarang saja.” Katanya lagi sembari menghentakkan kakinya dan mengerucutkan bibirnya.


“Yang, kamu kalau marah mengerikan.” Kata Donie dengan menggelengkan kepalanya. “Ya sudahlah, ganti pakai kemeja putihku ini.” Donie memberikan sebuah paper bag kepada Bela. Kemudian Bela berganti pakaian di dalam kamar mandi yang ada di ruangan Donie.


Kemeja itu terlihat kebesaran, namun Bela menggulung lengannya sampai ke siku dan memasukkan ujung kemejanya ke dalam rok. Ia bisa menutupi dengan balzernya yang ia letakkan di meja kubikelnya tadi. Untung saja roknya hanya sedikit basah sehingga bisa digunakan lagi. Ia merapikan rambutnya yang acak-acakan, mengelap


kaca matanya yang sedikit kotor, dan sedikit memperbaiki riasannya. Kemudian ia keluar dari kamar mandi.


“Aku mau kembali ke meja kerjaku. Terima kasih, mas.” Kata Bela.


“Itu diobati dulu.”


“Apanya?”


“Dahimu yang benjol itu.”


Bela mengusap dahinya dan dirasakannya ada benjolan. “Ah, kelihatan ya mas?”


“Iya, seperti ikan louhan.”


“Uh.... “ Bela melemparkan bantal sofa ke arah Donie.


“Sudah dong sayang. Lembut sedikit. Kamu mengerikan sekali.” Donie berjalan menuju tempat diletakkannya obat P3K. Ia mengambil krim yang dapat meredakan pembengkakan. Dengan perlahan dioleskannya krim itu pada dahi Bela yang bengkak.


“Kamu nggak tanya, kenapa aku berantem tadi?”


“Aku sudah bisa menebak, sayang. Nanti kamu cerita ya.”


“Iya. Aku keluar dulu, mas.”


“Hem...”


Bela keluar dari ruangan Donie. Ia tahu, Donie sedang sibuk dengan pekerjaannya. Ia pun masih ada pekerjaan yang belum diselesaikannya.


Di luar, terlihat Hilda yang sudah siap dengan berbagai pertanyaan. Bela tidak bisa lagi mengelak. Akhirnya ia mengakui bahwa sekarang ia sedang berkencan dengan bosnya. Hilda tidak tampak keberatan dengan cerita dari Bela. Mungkin saja ia sudah menerima bahwa Bela layak untuk berkencan dengan bosnya. Kemudian Bela juga bercerita tentang perlakuan tidak menyenangkan yang dialaminya tadi. Tampaknya Hilda juga cukup senang karena mereka bertiga mendapatkan sanksi dari bagian personalia. Hilda bercerita bahwa ia juga pernah mengalami perlakuan serupa, namun tidak berani untuk mengungkapkannya kepada orang lain. Kini Hilda senang dan merasa dendamnya terbalas.


Setelah puas bertanya kepada Bela, mereka berdua kembali menyelesaikan pekerjaannya dan berharap dapat menyelesaikan sebelum waktu pulang kantor.