My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 10



BAB 10


Donie pulang ke apartemen di sore hari. Biasanya ia pulang paling cepat pukul tujuh malam. Tapi hari ini khusus, ia pulang lebih cepat karena ingin bertemu dengan Stefani Hotman. Orang yang diinginkan ibunya untuk jadi  kekasihnya.


Reino sudah mengatur sedemikian rupa sehingga hari ini Donie Wijaya mendapatkan undangan ke pesta Stefani.


Gue pernah ketemu si Stefi ini di acara tunangannya temen gue si David. Waktu itu sepertinya Stefi sudah ada cowok. Gue nggak terlalu inget sih.


Donie berusaha mengingat-ingat pertemuannya dengan Stefani setahun yang lalu.


Ah, nggak pengen banget sebenernya gue deketin dia. Tapi.... saham dia dan ibunya banyak di perusahaan gue. Itu karena papi dan emaknya Stefi bersahabat baik, jadi emaknya Stefi percaya bnget sama papi. Kalau sifatnya, terus terang gue neg banget dengan gayanya yang lebay. Ibu dan anak sama saja, setali tiga uang.


Mungkin gue bisa membuat kesepakatan dengan Stefani dan tak perlu menjadi pacarnya. Semoga saja dia mau bekerja sama dengan gue.


Stefani Hotman memang dijuluki si ratu pesta karena kegemarannya mengadakan pesta. Hampir setiap bulan ada saja alasannya untuk mengadakan pesta. Hari ini kebetulan adalah ulang tahun perusahaannya yang bergerak di bidang advertising.


Selain cantik dan lebay, Stefani adalah sosok wanita pekerja keras yang membangun usahanya sendiri. Ibunya merupakan single parent yang sama lebay nya dengan Stefani. Mereka berdua adalah sosok wanita tangguh.


Tersiar kabar di akun gosip bahwa Stefani Hotman adalah wanita yang mudah bergonta ganti pacar. Tapi rata-rata si prialah yang meninggalkannya dengan membawa sebagian harta Stefani. Namun ia tampaknya baik baik saja  mengingat hartanya yang tak akan habis tujuh turunan. Kabarnya memang Stefani ini suka sekali mengejar-ngejar


cowok sampai si cowok luluh dan mau dekat dengannya. Kemudian ia memanjakan cowoknya dengan berbagai macam kemewahan. Biasanya di akhir cerita.... si cowok pun menginggalkannya dan Stefani berburu cowok kembali. (ih, berburu cowok..... serasa berburu rusa....haha...)


Pak Sugi siap di mobil mewah Donie dan segera menjalankan meobil menuju ke gedung kantor Stefani. Pesta diadakan di salah satu lantai di kantor itu yang disulap dengan dekorasi pesta yang meriah.


Setelah sampai di tempat parkir, Donie segera keluar dari mobil mewahnya menuju pintu lift.


***di kamar Stefani***


“Stef....”


“Ya mama cantik.....”


“Sini sayang, mama mau ngomong sedikit.” dengan gaya centilnya Mama Stefani, Aura Hotman berdiri melambaikan tangannya.


“Sayangnya mama yang cantik, sebaiknya kamu serius dikit sama cowok dong. Masa putus melulu. Cari yang baik deh. Cari yang bener. Yang bisa kamu ajak untuk berbisnis dan hidup bersama. Bukan cowok-cowok yang kamu kejar itu.... siapa yang terakhir kemaren.....Alex? yang sukanya hanya minta duit ke kamu.”


“Ah mama....buat apa sih ma cari yang serius. Cari itu yang Stef suka terus pacarin, kalo udah bosen yah cari lagi yang lain.”


“Kamu.... mau sampai kapan?”


“Yah sampai aku bosenlah Mam.” Stefani berjalan menuju sofa dan duduk menyilangkan kaki. Tangannya ditopangkan di kakinya yang jenjang.


“Denger yah... ada anaknya temen mama, pewaris tunggal Grup  Sinar Wijaya. Maminya kemarin ngobrol sama mama. Dia lagi nyari menantu tuh. Udah gih sama dia aja. Apa yang kurang? Ganteng iya, kaya iya, pebisnis


“Hah...? Mama mau jodohin aku? Aku si Stefani Hotman mau dijodohin sama mamanya??? Hallooooo mama.....What’s wrong with you? Sepertinya anak mama ini nggak laku aja deh. Mama memangnya pernah ketemu sama si pewaris Sinar Wijaya itu?”


“Hehe....belum sih sayang... hanya denger dari promosi maminya aja. Lagian mama kan sahabatannya sama papinya. Setelah papinya meninggal, mama nggak pernah dengar kabarnya lagi sih. Baru beberapa hari yang lalu mama ketemu maminya.” Aura mengenang Steven Wijaya, teman kuliahnya di salah satu universitas di Jakarta. Mereka bersahabat cukup dekat kala itu. Bahkan sebagian orang mengira mereka berpacaran. Setelah lulus kuliah dan  berusaha di bisnisnya masing-masing mereka masih saling mendukung dan sesekali bertemu sampai akhirnya keduanya bertemu dengan jodohnya masing-masing. Dan akhirnya hubungan mereka semakin jauh karena kesibukan.


“Tuh kan....baru denger katanya, mama udah percaya. Lagian ... yang cerita maminya sendiri. Ya jelaslah anaknya pasti dipromosiin setinggi langit. Harus kenal dulu mam. Aneh kan seumuran dia belum punya pacar....padahal ganteng, kaya, pinter (kata maminya lho). Jangan jangan dia aneh, jadi nggak laku-laku. Lagipula kita kan bisa


usaha sendiri nggak perlu cowok dengan harta segunung, mam. Harta kita nggak akan habis. Sudahlah mam, percayakan saja sama anakmu ini. Suatu saat pasti aku dapat yang terbaik.”


“Iya juga yah. Tapi lihat dulu deh. Ok. Mama doakan yang terbaik untukmu sayangku yang cantik.” Tak lupa Aura mengecup puncak kepala anaknya sebelum meninggalkan Stefani.


Huft...dijodohin. Ah, mama...aneh-aneh deh pikirannya. Atau mungkin mama sudah mengharapkan punya cucu? Oh tidak.... tidak aku tidak siap kalau berurusan dengan anak-anak.


***di tempat pesta***


Donie hanya duduk di depan meja bar dan minum. Dia tidak tertarik untuk berbaur dengan yang lain, walaupun banyak yang dikenalnya. Bahkan beberapa kali cewek cewek cantik terlihat menggodanya untuk ikut bergabung. Tapi lagi-lagi Donie menghindar.


Saat akan menuangkan minuman lagi ke gelasnya, ada suara lembut di sampingnya.


“Hallo ganteng. Sudah lama di sini?” Stefanie dengan gaya lebaynya menyapa Donie yang duduk sendirian.


“Stefi?” Donie terkejut dan agak risih dengan kelebayan cewek di hadapannya.


“Oh... kamu Donie Wijaya....? Aku sedikit lupa dengan wajahmu. Cukup lama kita tidak bertemu.” Bertahun tahun mereka tidak bertemu, sejak papinya Donie meninggal dunia. Dulu mereka juga pernah berada di satu sekolah di SMP Harapan Bangsa, tapi hanya satu tahun. Stefani pindah ke Singapura mengikuti orang tuanya. Mereka  bertemu lagi ketika papi Donie, Steven Wijaya meninggal.


“Apa kabar Stefi?”


“Baik. Kamu sendiri?”


“Baik. Oh ya... selamat ulang tahun untuk perusahaanmu yang semakin hebat. Semoga makin hari semakin sukses.” Donie menjabat tangan Stefi dengan hangat.


Setelah agak lama mereka bercakap-cakap, mereka saling bertukar no telepon dan berjanji untuk saling  menghubungi di waktu yang akan datang.


“Maaf Stef... aku ada janji, jadi tidak bisa lama di sini. Lain waktu kita ketemu lagi,” Donie berpamitan.


“Terima kasih sekali lho Don sudah bersedia datang. See you....” katanya sambil tersenyum genit.


Ah, ini cewek lebay amat sih. Dari jalan, ngomong, sampai gerak geriknya tidak normal, seperti dibuat-buat. Dan itu lagi, pantatnya seperti ada pernya tuing sana tuing sini.


Bagi Donie, wanita seperti Stefanie hotman sama sekali bukan tipenya.