
Alunan tembang jawa kembali menyambut mereka bertiga ketika kembali ke hotel. Donie berbicara sebentar
kepada Reino. Mereka membahas mengenai meeting besok dengan kolega yang akan menawarkan kerja sama dengan Grup Sinar Wijaya.
“Ok, kita bahas di kamar gue.” Kata Reino.
Donie menatap Bela, “Bel, nanti aku ke kamar Reino dulu ya. Ada yang harus dibahas tentang pertemuan besok. Kamu masuk kamar dulu. Kalau lelah, laporan kegiatan kita hari ini dikerjakan besok pagi saja.”
“Baik pak bos. Jangan malam-malam yah.”
“Ok, sayang.”
Mereka berpisah di lantai 3.
Bela masuk ke dalam kamar. Ia melihat lagi gambar-gambar yang sempat diambilnya saat berwisata tadi di Pantai
Parangtritis. Mengagumi keindahan pemandangan tadi memamng tidak ada habisnya. Apalagi saat ini lebih terkesan karena dikunjungi dengan Donie. Tiba-tiba ia merasa lengket dan perlu membersihkan diri. Ia pun mengguyur tubuhnya di bawah shower dengan air hangat. Air hangat ini terasa menyerap kelelahan yang dirasakan. Ia terus mengguyur tubuhnya sampai agak lama di dalam kamar mandi.
Setelah selesai mengguyur badannya, ia mengeringkan rambutnya dengan hair drayer. Ia tidak ingin masuk angin, tidur dengan rambut basah.
Ting tong.... ting tong....
Bel kamar berbunyi.
Bela keluar dari kamar mandi masih dengan handuk melilit tubuhnya. Ia mengintip dari lubang di pintu. Dilihatnya
sosok Donie di depan pintu. Kemudian dibukanya pintu kamar.
“Wow.... kamu menggodaku, sayang.” Donie membelalakkan matanya demi melihat tubuh polos gadisnya terbalut handuk mandi dengan rambut acak-acakan, dan aroma sabun serta shampo yang memenuhi ruangan.
“Sebentar.” Kata Donie lagi. Rasnya ingin sekali ia menerkam gadis di hadapannya. Namun ia hanya memeluk tubuh gadisnya itu dan menghirup aroma semerbak sabun dan shampo. Hanya dengan bersikap seperti itu, serasa lelahnya hilang. Bagaikan ponsel lowbat yang dicharge.
“Gantian, kamu yang mandi sana mas. Baumu kecut.”
“Ah, biasanya juga kamu yang senang ndusel ndusel, walaupun aku belum mandi.”
“Takut aja kebablasan.... pandanganmu horor banget.” Bela mendorong tubuh Donie menjauhinya.
Donie segera melepaskan pelukannya dan menenangkan dirinya di kamar mandi.
Bela kembali berkutat dengan laporannya tentang kegiatan hari ini. Ia berusaha menyelesaikan pekerjaan hari ini karena tidak terbiasa menunda-nunda. Setelah pekerjaannya selesai, ia kembali memeriksanya sebelum dikirimkan ke alamat email perusahaan pusat.
***
Pertemuan direncanakan pada pukul 10.00. Sepuluh menit sebelum waktu yang ditentukan, Donie, Reino, dan Bela menuju ke tempat yang telah ditentukan, yaitu di sebuah restoran. Donie dan Reino menghampiri dua lelaki yang telah duduk di sisi ruangan yang dibatasi kaca. Bela mengikuti keduanya dari belakang.
“Pak Wibisono....” Sapa Reino kepada seorang lelaki berumur sekitar lima puluhan, berkacamata, agak gemuk dan
berambut tipis yang memutih. Lelaki itu memakai kemeja abu-abu bergaris putih dipadukan dengan celana panjang abu-abu. Ia ditemani seorang lelaki yang lebih muda, mungkin seumuran dengan Donie dan Reino.
Dengan ramah, kedua pria itu menyambut Donie dan Reino, bergantian mereka saling bersalaman. “Kenalkan, ini
sekretaris saya, Purnomo. Silahkan pak Donie dan Pak Reino.” Lelaki yang lebih tua itu memperkenalkan lelaki tegap bertubuh tinggi itu sebagai sekretarisnya.
Bela sendiri tidak terlalu memperhatikan kedua orang itu. Ia sejak tadi sibuk menerima telepon dari Hilda yang sedang berada di kantor. Tampaknya ada beberapa agenda yang harus segera diselesaikan Donie selagi ia masih berada di Yogyakarta. Untuk itu Hilda menghubunginya dan menyampaikan beberapa file yang dikirim melalui email.
Melihat Bela yang sejak tadi menerima telepon, Donie mengurungkan niatnya untuk duduk. Ia menghampiri Bela
dan menanyakan apakah ada masalah. Setelah Bela menjelaskan bahwa ada agenda susulan yang harus diselesaikan Donie dan Reino di Yogyakarta, Donie mengangguk-angguk, menandakan bahwa ia memahaminya. Kemudian ia mengajak Bela turut duduk bersama dengan mereka.
Donie memperkenalkan Bela kepada koleganya. “Perkenalkan, ini sekertaris saya, Isabela.” Kata Donie lagi kepada
Wibisono dan Purnomo.
Dan.....
Bela terkesiap ketika bersalaman dengan lelaki di hadapannya.....Wibisono. Darahnya terasa mengalir ke kepala,
Wibisono, lengkapnya adalah Albert Wibisono. Lelaki yang pernah membuat Bela merasa bagaikan orang yang tidak ada harganya. Bela duduk dengan di samping Donie. Keringatnya mulai mengalir di dahinya. Tangannya dingin sekali. Pikirannya melayang-layang dan ingin segera pergi meninggalkan pertemuan itu.
Sepanjang pertemuan, Purnomo yang merupakan sekretaris Wibisono lebih banyak berbicara. Hanya sesekali ia
menimpali perkataan sekretarisnya. Pandangan sinisnya sesekali diarahkan kepada Bela. Ia sangat yakin, gadis yang berada di samping Donie itu adalah gadis yang sangat tidak ia sukai.
Flashback on
Suatu sore di sebuah warung tenda, Erna dan Bela sedang menyantap menu khas Jogjga yang disebut dengan pecel lele. Menu makanan yang terdiri dari nasi putih, lele oreng, lalapan, dan sambal. Kuliah hari ini berakhir sore. Materi yang disampaikan dosen cantik yang memberi kuliah hari ini menyampaikan materi hari ini diberikan sangat banyak, mengingat sang dosen cantik dua minggu yang lalu kosong tidak memberikan materi. Hari ini selain memberikan materi yang sangat banyak, ia juga memberikan tugas-tugas. Bela dan Erna merasa terkuras pikirannya. Akhirnya sore ini mereka terdampar di sebuah warung tenda untuk mengisi energi lagi sebelum
pulang.
Seorang pria berkacamata, bermata coklat, datang menghampiri mereka berdua. Tanpa basa-basi, ia langsung menegur Bela disertai dengan tatapan sinisnya.
“Isabela Sanjaya, aku sudah tahu tentangmu. Aku juga sudah banyak mengenal gadis sepertimu. Cantik, tapi punya maksud tidak baik. Gadis sepertimu punya ambisi untuk memiliki pendamping seperti anakku. Kamu hanya mencari kesenangan dan kepusasan dengan cara yang cepat. Bahkan mungkin kamu memang mengincar uang anakku. Tapi kamu sangat tidak pantas. Lihatlah latar belakang keluargamu. Kamu berasal dari strata sosial yang sangat jauh berbeda dari kami. Maka.... jangan pernah bermimpi untuk hidup bersama dengan anakku. Aku tidak
ingin melihat kamu lagi bersama anakku. Jangan ganggu hidup anakku.”
Bela terkesiap. Ia tidak mengira kata-kata itu akan meluncur dari mulut lelaki di depannya. Ia adalah ayah dari
kekasihnya Trendy Wibisono. Beberapa kali Bela sempat bertemu dengannya. Rasa tidak senang selalu ia tunjukkan kepada Bela, namun Bela sangat tidak menyangka jika lelaki tua itu sanggup mengatakan hal-hal keji kepada seorang gadis yang dicintai oleh anaknya.
Mendengar perkataan lelaki itu, Bela merasa sangat marah. Tuduhannya sungguh telah mengoyak harga dirinya. Sekalipun ia tidak pernah berfikiran seperti yang dikatakan lelaki itu. Selama ini ia tulus mencintai Trendy. Namun ia masih menahan diri, mengingat lelaki di depannya adalah orang tua dari Trendy, orang yang seharusnya dihormati.
“Anda sangat tidak sopan, pak. Menuduh saya dengan sesuatu yang sama sekali tidak benar. Saya tidak mengira
Bapak sanggup mengatakan hal-hal seperti itu di depan seorang wanita.”
Belum sempat Bela menyelesaikan kata-katanya.... Erna telah menarik lengan sahabatnya itu. Ia telah membayar
makanan dan mengajak Bela segera meninggalkan lelaki tua yang aneh itu. Erna tidak ingin lelaki itu lebih menyakiti sahabatnya. Dan satu lagi, Erna menumpahkan air minum ke badan lelaki itu dengan sengaja sebelum mereka meninggalkan warung tenda.
“ANAK ANAK KURANG AJAR.” Teriaknya membuat seisi tenda melihat ke arahnya.
Sementara itu Erna telah membonceng Bela menjauhi warung tenda.
Sejak saat itu hubungan Bela dengan Trendy sedikit renggang hingga akhirnya seminggu setelah Bela wisuda, mereka berdua memutuskan hubungan pacaran yang telah berlangsung lebih dari dua tahun itu.
Flashback off
Pertemuan mereka berjalan dengan lancar, kecuali bagi Bela. Dengan sekuat tenaga ia bersuaha mengumpulkan
konsentrasinya untuk menangkap hasil pembicaraan mereka dan mencatat hal-hal yang diperlukan. Walaupun badannya terasa lemah. Hampir selama dua jam Bela merasa tersiksa. Tatapan sinis Albert Wibisono kadang tertangkap oleh pandangan Bela. Bela segera mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.
Bagaimanapun kejadian itu telah berlalu bertahun-tahun yang lalu. Bela tidak ingin kembali merasa berada pada
masa itu. Ia juga tidak ingin kembali berurusan dengan pria tua itu. Toh kini ia tidak lagi berhubungan dengan anaknya. Ia hanya berharap ini adalah pertemuan terakhir dengan pria tua itu.
Sekilas Reino sempat menangkap kesinisan yang diarahkan kepada Bela. Ia bertanya-tanya, ada apakah ini.
Kemudian diliriknya pula Bela yang bertingkah tidak seperti biasanya.
Pertemuan yang menyiksa Bela itu telah selesai. Mereka mengakhirinya dengan saling berjabatan tangan. Setelah
Albert dan sekretarisnya berlalu dari hadapan ketiganya, Bela bernafas lega. Namun lutunya masih terasa lemas ketika berdiri.
Tangan Bela yang dingin memegang tangan Donie, “Mas, aku ..........” Belum selesai ucapannya, tubuhnya melorot
ke lantai.
Donie terkejut merasakan sentuhan dingin dari tangan kekasihnya yang tiba-tiba saja terduduk di lantai, “Sayang,
kamu kenapa? Sakit?” Ia ikut berjongkok memeriksa keadaan Bela. Dilihat bulir-bulir keringat di dahi dan leher Bela. Tanpa banyak bertanya lagi, Donie segera membopong tubuh Bela dengan kedua tangannya.