
BAB 6
“Selamat pagi pak.” Bela menyapa bosnya yang baru saja tiba
“Hhmm.” Jawabnya acuh
Sudah seminggu ini Bela bekerja di Grup Sinar Wijaya. Setiap pagi, jawaban bosnya tidak berubah.
Bela sudah dengar dari gosip di kantor, bahwa bosnya itu orang yang cuek, rewel, gampang marah, tapi tampan nggak ketulungan. Apalagi kalau senyum.... lesung pipinya keluar deh. Sayangnya, senyumnya jarang terlihat. Bahkan selama seminggu ini Bela belum pernah melihat wajah bosnya senang. Selalu saja cemberut.
Kring....
“Hallo....., ada yang bisa saya bantu pak?.................................................... Baik Pak.”
Bela mengangkat telepon dan mendengarkan perintah bosnya dengan baik.
Ceklek.... pintu ruangan Donie dibuka oleh Bela.
“Jadwal Bapak hari ini, satu jam lagi ada seminar di Hotel Adira sampai jam 12. Kemudian dilanjutkan pertemuan dengan Pak Dirgantara di Hotel Golden Star jam 14.00. Berkas yang satunya ini laporan dari divisi pemasaran.”
“Nanti kamu ikut saya. Bawa baju ganti saya, bawa bahan presentasi seminar, dan bawa baju kemeja ganti untuk pertemuan dengan Pak Dirgantara. Hmmmm satu lagi. Ada yang harus saya kerjakan nanti malam. Kamu ikut bantu saya. Mengerti?”
“Baik pak.” Bela mengangguk patuh.
“Pak, maaf, tadi ada ibu-ibu datang ke sini. Sebelum Bapak datang. Juga sebelum ada pegawai yang datang. Saya tidak mengenal ibu itu, tapi beliau titip pesan. Katanya, Bapak jangan lupa deadline tiga bulan itu.”
“Ah..... lupa saya.” Donie memegang kepalanya dan teringat akan maminya.
“Kamu ingat kan wajah ibu tadi? Itu mami saya. Ingat baik-baik.”
“Iya pak.”
“Ok.... segera siapkan yang saya minta tadi. 10 menit lagi kita berangkat.”
“Baik pak. Permisi.”
***
Bela membukakan pintu mobil di belakang sopir untuk Donie. Di depan, pak Sugi sudah siap sebagai driver hari ini. Pak Sugi adalah sopir yang sudah 20 tahun bekerja untuk Donie. Namun, masa kerjanya tinggal 2 minggu lagi arena akan memasuki masa pensiun. Pak Sugi adalah pria yang baik, senang bekerja dan pendiam. Sepanjang
perjalanan biasanya Pak Sugi tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Di luar pekerjaannya sebagai sopir, Pak Sugi juga tidak banyak bicara.
Bela duduk di depan di samping pak Sugi, sementara bosnya duduk di belakang. Terlihat Donie membuka laptopnya, kemudian menelepon sebentar, dan lanjut membuka berkas. Si Bos tampak sibuk dan tidak seorangpun berani berbicara di dalam mobil sampai 20 menit kemudian mereka telah sampai ke tempat yang dituju.
Donie turun dari mobil setelah pintu mobil dibuka oleh Bela.
Dengan sigap Bela membereskan barang-barang di dalam mobil dan membawa tas bosnya. Kemudian dengan setengah berlari Bela mengekor Donie dari belakang.
Bela berlari dengan cepat dan lupa mengerem saat Donie berhenti mendadak.
Bruuuk......
Dan menabrak Donie dari belakang.
“Maaf pak.”
“Kebiasaan kamu yah... nubruk-nubruk orang. Kalo jalan jangan nunduk, liat ke depan. Mata dipake....”
Donie melotot seolah hendak menelan Bela.
“Maaf pak. Tapi Bapak berhenti mendadak, jadi saya tidak sempat ngerem pak.”
“Emang mobil, pake ngerem segala?”
Donie melanjutkan jalan menuju ruang seminar. Dia menemui panitia kemudian masuk ke dalam ruangan, diikuti oleh Bela.
Di dalam ruang seminar, ternyata telah ramai pesertanya. Donie masuk ke ruangan khusua yang dipersiapkan panitia untuk para narasumber. Bela menunggu di depan pintu.
Tidak lama kemudian, pintu terbuka kembali.
“Bela, kamu duduk di sana.” Donie menunjuk deretan kursi kosong di pojok sebelah depan, dekat dengan operator yang menyalakan laptop.
“Berikan flashdisknya pada operator di sana. Kamu duduk di sana. Siap-siap bantu saya kalau saya suruh.”
Bela langsung melaksanakan perintah bosnya.
Sepuluh menit kemudian acara seminar dimulai. Pembukaan berlangsung selama 30 menit. Ada beberapa
pejabat yang hadir dan pejabat yang mewakili menteri membuka acara. Kegiatan hari ini diadakan oleh Kementerian Ekonomi Kreatif. Pesertanya adalah para pengusaha dan calon pengusaha. Pak Donie merupakan salah satu narasumber yang menginspirasi sebagai pengusaha muda. Dilihat dari umurnya yang masih muda,
Donie adalah narasumber paling muda dalam seminar kali ini. Dan menurut Bela, yang paling tampan. Cara Donie membawakan presentasi sungguh menarik terlihat dari caranya berjalan, cara menatap audience, gerak tubuhnya yang meyakinkan, dan disertai dengan tebaran senyum manis berlesung pipi. Tentu saja kaum hawa yang hadir sangat mengidolakan Pak Donie, tak terkecuali Bela.
Baru kali ini Bela melihat sisi lain dari Pak Donie yang selalu terlihat jutek di kantor.
Pak Donie, ganteng banget. Kakinya panjang, jalan bolak balik di podium sambil menjelaskan materi dengan meyakinkan. Dan ternyata dia punya lesung pipi kalau tersenyum. OMG.... salah satu ubur-ubur yang menyebalkan ini ternyata manis banget. Pantes aja ibu-ibu banyak yang pindah ke deretan depan duduknya.
Setelah presentasi, dilanjutkan dengan tanya jawab dan diskusi. Agaknya Pak Donie menjadi idola, terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan kepadanya. Mulai dari pertanyaan yang berkaitan dengan materi, sampai pertanyaan pribadi yang tidak ada hubungannya dengan materi. Pertanyaan yang kadang membuat Pak Donie melampar senyum manis. Beberapa pertanyaan pribadi.dijawab dan beberapa dibiarkan menggatung.
“Pak Donie sudah berkeluarga?”
“Tinggal di mana Pak Donie?”
“Sudah punya pacar ?”
“Boleh saya melamar menjadi calon pacar ?”
“Saya boleh berharap Bapak menjadi calon menantu?”
Ibu-ibu itu memang aneh dan kebanyakan nggak punya malu ya. Gue jadi malu sendiri denger pertannyaan mereka. Tapi asli, hari ini Pak Donie ganteng banget.
Bela memejamkan mata sambil tersenyum. Saking halunya, dia tidak sadar Pak Donie sudah turun dari podium dan berjalan ke arahnya.
“Hei, ngapain kamu?”
agaknya Bela tidak tahu bahwa Pak Doni sudah berada di dekatnya dan mengajaknya bicara.
“Bela.... Bela....”
Bela kaget, tanpa sengaja kakinya menendang kursi yang ada di depannya, sehingga tubuh dan kursi yang didudukinya terdorong ke belakang dan dia terjengkang dari kursinya..... gubrak.....
“Aw....aw..... sakit.”
Bela memegangi kepalanya.....
Sakit dan malu..... beberapa mata melihat ke arahnya, termasuk pak bos.
“Bela, kamu ngapain?”
“Maaf pak.... saya kaget.”
“Ayo, kita keluar.”
Bela segera membereskan kekacauan yang dibuatnya dan mengikuti pak bos dengan terburu-buru.
Beberapa pasang mata melihatnya. Bela menunduk malu dan berjalan cepat-cepat.
Bruk..... lagi-lagi Bela menabrak punggung bosnya.
“Ah, kamu lagi.” Donie melotot ke arah Bela.
“Maaf pak.”
Donie menarik tangan Bela dan mengajaknya berjalan di sampingnya.
“Kamu jalannya di samping saya aja. Jadi nggak nabrak-nabrak saya lagi.”
“Iya pak.”
Sebenernya enak juga nabrak punggung Bapak. Rasanya pas di muka saya....hehe.... juga baunya harum... enak.
“Kita ke Cafe Rembulan, sebelum ke Hotel Golden Star. Siapkan reservasi di Cafe Rembulan.”
“Baik pak.”
Bela segera membuat reservasi di Cafe Rembulan sesuai dengan perintah Donie sambil berjalan menuju mobil.
Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di Cafe Rembulan.
Bela dan Donie menuju ke tempat yang telah dipesan sebelumnya. Mereka masuk ke dalam salah satu ruang VIP yang ada di sebelah Barat. Cafe ini cukup unik, ditata dengan perabot zaman baheula.... ada radio, sepeda, tempat makanan, kursi dan meja zaman old. Sebagian dinding dihiasi dengan dekorasi kayu dan bambu sehingga nuansa pedesaan zaman dulu terlihat kental.
“Pesankan saya bebek bakar, sepiring buah, dan teh tawar panas, juga kentang goreng 2. Kamu terserah
mau pesan apa. Jangan lupa pesan untuk pak Sugi dan antar ke sana.”
“Baik pak.”