My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 55



Mobil Honda Brio hitam memasuki halaman rumah Bela. Virnie memarkirkan mobilnya dan bergegas turun. Dari dalam rumah, terlihat Bela yang bersiap menyambutnya di teras.


“Hai Virnie..... kangen....” Kata Bela memeluk Virnie.


“Hihihi....sama, gue juga kangen.”


“Ayo, masuk. Gue buatin minuman hangat. Kalau mau makan sekalian, gue siapin.”


“Servisnya Bela.... nomer satu dah buat gue... hehe....”


Mereka berdua memasuki rumah dan terdengar suara canda tawa mereka memenuhi isi rumah.


Benny pulang ketika hari sudah mulai gelap. Hari ini suasanya rumah terdengar ramai. Ada suara-suara orang sedang berbicara di dapur. Ia langsung menuju ke dapur. Didapatinya dua orang gadis yang tengah memasak sembari bersenda gurau. Mereka berdua belum menyadari kehadiran Benny.


“Hai semuanya. Selamat malam. Eh, ada tamu. Sudah lama Vir?” Benny menyapa keduanya.


Virnie mengalihkan pandangan dari kompor. Dilihatnya Benny yang datang dengan kursi rodanya. “Selamat malam Bang Ben. Sudah dari tadi, bang. Aku izin menginap ya bang.”


“Ok. Anggaplah rumah sendiri, seperti biasa.”


Benny menghampiri Bela. Bela menyalami abangnya dan mencium pipinya. “Bagaimana kabarmu Bela?”


“Baik bang. Semua baik-baik saja selama aku tinggal kan bang?”


Tangan Bela ditarik. Benny mengajak Bela menjauhi Virni. Ada hal yang ingin disampaikannya. “Sssttt.... kemari. Aku melihat sosok seperti ayah beberapa hari terakhir ini di sekitar rumah kita.”


“Hah, ayah?” Bela terbelalak.


“Pernah sekali aku ingin mendekatinya. Eh, dia berlari pergi. Sepertinya dia tidak ingin aku melihatnya.”


“Bagaimana tampangnya sekarang bang?” Tanya Bela.


“Masih seperti dulu. Tidak kurus, tidak gemuk, hanya terlihat lebih tua. Aku rasa hidupnya baik-baik saja.”


“Dian tahu, bang?”


“Mana mungkin dia tahu. Melihatnya pun tak pernah. Foto-foto ayah kusembunyikan semua. Dian tidak pernah tahu.”


“Hem.... kalau dia berhadapan denganku, akan kutendang dia bang.” Tangan Bela terkepal.


“Bah.... kasar sekali kau.”


“Serius aku bang.”


“Tapi lebih baik kita tidak pernah bertemu dengannya lagi. Tak mau aku kalau sampai kita terlibat masalah.”


Makanan telah selesai dimasak. Kemudian mereka bertiga membersihkan diri. Beberapa menit kemudian Virnie dan Bela kembali ke dapur. Mereka mengambil beberapa piring, gelas dan sendok. Mereka menata makanan dan menghidangkannya di meja makan.


Menjelang pukul 7 malam, terdengar suara ketukan di pintu. “Siapa itu?” Tanya Bela. Ia menghampiri pintu dan dilihatnya Tommy dan Dian datang.


“Oh, Dian dan Tommy.” Mereka bergantian memeluk Bela.


“Apa kabar kak?” Tanya Dian dengan mencium pipi kakaknya.


“Baik, adikku sayang. Ayo, masuk semuanya.”


“Masak apa kak?” Tanya Dian.


“Ini, aku masak daging sapi lada hitam. Nanti kita makan malam bersama.”


“Hemmmm.... harum. Beruntung kita tadi tidak mampir untuk makan, yah. Di rumah sudah datang chef andalan kita, Isabela Lala Lala.” Kata Tommy mengedipkan mata ke arah Dian.


“Yeah....sudah lama aku tidak mendengar kamu sebutkan namaku seperti itu.” Kata Bela.


Bela membawa beberapa tas belanjaan dan dibaginya untuk mereka berempat. “Ini untuk abang, ini untuk Dian, ini untuk Virnie, dan ini untuk Tommy.”


“Wah, kakak memang the best lah.... paling tahu kesukaan kami semua.” Terlihat nada senang dari nada bicara Dian.


“Baiklah sekarang kita makan.” Ajak Benny.


Mereka menikmati  makan malam dalam suasana yang menyenangkan. Canda dan tawa mewarnai makan


malam mereka.


***


Malam itu Virnie dan Bela membaringkan tubuh di tempat tidur Bela. Mereka saling berbagi cerita mengenai pengalamannya beberapa hari ini. “Selamat ya, elo dilamar akhirnya.... sama pengeran ubur-ubur...hahaha...” Virnie menggoda Bela yang sedang menelungkupkan tubuhnya di atas kasur sembari memegang ponselnya.


Bela tersenyum dan bercerita dengan semangat, “Iya. Senang banget gue. Tidak disangka yah, mas Donie bisa bersikap seperti itu. Biasanya serius banget.”


“Cerita dong, bagaimana perasaan elo. Secara gue ini belum pernah dilamar.”


“Eh, iya, serasa kilas balik dong, ke tempat-tempat yang pernah elo kunjungi sama mantan pacar.”


“Hah..... enggak juga. Tempat gue dan Trendy main bukan ke dua tempat itu. Gue ketemu Trendy, tahu. Setelah enam tahun.....gue ketemu lagi dan dia tambah keren.”


“Haaa? Inget say, elo pacar orang sekarang. Jangan lihat rumput di halaman tetangga deh.” Virnie teringat, dahulu Bela pernah bercerita tentang mantan pacarnya yang legendaris ini. Sejak putus dengan Trendy, Bela tidak pernah berpacaran lagi. Begitu berkesannya leleki ini di hati Bela. Setiap ada lelaki yang mendekatinya, selalu saja dibandingkan dengan Trendy.... kurang ini.... kurang itu.... sampai akhirnya Donie yang memaksa Bela berpacaran dengannya.


“Tempat kami menginap ternyata dekat dengan tempat kerjanya.”


“Mas Donie juga ketemu dia.” Tambahnya lagi.


“Wow, seru dong. Terus....terus gimana? Mereka rebutan elo?” Virnie sangat antusias mendengarkan cerita Bela.


“Gila aja kali, gue bukan barang yang bisa direbutin.... mereka tidak sempat saling ngoborol. Tapi yah....akhirnya terjadilah prahara gitu antar gue dan mas Donie.” Bela mengangkat bahu dan tangannya.


“Bete dong pak bos elo.”


“Iya.... tapi gue juga nggak kalah bete, Vir.”


“Kenapa?”


“Gue ketemu sama ayahnya Trendy. Ayahnya Trendy ini bekerja sama dengan Grup Sinar Wijaya. Kami bertemu ketika sedang rapat. Lemes gue, hampir pingsan Vir. Gue rasa ayahnya Trendy masih benci sama gue.  Pandangannya itu lho, bikin gue sakit perut. Padahal dia kan bukan siapa-siapa gue. Tidak ada hubungan apa-apa dengan gue, tapi masih aja dia simpan kebendiannya untuk gue.”


“Pak Donie tahu, kalau itu mantan calon mertua elo?”


“Enggak Vir. Kalo dia tahu, pasti kerjasama itu batal deh. Gue nahan-nahan aja nggak cerita sampai sakit kepala gue. Setelah pertemuan itu gue balik ke kamar dan tidur terus.”


“Haaaa? Nggak curiga cowok elo?” Virnie terheran-heran mendengar cerita Bela.


“Udah dong Vir.... nanti ada lalat masuk tuh. Mungkin yah dia curiga. Pak Reino yang curiga. Gue malah cerita sama dia, tapi tidak semua. Gue hanya bilang pernah ada masalah di masa lalu dengan bapak tua itu. Selanjutnya mas Donie menghibur gue dengan beli belanjaan banyak buat gue. Langsung sehat deh gue.”


“Ah, dasar lo.... giliran belanja aja. Langsung sembuh.”


“Walaupun belanjanya baju .... gue rasa cukup menghibur.” Seandainya saja yang dibelanjakan Donie adalah buku-buku, Bela bisa lupa waktu.


Ting....


(Donie) Sayang.... sudah tidur.


(Bela) Belum


(Donie) Masih ngobrol dengan Virnie?


(Bela) Iya.


(Donie) Cepat tidur yah.... istirahat


(Bela) Iya


(Donie) Goodnight


(Bela) Night


Melihat pesannya yang dibalas dengan kata-kat singkat, Donie mengernyitkan dahinya. Sepertinya suasana hati Bela tidak sedang baik-baik saja malam ini.


Apakah ada sikapku yang salah, kenapa Bela sepertinya malas membalas pesan dariku?


Empat malam tidur bersama Bela membuatku ketagihan.


Virnie juga bercerita tentang kesehariannya beberapa hari ini. Ia mulai berkencan dengan Andrianto. Panjang lebar ia bercerita tentang salah satu sahabat Donie ini.


“Sepertinya elo sudah jatuh hati say.” Tebak Bela.


“Mungkin yah. Gue jalanin aja. Belum tahu nantinya bagaimana.”


“Serius? Dia playboy juga lho. Trio ubur-ubur itu playboy semua.”


“Haha.... iya. Dan kita kepincut dua di antaranya.”


“Haha....iya.”


“Kalau pak Reino bagaimana? Dia masih jomblo juga?”


“Ada pacarnya, Stefani Hotman.”


“Wow.... si ratu pesta itu. Cocok deh.”


“Iya.”


Selain berbincang tentang diri sendiri, sempat juga mereka bergosip ria.