
Hari ini, setelah mendengar pernyataan mas Donie bahwa ayah adalah orang suruhan pak Thomas. Aku tidak sanggup lagi melihat mas Donie. Aku merasa sangat tidak pantas untuk menatapnya. Maka sejak pagi aku
berusaha menghindarinya.
Pekerjaan yang aku hadapi hari ini harus segera kuselesaikan dengan cepat. Aku harus bekerja dengan penuh konsentrasi. Aku perlu meluangkan waktu setelah pekerjaanku selesai. Waktu untuk berpikir dan mengambil keputusan.
Mbak Hilda agaknya mendukung keinginanku. Entah apa yang akan dia rencanakan nanti sore. Yang jelas, hari ini ia pun tidak berencana untuk lembur. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaan. Sehingga aku lebih mudah untuk bekerja sama dengan mbak Hilda, bekerja bagaikan kuda memburu agar selesai sebelum jam kantor berakhir.
Sampai siang hari, tidak kulihat mas Donie kembali ke ruangannya. Tadi dia mengatakan ada urusan yang harus diselesaikannya. Bahkan sampai waktu makan siang usai, ruangannya pun masih kosong. Ia tidak mengabariku pergi ke mana. Mbak Hilda juga tidak tahu keberadaannya. Untung saja hari ini tidak ada meeting di kantor ataupun di luar. Sehingga urusan tanda tangan, bisa ditangguhkan esok hari.
Aku pun bersyukur karena aku tidak perlu bersusah payah untuk menghindari mas Donie. Hari ini aku berencana untuk pulang ke rumah, menenangkan hatiku, menenangkan perasaanku. Aku juga perlu berpikir jernih. Mungkin aku juga perlu bercerita kepada bang Ben.
Dadaku terasa sesak. Aku ingin membagi beban ini dengan seseorang. Tapi aku tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Aku sekedar ingin didengarkan agar beban ini sedikit terangkat. Namun aku belum butuh saran dari orang lain. Mungkin bang Ben orang yang tepat sebagai pendengar. Tidak mungkin aku bercerita kepada Virnie. Ia memang baik, tetapi kurasa aku perlu menyimpan rapat-rapat rahasia ini.
Ting....
(Virnie) Hai Kriwil cantik. Makan siang bareng yuk. Di tempat biasa.
(Bela) Ok. See you....
Siang ini Bela menghabiskan waktu makan siang bersama Virnie di kafe langganan mereka. Virnie tidak curiga dengan Bela, sehingga makan siang ini dihiasi dengan gelak tawa. Sejujurnya bagi Bela sangat susah untuk berpura-pura di depan Virnie. Sesekali ia menghela nafasnya. Rasanya berakting lebih berat daripada bekerja sepanjang hari di kantor. Jam makan siang ini terasa sangat lama bagi Bela.
Nampaknya Virnie sedang bahagia. Ia selalu bercerita tentang pacar barunya sejak mereka berdua bertemu tadi. Bela pun mendengarkan dengan antusias. Ini sedikit melegakan, mendengarkan kebahagiaan seseorang seolah mengobati rasa gundah di hatinya. Ia merasa sedikit bahagia. Ia juga merasa senang karena Virnie terlalu meluapkan kebahagiaannya sehingga ia tidak banyak bertanya kepada Bela, terutama tentang persiapan pernikahan Bela. Yah, pernikahan yang hanya tinggal beberapa hari lagi. Dan kini Bela merasa ragu, apakah pernikahan ini akan terlaksana, ataukah hanya sebuah rencana.
***
Waktu telah menunjukkan pukul 5 sore. Berarti waktunya untuk pulang.
Aku memeriksa kembali ruangan mas Donie. Meninggalkan beberapa berkas di laci mejanya dan menguncinya. Meja kerjanya kurapikan kembali dan kutinggalkan ruangannya yang beraroma khas mas Donie. Hemmm.... aku kangen...
Ddrrtt....
Donie calling....
“Hallo mas.”
“Hallo sayang, maaf aku tidak bisa menjemputmu di kantor. Posisiku jauh dari kantor sekarang. Nanti kamu pulang sendiri ya. Aku masih ada urusan yang belum diselesaikan. Mungkin malam aku baru pulang. Kamu tidak apa-apa kan?”
“Iya mas. Nanti aku pulang pakai taksi online saja.”
“Hati-hati sayang. Oh ya, tidak usah menungguku. Kalau kamu mengantuk, tidur saja.”
“Baik mas.”
“Sampai ketemu nanti, sayang. Bye.”
“Bye...”
Aku tidak berani berterus terang, bahwa hari ini aku tidak akan pulang ke apartemen mas Donie. Biarlah nanti malam mas Donie akan tahu kalau aku tidak pulang ke sana. Nanti malam akan kukabari dia. Sebenarnya
ada di mana mas Donie hari ini? Aku tidak berani bertanya lebih jauh. Aku takut ia akan membuat pembicaraan semakin panjang. Aku sedang tidak ingin berbicara dengannya hari ini.
***
Tok...tok...tok....
“Selamat sore.....” Bela membuka pintu rumah yang tidak terkunci. Ia memperkirakan Dian ada di rumah. Ternyata benar perkiraannya. Dian sedang menyantap makanan di meja makan.
“Eh, kakak sudah pulang.” Dian sedikit terkejut dengan kedatangan kakaknya yang tiba-tiba. Ditinggalkannya piring nasi yang ada di hadapannya. Bela merentangkan tangannya, menantikan pelukan sang adik. Lalu Dian pun segera memeluk kakaknya meluapkan rasa kangennya.
“Kamu kangen sama aku?” Bela mengusap kepala adik kecilnya itu. Kemudian Dian kembali duduk dan meneruskan makannya.
“Iya Dian. Aku sedang tidak enak badan. Pekerjaan di kantor banyak sekali. Dan aku ingin tidur yang lama. Jadi aku pulang ke rumah. Lebih tepatnya aku kangen rumah sih, kangenkamu dan Bang Ben.”
“Aha....yang bener kak. Pasti kakak kangen dengan poster artis Korea yang ada di kamar kakak ya? Ah, kakak ini, nggak seru. Yang ganteng itu ada di depan mata, kenapa masih juga kangen dengan poster poster itu?”
“Hahah.... ada-ada saja kamu itu. Bang Ben ke mana? Belum pulang?”
“Kebetulan kakak pulang hari ini, jadi aku ada teman di rumah. Bang Ben ada urusan, pembelian
barang-barang toko, katanya. Pulangnya besok.”
“Oh....” Bela agak kecewa mendengarnya. Berarti hari ini tidak mungkin ia berbicara dengan abangnya. Yang ada hanya Dian. Tidak mungkin ia membagikan cerita kepada Dian. Baiklah, mungkin lebih baik ia merenungkannya sendiri.
“Ayo kak. Makan dulu.”
Bela meletakkan tasnya kemudian mencuci tangan dan bergabung dengan Dian di meja makan.
“Kak, persiapan pernikahan kakak sudah beres? Kok sepertinya kakak tenang-tenang saja.”
“Semua diurus WO. Jadi kakak tidak ikut-ikutan. Lagi pula kami tidak mengadakan resepsi besar, hanya keluarga dan orang-orang terdekat. Jadi tidak repot.”
Bela agak tercekat dengan pertanyaan adiknya. Ia sendiri tidak yakin, apakan ia akan meneruskan rencana pernikahan ini, ataukah harus diakhiri saja.
“Bagaimana perasaan kakak? Merasakan sebentar lagi akan menjadi Nyonya Wijaya.”
“Ah, tidak ada yang berubah. Pastinya aku tetap kakaknya Dian.”
“Maksudku, deg degan tidak, kak? Mempersiapkan hati menjadi seorang istri?”
“Jalanin aja deh. Jangan kebanyakan mikir, nanti kamu pusing, belum waktunya haha....”
“Ih, kakak. Aku kan juga mau tahu.”
“Kamu bagaimana kuliahnya? Katanya sudah selesai ujian skripsi kemarin.”
“Iya.... aku lega kak. Tinggal revisi sedikit. Dosenku sangat mendukungku sehingga saat ujian beberapa hari yang lalu, aku tidak kesulitan menghadapi dua orang dosen penguji.”
“Syukurlah.”
“Kak, mungkin dua tahun pertama nanti, aku menjalankan ikatan dinas jauh dari kota. Bisa di luar Jawa lho.”
“Kamu siap?”
“Aku siap saja kak, tapi kak Tommy itu lho.”
“Kenapa dengan dia?”
“Katanya nggak kuat jauh-jauh. Dia mau ngajak aku tunangan aja sebelum menjalankan ikatan dinas.”
“Hahaha..... dasar si Tommy.”
***
Bela berbaring di atas tempat tidurnya, merasakan kembali aroma kamar, aroma rumahnya. Suasana ini mengingatkannya saat keluarganya masih utuh. Belum ada Dian dalam kehidupan mereka. Rasanya saat itu adalah waktu yang sangat membahagiakan. Ayah dan ibunya terlihat saling menyayangi. Ayah juga sangat mencintai keluarga. Keadaan ekonomi mereka pun sangat berkecukupan.
Keadaan berubah ketika sang ayah tenggelam dalam perjudian. Usahanya mengalami kemunduran. Ia mulai berlaku kasar kepada keluarganya, menyakiti anak dan istrinya. Hingga puncaknya ketika Dian lahir, ia tidak pernah lagi menunjukkan batang hidungnya di rumah. Ia meninggalkan keluarganya begitu saja, tanpa kabar apapun. Sampai beberapa hari yang lalu ia datang kembali ke rumah, menemui Bela dan mengatakan kepada Bela untuk menjauh dari kehidupan Donie.
Aku tidak minta dilahirkan menjadi anak ayah. Di umurku yang 27 tahun ini, aku pun hanya mengenal arti kehadiran ayah tidak lebih dari tujuh tahun kehidupanku. Yang aku tahu ayah meninggalkan kesan yang buruk bagi kami. Tadinya aku benar-benar berpikir ayah bukan siapa-siapa bagiku. Ia bukan lagi orang yang mempengaruhi hidupku. Tapi ternyata hubungan darah ini tetaplah berpengaruh. Apapun yang dia lakukan, ia terhubung denganku. Kalau bisa memilih, aku tidak ingin terlahir menjadi anaknya. Aku tidak bisa lagi menghadapi mas Donie, ayahku ternyata seorang pembunuh. Dan yang dibunuh adalah keluarga terdekat mas Donie. Darah ayah mengalir dalam tubuhku adalah darah pembunuh. Aku sungguh tidak pantas. Aku tidak bisa dimaafkan.
Padahal baru saja aku ingin merasakan bahagia bersama mas Donie. Bertemu dengan pendamping hidup yang sangat baik, tapi lagi-lagi ayah merenggut kebahagiaan dariku. Kenapa kami bertiga harus selalu terkena imbas dari perbuatan buruk ayah? Apakah hanya karena aliran darah yang sama, kami harus saling berbagi menanggung dosa yang telah dilakukannya?