My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 35



“Bela, nanti kita berangkat bersama ke kantor.” Donie berkata kepada Bela yang telah siap memakai baju kerjanya.


“Mas, tapi aku turun di jalan utama saja ya.” Jawab Bela.


“Kenapa?” Donie bertanya dengan curiga.


“Mas, tidak enak kalau teman-teman kantor tahu.”


“Tahu apa?” Tanya Donie sambil memasang dasinya.


“Boleh kubantu memasang mas?” Tanya Bela. Donie mengangguk dan Bela pun membantu Donie memasangkan dasinya. Bela agak kesulitan karena Donie terlalu tinggi baginya. Donie pun mengerti kesulitan Bela. Ia tersenyum dan sedikit membungkukkan badannya.


“Aku tidak mau teman-teman kantor tahu kalau kamu pacar aku, mas.”


“Mau kamu sembunyikan? Ceritanya aku pacar gelapmu?” Tanya Donie menggoda. Sebenarnya ia tahu ke arah mana pembicaraan Bela.


“Haha.... mana pantas kamu jadi pacar gelap aku. Nanti mereka bergosip di kantor, mas. Dan itu menyulitkan aku. Setiap perbuatanku pasti dikaitkan denganmu. Aku belum siap mas.”


“Baik tuan putri, lakukan sesukamu saja.”


“Coba lihat sebentar Bel....” Donie memeriksa leher Bela. “Sudah jauh berkurang. Tidak terlalu terlihat. Kamu tidak perlu menutupinya dengan syal. Atau mau kuberi kissmark lagi?”


“Stop it.... “ Bela menggeleng mendorong dada Donie menjauh darinya.


Donie tersenyum dan mengajak Bela turun. Mereka membawa beberapa tas barang dan juga sebuah koper. Pagi ini mereka langsung check out dari hotel.


Donie melajukan mobilnya menuju ke kantor. Bela duduk di samping Donie dan sibuk memainkan ponsel.. Hari masih terlalu pagi, belum disibukkan oleh kemacetan.


Ddrrtt.....ddrrtt....ddrrtt.... ‘Virnie calling’


Bela : “Hallo Virnie...”


Virnie : “Say.... sibuk nggak nanti sore sepulang kerja?”


Bela : “Kangen ya hehe....?”


Virnie : “Iya. Elo sibuk terus kriwil cantik. Sibuk beneran atau sibuk pacaran. Hahaha....”


Bela : “Haish.... nanti gue tanya dulu ke bos gue, sore ini ada kerjaan enggak. Gue juga kangen ngobrol sama elo say....”


Mereka berdua asyik mengobrol, bahkan Bela lupa bahwa ia berada di mobil berdua dengan Donie.


Bela terlihat bahagia mengobrol berdua dengan temannya. Tertawanya dan senyum manisnya menghiasi perjalanan hari ini ke kantor. Donie merasa terabaikan, namun ia senang dan bahagia melihat Bela tertawa lepas.


“Mas.... nanti sore, aku tidak usah diantar pulang ya. Aku mau ketemu dengan Virnie. Sudah lama tidak saling curhat.” Bela meminta izin kepada Donie.


“Ehm.... ok.  Terserah kamu saja.” Donie langsung menyetujuinya mengingat kekasihnya ini sangat bahagia berbicara dengan temannya.


“Bela, tapi berdua Virnie saja kan? Teman kamu yang lelaki itu tidak ikut kan?” Tanya Donie lagi.


“Tommy maksudmu?”


“Iya.”


“Hanya berdua Virnie, mas. Lagipula Tommy dan aku juga hanya sahabat, tidak ada perasaan macam-macam.”


“Ingat yah, tidak ada persahabatan yang murni antara cewek dan cowok.”


“Ih, kamu cemburu mas? Hahaha.....”


Donie menatap  Bela dengan wajah datar. Seketika Bela menghentikan tertawanya. Ia jadi takut Donie sedang tidak bisa diajak bercanda. Serius mode on.


“Mas marah?”


“Tidak. Turunlah... ini sudah dekat kantor.” Kata Donie lagi. “Barang-barangmu nanti dikirim sopirku ke rumah. Ada orang di rumah siang ini?”


“Kosong, mas. Nanti sore saja. Sekitar jam 4 adikku sudah di rumah. Trims ya mas. Aku turun.” Bela segera turun dari mobil.


Sesampainya di ruangannya, Bela membereskan meja kerjanya dan mengecek jadwal yang telah dibuat oleh Hilda. Kemudian Bela menulis beberapa note, ditempelkannya pada berkas di mejanya. Dilihatnya kursi Hilda masih  kosong. Biasanya ia datang lebih dahulu daripada Bela.


Tak lama kemudian.....”Selamat pagi Bela. Wow.... kamu terlihat cantik. Baju baru lagi nih? Sini dong, aku mau lihat.” Hilda mendatangi Bela dan bermaksud ingin mengorek keterangan lebih dari Bela.


“Maaf mbak, aku mau meletakkan berkas ini di ruangan pak Donie. Beliau sebentar lagi datang. Tahu sendiri kan kan kalau berkasnya belum ada di meja, tapi orangnya sudah datang? Bos galak itu pasti marah, mbak.” Bela menghindar dan segera berlalu meninggalkan Hilda. Hilda terlihat kecewa. Ia memasang wajah cemberut.


***


Pekerjaan kantor telah selesai dikerjakan. Bela merasa senang, terlihat dari wajahnya yang berseri-seri. Yah, sore ini dia berjanji bertemu dengan sahabat karibnya. Ia merindukannya.


 “Mbak, aku duluan yah.” Pamit Bela kepada seniornya.


“Ya Bela. Eh, kamu kelihatan senang sekali. Mau kencan ya?”


“Ah, mbak Hilda bisa aja.”


“Orang mana pacarmu Bel?”


“Mbak.... aku bukan mau pacaran. Mau ketemu sahabat aku. Sudah kangen banget nih.”


“Oh.... ya  sudah. Hati-hati ya.” Sebenarnya Hilda masih penasaran dengan Bela. Ia masih sangat yakin bahwa Bela akan pergi berkencan. Walaupun Bela tidak mengakuinya.


Tak lama setelah Bela pergi, Donie keluar dari ruangannya. “Kemana Bela, Hilda?”


“Sudah pulang duluan, pak. Tepat pukul 5 tadi.”


Donie melihat jam tangannya, “Saya pulang dulu Hilda.”


“Iya Pak. Selamat sore.” Jawab Hilda. Ia merasa senang karena Donie segera berlalu. Itu berarti tidak ada  tumpukan pekerjaan untuk hari ini kecuali ada telepon mendadak. Ia segera mengemasi barang-barangnya dan meninggalkan ruangan.


Di lobby kantor, Bela terlihat duduk sambil memainkan ponselnya. Ia masih menunggu Virnie.


“Bel.....” Donie keluar dari lift dan mendekati Bela.


“Iya pak.”


“Kamu yakin tidak mau ikut aku?”


“Maaf ya pak. Sore ini saya sudah di booking. Hehe...” Bela menjawab dengan bergurau.


“Berapa harga booking nya? Aku ganti yah dua kali lipat.” Tawar Donie lagi.


“Hiks.... Pak Donie. Tampaknya bapak harus merelakan saya sore ini. Tuh.... Virnie sudah menjemput.” Bela menunjuk mobil brio hitam di depan kantor.


“Bye, sayang.” Balas Donie.


***


“Hai.... Virnie.... gue kangen banget.” Bela memeluk sahabatnya dengan erat.


“Wah, elo tambah modis yah. Tampilannya beda yah kalo jadi pacar horang kaya hehehe...”


“Apaan sih Vir....” Bela mencubit lengan Virnie.


“Ayo deh kita makan dulu di Bakso Gendut langganan kita.”


“Ok.” Bela segera memasang seatbeltnya dan Virnie menjalankan mobilnya keluar dari halaman kantor Grup Sinar Wijaya.


Donie mengamati dari lobby sampai mobil hitam itu keluar dari halaman kantornya. Kemudian dua lelaki tegap menghampiri Donie. Salah satunya berbicara kepada Donie. Dua orang itu bertugas menjaga Donie. Wiliam yang mengirimnya.


“Pak, mau pulang sekarang?” Supri, sopir Donie menghampiri Donie yang berdiri berhadapan dengan dua orang berbadan tegap.


“Iya.”


“Baik pak, saya siapkan.” Supri segera meninggalkan Donie dan mengambil mobil untuk mengantar bosnya pulang.


***


Dua wanita cantik itu sedang menikmati kelezatan Bakso Gendut sembari sesekali mengobrol dan tertawa. Virnie, sahabat Bela, rambutnya pendek dengan hilight coklat dan merah, matanya bulat dengan bulu mata lentik,  berhidung mancung dan bibir tebal yang penuh. Banyak yang diceritakan Virnie sore itu, terutama tentang


exboyfriend yang kembali mendekatinya. Padahal mereka telah putus tiga bulan yang lalu karena Virnie mendapatinya berselingkuh dengan teman kantornya. Kali ini dia mendekati Virnie kembali karena telah  dicampakkan.


“Mungkin dia pikir gue tempat sampah say, seenaknya saja dia mau balik ke gue lagi.” Kata Virnie.


“Tidak usah dipikirkan Vir. Sekali dia berselingkuh, akan ada yang kedua kali, ketiga kali, dan seterusnya.”


“Iya, yang bikin gue galau ini karena gue masih punya rasa sedikit. Dia masih bisa bikin gue kikuk.”


“Hindari saja sebisanya. Atau cari pacar baru deh Vir....”


“Itu juga yang gue pikir.” Virnie mengelap keringatnya dengan tissue. “Enak banget baksonya Bel. Entah berapa bulan gue tidak ke tempat ini.”


“Lebih enak kalo disantap berdua sama elo begini Vir. Kalo sama yang lain, rasanya beda, tidak sama. Haha....”


“Bisa bicara gombal lo sekarang say? Diajarin bos ubur-ubur ya?”


“Hahaha...... “ Bela tertawa meringis.


 “Hai sayangnya Donie....” Tiba-tiba seorang lelaki tampan berambut coklat ikal datang menghampiri Bela. Ia duduk di samping Bela. “Sering ke sini juga?”


“Eh, ada pak Andri. Iya pak. Ini bakso langganan kami.  Sendirian aja pak?” Tanya Bela.


“Iya nih. Sedang  mencari yang bersedia menemani.” Andrianto tertawa.


“Bang, bakso satu. Minumnya teh botol.” Andri memesan bakso kepada pelayan yang menghampirinya.


Virnie yang duduk di depan Bela menendang kaki Bela. Bela yang sedang menyuapkan bakso ke mulutnya hampir tersedak. Buru-buru diambilnya minuman dan menyesapnya. Bela melihat ke arah Virnie dengan mengrenyitkan alisnya seolah bertanya ‘ada apa?’


Virnie memberikan isyarat dengan mengarahkan bola matanya kepada lelaki tampan yang duduk di samping Bela.


“Kamu bersama siapa Bel?” Tanya Andri setelah selesai mengunyah satu sendok mie dari mangkuknya.


“Saya bersama Virnie, pak. Kenalkan.... ini Virnie. Virnie, ini pak Andrianto Manajer Pemasaran di kantorku.”


“Saya Virnie pak.” Kata Virnie sambil tersenyum.


“Jangan panggil pak, nona cantik. Saya bukan atasanmu. Panggil nama saja.”


“Ah, tidak enak kalau langsung nama. Anda lebih tua daripada saya. Kakak saja bagaimana?”


“Deal.... nona cantik. Nona Virnie yah?”


Wajah Virnie bersemu merah.


“Kalian berdua sering kemari?”


“Dulu sering, pak. Sekarang agak jarang karena sama-sama sibuk. Virnie ini teman saya sejak SMA.“


“Lain kali kalau mau ke sini ajak saya juga, nona-nona.” Andrianto memang paling bisa mencairkan suasana. Mereka bertiga pun asyik dengan obrolan yang tidak ada habisnya. Semangkuk bakso dirasa tidak cukup untuk menemani obrolan mereka bertiga.


“Biar aku saja yang bayar.” Andi bangkit dari duduknya dan menuju kasir.


Virnie tersenyum penuh arti ke arah Bela. Bela tau arti senyuman Virnie ini.


“Mau saya antar nona-nona cantik?” Tanya Andri.


“Tidak perlu kak. Aku membawa kendaraan.”


“Oh, baiklah. Lain kali aku yang akan mengantarmu, nona Virnie.” Andri mengedipkan sebelah mata kepada Virnie.


“Oh ya, boleh minta no teleponmu?” Andri bertanya kepada Virnie.


Vinie segera menyebutkan nomornya. Andri mengetikkan di ponselnya. Mereka saling berpamitan.


“Bela....tampan sekali.....” Virnie menutup wajahnya dengan kedua tangannya ketika mereka berdua telah berada di dalam mobil. “Ceritakan tentang dia Bel.”


“Ah, senang sekali rupanya nona Virnie ini.” Bela bergurau mengingatkan panggilan Andri kepada Virnie.


“Cerita nggak ya? Hahaha.....” Bela menggoda Virnie yang sedang berbunga-bunga.


“Vir elo masih ingat waktu kita ke club tampo hari? Andri itu salah satu dari trio ubur-ubur.”


“Pantas saja....rasanya tidak asing wajahnya.”


“Siapa dia Bel?”


“Gue sudah bilang, dia itu manajer pemasaran.”


“Maksud gue, apakah masih single?”


“Dia duren, Virnie sayang.”


“Woowww......” Virnie menjalankan mobilnya. Ia terlihat sangat bersemangat mendengarkan penjelasan Bela.