My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 39



Dari dalam toilet Bela mendengar suara pintu dibuka. Kemudian ada suara langkah kaki. Entahlah, Bela mempunyai firasat yang tidak baik mendengar suara langkah kaki itu. Seperti suara langkah kaki pria. Bela bergidik dan bulu kuduknya berdiri. Kemudian didengarnya air mengucur dari kran wastafel, agak lama.... dan terus


mengalir tidak dimatikan. Perut Bela menegang, jantungnya berdetak lebih cepat, dan tidak sanggup membayangkan apa yang akan dihadapinya nanti. Ia hanya menahan diri berlama-lama di dalam toilet.


Sudah 15 menit Bela bertahan di dalam toilet. Ia sangat sadar bahwa tidak ada orang lain di toilet selain dirinya dan orang yang masuk tadi. Tapi tampaknya orang tersebut sengaja membuat suara berisik dengan membiarkan kucuran air di wastafel. Bela mengambil ponselnya dari dalam tas dan mengetik sesuatu di dalamnya. Kemudian


ia menelepon Donie dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.


Dengan perlahan, Bela membuka pintu dan berjalan keluar hendak memakai heelsnya yang diletakkan di bawah wastafel. Suasana sepi, ia tidak melihat siapa-siapa.


Tiba-tiba Bela melihat bayangan bergerak di belakangnya dan menarik bahunya. Sekilas dilihatnya sosok pria berjaket hitam, menggunakan penutup wajah dan hanya menyisakan lubang di mata. Tanpa suara, orang itu membekap mulut Bela. Ia mencium bau tidak enak dari kain yang ditutupkan ke mulut dan hidungnya. Badannya terasa lemas dan matanya terasa berat, ia sangat mengantuk.


Brug....


Tubuh Bela tergeletak di lantai yang dingin.


Tadi Bela sempatkan untuk menelepon Donie dan membiarkan teleponnya tersambung sebelum dimasukkan ke dalam tas karena ia merasa akan ada sesuatu yang buruk menimpa dirinya.


“Hallo.... Bel.... ada apa Bela? Bela, kenapa kamu diam saja Bel?” Donie menerima telepon dari Bela. Namun ia heran karena tidak terdengar suara Bela, hanya terdengar suara-suara gemricik air dan suara benda jatuh. Karena khawatir, ia segera berlari menuju toilet wanita. Dua orang petugas keamanan pun berlari mengikuti Donie.


Sesampainya Donie di depan pintu toilet wanita, ada papan pengumuman ‘TOILET RUSAK’. Donie heran, sepertinya hari ini semua sudah diperiksa dengan baik dan teliti. Toilet sepertinya tidak bermasalah. Ia segera memasuki toilet wanita dan mengabaikan pengumuman tadi.


Ia sangat terkejut mendapati kekasihnya tergeletak tak bergerak di lantai.


“Bela, bangun Bela.....” Donie menepuk-nepuk pipi Bela. Namun Bela diam saja. Donie memeriksa badan Bela, dia khawatir jika ada yang terluka. Namun sepertinya Bela hanya pingsan. Mungkin orang yang hendak mencelakai Bela belum sempat melakukan sesuatu lebih jauh.


Donie berbicara sebentar dengan dua orang pengawalnya. Ia meminta agar mereka memeriksa keadaan, cctv dan juga menyelidiki hal lain yang mencurigakan. Kemudian ia menelepon dokter pribadinya.


Tubuh Bela yang tidak bergerak diangkat Donie. Digendongnya Bela dan dibawanya menuju mobil. Tidak sulit bagi Donie untuk membawa tubuh Bela yang mungil ini ke mobilnya. Kurang dari 10 menit ia dan Bela telah berada di dalam mobil Audi kesayangannya. Ia segera melajukan mobilnya menuju apartemen.


Tak lama kemudian Donie sampai di tempat parkir apartemennya. Dilihatnya dr Rangga berdiri menunggunya. Tanpa menunggu aba-aba, Rangga segera membantu Donie untuk membawa Bela menutu apartemen.


“Apa yang terjadi?” dr. Rangga memeriksa Bela yang telah diletakkan di atas tempat tidur.


“Aku menemukan Bela tergeletak di lantai kamar mandi di kantor.”


Sebentar kemudian, “Bela tidak apa-apa, Don. Ia pingsan karena menghirup obat bius. Tapi sebentar lagi ia akan siuman. Biarkan ia istirahat. Aku perkirakan ia pasti syok dengan kejadian sebelum ia pingsan. Ini aku berikan obat untuk menenangkannya supaya ia bisa istirahat.”


“Baik. Terima kasih Rangga.” Dr. Rangga pun pamit dari apartemen Donie.


Kini tinggallah Donie berdua dengan Bela di dalam kamar tidur yang temaram. Donie tadi menyalakan lampu tidur supaya Bela tidak terbangun.


Aku tidak menyangka. Tim keamanan yang sangat ketat menjagaku dan mami ternyata kecolongan. Targetnya bukan hanya aku dan mami. Dugaanku, kemungkinan om Thomas adalah dalang di balik peristiwa ini. Aku tidak


tega membiarkan Bela jauh dari pengawasan. Besok, aku akan mengajaknya ke luar kota. Lebih baik dia selalu berada di dekatku, dalam pengawasanku. Itu bisa membuatku sedikit tenang.


Di dalam kamar tidur itu Donie terlihat mondar mandir sambil berpikir. Tidak lama kemudian ia mengambil ponselnya yang tak henti berdering. Dijawabnya panggilan dari Reino dan Andri, juga dari maminya. Mereka semua mengkhawatirkan keadaan Donie karena tadi Donie meninggalkan pesta dengan terburu-buru. Donie berusaha menenangkan mereka dan mengatakan bahwa saat ini Bela baik-baik saja dan sudah mendapat perawatan dari dokter.


Sekitar 15 menit Donie membersihkan dirinya. Kini ia merasa sebih segar. Kemudian ia berganti pakaian dan keluar dari kamar mandi. Bela masih tidur dengan pakaian pestanya. Pasti tidak nyaman tidur menggunakan gaun pesta. Namun Donie tidak sampai hati untuk menggantikan bajunya. Dilihatnya waktu di jam dinding, pukul 11 malam. Ia


teringat akan Bang Beni, kakak Bela. Kemudian diteleponnya kakak lelaki Bela dan meminta izin karena Bela tidak enak badan dan tidak dapat pulang malam ini. Tentunya ia tidak memberi kabar bahwa Bela saat ini masih pingsan. Tak lupa pula ia berjanji bahwa esok pagi ia akan ke rumah Bela untuk mengambil pakaian Bela.


Donie keluar dari kamar. Ia bermaksud membuat minuman hangat agar lebih segar.


Ah, kenapa gelap? Aku ada di mana? Ini bukan di toilet? Ini di dalam ruangan. Gelap. Dimana ini? Apakah aku diculik?


“AAAAAA......TOLONG....TOLONG......!!!”


“TOLONG JANGAN SAKITI AKU.... TOLONG......!!!”


Ceklek.....


Donie membuka pintu kamar dan menghampiri Bela yang berlindung di dalam selimut. Dipeluknya Bela untuk menenangkan kehisterisannya.


“Sssttt.... sayang, ini aku. Kamu sekarang ada di rumahku. Sudah, jangan takut.”


Donie masih memeluk Bela yang berada di dalam selimut. Teriakan histerisnya pun berhenti. Perlahan Bela membuka selimutnya dan melihat Donie yang kini berada di sampingnya.


“Bela. Sudah aman sekarang.” Donie melihat manik mata Bela yang masih menyiratkan kekhawatiran.


“Tadi.... tadi di toilet, ada seorang laki-laki yang membekapku, mas.” Cerita Bela dengan menahan gemuruh ketakutan di dadanya.


“Tenanglah ! Sekarang sudah aman. Aku menemukanmu tergelentak di lantai. Lalu kubawa kemari. Tadi


dokter sudah memeriksa. Tidak ada luka di tubuhmu. Nanti kamu makan obatnya ya, supaya nanti bisa tidur nyenyak.”


Kruk.....kruk.....kruk.....


Tiba-tiba perut Bela berbunyi. Ia menatap Donie dengan malu-malu, “Mas, aku lapar....hehe.”


“Aku tidak bawa pakaian, mas.”


“Pakai saja pakaianku. Pilih sendiri di dalam lemari pakaian. Tadi aku sudah memberi kabar Bang Benny bahwa kamu tidak pulang karena sakit. Janjiku besok pagi kita ke sana.”


Donie meninggalkan Bela di kamar. Bela kemudian bersiap untuk membersihkan diri. Sementara Donie memeriksa stok makanan. Ternyata masih ada nasi, berarti ia bisa membuat nasi goreng.


Bela keluar dari kamar. Ia memakai t-shirt berwarna krem dan celana pendek milik Donie. Ia merasa bagai orang-orangan sawah karena pakaian itu sangat kebesaran untuk tubuhnya.


“Hhmmmm..... harum.... aku jadi tambah lapar. Nasi goreng ya mas?”


“Iya. Mau pakai apa? Telur mata sapi?”


“Iya, boleh. Penasaran dengan nasi goreng buatanmu, mas. Eh, kenapa kalau telur,  mata sapi, mas?”


“Kalau cowok, mata keranjang.”


“Hahah.... kalau cewek?”


“Kalau cewek, mata duitan.”


“Hahaha........” Bela tertawa keras sampai air matanya keluar mendengar perkataan Donie.


Donie sendiri cukup senang karena gadisnya itu terlihat sudah pulih seperti sedia kala. Kemudian mereka


berdua menikmati nasi goreng buatan Donie.


“Enak sekali. Tidak kusangka kamu pintar masak, mas.”


“Kalau hanya membuat nasi goreng, aku juga bisa.”


“Aku mau nonton film dulu sebelum tidur, mas.” Bela duduk di depan tv dan mulai memilih film dari hardisk.


“Ok. Aku beres-beres pakaian untuk dibawa besok.” Donie masuk ke kamar sambil terus bicara. Ia mengambil beberapa potong pakaian dan memasukkannya ke dalam sebuah koper.


“Besok mau ke mana?” Tanya Bela lagi.


“Ke Yogyakarta. Kamu juga harus ikut. Tidak aman di sini. Aku tidak tega meninggalkanmu di sini, jauh dari pantauanku.”


“Lho.... aku harus ikut?” Mata Bela membulat mendengar perkatan Donie. Bukankah seharusnya ia tidak ikut dalam perjalanan dinas ini.


“Iya, besok kita sekalian minta izin Bang Ben.” Perkataan Donie tidak bisa dibantah.


Dua puluh menit kemudian....


“Nonton film apa?” Donie keluar dari kamar tidur dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Ia berjalan mendekati Bela dan menghempaskan pantatnya di sofa yang sama dengan Bela.


“Fifty Shades of Grey.”


“What?...... Stop.... film yang lain aja, sayang.”


“Kata Virnie bagus, romantis. Aktor dan aktris nya juga cakep. Tanggung mas, aku sudah mulai nonton nih.” Bela merajuk dengan sorot mata memohon.


“Jangan, sayang. Film yang lainnya banyak yang lebih bagus.”


“Kenapa mas?” Tanyanya lagi dengan penasaran.


“Kamu belum cukup umur, Yang.” Sebenarnya Donie bingung harus menjelaskan kepada gadis polos di hadapannya.


“Ah, tapi kamu sudah pernah nonton kan?”


“Sini remote nya.... kita nonton film lain saja. Ada Badboys For Life, bagus lho, menghibur. Atau film Rampant, pemainnya aktor Korea kesukaanmu, Hyun Bin.” Kata Donie lagi. Ia memberikan alternatif film yang lain untuk ditonton Bela.


“Huuu uh.... kamu mengganggu saja, mas. Sana beres-beres lagi.”


“Hei.... mana remote nya?” Donie mencari remote di sekitar tubuh Bela, namun ia tidak menemukannya.


“Kutanya lagi, kenapa tidak boleh, pak bos?”


“Banyak adegan yang tidak baik untuk ditonton, apalagi ditonton gadis polos sepertimu.”


“Ya sudah. Nih remote nya..... aku mau tidur.” Bela mengeluarkan remote dari saku celananya dan diserahkan kepada Donie. Ia berdiri dan menghentakkan kakinya, kemudian melangkah menuju ke kamar.


“Eh, dinasehati malah ngambek.” Donie tersenyum melihat tampang Bela, terlihat sangat menggemaskan. “Hei, mau tidur di mana? Tidur saja di kamarku. Mana salam sebelum tidurnya?”


Bela menghentikan langkahnya. Ia berbalik ke arah Donie, “Good night, mas.” Masih dengan wajah cemberut.


“Good night, sweetheart. Love you.”