My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 26



Sepulang dari rumah Bela, Donie tidak pulang ke apartemennya. Ia pulang ke rumah maminya. Sudah malam, menjelang pukul 12.


Pelayan rumah membukakan pintu dan menyiapkan air hangat di kamar mandi yang terletak di kamar Donie di lantai atas. Pada saat ia akan naik ke lantai atas, tidak sengaja ia mendengar percakapan antara maminya dan omnya di teras samping. Donie mengurungkan niatnya menaiki tangga, ia mendekatkan diri ke pintu kaca yang membatasi antara ruang keluarga dan teras samping. Suasana di dalam rumah gelap, sedangkan di teras samping cukup terang, sehingga Donie yang sedang mengintip di dalam rumah tidak terlihat dari luar.


Cukup lama Donie mendengarkan percakapan kedua orang tua itu. Nada bicara keduanya cukup tinggi, menunjukkan bahwa mereka berdua sedang bertengkar. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh pelayan yang menghampirinya.


“Tuan, air panasnya sudah siap.” Kata pelayan sambil berbisik-bisik. Ia tahu bahwa Donie tidak ingin kedua orang tua itu tahu dengan kedatangannya karena isyarat jari telunjuknya diletakkan di bibirnya.


Selesai mandi, Donie tidak bisa tidur. Ia teringat akan percakapan mami dan omnya tadi.


Gue harus bertindak cepat, sebelum semua terlambat.


Donie mengambil ponselnya dan mengirim wa.


(Donie) Besok siang kita mancing ya.


(Reino) Tumben. Lama lo nggak ngajakin mancing.


(Donie) Ada yang mau gue bicarakan. Lo belum pulang?


(Reino) Kayak istri gue aja lo....nanya belum pulang.


(Donie) Rame bro?


(Reino) Rame. Ini udah masuk weekend. Andri juga ada di sini.


(Donie) Sekalian besok Andri ikut juga. Lo bilang ya.


(Reino) Ok. Good night ya beb.... haha..


(Donie) ****....


“Donie pulang, mbak Sari? Tanya mami Donie ketika melihat mobil sedan hitam terparkir di halaman.


“Iya nyonya. Baru saja sampai.”


“Dia tidak tahu kalau saya sedang berbicara dangan Thomas di teras?”


“Tuan muda langsung ke kamar atas, nyonya.” Mbak Sari menjawab sambil


***


Donie membuka matanya ketika cahaya matahari menembus jendela kamarnya. Ia mengerjapkan matanya sebentar, lalu duduk di pinggir tempat tidur. Lalu ia berdiri dan membuka jendela kamarnya. Angin pagi nan sejuk masuk melalui jendela. Donie menghirup udara pagi sambil terpejam. Ia sangat menikmati udara pagi, terutama


dari kamarnya. Sudah lama ia merindukan kamarnya ini. Sudah beberapa bulan ini Donie tidak pulang sama sekali. Ia memilih pulang ke apartemennya karena lebih dekat dengan kantor. Selain itu, sejak Om Thomas tinggal di sini, ia semakin malas untuk pulang. Ia seperti melihat tatapan mengerikan dari Om Thomas. Cukuplah di kantor ia bertemu dengan pamannya itu.


Donie melihat taman di halaman rumahnya melalui jendela kamar. Terlihat asri dan terawat. Ada sebuah kolam kecil dan bunga-bunga aster bermekaran di sekeliling kolam menambah keasrian taman.


Setelah puas menghirup udara pagi, Donie membersihkan diri di kamar mandi. Kemudian ia turun bermaksud untuk sarapan.


“Selamat pagi Mam.”


“Hmm... pagi. Masih ingat pulang?”


“Rindu mami.” Donie lalu memeluk maminya dari belakang. Bagaimanapun juga hanya dialah sosok ibu yang dikenalnya. Dan Donie selalu menyayanginya walaupun bagaimana perlakuan Lidya Wijaya kepadanya.


Lidya Wijaya diam saja menerima pelukan putranya. Sejujurnya ia juga sangat menyayangi Donie, tetapi ada sesuatu yang menghalanginya. Ia segera mengalihkan perhatian putranya.


“Mbak Sari sudah menyiapkan sarapan. Sana sarapan dulu.”


“Ayo kita sarapan bersama Mam.”


Mereka berdua makan nasi goreng yang telah disiapkan.


“Mau pergi lagi?”


“Iya Mam. Ada urusan kantor nanti siang.”


Suasana sepi lagi, tidak ada yang bicara sampai nasi goreng mereka berdua habis.


“Om Thomas mana Mam?”


“Mam.... are you okay?”  Donie melihat sorot mata yang berbeda ketika ia menyebut nama pamannya itu.


“Hmmm.... I’m fine.”


“Besok aku tugas ke Kalimantan Mam.”


“Ya.... bekerja keraslah agar kamu mudah mendapatkan posisi Presiden Direktur.”


“Soal Stefanie sudah beres Mam.”


“Mami sudah lihat di berita gosip tetang kamu dan Stefi. Mamanya Stefi juga sudah menghubungi mami. Jadi rencanamu akan lebih lancar.”


Luar biasa, ternyata ibu-ibu bergerak lebih cepat. Merka langsung terhubung setelah ada gosip tentang Donie dan Stefani.


“Jangan khawatir Mam. Aku akan perjuangkan mimpi Mami. Tetap sehat Mam.”


Donie ke kamarnya sebentar. Ia menyiapkan barang-barang yang hendak dibawanya. Kemudian ia turun dan menemui maminya yang sudah berdiri di teras rumah. Lidya berdiri memandang lurus ke taman yang berada di depannya. Tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu.


“Mam, aku berangkat.” Donie mencium tangan maminya.


Ia membisikkan sesuatu, “Hati-hati dengan om Thomas, Mam.”


Donie segera berlalu dari hadapan maminya. Sedangkan Lidya Wijaya menatap kepergian Donie dengan tanda tanya. Ia tidak tahu arah perkataan putranya.


***


Ddrrtt.....ddrrtt....ddrrtt....  Ponsel Bela berbunyi


“Hallo mas.”


“Sayang, aku jemput ya. Sekarang.”


“Ada apa mas?”


“Mau ngajak kamu.”


“Ke mana?”


“Ke apartemenku.”


“Ngapain?”


“Pacaran.”


“Huh....nggak kreatif cari tempat. Kemana gitu lho mas. Tempat yang bagus.... masa di apartemen sih.”


“Sekalian, kamu bisa bersih-bersih.....haha....”


“Hish......”


“Maaf sayang, aku nggak sempat cari tempat bagus karena nanti siang ada urusan kantor. Besok aku sudah harus berangkat ke Kalimantan. Bagaimana?”


“Ok. Kutunggu di pasar kaget.”


“Kamu nggak di rumah? Di mana pasar kaget itu?”


“Itu lho mas, jalan rambutan, yang  dekat rumahku itu. Liat aja di google map daripada nyasar.”


“Lagi belanja bahan makanan?”


“Iya, sama Dian nih. Kamu mau dibeliin makanan apa mas? Cenil, getuk, bubur kacang hijau, bubur jaipong, atau apa?”


“Terserah, yang penting enak. Kalau nggak ada yang enak, aku makan kamu aja.”


“Aih....mesum.”


 


Author : Sejujurnya saya kesulitan setiap memindahkan teks dari MS Word ke dalam aplikasi. Selalu saja harus diedit ulang. Apakah ada yang bisa membantu? Atau memang harus diedit ulang setiap dicopy ke aplikasi noveltoon?