
HALLO READERS, JIKA KALIAN SUKA, JANGAN LUPA YA BERI**:
· Komentar
· Like
· Favorit
· Tip**
SELAMAT MEMBACA
BAB 24
Menjelang pukul 6 sore, datang seorang pria dengan kursi roda. Donie menduga ia adalah abangnya Bela.
“Siapa ya?” Benny menghampiri Donie yang sedang duduk di teras rumahnya.
“Saya Donie, atasannya Bela. Saya sedang menunggu Bela.”
“Belanya di dalam?”
“Bela belum pulang.” Donie hendak menjelaskan, namun bingung harus menjelaskan dari mana.
“Maaf ya, pak bosnya Bela malah jadi nungguin Bela pulang. Oh ya, kenalkan saya Benny, abangnya Bela.”
“Panggil saja Donie, bang. Saya pacarnya Bela.”
Benny mengranyitkan dahinya mendengar pengakuan Donie. Ia melihat Donie dari atas ke bawah. Merasa diperhatikan seperti itu Donie sedikit merasa kikuk. Yah, karena diperhatikan oleh kakak pacarnya.
“Bela belum pernah cerita ke saya kalau dia sudah punya pacar.”
“Maaf Bang, saya belum sempat memperkenalkan diri kepada abang sebagai pacar Bela. Seharusnya saya memperkenalkan diri dalam suasana yang lebih baik.”
“Oh iya. Tak apalah. Santai saja. “
“Ayo masuk, tunggu di dalam saja.”
“Tidak apa-apa Bang, saya tunggu di sini saja.”
“Baiklah, kalau begitu saya tinggal dulu.”
“Silahkan Bang.”
Donie gelisah karena Bela belum juga pulang. Ia kembali mengubungi ponsel Bela, namun nihil, tidak ada hasilnya. Matahari mulai tenggelam perlahan-lahan dan penerangan berganti dengan lampu teras dan lampu halaman di rumah Bela.
***
“Maaf ya Bela... agak lamaan.”
“Iya nggak papa.”
“Elo udah tenang sekarang?”
“Iya, mendingan lah.”
“Kenapa lo tadi? Belajar main film India, pake hujan-hujanan begitu?”
“Haha... enggak sih. Penasaran aja. Pengen nyobain hujan-hujanan kayak anak-anak dulu.”
“Ah, paling juga mau nyembunyiin tangis elo. Kenapa Bel?”
“Begini rasanya yah Vir... punya pacar itu. Kadang terasa sakit, bukan hanya bahagia.”
“Mungkin begitu ya Vir.”
Virnie mengendarai mobilnya menuju rumah Bela. Guyuran hujan masih mengiringi perjalanan mereka. Hujan yang deras mengurangi ramainya lalu lintas kota. Motor-motor tidak terlihat berlalu lalang. Hanya mobil yang lewat.
Tak banyak yang dibicarakan Bela. Ia juga tidak bercerita kepada Virnie tentang masalah yang dihadapinya. Dan Virnie mengerti kegundahan hati Bela. Ia tidak memaksa Bela untuk bercerita. Begitulah sikap Bela. Ia tidak langsung mengutarakan masalahnya. Pasti ia akan merenungkannya terlebih dahulu. Mungkin lain waktu Bela akan bercerita kepada Virnie. Dan pasti keadaan sudah jauh lebih baik.
“Elo kedinginan Bel? Baju elo kan basah banget. Cari penyakit sih lo... hujan-hujanan segala, kayak nggak ada mainan lain. Kalo udah begini kan elo juga yang rugi. Belum lagi kalo ntar malem elo demam.”
Bela meringis mendengar ocehan Virnie, “Nggak papa kok Vir..... nanti sampai rumah gue langsung mandi.”
“Mau gue mandiin?”
“Elo apaan sih....? Emangnya gue batita?”
“Hahaha.... Eh, tapi ntar malem nggak perlu gue temenin kan?”
“Nggak usahlah Vir.... kan ada Bang Ben dan Dian.”
“Yah... kali aja. Ntar kalo butuh cerita, call me, okay?”
“Iya....iya...” Bela mengangguk angguk mendengar kecerewetan Virnie.
Virnie adalah sahabat terbaik Bela sejak mereka sama-sama duduk di bangku SMA. Bahkan selama kuliah pun, mereka tetap berhubungan walaupun tempat kuliah mereka terpisah oleh jarak yang jauh.
Mereka sampai di depan rumah Bela. Ada mobil sedan mewah terparkir di halaman rumah. Bela sudah tahu bahwa itu mobilnya Donie.
“Mobil siapa tuh? Mobil pacar elo?” tanya Virnie.
“Iya.”
“Tuh, dia ada niat baik untuk bicara sama lo. Pake kepala dingin kalo bicara, nggak usah emosi. Baru mulai pacaran udah pake drama-drama India.”
“Eh, elo udah kayak Bang Ben aja Vir.” Bela menepuk lengan Virnie.
“Haha... emang kalo siang nama gue Benny, kalo malem, Virnie.....”
“Hahaha..... iya..... mau mangkal yah sis?”
“Betul cantik... mau kejar setoran....... Ah.... udahlah... gue langsung aja yah. Salam untuk abang sama adik lo. Pesen juga untuk pacar lo, punya stok temen ganteng nggak...? haha....”
“Dasar lo.... Trims yah Virnie sayang.”
“Ok cantik...... bye.”
Bela keluar dari mobil Virnie dan berjalan menuju rumahnya.....
Deg....deg.....deg....jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia melihat sosok tinggi putih tampan itu sedang duduk di teras rumahnya. Mimpi rasanya membayangkan seorang Donie Wijaya bisa duduk di rumah Isabela Sanjaya.
Doni melirik Bela yang berjalan ke arahnya. Ia berdiri menyambut Bela dengan senyumnya.
Bela berusaha tidak luluh dengan senyum manis kekasihnya itu.
Ingat Bela, elo lagi marah.
HAI READER,
ACARA NGAMBEKNYA UDAHAN BELUM YA?
ATAU MAU DILANJUT
LAGI NIH?