
“Bela, ke mana Donie, sudah jam 8 dia belum datang? Tidak biasanya dia terlambat seperti ini.” Tanya Reino yang datang menghampiri Bela di ruang kerjanya. Ia pun tidak berhasil menghubungi Donie.
“Maaf pak. Dari tadi saya telepon, pak Donie tidak menjawab telepon saya. Padahal nanti jam setengah sembila ada rapat pak. Tentang proyek pembangunan di Surabaya.” Jawab Bela setengah putus asa.
“Baik, kamu siapkan bahan-bahannya. Segera kamu antarkan ke ruangan saya. Tidak ada banyak waktu sekarang. Jangan lebih dari 15 menit, Bela.” Reino memerintah Bela.
“Baik pak.” Bela bergegas mengambil berkas yang telah ia persiapkan di atas meja Donie. Ia kembali memeriksa berkas itu sebelum diantarkannya ke ruangan Reino.
“Mbak, aku antarkan ini ke ruangan Pak Reino, yah.” Bela berpamitan kepada Hilda yang sedang sibuk mengetik jadwal mingguan Direktur Donie.
“Ok Bela.” Jawab Hilda.
** di ruangan Reino **
Reino menelepon Donie berulang kali, namun tidak juga ada jawaban. Ia kemudian mengetik wa.
(Reino) Hi bro....di mana? Gue rapat proyek di Surabaya gantiin elo.
Tok .....tok....tok....
“Masuk.” Reino berbicara dari dalam ruangannya
Ceklek.....
“Saya mengantarkan berkas, pak.” Bela meletakkan tumpukan berkas di meja Reino.
“Bel, coba kamu ke Hotel Grand Persada temui Donie. Aduh, lupa nomor kamarnya saya. Sebentar, saya ingat...ingat.....” Reino mengecek ponselnya.
“Pak Donie sudah pulang dari Kalimantan pak?” Bela sedikit heran karena kekasihnya ini tidak mengabarinya sama sekali. Bahkan setelah peristiwa kekacauan di Apartemen Donie, kekasihnya itu belum pernah menghubunginya lagi.
”Iya, dia pulang bersama saya kemarin, tetapi hanya sebentar ke apartemennya yang berantakan itu. Dia beristirahat di rumah Andri tapi katanya mau menginap di hotel. Semalam kami bertiga keluar, tapi dia pulang duluan, katanya badannya tidak sehat. Oh iya, kamarnya no 708. Tolong kamu cek. Karena tadi saya juga tidak berhasil menghubunginya.” Donie mulai khawatir akan keadaan sahabatnya.
Bela mengangguk. Ia berpamitan dan segera meninggalkan ruangan.
***
Bela sampai di Hotel Grand Persada diantarkan oleh ojek online. Lebih efisien menggunakan ojek daripada harus diantar oleh sopir Donie. Kemudian Bela diantar oleh petugas hotel ke kamar Donie kamar 708.
Ting tong.... ting tong.... Bela memencet bel di samping pintu kamar.
Bela mengangguk. Ia terlihat sedikit ragu karena lelaki yang ada dai hadapannya bukanlah sosok yang dikenalinya.
“ Maaf pak, saya mencari pak Donie.”
“Ia, benar, ini kamar Pak Donie. Perkenalkan saya Rangga, dokter keluarga Pak Donie.” Lelaki itu berusaha menghapus keraguan Bela. Ia melihat pancaran ketidakpercayaan dari sorot mata Bela.
Bela masih ragu, tetap berdiri di tempatnya. Lalu ada suara dari dalam kamar, “Bela, masuklah.”
Bela mengenali suara itu. Sejenak ditatapnya dr. Rangga yang mempersilahkannya masuk sembari merentangkan tangan kanannya memberi isayarat untuk masuk.
“Pak Donie sakit, saya diminta datang pukul 3 semalam. Tadi saya sudah memberi obat dan suntikan. Sudah lebih baik sekarang.” dr. Rangga menjelaskan kepada Bela.
“Sebetulnya Pak Donie sakit apa pak?” Tanya Bela menyelidik. Ia tidak tega melihat keadaan Donie yang terbaring di atas tempat tidur.
“Terlalu sibuk bekerja, lupa makan, lupa istirahat, sedikit tidur. Begitulah Donie....seperti biasanya pekerjaan di atas segalanya.” Dokter ini sangat paham kebiasaan Donie. Sudah beberapa tahun ini ia melayani keluarga Donie. Tentu ia hafal dengan kebiasaan bekerja Donie.
“Karena ibu Bela sudah ada di sini, saya pulang dulu, pak Donie.” Rangga menghampiri Donie dan berpamitan.
“Bela saja pak, tidak usah pakai ibu.” Bela merasa tidak enak dipanggil ibu oleh dokter muda ini.
“Baik Bela, saya pulang dulu. Titip Donie. Terutama perlu diingatkan untuk minum obatnya.” Rangga mengingatkan. Bela mengangguk pelan.
“Thanks ya Rangga... Kalau kau tidak ke sini tadi pagi, mungkin saya sudah masuk UGD.” Donie meringis ke arah Rangga.
Rangga berlalu meninggalkan mereka berdua setelah mengambil tas dan jaketnya.
Sepeninggal dr. Rangga, Bela menghampiri Donie. Ia duduk di tepi tempat tidur di samping tangan kanan Rangga. Ia mengusap dahi Donie dengan lembut. “Mas tidak kasih kabar ke aku kalau sakit. Bahkan aku juga tidak tahu mas sudah pulang.”
“Banyak urusan, sayang.” Donie memejamkan matanya sejanak, lalu ia bicara lagi, ”Temani aku di sini sampai besok pagi.” Donie memberi perintah Bela dengan intonasi yang tidak dapat dibantah. Kemudian ia kembali tertidur. Matanya terpejam dan nafasnya berhembus teratur dari hidungnya.
Bela sebenarnya sangat merindukan Donie. Ia juga ingin saling berbagi cerita dengan Donie selayaknya sepasang kekasih. Namun sepertinya hubungan seperti orang kebanyakan tidak bisa dialami Bela. Donie sangat perduli dengan pekerjaannya dan sifatnya agak tertutup. Ia tidak bisa leluasa berbagi cerita dengan Donie. Sifat tertutupnya itulah yang sering membuat Bela merasa seolah-olah ia tidak dapat menggapai Donie. Ia merasa Donie begitu jauh dari jangkauannya.
Ah, di hotel gini bikin aku mengantuk. Hoaahmmm. Lihat-lihat keadaan kamar ah. Apa tadi kata mas Donie? Aku diminta nemenin dia di sini? Apaan sih? Aku kan tidak bawa apa-apa. Bagaimana ini?
Bela tidak waspada dengan keadaan di sekelilingnya ternyata ada koper Donie di dekat meja..... Bruuuggg..... Kaki Bela terantuk ujung koper sehingga tubuhnya terjatuh menabrak meja. Ia meringis merasakan sakit di kakinya. Mungkin tulang keringnya membentur koper atau meja. Ia menengok ke arah Donie.
Semoga Mas Donie tidak terbangun. Untunglah, dia masih terlelap.