My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 33



Empat orang pria gagah sedang bercakap-cakap di restoran hotel. Percakapan mereka terlihat sangat serius. Ya, merekalah Wiliam, Donie, Reino, dan Andri. Beberapa kaum hawa terpana menyaksikan kegagahan mereka.


“Benar dugaanmu,Don. Ada kejanggalan pada saat terjadinya kecelakaan Om Steven Wijaya. Aku berharap banyak ada bukti fisik yang masih ada, mengingat kejadian ini sudah lama berlalu.” Wiliam berbicara datar.


“Lagipula setelah wafatnya Om, tidak ada penyelidikan lebih lanjut karena tante Lidya sangat terpukul. Dan kamu Don..... malah pergi sekolah di luar. Aku dengar, tante sampai bolak balik ke psikiater untuk menghilangkan traumanya.” Lanjut Wiliam lagi.


“Iya, benar. Kamu tahu Wil, aku juga sangat terkejut dengan kecelakaan yang menimpa papi. Sebenarnya aku tetap ingin di sini saja, tidak ingin bersekolah di luar. Kamu pikir itu kemauanku? Om Thomas yang memaksaku. Ia sangat ingin aku mendapat pendidikan di tempat terbaik. Ia berjanji untuk menjaga dan merawat mami, juga


perusahaan mau tidak mau semakin dikuasai olehnya. Sebenarnya sangat berat bagiku waktu itu untuk pergi meninggalkan mami dalam keadaan seperti itu. Om itu baik, tapi aku merasa ada niat terselubung.” Sambung Donie.


“Pak Thomas selalu baik Don. Apalagi kalau menyangkut elo dan mami lo. Rasanya gue nggak percaya dengan apa yang dia lakukan pada perusahaan. Untuk apa dia melakukan penggelapan itu? Dia sangat sayang dengan elo dan mami lo.”


“Elo tahu dengan masa lalu Pak Thomas Don? Mungkin pernah punya istri atau pernah punya pacar. Dulu tinggal di mana sebelum tinggal di kediaman Wijaya?” Reino menyelidik.


“Mami jarang cerita sih. Yang aku tahu, dulu dia tinggal di rumah almarhum kakek sebelum tinggal di tempat kami. Dia mulai bekerja di perusahaan Wijaya sejak aku lulus SMP. Setelah papi tidak ada, dia pindah ke rumah kami dan rumah almarhum kakek dibongkar, dijadikan ruko untuk disewakan. Aku tidak tahu pasti keadaannya


waktu itu, tentang masa lalunya. Hanya sedikit sekali yang aku ketahui.” Donie kembali bercerita sambil mengenang.


“Yang jelas sekarang adalah tentang penggelapan dana perusahaan ini. Walaupun kita tidak tahu motifnya. Kapan akan kita ungkap Don?” Tanya Reino.


“Menjelang rapat pemegang saham. Itu jadi cara tercepat menurunkannya dari posisi sekarang.” Jawab Donie dengan pasti.


Tiba-tiba Reino melihat sekilas Isabela keluar dari lift. “Don, Bela masih di sini?”


“Iya. Kenapa?”


“Gue liat dia baru keluar dari lift.” Reino bicara ke arah Donie.


“Apa? Sebentar.... gue tinggal dulu.”


“Awas Don, kabur  dia. Dia pasti takut kalau nanti malam elo apa-apain dia.” Andri menggoda Donie.


Donie tidak perduli dengan gurauan sahabatnya, ia langsung keluar dari restoran dan menelepon Bela.


Ddrrtt...ddrrtt....ddrrtt.....ponsel Bela berbunyi


“Iya mas.”


“Kamu mau ke mana?”


“Aku keluar sebentar mas, ke minimarket, ada yang mau aku beli.”


“Kenapa tidak bilang? Aku tadi bilang jangan ke mana-mana.”


“Maaf mas. Tapi ini .... anu .... eh.... ada yang mau aku cari. Tidak mungkin mas yang beli. Sebentar saja mas. Jangan khawatir.”


“Ok. 15 menit. Aku tunggu di lobby hotel.”


“Iya mas.”


Lima belas menit kemudian Bela terlihat tergopoh-gopoh berjalan memasuki lobby hotel. Dilihatnya Donie yang berdiri dengan melipat tangan di depan dadanya. Wajahnya sangat tidak ramah. Sungguh, bos yang galak, batin Bela.


“Hhmm. Apa yang kamu cari?”


“Aku cari roti tawar, mas.” Jawab Bela berbisik.


“Di kamar banyak makanan. Kamu masih lapar?”


“Bukan roti tawar makanan, mas. Aku beli pembalut dan obat untuk menghilangkan nyeri di perutku. Ternyata aku haid hari ini, mas.”


“Oh, maaf. Ya sudah, kembalilah ke kamar. Istirahat saja kalau kamu tidak enak badan.”


“Iya. Aku tinggal ke atas mas.”


Bela berlalu meninggalkan Donie, sedangkan Donie kembali ke restoran menghampiri tiga orang sahabatnya.


***


di kediaman Wijaya


Lidya dan Thomas terlibar percakapan yang sengit.


“Apa sebenarnya yang kamu inginkan Thomas?” Tanya Lidya dengan intonasi yang keras.


“Katakan pada Donie, jangan mencoba untuk menjatuhkanku.” Jawab Thomas sambil menyeringai.


“Tapi apa yang sudah kamu lakukan?” Lidya sedikit berteriak ke arah adiknya.


“Aku sudah memberi peringatan kepadanya, tapi tidak berhasil. Sekali lagi Lidya, aku katakan jangan mencoba menjatuhkanku.”


“Kamu tidak bisa mengancamku lagi Thomas, dengan issue perselingkuhanku. Stevan sudah tidak ada lagi.” Lidya terkenang saat ia selalu diancam Thomas karena Thomas mengetahui tentang perselingkuhannya. Hal ini yang selalu membuat Lidya menuruti apapun keinginan Thomas. Ia sangat takut jika Stevan mengetahui tentang


perselingkuhannya.


“Aku bisa melakukan yang lain, Lidya.” Thomas berkata dengan nada mengancam.


“Tolong jangan sakiti Donie. Dia anakku. Lebih baik aku yang menanggung daripada Donie. Apa yang kau inginkan?” Lidya sedikit memohon kepada Thomas.


“Aku tidak mungkin menyakitimu, kau adalah kakakku, saudaraku satu-satunya. Dan Donie bukan anakmu Lidya. Dia tidak ada darah Wijaya. Untuk apa kau perduli padanya?”


“Kau pikir, dengan ancamanmu selama ini, aku takut untuk menyayanginya? Dia anakku Thomas. Tidak tahukah kau, hanya dia yang aku miliki sekarang. Jangan lakukan apapun padanya. Kumohon.”


“Tidak. Aku tidak akan pernah melakukan hal buruk kepadanya. Karena dia.......... Tapi.... jangan perlakukan dia sebagai anakmu. Dia bukan anakmu.” Ucapan Thomas terhenti.


“Apa Thomas? Sebenarnya apa yang sudah kamu perbuat? Apa maumu?”


“Aku hanya ingin melihat Donie hidup berkecukupan, bahagia, tidak kekurangan apapun. Aku sudah berjuang dengan memudahkan jalannya, menyingkirkan semua penghalang. Aku tidak masalah jika dia ingin menggeserku


dari kursi Presdir, tapi dia yang harus naik, bukan orang lain. Aku menyayanginya, Lidya. Dia.... dia....ah, sudahlah. Cukup sampaikan padanya, jangan pernah menjatuhkan aku.” Thomas meninggalkan Lidya.