
Reino memutuskan untuk kembali ke hotel. Setelah saling berpamitan dengan Arini, ia mengantar Arini sampai ke
depan pintu Malioboro Mall.
“Senang rasanya bisa bertemu dengan teman lama lagi.” Kata Reino.
“Sama mas. Aku juga senang. Salam yah, untuk mas Oni.”
“Iya, akan aku sampaikan.”
“Sampai jumpa lagi mas Rei. Selamat malam.”
“Selamat malam juga Arini. Terima kasih untuk traktirannya.”
Arini melambaikan tangan bermaksud berbalik.
Bug....
Arini tertabrak sesuatu....
Seorang wanita dengan belanjaan di tangannya sempoyongan dan terjatuh. Barang-barang berserakan keluar dari
tasnya.
Huft....,”Maaf mbak.... maaf saya tidak sengaja. Saya tidak melihat mbak.” Kata wanita itu sembari menunduk
memunguti barang belanjaannya yang berserakan.
“Sayang.......kamu baik-baik saja?” Seorang pria membantu sang wanita berdiri....
“Iya, aku tidak apa-apa, mas.” Jawab Bela.
“Bel..... Bela......” Kata wanita yang tertabrak tadi. “Bela kan? Benar kan ini Bela?” Tanya wanita itu lagi. Wanita itu mengingat-ingat apakah benar wanita yang di hadapannya ini adalah temannya semasa kuliah dulu.
“Arini.....Rin....” mereka berdua berpelukan erat.
“Astaga..... aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi, Bela. Kamu cantik sekali.” Arini melapaskan pelukannya.
“Terakhir kita bertemu saat wisuda ya Rin.... Waw.... lihat kamu sekarang.... manis dan seksi.” Bela sangat takjub
melihat penampilan Arini yang semakin menunjukkan wajah manis dan tubuhnya yang seksi, membuat pria tidak akan berkedip jika melihatnya.
“Ah, aku senang sekali bertemu dengan kamu.” Kata Arini dengan mata berbinar-binar.
“Aku juga, Rin.” Jawab Bela dengan nada gembira.
Arini menepuk pundak Bela, “Kamu ada acara di Jogja? Bukannya kamu tinggal di Jakarta ya?”
“Iya, aku ada pekerjaan di sini, beberapa hari. Sebentar, aku mau nitip barang-barang ini dulu. Sebaiknya kita
ngobrol dulu yah.....”
Sial, mimpi apa aku ini? Kenapa bisa Arini ada di sini? Dan Arini kenal dengan Bela?
Dari jarak sepuluh meter Reino memberi isyarat agar Donie segera pergi dari sana sebelum kedua wanita itu
sadar akan kehadirannya. Tapi terlambat..... Arini menangkap bayangan sosok Donie.
“Mas, tolong bawakan barang ini dulu yah. Aku mau ngobrol dulu dengan temanku.” Bela mencari sosok Donie yang kini berdiri di belakangnya. “Mas.... minta tolong.” Seolah-olah ingin menghilang di balik tubuh Bela.
“Iya sayang, nanti aku bawakan.” Jawab Donie.
“Mas, kenalkan dulu, ini temanku sewaktu kuliah dulu, namanya Arini. Rin, kenalkan ini mas Doni.”
“Mas..... mas Oni kan? Iya kan?” Tanya Arini kepada Donie.
“Hemmmm.... iya. Apa kabar Arini?”
“Baik, mas. Kabarmu?”
“Baik.”
Sialan, ingin rasanya kutenggelamkan diriku ke dalam selokan. Tapi ini bukan salahku. Kejadiannya bertahun-tahun yang lalu.
“Lho.... kalian saling kenal?” Tanya Bela terheran-heran.
kafe tempat kamu bekerja, Bela.”
“Oh ya?” Bela mencoba mengingat-ingat kembali. Apakah pernah bertemu dengan Arini dan Donie saat ia masih bekerja di kafe.
Astaga.... apa lagi yang akan diceritakan Arini? Sumpah, gue perlu menghilang dari sini.
“Oh iya, kalian kangen-kangenan dulu deh. Aku bawa ini ke kamar, ya Bela. Oh ya, sayang, nanti jangan malam-malam balik ke kamarnya.”
Sayang, Apa tadi? Aku mendengar Mas Oni memanggil Bela dengan sebutan sayang? Apakah...apakah.... Bela sekarang teman tidurnya mas Oni? Tapi dulu mas Oni tidak pernah memanggilku dengan sebutan sayang.
Please, tolong jangan cerita yang aneh-aneh, Arini.
***
Sejuknya kamar ber-ac ini tidak mampu untuk menyejukkan hati Donie. Ia sangat terkejut dengan kehadiran Arini
di depannya. Apalagi ternyata kedua wanita itu saling mengenal, yah Bela dan Arini.... keduanya berteman, satu kampus, dan kini sedang mengobrol.
Donie mengacak-acak rambutnya di depan Reino, “Astaga bro.... pengen mati gue rasanya. Mimpi apa gue semalem?”
“Hehehe.... sempat gue tahan dia sampai malam, gue takut dia ketemu sama elo. Makan malam sama dia, sengaja agak lama. Gue pikir elo sudah pulang Bro, ternyata gue keliru.” Reino berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. “Tadi dia tanya, gue kesini sama siapa aja. Pasti dia mau nanyain elo. Gue bilang beberapa hari yang lalu gue kerja dengan lo. Nah, Arini mengira elo sudah pulang ke Jakarta. Di luar dugaan, malah ketemu elo di luar. Nasib elo Don...”
“Di mana elo ketemu Arini tadi?”
“Di Malioboro Mall. Dia tambah manis Don. Katanya sekarang jadi instruktur aerobik dan senam. Pantas saja body nya itu lho.... wow banget sekarang. Tadi gue jalan bareng dia, semua mata cowok-cowok melotot bro.”
“Ember....gue nggak mikirin itu.”
“Hahaha.... mikir sedikit juga nggak papa bro... namanya masih cowok normal lo.”
Menghela nafas panjang dan tampak bingung, “Wah, bakalan kacau nih nanti malam.”
“Mereka berdua saling kenal, bro?” Tanya Reino lagi.
“Iya, gila....ternyata mereka satu kampus.” Donie mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
“Ha??? Waduh....” Reino menepuk dahinya sendiri dengan telapak tangannya.
“Dan kata Arini, gue sama Bela pernah ketemu waktu di kafe, tempat Bela kerja. Seingat gue, terakhir gue ke
kafe itu, gue marah-marah.”
“Apes banget sih lo hari ini Don?”
“Gue balik ke kamar dulu No.... doain gue, semoga tidak ada perang dunia nanti malam.” Donie melangkah gusar
menjauhi Reino.
***
Hanya sebentar Donie membuka laptopnya. Bayangan Bela menari-nari di kepalanya. Donie menutup laptopnya dan berjalan mondar mandir. Ia tak lagi fokus mengerjakan pekerjaan kantornya. Biasanya sampai malam Donie bisa berkutat dengan pekerjaannya. Ia khawatir karena sampai saat ini Bela belum juga kembali ke dalam kamar. Namun ia enggan untuk menghubunginya. Jika saat ini Donie menghubunginya, pasti Bela meledakkan amarahnya. Bahkan mungkin sekali ia tak akan kembali ke kamar. Donie mulai bisa menduga sikap Bela.
Sekitar satu jam kemudian.
Bela berjalan menuju ke arah kamarnya. Pikirannya masih berkelana karena pertemuannya dengan Arini. Wanita
seksi yang ditemuinya tadi adalah salah satu temannya ketika kuliah dulu. Mereka berdua tidak terlalu dekat, tetapi mereka berhubungan baik. Bela mengenali Arini sebagai gadis manis yang selalu baik pada teman-temannya, tidak
terkecuali Bela. Sikap yang sangat khas dari Arini adalah keramahannya dan keceriaannya yang bisa mencairkan suasana.
Sekilas ia mengingat Arini yang saat itu dekat dengan seseorang. Menurut gosip kampus, Arini sering berpacaran
dengan seorang pengusaha dari luar kota. Beberapa kali Arini membawa sang pacar ke kafe tempat Bela bekerja. Bela berusaha mengingat-ingat lagi. Dan akhirnya ia teringat.... sosok pria yang sering dibawa oleh Arini.... pria rapi
berlesung pipi.
Astaga.... dasar .... bos ubur-ubur.... brengsek.....!!!
Dok .... dok.... dok .... dok .... dok....
Terdengar ketukan kasar di pintu kamar. Donie sudah bisa menebak siapa yang akan masuk ke kamar. Ia berdoa dalam hati, semoga saja mereka berdua bisa melewatinya dengan baik.
Bela, tolong jangan terlalu galak.