
Hari ini rasanya cepat sekali berlalu. Setelah kejadian yang menghebohkan tadi, tak terasa waktu hampir menunjukkan pukul setengah enam sore. Hilda telah meninggalkan ruangan sejak 15 menit yang lalu. Kini tinggal Bela yang ada di ruangan duduk di dalam kubikelnya. Pekerjaannya telah selesai. Kepalanya disangga dengan kedua tangganya yang diletakkan di atas meja. Matanya menatap kosong layar komputer yang telah mati di hadapannya. Ia tenggelam dalam lamunannya.
Donie keluar dari ruangannya dan mendapati gadisnya sedang terdiam di meja kerjanya. Terlihat sekali bahwa ia sedang melamun karena tidak menyadari kehadiran Donie yang kini telah berdiri tepat di belakangnya. “Sayang, ayo kita pulang.” Donie mencium pucuk kepala Bela.
Bela terkejut mendapati Donie yang telah berada di dekatnya. “Ehm... iya mas.”
“Aku antar ya...” Kata Donie lagi.
Bela berdiri dan mengambil tas kerjanya dan berjalan menjauhi meja kerjanya. Di belakangnya, Donie mengikuti. Melihat gadisnya yang berjalan dengan gontai, Donie mendekatinya dan memeluk pinggang rampingnya. Bela menghentikan langkahnya dan menikmati pelukan kekasihnya. Lalu Donie meletakkan kepalanya di bahu Bela.
“Mas, ini di kantor lho. Banyak yang melihat.”
“Tidak apa-apa.”
Mereka berdua berjalan ke arah lift. Keduanya msauk ke dalam lift menuju ke basement. Beruntung telah banyak karyawan yang pulang sehingga meraka tidak bertemu dengan orang lain di dalam lift.
Bela sedikit khawatir dengan tanggapan orang lain karena kali ini kepala Donie selalu menempel di bahunya. “Mas ingat kan, tadi aku dibuly karena aku dekat dengan kamu? Apalagi kalau sikapmu seperti ini? Bisa dihabisi aku.”
“Tenang saja. Mereka yang tidak suka denganmu akan menghadapi sanksi. Sebentar lagi aku akan melamarmu dan kita akan menikah. Jadi lebih mudah, kamu tidak perlu lagi menjelaskannya kepada mereka, yang bertanya-tanya tentang hubungan kita.” Donie menggenggam jari tangan Bela.
“Tapi fansmu banyak di kantor ini, mas. Mereka pasti sangat tidak suka denganku. Dan kalau tidak ada kamu, mungkin peristiwa tadi bisa terulang kembali.”
“Kamu berhenti saja kalau kita sudah menikah.” Tia-tiba saja Donie mengusulkan itu kepada Bela.
Mendengar itu, Bela terkejut dan melepaskan diri dari pelukan Donie, “Semudah itu? Aku jadi pengangguran di rumah? Membosankan sekali.”
“Pikirkanlah sekali lagi tawaranku.” Digenggamnya kembali tangan Bela.
Bela menghela nafas, “Iya, akan kupikirkan.”
Sembari berjalan, mereka terus berbicara. Tidak lama kemudian, mereka telah berada di basement, tempat parkir kendaraan.
“Kamu tidak pakai sopir, mas?”
“Tidak. Sopir sudah kusuruh pulang terlebih dahulu. Aku ingin berdua saja denganmu. Hari ini, kamu mau pulang ke mana, sayang?”
“Pulang ke rumahku.” Kata Bela.
“Tidak tertarik untuk tinggal bersamaku?”
“Kita belum menikah, mas.”
“Baiklah, pernikahan kita akan dipercepat. Kamu milikku....... selamanya.”
“Haaaa???”
***
Sore ini akan diadakan acara lamaran di kediaman Bela. Keluarga Bela telah mempersiapkan sedari siang tadi. Menu untuk makan malam bersama telah disiapkan. Tidak banyak yang hadir dalam acara lamaran ini karena Bela tidak mempunyai keluarga yang perlu diundang. Keluarganya hanyalah abang dan adiknya, juga kedua sahabatnya,
Pakaian yang dikenakan Bela adalah kebaya berwarna hijau pastel yang memamerkan sedikit bahunya, dengan panjang lengan sampai ke ujung siku, dipadukan dengan rok batik panjang sampai setengah betis. Bela tampak cantik dengan riasan yang natural.
Ketika matahari telah mulai terbenam, tampak sebuah mobil sedan hitam mendatangi rumah Bela. Bela sangat
hafal, itu adalah mobil kekasihnya.
Benny sebagai orang yang paling tua dalam keluarga itu, menyambut kedatangan Donie, maminya dan pak Is sopirnya. Hari ini Donie mengenakan batik lengan panjang dengan corak warna coklat dan hitam. Ia tampak gagah dengan pakaian yang dikenakannya. Sebetulnya, memakai pakaian apapun selalu terlihat pas dengan tubuh Donie yang proporsional.
Kali ini Donie menampilkan wajah cerahnya. Senyum dan lesung pipinya terlihat sejak ia keluar dari mobil. Mereka membawa beberapa barang seserahan sebagai pelengkap acara lamaran. Sebelumnya Bela tidak ingin merepotkan Donie dengan menyediakan barang hantaran untuk acara lamaran. Namun mami Donie bersikeras, paling tidak mereka akan memenuhi sebagian kebiasaaan sebagai adat suku Jawa untuk melangsungkan acara lamaran. Keluarga Donie memang merupakan keturunan Jawa Tengah.
Ketiga orang itu dipersilahkan untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Pembicaraan berlangsung santai dan lancar. Setelah acara perkenalan dan pembicaraan pembukaan, tibalah pada saat acara inti, yaitu acara lamaran. Acara berlangsung dengan baik. Bela menerima lamaran itu hingga akhirnya penentuan hari pernikahan. Karena belum
ada kesepakatan dari kedua belah pihak, akhirnya diputuskan agar penentuan hari H diserahkan kepada Donie dan Bela. Keduanya juga yang akan langsung mengurus konsep acara yang akan diselenggarakan.
***
Dalam perjalanan pulang dari rumah Bela.
Donie menengok ke arah maminya yang duduk di sebelahnya. Terlihat wajah bahagia dari mami. Wajahnya dihiasi dengan senyum sedari tadi. Tampak mami sedang memikirkan sesuatu sembari tersenyum. Tentulah yang dibayangkannya sesuatu yang indah. “Mam....” Panggilan Donie membuyarkan lamunan Lidya.
“Apa?” Katanya menengok ke arah anak sematawayangnya.
“Sebetulnya aku merencanakan untuk melangsungkan pernikahan minggu depan.”
“Ha? Tidak terlalu cepat?” Lidya terkejut dengan penuturan anaknya.
“Lebih cepat, lebih baik, mam.”
“Ehmmm apakah Bela sudah.....” Lidya tidak jadi meneruskan perkataannya. Sebenarnya ia merasa curiga akan perkataan Donie. Ia jadi berpikiran tidak baik.
“Maksud mami, Bela hamil?” Donie menebak apa yang dipikirkan maminya. Alisnya terangkat, menandakan ketidaksukaannya.
“Iya. Kamu buru-buru sekali, jadi mami terpikir yang tidak-tidak.”
“Ya ampun mami, kenapa berpikiran sejauh itu. Aku tidak menghamili Bela, mam. Yakinlah, aku tidak melakukan sesuatu yang buruk kepada Bela.”
Lidya lega mendengar jawaban dari Donie, namun ia juga masih heran dengan sikap buru-buru anaknya ini. “Lalu?” Tanya Lidya lagi dengan curiga.
“Aku hanya ingin lebih cepat memiliki Bela. Aku takut terjadi hal-hal buruk.” Donie juga menceritakan kejadian ketika Bela ditemukan tergeletak di kamar mandi ketika acara ulang tahun perusahaan. Bahkan baru-baru ini Bela bertengkar dengan karyawan kantor yang merasa tidak senang dengan hubungannya dan Bela.
“Nanti aku akan mengajak Bela tinggal di rumah mami, supaya mami ada teman.”
“Benarkah? Mami senang sekali. Rasanya seperti punya anak perempuan lagi. Benar Don?” Lidya teringat dengan anak perempuannya yang telah tiada. Tentunya ia sangat senang jika Bela bersedia tinggal di rumahnya. Rasanya kerinduannya untuk mempunyai anak perempuan akan terobati. Mata Lidya semakin memancarkan sinar kebahagiaan.
“Aku belum membicarakannya dengan Bela, tapi aku pasti akan membujuknya. Aku rasa dia tidak akan keberatan.” Kata Donie lagi meyakinkan.