
BAB 18
**di Resto Vandie**
“Don, aku lebih tertarik bisnis sama kamu daripada ngobrolin tentang proyek emak-emak kita.”
“Kamu satu pikiran dengan saya Stef.”
Donie Wijaya dan Stefani Hotman menikmati makan malam sambil berbicara tentang bsinis mereka.
“Aku jadi merasa obral banget ditawar-tawatin ke kamu. Padahal aku ini lho....Stefani Hotman. Kamu tau kan?”
“Haha.... iya, siapa yang nggak tau dengan kamu.”
“Memangnya aku jones (Jomblo Ngenes) apa?”
“Tapi kita harus atur skenario supaya emak-emak kita nggak kecewa.”
“Bener itu Don. Awalnya kita perlu pura-pura kencan atau apalah. Kamu tau kan mama aku kalau nggak
dituruti kemauannya.”
“Iya tau. Aku juga perlu berpura-pura di depan mamiku agar tujuanku tercapai.”
“Ops.... aku tau sifat mami kamu.”
Mereka menikmati makan malam sambil mengobrol. Bagaimanapun mereka pernah menjadi teman satu SMP. Sementara itu mereka tidak menyadari bahwa ada seseorang yang mengamati mereka berdua dari luar dan berusaha untuk mendapatkan gambarnya.
“Oke Stef, besok akan ada teman aku yang datang bawa proposalnya ke kamu.”
“Ok. Aku di kantor besok.”
“Yuk, pulang. Aku antar?”
“Ah, nggak usah. Aku bawa kendaraan sendiri. Lagipula ini masih terlalu sore buat pulang. Iya kan Don?”
“Ok.... hati-hati ya.”
“Bye.”
Mereka keluar dari restoran dan berjalan ke arah mobilnya masing-masing.
****
Ddrrtt.....ddrrtt....ddrrtt....
“Hallo Don.”
“No.... proposalnya harus beres besok. Besok elo yang nganter ke perusahaannya Stefi yah.”
“Ok. Siiippp. Eh, mau ikut gak lo? Gue lagi main bilyard sama Andri.”
“Di mana?”
“Di XX.”
“Ok. Gue ke sana.”
.........
Waktu menunjukkan pukul 12 malam. Donie baru saja tiba di apartemennya. Ia kemudian membersihkan badan
karena terasa lengket. 15 menit kemudian ia keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang melilit dari perutnya. Ketika mencari baju tidur, ia teringat belum menelepon Bela malam ini. Ia urungkan niatnya mencari baju dan mengambil HP. Ia menghubungi Bela.
Ddrrtt......ddrrtt.....ddrrtt....
Ha? Video call dari bos.
Bela melihat ke arah Hpnya. Buru-buru ia menerima teleponnya, tapi lupa belum menyalakan lampu kamarnya.
“Iya mas.”
“Ah..... mas....” Bela terkejut melihat Donie yang tidak menggunakan baju. Sementara Donie tidak menyadarinya. Ia lebih fokus ke arah HP yang gelap gulita karena Bela lupa menyalakan lampu kamarnya.
“Bel.... kamu kenapa? Kok gelap Bel? Nggak keliatan.”
“Mas.... kamu nggak pake baju. Oh iya aku lupa belum nyalakan lampu. Kamu pakai baju dulu gih.”
“Hehe.... nggak papa. Bukannya kamu senang lihat aku?”
“Ih... mas apaan.”
“Sorry ganggu tidur. Kangen nih.”
Bela menggaruk-garuk rambut keritingnya yang acak-acakan. Ia merasa tidak nyaman melihat dada bidang
Donie yang terlihat seksi.
Kamu seksi mas, bikin aku gugup. Untung saja aku nggak di depan kamu.
“Kan besok juga ketemu mas.”
“Pengen denger suara kamu aja sebelum tidur.”
“Itu nggak pake baju kenapa?”
“Oh, aku baru pulang. Habis mandi.”
“Dari kantor mas?”
“Bukan, habis ngobrol sama Reino dan Andri.”
“Oh.....” Lama amat sampe malem gini baru pulang, batin Bela. Namun ia tidak berani bertanya lebih lanjut.
“Hehe.... urusan cowok.” Donie berbicara sekenanya.
“Udah, pake baju sana mas. Terus tidur. Besok kan harus kerja.”
“Okay sayang. Selamat tidur juga. Jangan lupa mimpiin aku.”
“Ih, emangnya mimpi bisa diatur?”
“Bye sayang.”
“Bye mas.”
HALLO READERS, JIKA KALIAN SUKA, JANGAN LUPA YA BERI :
· Komentar
· Like
· Favorit
· Tip
SELAMAT MEMBACA
SILAKAN MAMPIR KE NOVELKU YANG LAIN “LOVE AFFAIR”