My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 31



Siang itu Bela berada di kamar bersama Donie di Hotel Grand Persada. Donie masih tertidur karena pengaruh obat. Bela duduk di pinggir tempat tidur menatap Donie dengan khawatir. Dengan perlahan Bela berdiri dari tempat tidur. Ia melangkah mendekati tas yang tergeletak di meja. Ia mengambil ponselnya dan mengetik wa.


(Bela) “Selamat Siang, Pak. Saya sudah bertemu dengan Pak Donie. Pak Donie sedang sakit, tapi sudah diberi obat oleh dr. Rangga. Sekarang keadaanya sudah lebih baik.”


(Reino) “Terima kasih Bela. Titip Donie.”


(Bela) “Saya izin tidak kembali ke kantor, pak.”


(Reino) “Nanti saya urus.”


Bela melepaskan  high heelsnya pada rak di dekat pintu masuk. Ia berjalan dengan bertelanjang kaki menuju lemari pakaian. Dibukanya lemari pakaian. Ada dua stel pakaian yang tergantung. Dilihatnya Donie yang terbaring di atas tempat tidur dengan pakaian lusuhnya. Pakaiannya mungkin masih yang kemarin, batin Bela.


“Hemmmhhmmm.” Keluar suara dari mulut Donie. Tampaknya ia mengigau.


Bela menghampiri Donie. Pelan-pelan ia duduk di pinggir tempat tidur. Disapunya keringat yang membasahi wajah Donie. Ia melihat wajah pucat Donie. Dalam kondisi pucat seperti ini ia pun masih terlihat sangat tampan. Bela memandangi wajah Donie sambil mengagumi hidung mancungnya, alis tebalnya, bibir seksinya, dan ...... ia menelan ludahnya sendiri melihat Donie. Cukup lama ia mengagumi ketampanan kekasihnya. Kapan lagi bisa melihat dari dekat seperti ini.


Pelan-pelan dibelainya hidung,  mulut, dan dagu Donie dengan jemarinya. Ingin sekali ia mencium wajah tampan di hadapannya.


Tiba-tiba Donie membuka matanya dan tatapan matanya langsung tertuju kepada Bela yang sedang menyentuh wajahnya. “Kamu merindukan wajah tampanku, sayang?” Donie menggoda.


Bela tidak menjawab, menarik jemarinya dari wajah tampan itu, dan ia tertunduk dengan pipi yang memerah.


“Cantik, sayang.” Tangan kanan Donie terulur menyentuh pipi Bela yang bersemu merah. Perlahan ia bangun dari tidurnya dan duduk mendekati Bela.


“Sebentar, aku mau mandi dan berganti pakaian.” Donie hendak bangkit. Sebelum bangkit dari duduknya, dikecupnya pipi Bela. “Tunggu sayang, kita makan siang bersama.”


“Kaki kamu kenapa?” Tanyanya sedikit curiga.


“Eh, anu mas. Tadi terantuk koper mas yang di sana.” Jawab Bela malu-malu.


“Kamu yah, kebiasaan, nabrak-nabrak. Kemari.... aku lihat.”


“Tidak apa-apa mas. Besok juga sembuh.”


“Besok? Pasti besok semakin biru dan lebam. Besok kamu pakai celana panjang, jangan pakai rok.”


Sebentar kemudian, Donie menelepon pihak hotel, minta beberapa menu untuk makan siang dan diminta untuk diantarkan ke kamar. Setelah itu ia berjalan menuju kamar mandi.


Bel kamar berbunyi. Bela mengintip keluar. Dilihatnya pelayan membawa troli makanan. Ia membuka pintu dan mempersilahkan pelayan hotel untuk menata makanan di dalam kamar. Setelah pelayan itu pergi, Donie keluar dari kamar mandi dengan handuk mandi yang membungkus pinggang dan bagian atas kakinya. Dengan santai ia berjalan melewati Bela menuju lemari pakaian. Ia mengambil pakaian dan hendak memakainya.


“Aahh.........Mas.... aku di sini. Jangan sembarangan buka handuk.” Bela menjerit dan menutup mukanya dengan kedua tangannya.


“Anggap saja ini bonus, sayang. Kalau tidak mau lihat, cukup pejamkan matamu.” Donie menggoda Bela. Bela membuang muka dan menutupi mukanya dengan kedua tangannya. Sedangkan Donie dengan santainya membuka handuk dan memakai pakaiannya. Kaus abu-abu lengan pendek dan celana pendek hitam sebatas lutut.


“Sudah selesai. Ayo makan.” Donie menghampiri Bela memeluknya dan mengusap puncak kepala Bela. “Aku


merindukanmu, sayang.” Dekapnya dengan erat. Aroma shampo dan sabun tercium oleh Bela. Tetapi kemudian Donie melepaskan pelukannya dan mulai bicara serius.


“Setelah ini, bantu aku bekerja. Ada beberapa file yang harus dikerjakan dan harus selesai besok. Selain itu ada file rahasia yang harus kamu pilah-pilah, Bela. Aku butuh bantuan kamu hari ini. Mungkin bisa sampai malam. Jadi aku minta kamu tetap di sini. Bisa?” Donie menatap tajam ke arah Bela. Pandangannya terlihat memaksakan kehendaknya.


“Iya mas. Tapi aku tidak membawa baju ganti.” Bela menjawab sambil memajukan bibirnya.


“Nanti beli di mall sebelah.”


Mereka mulai menikmati makan siang.


“Mmm .... mas, kamu masih sakit. Apakah tidak apa-apa meneruskan pekerjaan?” Tanya Bela


“Aku memang seperti ini. Bekerja dan bekerja.”


“Tapi mas kan sudah punya segalanya. Saat sakit seperti ini lebih baik pikirkan kesehatan.”


“Bela, ada masalah di perusahaan yang harus segera diselesaikan sebelum mengganggu kehidupan perusahaan. Punya segalanya bukan berarti berhenti bekerja keras. Apa kamu berpikir seperti orang kebanyakan? Aku pewaris tunggal kerajaan bisnis Wijaya, jadi hanya tinggal menikmati hidup.”


“Iya. Seperti itulah orang-orang melihatmu, mas.”


“Aku terlihat beruntung di mata mereka, tetapi bukan keberuntungan yang selalu mendatangiku tanpa bersusah payah. Berdasarkan pengalamanku, semakin aku bekerja keras, maka keberuntungan akan semakin banyak menghampiriku.”


“Hhmmm..... akan kuceritakan satu per satu. Sabar saja. Kamu perlu tinggal di sisiku untuk waktu yang lama, untuk mendengarkan kisahku dan juga untuk belajar memahamiku. Dan jangan pernah berani untuk pergi dariku.”


“Aku takut kamu yang pergi, mas.” Bela menjawab lirih, berharap Donie tidak mendengar perkataannya. Tapi ternyata, kata-kata itu terdengar jelas di telinga Donie.


“Bela, jangan pernah berkata seperti itu lagi. Aku tidak suka. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Titik.” Donie menekan kata-katanya agar Bela mendengar kesungguhannya.


“Mmmm.... iya mas. Oh iya, obatnya mas, jangan lupa.”


“Iya. Aku minum.” Donie mengambil beberapa obat dari laci meja di samping tempat tidur dan meminumnya.


“Apartemenmu sudah dibereskan mas?” Bela tiba-tiba teringat dengan apartemen yang berantakan.


“Sudah. Besok aku kembali ke sana.” Donie melihat Bela yang selesai menghabiskan makanannya. “Kita ke mall sebelah. Waktunya terbatas.” Ajaknya sambil melihat jam. Sungguh lelaki yang efisien, rutuk Bela dalam hati.


“Ayo.” Donie mengajak Bela keluar.


“Kamu tidak papa mas? Sudah lebih sehatkah?”


“Iya.” Jawabnya singkat. “Nanti kamu kalau jalan aku tuntun terus. Jangan lepas. Kalau jalan sendiri kamu nabrak-nabrak, Bela.”


“Ih.... mas.” Bela malu mendengarnya.


 ***


Tanpa banyak membantah, Bela menuruti Donie yang membelikan beberapa stel pakaian. Pakaian untuk dikenakannya nanti, pakaian dengan celana panjang untuk dipakai bekerja besok, dan beberapa potong pakaian lain yang menurut Bela tidak perlu. Bahkan sepatu, sandal, tas, makanan, minuman, dan juga obat untuk  meredakan lebam di kaki Bela.  Tidak perlu waktu lama untuk memilih barang-barang tersebut karena harga


berapapun pasti diambil oleh Donie. Mereka menghabiskan waktu tidak lebih dari 1 jam. Kini mereka membawatas yang berisi barang belanjaan ke kamar hotel.


Ketika mereka berdua sampai di dalam kamar, ponsel Donie berbunyi.


“Ya Wil....”


“Hmmm iya.”


“Nanti malam? Bisa.”


“Hotel Grand Persada.”


“Kirim lewat email sekarang. Nanti aku periksa.”


“Ok.”


POV Bela


Aku melihat mas Donie menutup ponselnya. Terlihat kegusaran di wajahnya. Ia memijat dahinya, kemudian


dihempaskan dirinya di atas sofa.


“Ada masalah mas?” Tanyaku.


“Iya. Nanti Wiliam akan ke sini.” Jawabnya.


“Wiliam detektif yang tempo hari ke apartemenmu, mas?”


“Iya. Dia juga punya perusahaan keamanan, orang yang sering membantuku.”


“Ada yang bisa aku bantu mas?” Tanyaku melihat kekhawatirannya.


“Kemari.” Matanya menarikku ke arahnya. Aku mendekat dan ditariknya tubuhku ke pangkuannya. Aku duduk miring di pangkuannya. Tangannya menarik pinggangku dan merengkuhku dalam pelukannya. Seolah-olah ia mencari ketenangan di dalam diriku. Aku turut merasakan kegelisahannya. Kubelai rambutnya yang hitam dengan


tangan kananku, sedangkan tangan kiriku membelai wajah tampannya. Oh, jantungku berdebar cepat. Ada getaran aneh di punggungku kian memanas dan perut bawahku mengencang. Perasaan apa ini?


“Aku membutuhkanmu. I love you, Bela.”


Deg..... deg....deg....