
Mobil Avanza hitam masih membawa Donie dan Bela menyusuri Jl. Kaliurang. Mobil berbelok ke jl. Ring Road Utara kemudian berbelok lagi ke jl. Gejayan. “Oh, jadi di sini ya universitasnya Andrianto,” kata Donie sembari menengok ke kiri jalan.
“Pak Andri kuliah di sini, mas?”
“Iya.”
Bela jadi melamun, mengingat ia juga sering ke daerah ini karena Trendy kuliah di universitas yang sama dengan
Andrianto. Melewati daerah ini membuat Bela teringat saat ia dibonceng Trendy dengan motor bebeknya melewati sepanjang jalan ini untuk menunggu Trendy kuliah, makan, ataupun membeli keperluan kuliahnya.
“Hei....kamu melamun lagi, Bel.” Donie melihat mata Bela yang menerawang
“Eh, enggak kok, mas.” Jawab Bela kikuk. Ia merasa tertangkap basah sedang melamunkan sesuatu.
“Mbak, sudah sampai di jl. Mawar.” Kata pak sopir.
“Iya pak. Berhenti di depan rumah hijau itu.” Kata Bela lagi. Ia mengikuti petunjuk Erna yang mengatakan bahwa rumahnya berwarna hijau.
“Ayo mas, kita sudah sampai.” Ajak Bela kepada Donie.
“EALAH ...... BELA..... CAH AYU......AKHIRNYA KAMU DATANG.” Seorang permpuan muda berdaster ungu, berambut lurus sebahu, agak gemuk keluar dari pekarangan rumah hijau. Ia menghampiri Bela dan memeluknya
dengan erat. Bela pun membalas dengan gembira. Keduanya tertawa-tawa dengan ceria. Sudah sangat lama Bela dan Erna tidak saling bertemu, tepatnya sejak Bela meninggalkan Yogyakarta, sekitar enam tahun yang lalu. Erna terlihat sedikit berubah, lebih berisi dan lebih dewasa. Keramahan dan suara cemprengnya masih seperti dulu. Suara yang membuat Bela selalu rindu.
“Monggo, masuk dulu. Eh, kamu dengan siapa itu?” Kata Erna.
“Erna, kenalkan, ini calon suamiku, mas Donie.”
“Oh, calon suami..... Monggo mas, silahkan masuk.” Erna pun mempersilahkan Donie untuk masuk ke rumahnya. Rumah bercat hijau ini sangat asri. Barang-barang di dalam rumah tertata dengan apik, juga ada beberapa pot berisi tanaman bunga hidup yang diletakkan di beberapa sudut ruangan. Di sekeliling rumah ada kamar-kamar berjajar dengan rapi. Erna dan suaminya memiliki usaha penyewaan kamar kos untuk mahasiswa dan pelajar. Sekitar 20 kamar berjajar rapi membentuk huruf U di sekeliling rumah.
“Er, ini oleh-oleh untuk anak-anakmu.” Kata Bela sembari menyerahkan kantung belanjaan berisi makanan yang ia beli di minimarket tadi.
“Terima kasih sekali, Bela. Repot-repot sekali kamu. Kamu datang tidak membawa oleh-oleh pun aku sangat senang. Sebentar ya, aku masuk dulu. Sini Bel, ikut aku. Aku mau pamer dua jagoanku. Tapi mereka masih tidur. Sebentar ya mas Donie, kami tinggal dulu.” Erna mengajak Bela masuk. Sebenarnya ia ingin bertanya lebih lanjut kepada Bela tentang lelaki tampan yang menemaninya. Dan Bela cukup tahu dengan gelgat sahabatnya ini.
Tak lama kemudian Erna dan Bela masuk. Erna menyikut tangan Bela, “Bel, calon suamimu guanteng buanget.
Guanteng puolll.” Katanya sambil mengacungkan jempolnya. “Wah, nek Trendy yo, wes lewat lah [wah, kalau Trendy ya, kalah lah].” Erna menggoda Bela.
“Apaan sih Er, yang penting dia sayang sama aku. Kalau ganteng sih bonus aja.” Jawab Bela dengan santai.
“Sssttt, ketemu di mana?”
“Dia bosku.”
“AAAA......koyo cerita Cinderela yo?” Erna menutup mulutnya dengan kedua tangan. Kemudian Erna menunjukkan kedua anak lelakinya, yang sulung berumur tiga tahun sedangkan adiknya berumur satu tahun. “Eh, kamu ndak bisa ketemu karo bojoku [Eh, kamu tidak bisa bertemu dengan suamiku]. Dia lagi ada pekerjaan di Semarang. Dua hari lagi baru pulang.”
“Iya, tidak papa. Salam untuk suamimu. Ngomong-ngomong, suamimu pacarmu yang dulu itu kan, si Anton?”
“Hus.... dudu kuwi [Hus, bukan itu]. Bojoku kuwi, kancane Anton [Suamiku itu, temannya Anton]. Kamu pasti tahu, yang sering ngirimin aku nasi padang. Inget?”
“Astaga.... teman makan teman ternyata. Jadi suamimu mas Jabrik itu? Yang rambutnya berdiri semua? Haha....
kok bisa?” tanya Bela terheran-heran. Ia masih teringat lelaki yang sering dipanggil mas Jabrik itu, sering sekali menggoda Erna walaupun Erna sudah mempunyai pacar. Nama sebenarnya adalah Kuncoro, namun rambutnya aneh karena berdiri semua sehingga lebih sering disebut Jabrik.
“Lha.... Anton ora lulus-lulus kuliahe [Lha... Anton tidak lulus-lulus kuliahnya]. Malah sibuk kegiatan ini itu dan lupa kuliahnya. Jadi aku tinggal aja.”
“Kejam banget kamu Er...”
“Biar aja. Memang bukan jodoh, mau diapakan?” kedua bahunya diangkat.
“Iya juga sih.” Kata Bela sambil mengangguk-angguk. Mereka kembali berjalan ke ruang tamu. Erna membawa minuman dan camilan khas Jogja, wedang uwuh dan bakpia.
Di ruang tamu itu terlihat tigaorang itu mengobrol dengan gembira. Bahkan Donie pun turut menimpali beberapa
kali dan tertawa. Apalagi ketika Erna menceritakan tentang Bela saat kuliah dulu, terutama beberapa kejadian lucu.
“Oh, jadi masih sering nabrak ya mas, Bela ini?” Tanya Erna kepada Donie. Erna sangat ingat dengan sifat sahabatnya yang sering ceroboh dalam berjalan sehingga selalu menabrak benda-benda di depannya.
“Ah, sering banget mbak. Jadi kalau jalan, lebih baik saya tuntun. Sepertinya perlu ditambah matanya di kiri dan
kanan.” Jawab Donie terkekeh.
“Apaan sih mas.... Kamu aja yang sering jalannya menghalangiku, jadi aku nabrak kamu.”
“Terus, kalau barang-barang itu, yang sering ketabrak kamu?”
“Terus tadi pagi?”
“Hus....” Bela melotot mengingat tadi pagi kakinya terbelit selimut. Ia menutup mulut Donie dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya mencubit perutnya. Ia tidak ingin Donie keceplosan bahwa mereka berdua tidur dalam satu kamar.
“Uwes.... kok malah padu iki [Sudahlah ......kok malah berantem ini].” Erna melerai keduanya. Aduh, kok seperti abege sih kalian, begitu saja berantem, batin Erna.
Donie penasaran dengan kisah Bela semasa kuliah dahulu, jadi dicobanya bertanya kepada Erna. “Mbak, dulu waktu di kampus, Bela bagaimana?”
“Wah... dia itu stroberi, mas. Tenar di kalangan cowok-cowok kampus lain. Kalau kampus kami cewek semua. Banyak yang pengen jadi pacar, tapi berguguran karena idolanya oppa oppa Korea.” (kecuali satu orang, Trendy, batin Erna). “Tapi ada satu yang bikin hati Bela meleleh, tukang bubur ayam di dekat kampus karena mirip sama idolanya, mirip Lee Min Ho. Jadi tiap pagi Bela sarapan bubur ayam di sana. Hahaha....” Erna terkekeh mengenang kejadian itu.
“Bukan begitu Er. Aku sering beli di sana karena murah, lumayan.... irit...” Bela mencubit lengan Erna dengan malu.
“Ternyata kelakuan kamu Bel.... Sampai sekarang pun masih idolanya orang Korea, mbak. Di kamarnya penuh gambar orang Korea.” Donie kembali menimpali cerita Erna.
“Lho... kok aku dihakimi sih. Ah, kalian berdua terlalu kompak.” Bela cemberut melihat keduanya memojokkannya
dalam percakapan.
***
“Pak, nanti turunkan kami di perempatan dekat kantor pos besar saja yah, tidak usah sampai hotel.” Kata Donie kepada sopir.
“Inggih pak.” Jawab sopir.
“Lho kenapa turun di situ mas, kan masih jauh dari hotel?” Bela heran dengan perkataan Donie.
“Sekalian jalan-jalan. Aku suka jalan-jalan malam hari di Malioboro. Temani yah sayang.”
“Iya, tapi kalau aku capek, gendong yah.”
“Apa sih yang enggak buat kamu, beib.” Donie mengusap pucuk kepala Bela.
Waktu menunjukkan pukul 19.00 Keramaian Malioboro pada malam hari tak kalah ramainya dengan pagi maupun siang hari. Berjalan kaki di malam hari mempunyai kenikmatan tersendiri dibandingkan dengan siang hari. Pedagang-pedagang emperan telah berganti dengan lesehan penjual mekanan khas Jogja seperti gudeg, pecel lele, bebek goreng, dan menu yang lainnya.
“Bela, kamu mau makan apa?” Tanya Donie. Ia ingat bahwa mereka belum makan malam.
“Itu saja ya mas. Yang jarang ada di Jakarta, gudeg. Kamu doyan mas?” Bela menunjuk salah satu lesehan.
“Doyan kalau makannya sama kamu.”
“Haha...gombal deh.”
Mereka menikmati gudeg Jogja sembari menikmati pemandangan unik di sekitarnya.
Ada beberapa musisi jalanan yang beraksi baik secara tunggal, duet, maupun berkelompok. Mereka menampilkan hiburan dengan membawakan lagu-lagu yang enak didengar.
Terdengar alunan lagu lama milik Kla Project 'Yogyakarta'
..........
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat
Penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgia
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja
..........
Sementara itu di antara benteng Vredeburg dan Gedung Agung, berjajar kursi-kursi antik dari semen yang dibuat khusus untuk pengunjung yang ingin bersantai sembari menikmati kopi hangat dari penjual kopi asongan. Sebagian besar pengunjungnya adalah anak-anak muda yang duduk santai sambil bernyanyi diiringi dengan gitar bersama rekannya. Ada pula yang hanya berbincang-bincang dengan kerabat maupun pasangannya.
Selain itu, berbagai komunitas pun bermunculan, salah satunya komunitas anak muda pria yang menggemari olahraga sepatu roda dan papan seluncur. Dengan ekspresif mereka meluncur di atas papan seluncur yang mempunyai 4 roda kecil dan kemahiran mereka menggunakan sepatu roda. Ada pula komunitas sepeda unik, sepeda yang di modifikasi dengan gaya masa kini seperti pegangan sepeda yang sengaja dibuat tinggi dan modifikasi lainnya.