My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 70



Ceklek....


Hilda masuk ke ruangan Donie. “Permisi pak, mengingatkan. Lima belas menit lagi ada pertemuan dengan direktur PT. Angkasa Jaya di ruang rapat utama.”


“Siapkan berkasnya segera.” Donie menjawab segera.


“Baik pak. Permisi.”


Beberapa menit kemudian, pintu ruang kerja Donie terbuka.


Ceklek....


“Bela, materi untuk besok sudah selesai?”


“Sudah pak. Print outnya akan saya letakkan di ruangan bapak 30 menit lagi.”


“Good....”


Donie meninggalkan Bela dan Hilda menuju ke tempat rapat. Bela segera menyelesaikan mencetak materi yang akan digunakan untuk esok hari. Besok adalah hari yang sangat penting bagi perusahaan. Akan ada pemilihan Presiden Direktur yang baru menggantikan pak Thomas. Donie bersiap karena ia juga akan turut serta meramaikan bursa pemilihan. Selama beberapa hari ini, di sela-sela kesibukannya, ia mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan acara besok. Ia berharap dapat mewujudkan keinginannya untuk meneruskan perusahaan


papinya. Ia juga ingin mewujudkan harapan maminya.


Bagaimana nasib Thomas dan Irwan yang sudah berada di tangan polisi? Mereka berdua kini berada di tahanan, menunggu panggilan sidang untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Bela dan Donie berusaha berdamai dengan masa lalu yang dilakukan kedua orang itu. Mereka berdua memaafkan apa yang telah dilakukan orang tua


mereka di masa lalu. Walaupun keduanya tetap harus bertanggung jawab secara hukum. Yang lalu biarlah berlalu. Kini Donie dan Bela berusaha untuk hidup lebih baik di masa kini dan masa yang akan datang. Biarlah apa yang telah terjadi akan menjadi pelajaran berharga untuk mereka berdua.


Printer di meja kerja Bela masih bekerja mengeluarkan kertas-kertas yang baru saja dicetak.


“Mbak, besok aku sudah mulai izin. Setelah itu, hari Rabu aku baru masuk.”


“Iya Bela. Selamat bersiap-siap. Semoga lancar ya acara pernikahanmu.”


“Iya mbak. Mbak, pekerjaan yang telah aku selesaikan ada di dalam lemari, sudah aku susun semua. Kalau filenya, aku tinggalkan di dalam flashdisk, ada di dalam laci ya mbak.”


“Iya Bela. Aku senang bekerja sama dengan kamu. Kamu orangnya teliti dan sangat rajin sehingga pekerjaanmu tidak ada yang terbengkalai. Eh, yakin hari Rabu sudah mau masuk kerja?”


“Aku pegawai baru, mbak. Belum ada satu tahun, jadi dapat izinnya hanya tiga hari.”


“Wah.... ini kan beda, Bela. Kamu bakal jadi istri pak Donie, masa iya tidak ada izin tambahan.”


“Lagipula izin tambahan juga mau ngapain mbak, nanti malah bosan di rumah.”


“Bela...Bela... kamu seperti nggak tahu aja, bagaimana kalau pengantin baru itu. Pasti maunya libur terus.”


“Ah, mbak Hilda ini. Ada-ada saja.” Wajah Bela bersemu merah menanggapi godaan Hilda.


***


Bela pulang bersama Donie. Mereka berdua memasuki lift menuju ke tempat parkir. Donie merangkul pundak Bela. Untung saja di dalam lift hanya ada mereka berdua. “Sayang, kamu tidak mau menginap di tempatku malam ini?”


“Aku mau membereskan barang-barang yang akan aku bawa besok mas untuk tinggal di rumahmu.”


“Aku susah tidur lho, kalau nggak ada kamu.”


“Ye.... dulu juga biasanya tidur sendiri, nggak apa-apa.”


“Dulu belum ketemu kamu, sayang.”


“Sabar dikit deh mas. Besok-besok juga aku nemenin kamu terus.”


“Kita makan dulu ya. Nanti aku antar kamu.”


Mereka berdua memasuki mobil. Donie menjalankan mobilnya keluar dari pelataran kantor. Tidak ada sopir yang menemani mereka. Donie meminta sopir untuk pulang terlebih dulu. Ia lebih suka berdua dengan Bela saja. Tim pengamanan yang selalu mengawal Donie akhir-akhir ini juga tidak lagi mengikuti Donie. Kini keadaan telah


terkendali. Ia cukup merasa aman.


Tak lama kemudian mereka berdua sampai di salah satu restoran yang menyajikan makanan khas Sunda. Ketika telah selesai memesan, “Mas, besok aku tidak bisa menemani kamu di kantor yah. Besok aku sudah mulai izin. Semoga kamu berhasil menjadi Presiden Direktur. Aku doakan dari rumah.”


“Iya sayang. Istirahat di rumah yah. Atau kamu mau mempersiapakan diri menghadapi hari H? Mau luluran, ke spa, atau perawatan yang lain?”


“Apaan sih. Tidak perlu deh mas. Kamu tetap mau sama aku kan walaupun aku tidak pakai perawatan kecantikan?”


“Iya sayang. Aku suka kamu apa adanya. Aku hanya berpikir, mungkin kamu ingin mempersiapkan diri sehingga saat bertemu aku di hari H, aku bakal pangling ketemu kamu. Dan kamu mau mempersiapkan hal khusus untukku.”


“Maksudnya apa deh mas? Aku nggak ngerti. Pasti pikiranmu horor ya?”


“Enggak kok. Kenapa wajahmu menjadi merah begitu? Jangan-jangan kamu yang berpikir horor, sayang.”


Aih, kenapa ini muka nggak bisa diajak kompromi sih. Bikin malu aja.


“Bela, kita pindah ke rumah mami, sebulan setelah pernikahan saja ya.”


“Kamarku yang di rumah mami mau diperbaiki dulu, diganti suasananya. Supaya kamu betah.”


“Mas, setelah menikah, aku masih boleh bekerja ya?”


“Terserah kamu saja. Aku justru sangat senang kalau kamu bekerja di posisi yang sekarang. Aku merasa lebih nyaman mempunyai sekretaris istri sendiri. Tapi kalau kamu mau berhenti, juga tidak apa-apa. Apalagi nanti kalau kamu hamil, atau punya anak, lebih baik di rumah saja.”


“Ih, belum-belum kok membahas hamil sih mas?”


“Kamu belum ingin hamil? Ya, aku tidak masalah sih.”


“Mas, sudah dong. Aku malu kalau obrolannya ini.”


“Tapi ini perlu dibicarakan, Bela.”


“Iya, tapi bisa ya, tidak usah dibahas hari ini.”


“Jadi mau dibahas kapan? Perlu cepat dibahas lho, sayang. Aku takut sudah tidak tahan ingin membuat kamu hamil. Kalau kamu belum mau hamil, bicara saja. Aku tidak keberatan kok. Nanti kita menghubungi dokter kandungan.”


“Mas.... sudah sih.” Bela memajukan bibirnya dan wajahnya kembali memerah mendengar godaan Donie.


Donie yang duduk di belakang kemudi tersenyum melirik calon istrinya yang salah tingkah ketika membahas tentang kehamilan dan anak. Bela terlihat sangat lucu dan polos. Donie gemas melihatnya.


***


Malam ini, di kamar Bela, sudah ada Virnie yang berbaring di tempat tidur Bela. Mereka berdua memang berencana untuk mengobrol karena tidak mungkin nantinya mereka kan mendapati momen seperti ini lagi. Dua hari lagi Bela akan menjadi seorang istri, tidak mungkin Virnie akan mengganggu Bela dengan ocehan-ocehannya.


“Yah, gue bakal sendirian lagi. Nggak aja teman diajak ngobrol-ngobrol gini kalau malam. Mana mungkin mas Donie elo itu mengizinkan istrinya gue bajak. Hehe...”


“Yah...sekali-kali pasti boleh, Vir. Mas Donie pasti mengizinkan.”


“Ah ada-ada aja pikiran elo. Mana maulah punya istri baru, ditinggal-tinggal. Lihat deh ntar.”


“Haha..... Virnie.... ada-ada aja lo ya.”


Bela agak ragu untuk bertanya, tapi diberanikannya karena rasa penasaran, “Vir.... kalau pertama mking love* itu rasanya bagaimana?”


“A...apa? Elo belum pernah?”


“Belum. Kenapa sih, elo malah melotot begitu. Gue jadi takut nih.”


“Jadi, selama di Jogja satu kamar, terus kemarin beberapa hari dikurung di apartemen pacar elo itu, ngapain aja?” Virnie mendorong kepala Bela dengan ujung jari telunjuknya.


“Yah, biasa aja.” Bela membalas dengan memukul bantal di kepala Virnie.


“Serius?”


“Iya, serius.”


“Sumpeh lo?”


“Yakin ini beneran, Virnie...”


“Seorang Donie Wijaya, bisa ikutan sepolos elo? Ajaib dah. Nggak ngerti lagi gue. Bisa-bisanya ketularan elo. Jadi kalian kalau tidur ngapain aja?”


“Ya tidur aja.”


“Nggak pernah mke love atau mke out gitu?”


“Lihat deh mata gue, kalau elo masih nggak percaya say.”


“Yakin, elo masih perawan?”


“Virnie.... gue serius.”


Virnie seolah melupakan pertanyaan Bela. Ia hanya menatap sahabatnya dengan pandangan tidak percaya dan mulut ternganga.


“Please deh, muka elo jangan begitu, say.”


“Okay kalau begitu, gue jelasin. Rasanya pertama sakit, sakit banget. Berdarah-darah.”


“Serius Vir? Kalau sakit banget, bisa pingsan dong gue. Gue kan nggak tahan sakit.”


“Mungkin perlu siapkan diri ke IGD, lo.... seandainya nggak kuat. Bilang ke cowok elo, siapin nomor telepon rumah sakit terdekat.”


Hemmmm cerita sama anak polos emang beda. Umur mah 27, tapi pikiran nggak nyambung juga. Kemana aja lo Bel....Batin Virnie prihatin dengan sahabatnya itu.