My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 12



BAB 12


“Pak, saya turun di sini saja.”


“Kamu dihukum.”


“Ha....dihukum pak? Karena tadi bapak yang membawakan baju-baju tadi?”


Bela memegang kepalanya.


Mati gue....hiks.


“Ke mana ini pak?”


“Hmmm....” Donie tambah jutek.


“Pak, nggak saya lapar. Tolong brenti di warung tenda itu saja.”


“Kamu dihukum. Saya ke rumah kamu. Kamu masak makan malam untuk saya juga.”


“Ha????” Bela kaget setengah mati.


Donie membawa mobilnya mendekati rumah Bela.


Sampai di rumah Bela.....sepi....tidak ada siapa-siapa. Dian sedang field trip, sedangkan abangnya sedang menginap di rumah temannya karena ada pekerjaan tambahan di rumah temannya.


Bela mengajak bosnya masuk ke dalam rumah. Donie duduk di kursi tamu dan memainkan Hpnya.


“Pak, saya masakin seadanya aja yah. Di kulkas hanya ada telur dan sayur bayam.”


“Terserah,” Jawab Doni dengan cuek.


Bela mulai memasak. Untung dia terbiasa memasak sendiri untuk saudara-saudaranya sehingga tidak perlu waktu lama untuk membuat menu masakan sederhana.


Donie masuk ke ruang makan. Ia duduk di kursi dan melihat Bela yang sibuk memasak di dapur. Terlihat Bela sangat terampil memasak. Donie senang melihatnya. Cewek zaman sekarang jarang yang bisa masak. Bisanya order makanan. Hehe...


Bela melirik takut. Sepertinya pak bos sedang memperhatikannya.


Waduh, si bos mengawasi gue. Mungkin dia takut gue masukin racun ke makanannya.


Saat memasak seperti itu, dia makin cantik. Ah.... cewek ini bikin gue .....


Drrtt....ddrrtt....ddrrtt.....


Tiba-tiba hp di saku Donie berbunyi.


“Pak, ini makan malamnya sudah siap. Silahkan dimakan.” Bela telah selesai menata makanan di meja makan.


Hhhmmmm bau makanan rumahan. Donie tidak pernah makan dengan menu seperti ini sambal telor ceplok dan


tumis bayam, ditambah kerupuk seribuan.


“Maaf ya pak, menunya seadanya.”


Donie tidak menjawab, tetapi langsung mengambil nasi ke piringnya, telur dan bayam. Kemudian ia mencicipi masakan Bela.


“Bagaimana rasanya pak?”


“Lumayan.”


Bela menemani Donie makan. Mereka tidak mengucapkan sepatah kata pun. Bela sangat menikmati makanannya.


Memang paling enak makan di saat perut keroncongan seperti ini. Tak lama kemudian makanan di piring Donie habis tak bersisa.


“Mau tambah pak?”


“Tidak usah. Bela, kamu ada tugas. Menyelesaikan file yang nanti saya berikan. Besok siang harus sudah selesai. Itu hukuman buat kamu. Sekarang saya mau pulang.”


“Iya pak.”


“Harus jadi ya Bela, hari Minggu saya dan Reino berangkat ke Kalimantan membawa file itu.”


“Baik pak. Akan saya kerjakan.”


“Saya pulang. Dan itu... baju belanjaan tadi untuk kamu saja.”


“Mmmmm bener pak? Bukannya itu untuk pacar Bapak?”


“Ya bukanlah..... kamu yang nyobain, ya untuk kamu. Biar kamu bajunya ganti-ganti kalo kerja....”


“Oh..... terima kasih ya pak.”


Bela mengambil papper bag di mobil Donie. Donie segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Bela.


Di dalam kamar, Bela melihat baju-baju yang dibelikan Donie.


Masih ada harganya. Gile, mahal banget. Mimpi apa gue punya baju mahal ini. Tapi kalo gue pake minggu depan, apa reaksi Mbak Hilda ya? Dia kan orangnya kepo banget. Bisa ditanya dari pagi sampai sore gue.