
BAB 11
Donie berusaha mencari rekaman CCTV saat Bela melihat ada lelaki tak dikenal di kantornya tempo hari. Ia sedang berbicara dengan security gedung di ruang pengamatan CCTV. Kemudian mereka memeriksa rekaman CCTV. Tapi sayang, tidak terlihat jelas, karena pria yang mencurigakan itu memakai jaket hitam, celana panjang hitam, sarung tangan, masker dan kacamata gelap yang menyamarkan wajahnya. Selain memeriksa rekaman CCTV, Donie juga menanyai penjaga keamanan yang bertugas saat itu, namun mereka tidak bertemu dengan pria mencurigakan itu.
Donie jadi berfikir, apa mungkin Bela salah lihat atau masih mengantuk saat itu.
Kring...kring... telepon di samping meja Bela berbunyi.
“Hallo, ada yang bisa saya bantu pak?”
“Ke ruang saya segera.”
“Iya pak.”
Ceklek...
“Bela, duduk di sini.” Donie menunjuk ke arah sofa di depan mejanya.
“Sewaktu kamu melihat ada pria mencurigakan tempo hari, apa kamu yakin, tidak salah liat?”
“Hantu maksud Bapak?”
“Mungkin. Kamu kan masih ngantuk waktu itu. Baru bangun tidur.”
“Bukan pak. Bahkan saya sempat menabrak tubuh pria itu dan saya terjatuh. Saya mencoba untuk bangun dan
ingin meminta maaf. Tapi orang itu sudah pergi. Saya hanya melihat punggung orang itu.”
“Menabrak seperti yang sering kamu lakukan ke saya?”
“Hehe.... iya pak.”
“Aneh ya kebiasaan kamu. Menabrak orang, terjatuh.... dan ngentut di pagi hari.”
“Hehe.... iya pak.” Bela menunduk malu. Mungkin pipinya terlihat seperti kepiting rebus.
“Ada yang tahu tentang kejadian waktu itu?”
“Tidak pak. Saya tidak menceritakan kepada siapapun.”
“Saya sudah memeriksa CCTV dan menanyakan kepada petugas keamanan. Hasilnya juga nihil.”
“Di rekaman CCTV tidak terlihat pak?”
“Ada, tapi tidak jelas. Tidak terlihat wajahnya. Ia memakai masker dan kacamata.”
“Pak, jangan jangan ada yang punya niat jahat. Tidak ada yang berani masuk ke ruangan kerja saya dan Bapak selain karyawan dan tamu yang ada kepentingan.”
“Nanti saya suruh orang untuk menyelidikinya.”
Donie mulai tertarik memperhatikan sekretarisnya ini. Walaupun pakaiannya sederhana, namun sesuai dengan postur tubuh dan warna kulitnya. Tapi kalau diperhatikan, sepertinya sekretarisnya ini memakai baju yang itu-itu saja. Dalam satu minggu hanya dua kali berganti atau paling sering tiga kali berganti pakaian. Padahal dia bekerja dari pagi sampai sore, bahkan terkadang sampai malam.
“Bela, kamu jarang ganti baju?”
“Mak....maksud Bapak?” Tanya Bela dengan agak terbata-bata.
“Kamu itu pakai baju itu itu saja. Dalam seminggu.... kamu ganti berapa kali?”
Hah? Aduh si bos, kenapa gini amat ya? Gue jarang ganti kan karena gue nggak punya baju. Hiks.....
“Pak, mmmm iya sih. Saya jarang ganti. Soalnya saya punya baju hanya beberapa stel. Maklum pak, namanya juga orang susah. Sayang untuk beli baju. Lebih baik untuk keperluan yang lain.”
“Kamu jadi tulang punggung keluarga?”
“Saya membiayai adik saya kuliah pak. Kalau abang saya, kerja pak tapi hanya cukup untuk dirinya sendiri. Jadi saya yang mengurus kebutuhan rumah tangga termasuk makan minum dan yang lain-lain.”
“Orang tua?”
“Ibu saya orang tua tunggal dan sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena kecelakaan. Kecelakaan itu juga yang membuat abang saya tidak bisa berjalan lagi sehingga sepanjang waktu hanya berada di kursi roda. Tapi abang saya semangat kok pak. Dia tidak putus asa dan tetap berusaha untuk bekerja, apa pun pekerjaannya dia
tidak malu dan tidak mengandalkan belas kasihan orang lain. Dia yang selalu mengajari saya untuk semangat dan tekun dalam pekerjaan apapun.”
“Hhmmm.” Donie mengangguk-angguk mendengarkan cerita sekretarisnya.
“Maaf pak, terlalu panjang, jadi curhat.”
“Tidak apa-apa. Saya senang bicara dengan kamu.”
Bener nih? Si bos ini lama-lama nggak galak sama gue. Mungkin dulu galak karena gue muntah di bajunya dan gue bilang ubur-ubur kali ya.
“Kamu di rumah tinggal bertiga ?”
“Iya pak.”
“Oh ya, nanti sore jam 4, saya ada meeting dengan client. Kamu ikut menemani saya.”
“Baik pak. Saya keluar dulu.”
“Hhmmm.” Donie kembali berkutat dengan laptopnya.
.......
Bela bersiap masuk ke mobil Donie sore itu. Seperti biasa, ia membuka pintu depan mobil dan hendak duduk di situ menemani pak Sugi. Namun Donie menariknya.
“Kamu temenin saya saja di bangku belakang.”
“Baik pak.”
Bela mengikuti Doni duduk di bangku belakang.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Bela sempat membaca iklan lowongan yang tertempel di dinding. Lowongan
mencari sopir.
“Pak. Perusahaan kita sedang membuka lowongan untuk posisi sopir?”
“Iya. Pak Sugi kan mau pensiun. Iya kan pak?” Donie menjawab sembari bertanya kepada pak Sugi.
“Iya pak.” Jawab pak Sugi sambil tersenyum karena melihat atasannya duduk di samping sekretarisnya. Baru kali ini Donie menyuruh seorang sekretaris duduk di sebelahnya di dalam mobil. Tampaknya bosnya ini juga lebih ceria sekarang.
“Pak Sugi sudah lama kerja di perusahaan pak?”
“Lama juga ya pak.”
“Iya Non.... mungkin sekitar 25 tahun.”
“Kamu mau jadi pengganti pak Sugi juga?” tanya Donie memotong pembicaraan Bela dengan pak Sugi.
“Eh, bukan sih pak.” Bela tersenyum malu.
........
Bela turut menemani Donie dalam pertemuan dengan relasinya. Donie merasa senang karena sosok Bela ternyata cerdas. Bahkan relasinya ini sangat tertarik dengan penjelasan dari Bela. Padahal Bela baru dalam bidangnya. Melihat reaksi positif dari relasinya ini, Donie sangat yakin proyeknya akan berhasil. Satu langkah maju lagi.
Walaupun pertemuan berlangsung dengan lancar, namun cukup memakan waktu. Jam menunjukkan pukul 6
sore. Pada waktu seperti ini biasanya jalanan di Jakarta sangat macet.
“Bel... nanti kamu saya antar pulang, tapi temani saya dulu.”
“Mau ke mana pak?”
“Ke sana.”
“Ke mall maksud bapak?”
“Iya. Ada yang mau saya cari.”
** di bagian baju wanita**
“Bela, kira-kira ini bagus tidak?” Donie bertanya sambil mengambil sebuah baju kerja berwarna biru.
“Buat siapa pak?”
“Untuk seseorang, pekerja kantor. Badannya seperti kamu. Coba di badan kamu sana.”
“Baik pak.”
Bela membawa baju ke arah ruang pas.
“Sebentar Bel... yang ini juga, terus ini, dan ini. Sekalian coba deh.”
Bela membawa baju-baju yang disodorkan Donie.
Bela mencoba baju yang pertama. Ia kaluar dari ruang pas dan bertanya pada Donie,” Bagaimana pak?”
“Hmmm,” jawab Donie berpura-pura cuek.
Kemudian Bela mencoba baju yang lainnya lagi. Dan ekspresi Donie sama saja. Tidak ada kata lain yang
leuar dari mulutnya selain Hmmm..
Hadew..pak bos ubur-ubur ini bikin gue capek aja. Bolak-balik ngepas baju. Jawabannya sama aja. Ngeliriknya juga kepaksa banget. Kenapa sih bukan ceweknya aja yang diajak. Malah ngajakin gue. Cewek? Kayaknya belum denger gue gosipnya pak bos ubur-ubur punya cewek.
“Kita makan dulu.” Donie menarik tangan Bela yang membawa papper bag baju-baju.
Foodcourt berada di lantai paling atas. Mereka menaiki lift. Lift terlihat agak ramai. Mereka berdua masuk.
“Ssstttt.....ssstttt.....kriwil cantik.” Bela mendengar ada suara cowok yang memanggilnya. Panggilan ini
diberikan teman-teman SMAnya karena rambutnya keriting. Bela menengok ke belakangnya. Dilihatnya seorang lelaki tampan tersenyum ke arahnya.
“Hai...” sapa cowok tampan itu.
“Hai... Tom....” Bela melupakan papper bagnya dan mendekati Tommy, teman SMAnya.
“Apa kabar?” tanya Tommy
“Baik. Lama sekali nggak ketemu Tom...”
“Ssstt... no telepon please.”
“Ok... “ Bela mengetikkan no nya di HP Tommy. “Call me ya....see u.”
“Bye cantik....” Tommy mengedipkan matanya.
Ting.. suara lift terbuka.
OMG.... gue lupa bawaan gue. Aduh... mana bos gue.
Bela celingukan mencari Donie. Dan akhiranya ia menangkap bayangan Donie yang berjalan membawa papper
bag sambil cemberut.
Ketemu temen sampe lupa kalo dia pergi sama gue. Dasar Bela. Apa cowok itu tadi bilang? Cantik? Hmmm..
Donie geram dengan tingkah Bela yang tiba-tiba saja akrab dengan teman yang baru ditemuinya tadi. Seolah-olah dia lupa bahwa dia pergi dengan atasannya.
“Pak....maaf.” Bela mengejar Donie dan mengambil papper bag dari tangan Donie.
“Kita tidak jadi makan. Saya jadi kenyang.”
“Pak, maaf saya tidak sengaja. Jadi bapak yang membawa barang-barang. Maaf ya pak.”
Ih, bos gue ngambek.
Donie berjalan tergesa-gesa ke arah lift. Tujuannya tempat parkir. Bela mengikuti Donie dengan terseok-seok. Ia berusaha menyamakan langkahnya dengan Donie.
Mereka sampai di tempat parkir. Donie membuka pintu mobilnya.
“Pak, pak Sugi mana?”
“Saya suruh pulang.”
Bela mengikuti Donie masuk ke dalam mobil. Dalam perjalanan, perut Bela berbunyi.....kruk...kruk...kruk...
Bela segera memegangi perutnya menahan malu.
Donie diam saja mendengar bunyi perut Bela. Dalam hati dia tersenyum.
Syukurin lo.... salah siapa nyuekin gue?