My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 27



“Kak, bos kakak yang ke rumah semalam itu pacar?” Dian bertanya di sela-sela kegiatan mereka berbelanja bahan makanan di pasar kaget.


“Eh... iya. Kok kamu tahu?”


“Abang yang bilang.”


“Ganteng banget ya kak. Iri aku tuh.”


“Haha....bukan gantengnya yang penting. Cari pacar itu, yang penting orang yang sayang banget sama kamu. Kalau soal wajah, nomer sekian deh. Yang penting nggak malu-maluin kalo diajak ke pesta.”


“Iya juga ya kak.”


“Ganteng itu bonus.”


Dian mengangguk-angguk mendengar penjelasan dari kakaknya.


“En.... aku juga sudah punya pacar Kak?”


Bela mengrenyitkan dahinya dan menatap adiknya tidak percaya.


“Siapa?”


“Ada deh. Kakak kenal kok.”


“Jangan sampai mengganggu kuliahmu lho.”


“Beres Kak. Dia baik. Kakak juga kenal dia.”


“Hmmm??”


“Biar dia nanti yang ngomong sama kakak. Minta izin sama kakak.”


“Teman kuliah?”


“Surprise...... tunggu tanggal mainnya.”


Bela mencubit lengan adiknya dengan gemas.


“Ini sudah cukup kak. Aku bawa pulang belanjaannya.”


“Iya, kakak di sini aja, nunggu dijemput.”


“Cie....cie....kakakku akhirnya punya pacar.”


“Apaan sih kamu.”


Bela memencet hidung adiknya.


“Bye kak.... jadilah pacar yang baik.”


Bela tersenyum mendengar godaan adiknya.


 


Bela duduk di kursi, di teras sebuah minimarket. Ia menunggu kedatangan Donie. Tubuhnya yang mungil dibalut dengan kaus putih lengan pendek yang sangat pas di badan dan dipadukan dengan celana jeans selutut. Kakinya memakai sandal jepit berwarna biru. Pakaian yang sederhana, sesederhana orangnya. Namun kesederhanaan itu


tidak menutupi kacantikannya. Beberapa laki-laki yang tidak dikenali Bela menggodanya atau menyapanya. Tapi Bela cuek sambil memainkan ponselnya.


Boss Ubur – Ubur ......calling....


 


“Hallo mas.”


“Jangan duduk dan tebar senyum manis di sana. Cepat berdiri, ke pinggir jalan. Aku sebentar lagi sampai.”


Ternyata dari kejauhan Donie melihat Bela yang sedang duduk di depan minimarket. Ia merasa jengkel karena melihat beberapa lelaki yang mencoba untuk menggoda kekasihnya.


“Iya mas.”


Bela berdiri dan berjalan ke tepi jalan. Mobil sedan hitam berhenti di depannya. Bela membuka pintu mobil dan masuk.


Donie menyambut Bela dengan wajah tidak suka. “Kamu itu pake pakaian seksi ke pasar. Itu cowok-cowok nggodain kamu.”


“Apaan sih? Pakaian gini kok seksi. Pikiran mas aja yang ngaco.”


“Seneng, banyak yang nggodain?”


“Biasa aja kali mas. Aku pakai pakaian yang nyaman untukku. Nggak peduli apa kata orang.”


“Hemmmfff.” Donie mengendus dengan jengkel.


Bela melihat Donie yang jengkel jadi tersulut juga, ”Mas mau ngajakin berantem apa?”


Donie segera tersadar akan sikapnya yang terlalu berlebihan, “Ehem.... nggak....kamu kalo marah tambah cantik.”


“Hu...uh....” Bela mengerucutkan bibirnya.


Donie mengacak-acak rambut Bela dengan gemas.


 


**di apartemen**


Sesampainya di apartemen, Bela menuju ke dapur. Dibukanya bungkusan makanan yang dibelinya tadi.


“Beli apa?”


“Beli roti.”


“Nggak jadi beli jajanan pasar yang tadi?” Donie heran melihat roti yang dikeluarkan dari bungkusan.


“Takut kamu nggak doyan. Jadi aku beli ini aja.”


“Hehe... takut aku makan kamu ya kalau makanannya nggak enak.”


“Haha....kamu emang nakutin mas. Mau dibuatin kopi?”


“Boleh deh. Gulanya sedikit aja, Yank.”


 


“Sayang, kamu nonton dulu. Aku kerja sebentar. Nggak lebih dari setengah jam”


Bela duduk di sofa dan menyalakan televisi.


“Mas, punya film nggak?”


“Film apa?”


“Ya film untuk ditonton. Kok nanya film apa.”


“Aku kira film wikwik.”


“Aish.....apaan deh mas.”


“Itu ada colokan usb, hubungkan saja dengan HD eksternal di laci bawah televisi. Ada banyak film di situ. Kalau mau praktek, panggil aku.”


“Mas......” Bela melemparkan bantal ke arah kepala Donie yang sedang menghadap meja kerjanya. Namun meleset.


Bela mulai memilih folder demi folder yang ada di dalam HD eksternal. Ia menemukan film yang kira-kira enak ditontonnya. Kakinya dinaikkan ke atas sofa. Ia duduk bersila sambil memeluk bantal.


Lima belas menit berlalu. Donie telah selesai dengan pekerjaannya. Ia melihat kekasihnya yang mulai asyik menonton. Entahlah, hari ini Bela terlihat sangat cantik, terutama dengan pakaian santainya.


Donie menghampiri Bela dan duduk di sebelah kiri Bela. Ia meletakkan tangannya di sandaran sofa. Lalu ia merengkuh Bela di dalam dekapannya. Diletakkannya kepala Bela di dadanya. Bela menurut saja dengan perlakuan lembut dari Donie.


“Nonton apa Yank?”


“AADC2. Kamu juga suka yah film genre romantis begini mas?”


“Itu kumpulan film. Bukan hanya aku yang nonton, Reino dan Andri juga sering nonton”


“Iya deh... bukan kamu hehehe....”


“Itu nanti akhirnya Cinta nyusul Rangga ke......”


Pluk...... tangan mungil Bela menutup mulut Donie.


“Aku mau nonton, malah cerita. Jadinya nggak seru dong.”


“Iya....”


Donie memainkan rambut Bela, lalu menciumi rambutnya. Aroma rambut dan tubuh Bela seperti candu bagi Donie. Ia selalu ingin mencium aroma itu, terasa enak dan menyegarkan.


“Aku mau nonton kamu aja.” Ucap Donie lirih.


Bela menonton sambil menyenderkan kepalanya di bahu bidang kekasihnya.


Dua puluh menit berlalu, Donie masih mengamati gerak-gerik kekasihnya yang sedang menonton. Lalu dilihatnya mata Bela berkaca-kaca......dan.....


“Huhuhu.........sedih banget,” Bela menangis lalu menutupi wajahnya dengan bantal.


Donie menarik bantal dari wajah Bela.....


“Apaan sih mas diambil bantalnya.”


“Kamu itu.... nonton film sampai nangis sesegukan gitu.”


“Sini bantalnya.... aku mau nangis.”


“Pake peluk bantal segala?”


“Aku malu.....sini bantalnya.”


Donie memeluk Bela dan mengusap-usap punggungnya.


“Ganti film yang komedi aja. Nonton Jangkrik Bos aja. Nonton film sedih bikin kamu jadi sedih begini.”


“Bentar mas.... tanggung.”


“Aku ceritain aja yah akhirnya....”


“Nggak usah......”


“Jadi ceritanya Rangga dan Cinta.....”


Cup...cup.... Bela mencium bibir Donie untuk menghentikan cerita Donie.


Donie terkejut dengan keberanian Bela. Baru kali ini Bela berinisiatif mencium terlebih dulu.


“Kamu tanggung jawab.”


“Apaan?”


“Kamu membangunkan macan tidur, sayang.”


Bela melotot ke arah Donie. Ia teringat sikap Donie beberapa waktu yang lalu di apartemen ini, sewaktu ia belum resmi berpacaran dengan Donie. Tiba-tiba kepalanya terasa panas. Darahnya terpompa ke atas membuat wajahnya merona dan jantungnya berdetak lebih cepat.


(Nonton film kali ini gagal, guys....... Mereka bikin film sendiri.)


Tangan kanan Donie menekan tengkuk Bela agar semakin dekat dengan wajahnya. Donie mencium bibir Bela lembut dan semakin lama semakin dalam. Kedua tangan Bela dikalungkannya di leher Donie. Tanpa terasa, tubuh Bela pun sudah berada di pangkuan Donie. Mereka berdua terbuai dengan manisnya cinta. Cukup lama mereka berdua saling menyalurkan perasaan indah yang menggebu-gebu. Dengan lembut Donie menyudahi ciuman panasnya. Ia tidak mau bertindak kelewatan. Bela adalah orang yang dicintainya sehingga ia juga akan selalu menjaganya.


Donie menatap Bela dan tersenyum dengan penuh kasih. Ia mengusap lembut bibir Bela dengan jari-jari kanannya, sementara tangan kirinya masih memeluk pinggang Bela. Posisi Bela masih duduk di pangkuan Donie.


Nafas Bela masih tersengal-sengal. Ia merasa malu ditatap lama oleh Donie. Bela menunduk dan memainkan memainkan ujung kausnya dengan jari-jari tangannya.


Donie menyadari sikap gadisnya yang polos dan malu-malu itu. Sungguh jauh berbeda dengan wanita wanita genit yang sering datang menggodanya. Dan ia merasa bersyukur dipertemukan dengan Bela. Tuhan sungguh baik,  memberikan kesempatan untuk mengenal gadis seperti Bela.


Untuk menghilangkan kecanggungan gadis polos di depannya, Donie kembali memeluk Bela, lalu ia berbisik dengan lembut, “Sayang, aku lapar. Kamu beli apa tadi?”


Bela berusaha menguasai dirinya lagi setelah tersadar dengan perkataan Donie.


“Ehm... aku beli roti. Sebentar, aku ambilkan di dapur.”


Di dapur, tampaknya Bela masih merasa gugup dengan perlakuan Donie tadi. Ia mengambil piring yang berisi beberapa buah roti yang ia beli di minimarket. Tetapi piring itu diletakkannya kembali. Ia merasa perlu  menenangkan kegugupannya. Kemudian ia mengambil gelas dan membuka lemari es. Diambilnya botol air minum dari dalam lemari es dan dituangkannya ke dalam gelas. Ketika ia akan meminum air putih dingin itu, tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.


Donie memeluk pinggang Bela dari belakang dan membisikkan sesuatu di telinga kanan gadisnya, “Sayang, lama sekali ngambil kuenya.”


Nafas Donie terasa di tengkuk Bela. Ia merasa merinding dan perut bawahnya serasa mengeras. Donie melepaskan pelukannya dan membawa piring berisi kue. Sementara Bela segera meminum air dingin dan menarik nafas dalam-dalam. Ia berjalan mengikuti Donie.


Siang itu mereka habiskan dengan berbincang-bincang, makan, dan diselingi kegiatan romantis lainnya.


Pukul 1 siang, Bela sudah berada di rumahnya sementara Donie telah berkumpul dengan kedua temannya di danau hijau tempat mereka sering memancing.


Author : Hai readers....cukup yah episode 'manis'nya.Kalau 'manis' terus, takut kena diabetes. Kita lanjut ke episode 'tidak manis'.