My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 53



Kruk....kruk...kruk....


Perut Bela berbunyi. Ia masih setia dengan pekerjaan di laptopnya. Waktu menunjukkan pukul 12 malam.


“Sudah sayang. Berhenti bekerja, sudah malam. Kamu lapar kan? Sini, makan kue ini. Tadi aku sempat membelinya di jalan. Kamu mau aku buatkan minuman apa? Wedang uwuh mau?”


“Iya, mau.”


Donie segera menyiapkan minuman yang diinginkan Bela.


“Mas....”


“Hemmm....”


“Memangnya Arini hebat di ranjang ya? Kamu sampai selingkuh gitu?”


Bola mata Donie berputar. Ia memijat dahinya lagi. “Duh sayang, kenapa dibahas terus sih?”


“Yah.... aku kan penasaran.....”


Donie menghampiri Bela, meletakkan makanan dan minuman hangat yang baru saja dibuatnya. Jarinya  telunjukknya terulur menekan dahi Bela, “Tidak ada gunanya kita membicarakan hal itu lagi, Bela. Jauhkan pikiran kotor itu dari kepalamu.”


Bela mengernyitkan alisnya dan mengerucutkan bibirnya. “Ya sudah,  aku tidur di sofa saja malam ini.”


“Apa......? No, kalau kamu tidak mau tidur di sebelahku, aku saja yang tidur di sofa.”


Setengah jam kemudian....


Bela membaringkan tubuhnya di atas kasur. Walaupun merasa sangat mengantuk, sedari tadi ia tidak bisa memejamkan matanya. Yang dilakukannya hanyalah menatap langit-langit kamar. Entah mengapa akhir-akhir ini aroma tubuh kekasihnya itu bisa membuat dirinya nyaman sehingga lebih mudah tertidur. Sekarang, Bela melirik Donie yang membaringkan tubuhnya di atas sofa. “Mas....udah tidur belum?”


“Hemmmm belum. Ada apa?” Mata Donie kembali terbuka mendengar ucapan dari gadisnya.


“Tidur di sini aja.”


“Kamu nggak bisa tidur kan kalau nggak pakai ndusel-ndusel aku?”


“Huh... ge er banget dih kamu. Ya udah tidur sana aja, nggak usah ke sini.”


“Yah... marah.... Beib, masih berlaku nggak tawarannya? Aku boleh tidur di situ kan?”


Tanpa menjawab, Bela menepuk permukaan kasur di sebelahnya, meminta Donie berbaring di sampingnya. Donie


tersenyum senang dan segera pindah di sebelah gadisnya. Tanpa malu-malu lagi Bela menempel di dada Donie. Tak lama kemudian ia pun tertidur pulas.


***


Pagi ini dua pria tampan itu sarapan roti bakar dan secangkir kopi. Mereka berdua mempunyai selera yang sama


tampaknya. “Sepertinya gencatan senjata ya? Seru perangnya tadi malam, Don?” Tanya Reino dengan berbisik ke telinga Donie ketika mereka telah duduk di kursi makan.


“Lumayan berbekas perang dunia ketiga tadi malam. Nih....dan nih....” Donie menunjukkan luka goresan akibat


pukulan dari tas Bela.


“Busyet.... ganas juga pacar elo, Don. Jangan berani-berani selingkuh lo sama yang ini. Bisa mati berdiri lo....


Padahal ini belum ketemu sama ****** elo yang lain lagi. Baru ketemu yang satu ini, untungnya ketemu yang  agak kalem dan manis seperti Arini. Coba kalau ketemu yang lain.... habis lo dimutilasi.”


“Jangan lagi deh ketemu yang lain. Tobat gue. Tidak akan main cewek lagi gue.”


“Se-playboy nya gue, nggak pernah sampai terjebak gitu gue.”


“Gue kan udah enggak, No. Playboy itu dulu. Awas lo kemakan omongan sendiri.”


“Haha... jangan nyumpahin gue dong.”


“Tapi kalau gue pikir-pikir.... elo memang sering terjebak. Kepergok selingkuhan, pacar mutusin elo. Hehe....


kurang lihai, tahu nggak lo?”


“Gue kapok.”


“Hehehe.... elo sekarang bener-bener kapok, bro. Berhenti main cewek, selingkuh.... insyaf ternyata. Hanya Bela yang bisa buat elo begini. Sebelumnya mana pernah kapok. Ngomong-ngomong, mana Bela?”


“Lagi beresin barang-barang, supaya nanti lebih cepat bisa check out dari hotel.”


“Nggak sarapan dia?”


“Makan cake kemaren aja katanya. Kita pertemuannya dipercepat, pagi ini jam 8, bro.”


“Ok. Siap!”


***


Sembari menyusun barang-barang ke dalam koper, Bela menatap ponselnya.


Ting...


(Bela) Vir..., nanti ke rumah gue yah. Kalo mau menginap, gue lebih senang.


(Virni) Ok, kriwil sayang. Nanti gue ke rumah, menginap juga. Servis gue dengan baik ya.


(Bela) Apa yang enggak sih buat elo say?


(Virni) Kapan sampai Jakarta?


(Bela) Sebentar lagi berangkat ke bandara.


(Virni) Ok. Safe flight, say.


(Bela) Thank you, say.


Ting...


(Bela) Hai Tom....


(Tommy) Hai juga kakak ipar. Apa kabar?


(Bela) Baik. Hehe.... kita belum resmi iparan lho.


(Tommy) Apa salahnya menyesuaikan  diri?


(Bela) Okey lah.... diterima penyesuaiannya. Nanti ngapel ke rumah nggak?


(Tommy) Nanti agak malam, Dian ada kuliah malam.


(Bela) Biasa.... ada oleh-oleh untuk calon adik ipar....hehe...


(Tommy) Baiklah kakak.... nanti aku mampir.


Ting...


(Bela) Bang, aku pulang nanti siang.


malam, Dian juga pulang malam.


(Bela) Kenapa bang?


(Benny) Aku sedikit curiga dengan keadaan sekeliling rumah. Hati-hati di perjalanan.


(Bela) Iya, bang.


***


 


Ting....


(Donie) Mam.... nanti aku pulang ke rumah mami.


(Mami) Ya.


***


Donie merasa tidak nyaman dengan cara duduknya. Berkali-kali ia mengubah posisi duduknya. “No, kenapa elo pesen tiketnya yang ekonomi begini sih?”


“Kan enak, kita bisa duduk bertiga. Kalau beli yang bisnis.... sendirian gue. Iya kan Bel, enak begini, rame-rame,


asyik.”


“Iya, enak begini, pak. Kamu sih mas.... sekali-kali ngerasain jadi orang susah kenapa?”


Dengan wajah ditekuk, Donie menjawab, “Yah.... terserah deh. Gue mau tidur aja.”


“Pindah sini kalau mau tidur. Aku mau ngobrol aja sama pak Reino.” Bela berdiri menepuk-nepuk kaki Donie, meminta supaya ia segera berpindah duduk di dekat jendela. Bela ingin duduk di tengah saja, agar bisa berbicara dengan Reino.”


Reino tersenyum mengejek ke arah Donie, “Rasain lo.... Episode marahnya belum berakhir. Nurut aja, daripada


berantem di pesawat. Malu gue.” Bisik Reino di telinga Donie.


Berat hari Donie berpindah bertukar tempat duduk dengan Bela. Ia pun segera menutup matanya. Sepanjang perjalanan ini ia rencanakan untuk tidur saja. Sementara Reino dan Bela terlihat berbicara panjang lebar sembari menikmati perjalanan.


Ketika mereka sedang mengambil barang di bagasi, Donie bertanya kepada Reino, “Elo dijemput No?”


“Iyalah.... dijemput pacar tersayang.” Mengambil kopernya.


“Sampai ketemu besok.” Kata Donie.


“Bye Don, Bela...”


“Bye....” Jawab mereka berdua bersamaan.


“Dijemput siapa mas?”


“Sopirnya mami. Nanti aku pulang ke rumah mami. Aku antar kamu dulu.”


Donie menyusun barang-barang bawaan mereka ke dalam sebuah troli. “Sudah kamu pikirkan untuk tinggal bersamaku di apartemen?”


“Sabar deh. Nanti belum aku pikirkan.”


“Terus terang, aku khawatir dengan keselamatanmu, Bela. Aku takut peristiwa beberapa hari yang lalu terulang lagi.


Apakah aku harus mengutus seseorang untuk mengawalmu?”


“Ah, berlebihan kamu mas. Selama di rumah, ada Dian dan Bang Ben. Aku yakin akan aman.”


“Kalau begitu, besok pagi aku jemput.”


Bela menolaknya, “Besok aku berangkat ke kantor dengan Virnie, mas. Nanti malam dia mau menginap di rumah.”


“Oh, ya sudah. Begitu juga baik.”


Tak lama kemudian, sopir yang menjemput mereka datang.


Dddrrrttt.....dddrrrttt....


Wiliam calling....


“Iya Wil.......”


“Sudah lengkap?”


“Good job, bro....”


“Ok...”


“Ok.....”


“Kita ketemu, satu jam lagi. Di Beer Garden.”


Tut....tut.... telepon ditutup.


Bela memandangi wajah kekasihnya yang tiba-tiba berubah menjadi serius. Rahangnya mengeras, namun ia tidak


mengatakan sesuatu. Bela terusik rasa ingin tahunya, “Siapa mas?”


“Wiliam.” Singkat Donie menjawabnya. Ia kembali terdiam.


“Pak Is, antarkan Bela dulu ke rumahnya. Setelah itu ke Beer Garden ya pak.” Donie menyebut lagi sebuah tempat


yang menyediakan makanan ala barat dan minuman berbagai macam bir.


“Baik tuan.” Jawab pak Is.


Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Mereka bertiga telah sampai di halaman rumah Bela.


“Jaga diri baik-baik sayang. Sampai ketemu besok pagi.” Donie mencium bibir Bela, tanda perpisahan.


“Mas.... malu, ada pak Is.”


“Tidak apa ya pak Is....” Kata Donie tersenyum melirik pak Is melalui kaca mobil dan pak Is melorot menunduk, tidak berani melihat ke arah mereka. Donie keluar dari mobil membantu Bela menurunkan barang-barangnya.


“Terima kasih ya mas.”


“Sama-sama. I’ll miss you, beib.”


“Ih, besok juga ketemu. Jangan lebay deh mas.”


Tapi tetap saja wajah Bela merona merah mendengar kata-kata kekasihnya itu. Ketika di dalam rumah, Bela masih


terpikir dengan Donie. Sepertinya ada hal penting yang dibicarakan dengan Wiliam.


Ada urusan apa sih mas? Setiap berhubungan dengan Wiliam, pasti wajahmu tegang begitu.