My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 50



“Hallo....” Sapa Bela.


“Hallo Abel....”


Deg...deg...., Bela teringat suara bariton pria di seberang sana.


 “Iya, maaf, dengan siapa saya bicara?” Tanya Bela lagi. Ia tidak yakin bahwa suara yang ia dengar adalah milik pria itu. Bukan tidak yakin sebenarnya, tapi ia lebih berharap bahwa yang berbicara di seberang sana bukanlah Trendy.


“Abel..... ini aku Trendy. Apakah ada yang memanggil dirimu dengan sebutan Abel, selain aku?” Tanya suara di


seberang sana.


“Ah, kamu Trend.... Aku kira siapa.”


“Ternyata nomorku sudah tidak tercatat lagi di ponselmu ya....” Nada suaranya sedikit kecewa. Ia merasa Bela


telah menghapus dirinya dari hidup Bela, seperti nomor kontaknya yang tidak lagi disimpan.


Bela sangat tidak ingin menjawab pertanyaan itu. “Ada apa Trend?”


“Apakah kamu ada waktu malam ini? Aku ingin bertemu.” Tanya Trendy.


“Maaf Trend, sepertinya ada yang harus aku kerjakan nanti malam.” Bela tidak ingin bertemu Trendy lagi sejak hari ini karena pertemuannya dengan ayah Trendy tadi pagi.


“Oh, begitu ya.... Ok. Mungkin lain kali jika ada kesempatan kita bisa bertemu lagi. Besok kamu pulang ke  Jakarta?” Trendy merasa harapannya pupus. Walaupun sebenarnya ia juga tidak yakin, hubungan seperti apa yang akan ia tawarkan kepada Bela.


“Iya. Besok.”


“Hati-hati ya. Bye.”


“Bye.” Bela menutup telepon dari Trendy.


Donie telah selesai dengan pembayaran di kasir. Bela sendiri tidak tahu, sejak kapan Donie berdiri di dekatnya.


“Telepon dari siapa?”


“Ehm.... temanku.” Bela kaget. Ia tidak menyangka Donie telah berdiri di dekatnya. Ia pun bertanya dalam hati,


apakah Donie mendengarkan juga pembicaraan antara dirinya dan Trendy.


“Trendy?” Tanya Donie lagi dengan nada curiga.


Kenapa aku merasa seperti kepergok berselingkuh? Padahal aku hanya menerima teleponnya, tidak lebih dari itu. Apakah mas Donie akan marah?


“Iiiya. Ka....kamu marah mas?” Jawab Bela salah tingkah.


“Kamu jadi salah tingkah seperti itu. Aku tidak marah. Kamu bebas berteman dengan siapa saja. Kamu sudah  cukup dewasa, Bela. Dan aku rasa kamu sudah cukup tahu batasannya seperti apa. Aku percaya kepadamu. Jangan salah gunakan kepercayaanku. Ayo kita kembali ke hotel.” Sahutnya dengan santai.


Maaf ya Mas Donie. Aku tidak bermaksud bohong.


***


Gaya bicara yang kenes wanita ini masih sama, “Mas Rei,..... sudah lama sekali ya.”


“Hemmm iya, cukup lama kita tidak berjumpa. Apa kabar?” Reino berbicara canggung kepada wanita di  hadapannya.


“Baik sekali, Mas Rei. Mas Rei sendiri bagaimana kabarnya?”


“Baik juga.”


Sikap Reino pun berubah setelah agak lama berbicara. Rasa canggungnya hilang. Ia merasakan seperti bertemu dengan teman lama. “Iya. Ada pekerjaan beberapa hari ini. Bagaimana dengan kegiatanmu? Pastinya sudah lulus kuliah ya? Hemmmm ini sudah lama, sudah bertahun-tahun yang lalu.” Masih berusaha mengingat-ingat kapan kali terakhir mereka bertemu.


“Sudah, mas. Aku sudah lama lulus kuliah. Sekarang kegiatanku menjadi instruktur aerobik dan yoga di beberapa


club senam. Aku juga bekerja sama dengan teman-temanku membuka tempat fitnes. Kalau senggang, mampirlah mas. Berolahraga sejenak di Jogja supaya kesehatan selalu terjaga.”


“Oh, pantas saja kamu terlihat bugar.” Hampir saja Reino kelepasan bicara bahwa wanita yang ada di hadapannya


ini jauh lebih seksi dibandingkan dengan terakhir kali bertemu.


“Ayo mas, kita makan dulu. Kali ini aku yang traktir, hehe....sebagai tuan rumah tentunya. Kalau dulu kalian yang


selalu traktir aku karena aku belum bekerja. Sekarang gantianlah.” Katanya lagi.


Reino menyetujui ajakan Arini, mereka berjalan menuju ke lantai atas tempat foodcourt berada. Ia berjalan di samping Arini. Arini memakai kaus tanpa lengan berwarna putih yang mempertontonkan pusarnya, juga dengan kalung besar di dadanya, dan rok jeans mini yang menonjolkan kaki jenjangnya. Tak banyak wanita berpakaian seminim ini di Jogja. Agaknya cara berpakaian Arini mengundang banyak tatapan mata ke arahnya. Ditambah lagi dengan kehadiran pria setampan Reino di sampingnya.


Perlahan Reino mulai mengingat-ingat lagi sosok Arini di masa lalu. Arini yang sering ditemui Donie apabila mereka


berkunjung ke Jogja. Arini adalah gadis manis berperawakan tinggi semampai, berambut panjang. Satu yang menjadi ciri khas Arini adalah gigi gingsulnya yang membuatnya semakin manis jika tertawa. Sejak dulu, Arini memang lebih senang berpakaian agak terbuka seperti ini. Kala itu Arini merupakan seorang mahasiswi di salah satu akademi di Jogja. Hanya itu yang ia ketahui.


Beberapa tahun yang lalu, di saat Donie masih terbuai dengan darah muda, penuh gairah dan sedikit nakal. Arini


adalah wanita yang selalu menemani Donie jika ke Jogja. Ia yang selalu menemani malam-malam di Malioboro, berjalan-jalan sampai malam, dan juga menemani tidur malam Donie Wijaya. Hubungan mereka bukanlah sebagai sepasang kekasih, hanya kebutuhan biologis untuk saling menemani, tidak lebih. Ketika itu pula Donie sudah punya kekasih di Jakarta.


“Mas Rei, berapa lama di Jogja?” Tanya Arini di sela-sela aktivitasnya menyantap makanan di hadapannya.


“Tidak lama, hanya beberapa hari. Besok aku kembali ke Jakarta.”


“Sendirian bertugas di sini?” Inilah pertanyaan yang ingin dihindari Reino. “Tidak sendiri. Dengan beberapa rekan


kantor.” Sebenarnya Reino sangat tahu ke arah mana pembicaraan akan dilanjutkan.


“Mas Oni juga bertugas di Jogja?” Matanya membulat. Arini terbiasa memanggil Donie dengan nama Oni, karena itulah nama yang diperkenalkan Donie kepada Arini.


“Iya. Kami sempat bertugas bersama beberapa hari yang lalu di sini.” Reino tidak meneruskan perkataannya kembali. Biarlah Arini yang menerka-nerka.


“Wah, sayang sekali. Aku ingin sekali bertemu dengan mas Oni.”


Ternyata Arini memperkirakan Donie telah kembali ke Jakarta.


Reino menyelesaikan makan malamnya. Ia menatap Arini, “ Kamu sudah berkeluarga?”


“Belum mas. Pacar sih ada. Tapi sepertinya aku belum berniat membangun keluarga.”


“Takut terikat?”


“Yah, begitulah. Banyak konsekwensinya. Juga banyak yang harus disesuaikan bukan hanya pernikahan antara dua orang, tetapi dua keluarga. Mas Rei sendiri bagaimana?”


“Hemmm.... aku berharap tidak akan lama lagi, status di KTP ku berubah. Hahaha....”


“Hohoho..... semoga saja mas Rei. Oh ya, bagaimana dengan mas Oni, apakah dia juga sudah berkeluarga?”


“Belum.” Kembali mata bulat itu kembali menatap Reino. Secercah senyum menyungging di wajah manis Arini. Mereka kembali mengobrol diselingi dengan canda dan tawa.


Moga-moga saja Donie tidak bertemu dengan salah satu jalangnya ini. Apalagi jika mereka berdua bertemu dengan Bela. Astaga, gue tidak berani membayangkan.