
Agak lama Bela berdiri sendiri di depan pintu apartemen Donie. Supri dan 3 orang tim security gedung datang dan memeriksa keadaan. Salah satu dari mereka menerima telepon, tentu saja dari Pak Donie.
Sekitar lima belas menit kemudian, datanglah Andrianto, Wiliam dan seorang teman Wiliam. Andrianto segera menghampiri Bela.
“Kamu tidak apa-apa kan Bela?” Andri menepuk pundak Bela menenangkan gadis mungil yang terlihat pucat pasi itu.
“Tidak apa-apa pak.” Bela menggeleng lemah.
“Wil, kau urus itu. Donie sudah meneleponmu bukan?” Andri berbicara kepada Wiliam yang berdiri di sampingnya.
“Siap pak Andri.” Jawab Wiliam dengan sigap.
Wiliam dan temannya menghampiri tim security. Mereka terlihat bercakap-cakap. Sementara Andri menghampiri Bela.
“Berkas dari Donie sudah kamu cari?” Tanya Andri. Ia mengingatkan kembali bahwa tujuan Bela yang utama adalah mencari berkas Donie dan menyerahkan kepadanya.
“Belum pak. Sebentar, saya cari dulu.” Bela menggelengkan kepala.
Bela bergegas memasuki kamar tidur Donie. Ruangan ini pun tak kalah kacaunya dengan ruang tamu. Barang-barang terlihat kacau bertebaran di sana sini. Bela menghampiri lemari baju dan mencari berkas di sana. Lemari baju terlihat masih dalam kondisi baik, tidak terlihat ada bekas kerusakan. Akhirnya Bela menemukan berkas yang dimaksud oleh Donie. Berkas itu masih tergeletak aman di bawah lipatan baju tidur. Bela menyerahkan berkas itu kepada Andri. Kemudian Andri menelepon Donie.
“Bro....” Andri menyapa Donie di telepon.
“Bagaimana dengan berkasnya?” Tanya Donie.
“Berkas aman. Udah gue kasih Wiliam.” Andri melirik ke arah Wiliam yang sedang berbicara dengan teman-temannya.
“Lo urus Ndri.... jangan lapor polisi dan jangan sampai bocor beritanya. Rencana kita tetap jalan. Mungkin akan ada gangguan lain sebelum kita buka temuan penyalahgunaan keuangan perusahaan. Tolong ikut waspada. Secepatnya gue dan Reino balik ke sini.”
“Ok bos...” Andri mengakhiri teleponnya.
“Bela, kamu pulang duluan saja, dianter Supri.” Andri berbicara kepada Bela dan kemudian mengarahkan pandangan kepada Supri memintanya untuk mengantarkan Bela.
“Baik pak. Saya akan kembali ke kantor.”
“Ok. Tapi saya minta kamu rahasiakan ini dari siapapun juga. Kamu juga Supri jangan pernah cerita kepada pihak lain.” Andri memberi peringatan kepada Bela dan Supri.
“Baik pak....” Hampir bersamaan keuda orang itu menjawab Andri. Kemudian keduanya keluar dan pergi.
****
“Apa dasar kecurigaan lo, Don? Setahu gue, om elo itu belain elo banget.....kecuali perkara elo mau nurunin dia dari jabatan Presdir. Ingatlah sikap dia sebelumnya selalu belain elo, walaupun dia dingin dan nggak ramah sama elo. Kalau sampai tuduhan yang segitu kriminalnya seperti pikiran elo, gue belum percaya.” Andri mengoceh sambil berjalan mondar-mandir membawa minuman kalengnya di depan Donie.
“Gue dengar sesuatu yang tidak seharusnya gue dengar. Pembicaraan rahasia yang bikin gue curiga dan ingin sekali membongkar kejadian itu. Bahkan mami juga tidak tahu.” Jawab Donie. Tangan kanannya memijit-mijit dahinya. Ia ingin meyakinkan sahabatnya tentang kecurigaaannya. Tapi bukti-bukti yang ia kumpulkan masih
belum mencukupi. Ia hanya berharap semoga Wiliam dapat memecahkan kecurigaannya. Walaupun di dalam hati kecil Donie, ia sangat ingin kecurigaan terhadap pamannya itu tidak terbukti.
“Lo mo tidur di mana nanti malam?” Andri teringat dengan apartemen Donie yang masih berantakan.
“Kalo gue tidur di sini pasti gangguin elo.” Jawab Donie dengan menyeringai. Ia tahu kebiasaan sahabatnya ini yang suka membawa teman wanita ke rumahnya.
“Santai bro, kamar gue ada banyak. Elo nggak harus berbagi tempat tidur sama gue. Kecuali elo mau studi banding biar pengalamannya banyak. Mungkin aja ada beberapa gaya yang harus elo pelajari dari gue. Hahaha.....” Andri tertawa dengan santai.
“Semprul......” Donie mengumpat tanpa menoleh. “Gue nginep di Hotel Grand Persada.”
“Perlu gue temenin nggak Donie, sayang?” Andri menggoda dengan gaya seperti waria.
“Njir......sumpah, lo jijay banget.....” Donie tertawa melihat kelakuan sahabatnya itu.
Andri kembali dengan tatapan serius ke arah Donie, “Tapi sudahlah bro, toh Wiliam sudah menangani kasus ini. Gue yakin, akan ada hasilnya sebentar lagi. Nggak usah galau bro.... kita ke club XX aja. Ajak Reino sekalian.” Andri menepuk pundak sahabatnya itu.
Tak lama kemudian, mobil pajero sport hitam itu membawa Donie dan Andri ke tempat yang mereka tuju.
Memerlukan waktu setengah jam untuk sampai ke tempat yang mereka tuju. Seperti biasa, kedatangan dua orang pangeran tampan itu cukup menyita perhatian kaum hawa. Seperti biasa, mereka memesan table VIP yang tersedia.
Reino datang setelah kedua orang itu menghabiskan 10 menit dengan menyesap minuman. Ia menyapa kedua temannya. Kemudia datang dua orang wanita cantik berpenampilan seksi yang menjadi langganan Reino dan Andri. Donie melirik kedua wanita cantik itu. Ia mengalihkan pandangannya ke minumannya lagi. Ia tidak tertarik.
“Ayo kita senang-senang.” Ajak Andri dan Reino ke arah Donie.
“Gue di sini aja.” Donie memberi isyarat kepada kedua sahabatnya. Mengingat suara musik yang menyamarkan suara percakapan mereka.
Dua orang sahabat itu cukup mengerti Donie bukanlah orang yang suka menghabiskan waktunya dengan wanita yang ditemui di club. Biasanya Donie memang hanya menemani mereka berdua sambil tenggelam dalam pikirannya dan minumannya. Dua sahabat itu cukup faham dan mereka meninggalkan Donie di kursinya.