
HALLO READERS, JIKA KALIAN SUKA, JANGAN LUPA YA BERI :
· Komentar
· Like
· Favorit
· Tip
SELAMAT MEMBACA
BAB 21
Pukul 04.30 seperti biasa Bela bangun. Ia menyiapkan sarapan untuk abang dan adiknya. Tak lama kemudian abang dan adiknya juga bangun. Seperti biasa, mereka langsung mengerjakan tugasnya masing-masing. Abang Benny menyiram tanaman dan membereskan taman, sedangkan Dian membersihkan rumah. Begitulah pembagian tugas di rumah Bela sejak dulu.
“Dian, kamu kuliah jam berapa hari ini?”
“Ada kuliah pagi kak, jam 7. Jadi nanti aku berangkat jam 6 lewat dikitlah. Tapi pulangnya siang. Setelah jam 2 gak ada kuliah. Kalau tidak ada kegiatan lain, aku langung pulang, kak.”
“Jangan lupa, nanti sebelum berangkat, sarapan dulu ya. Kalau pulang agak siangan, mampir beli bahan makanan untuk beberapa hari ini yah. Udah habis tuh isi kulkasnya, hanya untuk hari ini.”
“Ok kakak cantik. Nanti aku catat dulu apa saja yang harus dibeli.”
“Trims adikku tersayang....hehe..”
Bela mengusap kepala adiknya sambil berlalu ke halaman.
“Abang, sarapan sudah siap.”
“Ya kalian makan duluan....Abang sebentar lagi.”
“Iya Bang, aku dan Dian hari ini berangkat pagi. Jadi kami sarapan duluan.”
“Iya....”
Bela meninggalkan abangnya dan kembali ke dalam rumah.
“Ayo kita sarapan dulu Dian. Abang masih nanti.”
“Iya kak.”
Sekitar pukul 6, Bela dan Dian dijemput oleh ojol masing-masing. Bela menuju ke kantor, Dian menuju ke kampus. Sedangkan Benny berangkat jam 7 karena tempatnya bekerja tidak jauh dari rumah.
****
Hari ini di kantor banyak karyawan bergosip. Bela tidak tahu apa yang mereka gosipkan. Seperti saat tadi di kantin karyawan, tidak seperti biasanya, karyawan perempuan banyak yang bergerombol dengan obrolan julid mereka. Bela tak ambil pusing. Mungkin hanya dia karyawan perempuan di kantor ini yang tidak terlalu pusing dengan gosip-gosip yang beredar.
Ketika kembali ke meja kerjanya, setelah makan siang di kantin karyawan, Donie melewati meja kerja Bela sebelum masuk ke ruangannya. Donie berhenti sebentar di depan Bela kemudian melemparkan senyum manis dan kedipan mata.
Ah, mas Donie.... pesonamu membuat gue terbang ke awang-awang.
Walaupun hanya senyum sesaat, Bela merasa bagai cinderela yang terbang melintasi awan. Sungguh bahagia melihat senyum manis pacarnya itu. Apalagi setiap hari mereka bertemu. Tentu saja itu merupakan moodboaster bagi Bela. Membuatnya semangat ke kantor dan semangat mengerjakan pekerjaan kantor. Walaupun Bela dan Donie jarang menghabiskan waktu berdua. Itu karena Donie adalah orang yang serius dan sibuk. Setelah acara nonton di bioskop itu, mereka berdua belum ada kesempatan untuk berkencan lagi.
“Bela.... ada gosip baru....” Hilda berbisik-bisik di telinga Bela ketika Donie baru saja melewati mereka berdua menuju ke ruangannya.
“Apa mbak?”
“Eh, kamu belum lihat berita online hari ini?”
“Belum sempat mbak. Ada apa ya?”
“Gosip apaan sih mbak?”
‘Stefani Hotman menggandeng pacar baru’ begitu bunyi headline nya. Bela melihat artikel dari berita online yang ditunjukkan oleh Hilda. Ia melihat sosok bosnya dan Stefani sedang berjalan memasuki sebuah restoran. Beberapa foto lagi menunjukkan sang bos sedang makan berdua dan berbincang sambil tertawa. Tampak keakraban dari mereka berdua jika dilihat dari foto tersebut.
Stefani adalah sosok yang banyak sensasi sehingga wartawan pun senang menguntitnya. Tingkah lakunya selalu mendapat sorotan bak seorang artis. Walaupun ia seorang pengusaha, namun ketenarannya melebihi artis. Tak heran setiap gerak gerik Stefani Hotman menarik minat pencari berita.
Walaupun belum selesai membaca artikel itu, Bela merasa lemas. Lidahnya kelu, dadanya terasa sesak, dan air mata ditahannya agar tidak turun. Ia berusaha sekuat tenaga agar Hilda yang duduk di sebelahnya tidak tahu.
Belum sempat Bela menarik nafas, tiba-tiba datang seorang wanita yang sangat Bela kenal. Wanita yang dahulu pernah menjadi atasan Bela.
“Hai.... saya Stefani Hotman.” Katanya dengan ramah dan gayanya yang centil.
Dia masih seperti dulu.Gumam Bela.
Stefani terkejut melihat Bela.....
“Ouwww.... you....Isabela Sanjaya ?”
“Benar ibu Stefani, saya Isabela.”
“Oh, sudah lama sekali Bela. Don’t call me Ibu... you are my friend. Saya bukan lagi atasan kamu, Bela.”
“Ah, iya Stefi..... Apa kabar?”
“Baik sekali. Bela kamu terlihat lebih berseri-seri. Kamu sekretaris Donie?”
“Iya.”
“Kebetulan sekali.”
“Bisa sampaikan ke Donie, bahwa saya datang.”
“Baik. Sebentar.”
Kringgg.....
“Selamat siang, pak.”
“Iya sayang.”
“Ada ibu Stefani Hotman di luar, ingin bertemu dengan bapak.”
“Baik. Masuk saja.”
“Baik pak.”
“Anda ditunggu pak Donie di dalam. Silahkan masuk.”
“Ok. Terimakasih manis. Lain kali kita ngobrol ya.”
“Eh... iya Stefi.”
Stefani Hotman masuk ke ruang Direktur Donie Wijaya.
Hilda menyikut lengan Bela. “Bener kan? Jadi dia pacar pak Donie? Kamu kenal Bel?” Hilda kumat julidnya.
“Eh, dia dulu bos aku mbak....”
Sebenarnya lutut Bela terasa lemas melihat kedatangan Stefani barusan. Apakah benar berita yang dibacanya? Apakah selama ini Donie hanya mempermainkannya. Hati Bela terasa sakit. Sakit sampai ke ujung-ujung jemarinya. Rasa sakit yang baru pertama kali ia rasakan.