My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 34



Waktu menunjukkan pukul 22.00. Donie bermaksud kembali ke kamarnya. Tiga sahabatnya sudah meninggalkannya. Ia menempelkan kartu untuk membuka pintu kamar. Dibukanya pintu kamar setelah kuncinya terbuka. Pelan ia melangkah memasuki ruangan. Dilihatnya Bela yang tertidur di sofa dengan posisi badan menelungkup.


Sebentar ia melihat kekasihnya ini. “Sssttt.....Bela, pindah ke tempat tidur.”


“Ehm....” Bela menggeliat.... Ia lupa jika tertidur di sofa. Ia pun menggulingkan badannya.


Hup..... hampir saja menggelinding ke lantai. Untunglah Donie cukup sigap menangkap tubuh Bela. Bela pun terbangun.


“A...apa mas? Kenapa kamu di sini?” Bela terbangun dan duduk.


“Tuh, kamu hampir tergelincir ke lantai.” Jawab Donie sedikit kesal.


“Oh.... maaf, aku ngantuk, ketiduran. Tugasnya sudah selesai semua, mas.”


“Pindah tidur di sana saja. Biar aku tidur di sini setelah pekerjaanku selesai.” Donie menunjuk ke arah tempat tidur.


“Sudahlah, mas yang di kasur saja. Aku tidak papa. Mas kan masih sakit.”


“Kamu saja. Titik.” Donie mengeser tubuh Bela dan duduk di sofa.


“Ih.... iya pak Donie. Ok deh. Aku tidur ya.... goodnight, mas.” Cup... Bela mencium pipi Donie.


Donie tersenyum, kemudian melanjutkan pekerjaannya. Sementara Bela terlelap ke alam mimpi.


***


** di hotel yang lain**


Thomas berbicara serius dengan seorang lelaki di depannya. Kira-kira mereka berdua seumuran. Lelaki itu tidak terlalu tinggi, berwajah kecil dengan tahi lalat besar di ujung hidungnya.


“Sekali lagi, Wan... bantu aku kali ini. Ini yang terakhir.”


“Thom, bukannya aku tidak mau. Aku sudah banyak melakukan pekerjaan kotor untukmu. Tidak masalah jika melakukannya sekali lagi. Tapi ini masalah targetnya, Thom.”


“Apa yang salah dengan targetnya? Dia bukan siapa-siapa, bukan dari kalangan terkenal yang bisa menghebohkan. Bahkan keluarganya hanya kakak dan adiknya. Tidak akan ada yang melacaknya. Tidak mungkin  membahayakanmu.”


“Aku tidak mau Thom.”


“Imbalan yang kuberikan kurang bagus?”


“Bukan itu. Pilihkan target yang lain, maka akan aku kerjakan. Kenapa bukan dua sahabatnya itu saja?”


“Tidak mungkin. Mereka berdua terlalu mencolok. Dan bisa melibatkan semakin banyak orang.” Thomas menggelengkan kepala frustasi. “Tidak sampai membunuhnya, Wan.... celakai sedikit sebagai ancaman untuk Donie.” Lanjutnya masih dengan membujuk. “Atau lebih baik aku kerjakan sendiri.”


“Thomas, sedikit saja kau sentuh dia, kamu berakhir....” Irwan mengepalkan kedua telapak tangannya.


Dengan mengrenyitkan dahinya Thomas bertanya, “Siapa sebenarnya gadis itu?”


Irwan tidak menjawab. Sesaat ia hanya teringat saat memasuki ruangan Donie, dilihatnya seorang gadis tertidur di sofa di samping Donie.


“Aku pergi, Thom.” Irwan keluar dari ruangan.


Thomas meneguk minumannya lagi. Ia semakin kalut. Tak terbayangkan olehnya jika perbuatan buruknya akan diketahui rekan-rekan kantor, bahkan jika sampai pemegang saham yang lain mengetahuinya. Bukan ini yang ia inginkan. Sebenarnya ia sangat ingin bekerja bersama di perusahaan itu bersama Donie, seseorang yang sangat disayanginya.


Thomas mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.


‘Thomas calling’


“Hallo, Om.”


“Donie, ada yang ingin aku bicarakan.”


“Iya Om. Bagaimana?”


“Donie, aku mau kamu tidak ikut campur tentang perbuatan aku di masa lalu pada perusahaan.”


“Jangan pernah mengungkapkan pada publik. Kau tahu yang kumaksud.”


“Tapi om.....”


“Tidak ada tapi-tapi....kecuali.... kamu bersedia mempertaruhkan orang yang kamu sayangi.”


“Om.... tolong jelaskan. Apakah om mabuk? Apa om sadar dengan ucapan om?”


“Donie, hentikan penyelidikanmu atau kau akan tahu sendiri akibatnya.”


“Om akan melakukan sesuatu pada mami untuk mengancamku?”


“Oh.... lihat saja nanti Donie, jangan berani melawanku.”


 Tut...tut....tut....


Suara telepon terputus.


Thomas melempar ponselnya ke atas kasur dan ia tertidur dalam keadaan mabuk.


***


Donie berjalan mondar-mandir memikirkan ancaman dari pamannya. Ia masih mengira-ngira apa yang kira-kira akan dilakukan oleh pamannya ini. Akhirnya ia memutuskan untuk  menelepon Wiliam. Ia menginginkan penjagaan penuh untuk dirinya dan maminya.


Dilihatnya jam di tangannya. Sudah malam, tapi ia harus egera menghubungi maminya karena hal ini sangat mendesak.


‘Donie calling’


“Hallo Mam.... maaf mengganggu.”


“Ada apa Don?”


“Mam, apakah om Thomas masih tinggal di rumah?”


“Tidak. Ada apa?”


“Mam, tolong jangan biarkan dia masuk ke rumah. Bilang pada semua penjaga dan pelayan kita.”


“Donie, apakah dia mulai mengancammu? Apa yang dia lakukan padamu?”


“Aku tidak apa-apa, mam. Justru aku takut dia akan melakukan sesuatu kepada mami.”


“Tidak, aku tidak apa-apa Don.”


“Mam, apakah mami tahu sesuatu tentang om Thomas?”


“Ia sempat mengancam aku supaya kamu tidak melaporkan perbuatannya. Don, tolong, tidak usah lakukan apapun. Yang penting dia tidak melakukan apapun kepadamu. Nanti kita pikirkan lagi apa yang harus kita lakukan. Tidak perlu kamu geser kedudukannya dari posisi Presdir. Mami tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu.”


“Aku tidak apa-apa, Mam. Besok ada seseorang orang yang aku kirim untuk mengawal mami ke mana pun. Tolong mami bekerja sama. Aku juga tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa mami.”


“Don.... sebenarnya apa yang telah dilakukannnya ?”


“Dia menggelapkan uang perusahaan, Mam.”


“APAAA???”


“Aku akan mengusutnya. Mami tidak usah khawatir. Aku baik-baik saja.”


Tut...tut...tut....


Donie menutup teleponnya.