My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 43



Malam berlalu berganti dengan pagi. Cahaya mentari pagi mengintip dari sela-sela tirai kamar hotel. Bela menggeliat, matanya masih terpejam. Ia merasakan ada sesuatu yang berat berada di perutnya.


Benda apa ini yang ada di perutku? Berat. Apa ya?


Bela membuka matanya. Tangan Donie melingkar di perutnya. Tiba-tiba.... ups.... ia harus cepat ke kamar mandi sebelum angin ini keluar melalui pantatnya. Tapi karena terburu-buru.... brug....kaki Bela tersandung di selimut dan ia pun terjatuh berguling di lantai. Walaupun sakit, dihalaunya rasa sakit itu dan ia berlari menuju kamar mandi.


Donie sebenarnya sudah terbangun sejak Bela menggeliat di bawah selimut tadi, tapi ia berusaha untuk tetap terpejam, karena ia sangat menikmati tidur dengan memeluk Bela. Mulutnya ditahan untuk tidak bersuara melihat Bela yang berguling di lantai karena terbelit selimut.


Bela keluar dari kamar mandi dengan terpincang-pincang. Agaknya kakinya terkilir lagi.


“Jatuh lagi, Bel?” Suara Donie yang masih serak karena baru saja bangun tidur, mengagetkan Bela.


“Astaga... mas bikin aku kaget saja. Kupikir belum bangun. Apa aku membangunkanmu?”


“Ya iyalah... suara jatuhmu keras, sayang. Sini aku urut.” Donie duduk di sofa.


“Iya, sakit.” Bela duduk di di samping Donie. Lalu kekasihnya itu mengurut pergelangan kakinya dengan telaten.


“Nanti kita beli obat untuk mengurangi sakitnya.”


“Hari ini agendanya apa, mas?”


“Eh, kamu yang sekretaris, kenapa malah tanya ke aku? Bagaimana ini?”


“Ya kan kemarin mendadak mas kamu ajak aku, aku tidak ada persiapan apa-apa. Jangan dipotong  gaji saya, ya pak.” Bela berkilah.


“Nanti jam 9 ada meeting dengan manajer pabrik. Hari senin besok, kami berkunjung ke pabrik. Berarti siang sampai malam tidak ada acara apa-apa.” Donie menjelaskan rincian acara hari ini. Kemudian ia bertanya lagi, “Bagaimana sayang, sudah lebih enak kakinya?”


“Iya, terima kasih, mas.”


“Sebenarnya aku ingin ajak kamu jalan-jalan, mumpung di Jogja, ke tempat wisata menarik. Kamu pasti tahulah tempat-tempat yang bagus. Tapi bagaimana bisa, kakimu malah sakit begini.” Wajah Donie dibuat pura-pura bersedih. Ia tahu, pasti Bela akan bersemangat jika ia mengajaknya jalan-jalan. Bahkan mungkin ia akan lupa dengan sakit kakinya.


“Tidak apa-apa mas. Kalau kamu mau pergi ke suatu tempat, aku tunjukkan jalannya. Aku masih hafal dengan jalan-jalan di sini. Sepertinya kakiku sudah membaik.”


“Baiklah.” Donie tersenyum. Tebakannya tepat, Bela tertarik dengan acara jalan-jalan.


Sejak tadi Donie tidak tahan melihat Bela memakai pakaian seksi. Ia menatap lurus ke arah Bela, membuat gadisnya itu merasa tertekan.


“Aku tahu deh mas, maksud dari pandanganmu. Horor tau!” Bela menangkupkan kedua tangan ke wajahnya.


“Morning kiss, beibie.” Ucap Donie. Ia bembuka tangkupan tangan Bela dan mencium bibir kekasihnya itu dengan lembut. Tidak hanya di bibir, telinga dan leher pun tak luput dari lumatan Donie.


“Ok. Cukup mas. Ayo kita turun, sarapan di bawah.”


“Bela, aku minta komunikasi yang baik di antara kita. Seperti tadi malam. Apapun itu, bicarakan dengan baik. Aku jelaskan, kamu mendengarkan. Atau kamu jelaskan, aku menengarkan. Setelah itu baru kita pikirkan jalan keluar bersama-sama. Tidak masalah kalau aku harus menerima reaksi pemukulan dari preman cewek seperti tadi malam... hehe....”


“Haha.... kamu nyebelin sih....” Jawab Bela mengingat pukulan bantal bertubi-tubi yang ia arahkan kepada Donie.


Setelah membersihkan diri di kamar masing-masing, Bela dan Donie berjalan berdampingan menuju restoran. Ketika melewati kamar Reino dan Stefani, “Mas, kita ajak mereka sekalian yuk.”


“Sstt... tidak usah. Mereka pasti masih asik ena ena. Jangan diganggu.”


“Hahaha.... iya, kamu pasti tahu kegiatan mereka karena kamu dulu juga seperti itu.”


“Sudah.... tidak usah dibahas lagi.” Donie bicara dengan nada kesal.


Menjelang pukul 9 pagi, Donie, Reino, Bela dan Stefani telah berada di lobby hotel. Tak lama kemudian datanglah manajer pabrik tas dan sepatu menemui mereka berempat. Perusahaan Sinar Wijaya mempunyai anak perusahaan di mana-mana, salah satunya adalah pabrik tas dan sepatu ini. Donie dan Reino dahulu sering sekali ke Yogyakarta di saat anak perusahaan ini baru mulai dibangun. Meeting berlangsung sekitar dua jam. Kemudian Bela segera kembali ke kamar membuat laporan agar pekerjaannya cepat selesai karena esok pasti akan ada pekerjaan lain yang sudah menunggu. Ia tidak mau menunda-nunda pekerjaan yang nantinya justru akan merepotkannya.


“Mas, jalan-jalan yuk, ke Merapi. Pasti kamu belum pernah.” Bela telah menyelesaikan laporannya dan mengajak Donie menikmati pemandangan di Jogja. Sementara Donie berkutat dengan laptopnya membuka beberapa email yang masuk.


“Sebentar, 15 menit lagi, sayang.”


“Ok. Aku siap-siap yah.”


 Tak lama kemudian Bela telah berganti pakaian dan keluar dari kamar mandi. Ia menggunakan kaus biru muda lengan pendek, cardigan putih, celana jeans panjang, sepatu sneakers putih dan tak lupa dipegangnya topi putih sejenis bucket hat.


Donie pun telah berganti pakaian menggunakan kemeja linen putih yang digulung sampai siku,  celana panjang fitted berwarna coklat, dan sepatu sneakers senada berwarna coklat.


“Sayang, kamu cantik.”


“Terimakasih mas. Kalau kamu bawa topi, lebih baik mas karena nanti pasti banyak debu, panas dan berangin. Kita ajak Reino dan Stefani, mas?”


Donie mengambil topi snapback hitam dari kopernya. Sejak tadi pagi, ia telah memindahan barang-barangnya di kamar Bela. “Nanti kutelepon dulu. Tapi biasanya Reino kalau bawa pasangan begitu, tidak akan mau diganggu. Ia punya acara private sendiri.”


Donie pun menghubungi Reino.


“Benar dugaanku. Mereka tidak ikut, Bela. Ayo kita cari sewaan mobil.”


Sekitar 45 menit mobil Avanza hitam yang disewa Donie sampai di Kaliurang, Kabupaten Sleman. Mereka berdua kali ini akan melakukan lava tour merapi dari Kaliurang menggunakan jeep.


Setelah berbicara dengan salah satu guide tour, mereka menaiki salah satu jeep yaitu jenis Landcruisher. Merapi Lava Tour ini merupakan paket wisata untuk mengajak wisatawan naik mobil Jeep menyusuri bekas aliran lahar pasca letusan Gunung Merapi, menyusuri lereng Merapi, mulai dari Kaliurang, Kinahrejo, Kalikuning, hingga bunker Kaliadem.Sepanjang perjalanan, wisatawan akan diajak mampir ke beberapa destinasi pasca letusan seperti Museum Sisa Hartaku, Batu Alien dan Bunker Kaliadem. Bela dan Donie pun berguncang-guncang di atas jeep menikmati pemandangan sembari mendengarkan tour guide bercerita.


Lahan di seputaran Gunung Merapi ini adalah tanah gersang yang sedikit sekali ditumbuhi pepohonan. Wisata kali ini dilakukan pada musim kemarau sehingga debu dan tanah pun beterbangan ketika jeep yang mereka naiki melintasi jalanan terjal, berbatu, terkadang ditemui pula jalan berpasir dan menyeberangi sungai. Beruntung sekali Donie dan Bela menggunakan topi dan masker sebelum jeep berangkat tadi, sehingga terasa nyaman. Apabila wisata dilakukan pada musim hujan, tentu saja sensasi yang dirasakan akan berbeda.


Bela dan Donie sangat menikmati wisata yang dilakukan sekitar dua jam itu. Terlihat tawa dan senyum mereka


berdua.


Kini mereka berdua telah kembali berada di dalam mobil Avanza hitam untuk kembali ke Yogyakarta.


“Kamu senang mas?” Tanya Bela kepada Donie yang tersenyum-senyum sendiri di sampingnya.


“Senang sekali. Baru kali ini aku ke Merapi.”


“Syukurlah kalau kamu terhibur. Lain kali kita coba lagi ke sini kalau musim hujan, mas. Pasti lebih menegangkan


melewati jalan-jalan tadi di musim hujan.”


“Ok. Janji ya.... musim hujan nanti kamu ke sini lagi denganku.”


“Janji.” Jawab Bela mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya. “Mas, aku mau mampir menengok sahabatku di


rumahnya. Boleh ya?”


“Ok. Kita ke sana.”


Bela berbicara dengan sopir avanza di depannya, “Pak, nanti tolong antar kami ke Baciro yah.”


“Inggih mbak. [Iya mbak]”


“Pak, mampir riyen nggih, teng mini market ngajeng niku [Pak, mampir dulu ya, ke mini market di depan itu]”


“Inggih mbak. [Iya mbak]”


“Bel, kamu pintar Bahasa Jawa?”


“Ya iyalah mas, tiga tahun di sini masa nggak bisa. Lagi pula ibuku juga keturunan jawa. Mas, sebentar, aku mau


beli oleh-oleh dulu untuk anak-anak sahabatku.”


“Nih uangnya. Donie mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompet. Ia memberikannya kepada Bela.


Dihitungnya uang yang diberikan Donie tadi dengan terheran-heran. “Banyak sekali, mas. Ini uang untuk borong


isi minimarket?”


“Sudah, pakai saja. Atau aku ikut turun?”


“Tidak usah mas. Biar aku saja. Bisa lama kalau bareng kamu.” Kemudian Bela turun dari mobil dan membeli makanan, minuman, dan buah-buahan.


“Sudah lama tinggal di sini pak?” Donie mengajak sopir taksi mengobrol.


“Iya, mas. Hampir 20 tahun, seusia anak saya. Dulu saya kuliah di sini, terus kecantol anak ibu kos. Hehe... jadi


saya menetap di sini.”


“Suasananya enak ya pak di sini. Ayem dan tentrem.”


“Iya mas. Masnya liburan di sini?”


“Kebetulan ada pekerjaan di sini, sekalian liburan.”


“Mbaknya tadi sepertinya hafal dengan jalan-jalan di Jogja.”


“Iya, calon istri saya itu dulu kuliah di sini, pak.”


“Oh, calon istri ya mas. Serasi dengan masnya, yang lelaki tampan dan yang perempuan cantik sekali. Semoga


segera jadi istri, ya mas.”


“Terima kasih pak, untuk doanya.”


Bela membawa tiga tas plastik hasil belanjaannya tadi ke dalam mobil. “Ayo pak, kita berangkat lagi.”