My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 69



Seperti biasa, pukul 4.30 Bela telah bangun dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Disusul dengan


Dian, dan tanpa diduga bang Ben pulang sepagi ini. Bela menyapa Abangnya yang datang dari ruang tamu. “Selamat pagi bang...”


“Oh, Bela.... kamu sudah pulang. Apa kabar ?”


“Baik bang. Pagi sekali sampai rumah bang. Tampaknya abang sekarang semakin sibuk.”


“Iya, kebetulan bosku yang mengantar. Hari ini aku bisa masuk agak siang. Bosku buka beberapa cabang usaha. Usaha yang di sini dipercayakan kepadaku. Jadi akhir-akhir ini aku cukup sibuk. Hei.... ada masalah apa? Kenapa wajahmu seperti itu? Ada yang mau kamu ceritakan? Sini, duduk ..... abang akan mendengarkan.”


Bela pun duduk di sisi bang Ben. Ia bercerita tentang semua yang menjadi keresahan hatinya. Termasuk apa yang telah dilakukan ayah terhadap keluarga Donie.


Setelah mendengarkan penuturan adiknya, Benny nampak terkejut. Ia juga tidak bisa menerima perbuatan buruk yang telah dilakukan ayahnya. Namun dicobanya untuk menenangkan adiknya. Ia pun berpikir dengan seobyektif mungkin.


“Ayah kita kejam. Ia tidak bisa berpikir. Entah di mana otaknya itu.”


“Bagaimana sebaiknya aku ini bang?”


“Kau sudah membicarakan ini dengan Donie?”


“Belum, bang. Semalam aku pergi begitu saja dari rumah mas Donie. Dia tidak ada di rumah karena ada


urusan di luar kota.”


“Lebih baik kamu membicarakan langsung dengan Donie. Dia tidak tahu apa yang ada di dalam pikiranmu. Semua yang kamu takutkan sebeetulnya hanya pikiranmu. Belum tentu Donie berpikiran seperti itu. Bicaralah padanya. Kalau ia tidak bisa menerimamu, baru kau tinggalkan dia. Yang kuat Bela. Aku tahu kamu bukan gadis


yang lemah.”


“Apa abang pikir mas Donie akan menggagalkan pernikahan ini?”


“Firasatku, Donie tidak akan terpengaruh dengan ini semua. Ia lelaki yang baik. Jauh lebih baik daripada ayah kandungnya. Bicaralah padanya.”


“Baik bang. Aku merasa lebih baik. Untung saja abang pulang. Dari semalam aku ingin bicara kepada abang.”


“Kenapa tidak kau telepon saja aku?”


“Tidak enak bicara di telepon, bang.”


“Tenang. Bicaralah baik-baik dengan Donie. Pasti kalian dapat mengatasinya.”


Benny berpikir sejenak, menghela nafasnya, “Apa kau sempat terpikir untuk menengok ayah?”


“A...apa? Menengok dia? Ah, tidak terpikir olehku, bang.”


“Hehe.... ya sudah. Lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku mau mandi dulu.”


“Iya bang.”


***


“Hai sayang....bisa kita bicara?” Donie mendongakkan wajahnya dari tumpukan pekerjaan di mejanya ketika melihat wajah cantik itu masuk ke dalam ruang erjanya.


Bela mengangguk dan mengikuti Donie meninggalkan ruangannya. Mereka menaiki lift khusus untuk pejabat kantor, yang mengantar mereka sampai ke rooftop. Baru kali ini Bela manginjakkan kaki sampai ke tempat ini. Tentu saja karena akses menggunakan lift yang sampai ke sana hanya dipunyai oleh orang-orang tertentu. Ia tidak


mungkin sampai di tempat itu kalau bukan karena Donie yang mengajaknya.


Di lantai paling atas ini ada taman kecil dengan bunga-bunga dalam pot yang ditata dengan apik. Di sepanjang tepi gedung ada sedikit kanopi yang digunakan juga untuk tanaman merambat. Kemudian ada beberapa kursi dan meja diletakkan di bawah kanopi tersebut. Di cuaca yang cerah pagi ini, berada di lantai paling atas gedung kantor tidak terasa panas.


Donie membimbing Bela untuk mengikutinya duduk di sebuah kursi besi. Mereka duduk bersebelahan, di bagian belakang dan sebelah kiri terlihat pemandangan gedung-gedung bertingkat yang lain, di depannya terhampar taman kecil nan asri, sedangkan di sebelah kanan adalah dinding yang membatasi area luar dan area dalam kantor.


“Sayang, aku kangen.” Donie merengkuh bahu Bela dengan hangat.


“Mas....” Bela memilin-milin rambut ikalnya.


“Ya sayang....”


“Aku merasa  tidak pantas untuk bersama kamu.” Katanya dengan wajah tertunduk.


“Hemmmm.... kenapa?” Donie menangkup dagu Bela dengan salah satu tangannya. Diangkatnya wajah mungil itu agar tatapan matanya bisa dilihat.


“Iya, setelah aku tahu semuanya. Ada darah pembunuh dalam diriku. Bahkan korbannya adalah keluargamu. Bagaimana mungkin aku masih bisa mendampingi kamu, mas.” Bela mengalihkan pandangannya, tidak sanggup untuk menatap mata bening di hadapannya.


“Sayang, lihat aku, dengar ya. Aku tidak pernah memikirkan semua itu. Kamu adalah kamu. Aku menerima


“Tapi.... apa kata orang-orang mas?” Bela kembali berkata.


“Mereka tahu apa, Bela. Ini hidupmu. Sekarang aku tanya, apakah kamu bahagia bersama aku?”


Donie menarik tangannya dan memasukkan ke dala kantung celananya. Ia tidak suka mendengar yang dikatakan Bela.


“Ehmmmm...” Bela hanya mendesah.


“Sekali lagi pikirkanlah tentang dirimu sendiri, tentang kebahagiaanmu.” Donie tidak menatap Bela. Ia sebenarnya takut, mendengar keputusan Bela. Ia takut jika Bela bersikeras meninggalkannya.


“Tapi.... aku tidak pantas.”


“Siapa yang bilang tidak pantas?”


Bela menggelengkan kepalanya.


“Sayang, aku juga bukan orang yang sempurna. Kamu tahu, siapa ayah kandungku? Aku tidak lebih baik daripada kamu Bela. Kita sama-sama bukan orang yang sempurna.”


“Kamu menerima aku, mas?” Tanya Bela. Kali ini ia berani menatap wajah kekasihnya dengan sungguh-sungguh. Ia merasakan kesungguhan di dalam kata-kata yang Donie ucapkan.


“Selalu, sayangku.... aku akan selalu menerimamu. Kemarin, hari ini, esok, dan sampai kapan pun.”


“Kamu tidak menyesal mas?”


“Untuk apa aku menyesal. Adanya kamu saja, sudah membuat aku bersyukur. Tidak mungkin aku menyesal, Bela. Lupakan pikiran bodohmu itu.”


“Apa sih, aku dibilang bodoh.” Bela menjadi cemberut mendengar perkataan Doni. Baru saja ia merasa bahagia, tetapi satu kata menyebalkan itu keluar dari mulut Donie.


“Iya itu, kamu bodoh, mau meninggalkan aku. Jangan ulangi lagi.”


“Iya mas.”


“Ada yang kamu lupa?”


“Iya, maaf.... karena aku berpikir untuk meninggalkan kamu.”


Tuk..... Donie mengetuk dahi Bela dengan ujung telunjuknya.... “Jangan dipakai untuk berpikir bodoh. Mengerti?”


Uft.....menjengkelkan sekali. Tidak romantis sama sekali. Apa itu? Aku dibilang bodoh....huft.


"Kalau kamu sempat berpikir untuk meninggalkanku. Apa kamu sanggup jauh dariku? Kamu nggak kangen sama aku?"


"Aku rasa, aku bakalan cepat mati mas."


Donie pun terkekeh mendengar ungkapan Bela.


“Kemarin aku ke Bandung, Bela. Pulangnya malam. Aku jengkel sekali, kamu tidak ada di rumah saat aku pulang. Ingin rasanya kujitak kepalamu yang berisi pikiran bodoh itu.”


“Hiiii..... maaf lho....Kenapa masih dibahas sih? Keperluan apa ke Bandung mas?”


“Bertemu ibu kandungku.”


“Kamu sudah ketemu beliau?” Bela antusias ingin mengetahuinya.


“Iya, sudah bertemu dengan makamnya.”


“Oh, maaf. Aku kira ibumu masih ada.” Bela merasa bersalah dengan apa yang dikatakannya barusan.


“Pagi setelah mengantarkanmu ke kantor, aku berangkat ke sana. Aku penasaran dengan wajahnya, seperti apa beliau. Hidupnya pasti sangat berat waktu itu. Ditinggalkan seorang diri dengan seorang anak kecil. Setelah aku lahir, beliau menderita kanker. Sungguh berat perjalanan hidupnya.”


“Pasti kamu mewarisi sifat beliau, baik hati dan berjiwa pejuang. Aku membayangkan, mungkin ibu juga mempunyai lesung pipi sepertimu. Pasti beliau cantik.”


“Aku tampan ya?” Donie memamerkan lesung pipi itu di hadapan Bela.


“Ye..... kenapa kamu yang ge er. Aku hanya bilang ibumu cantik, bukan kamu yang tampan.”


“Jujurlah Bela.... aku juga tampan kan?” Donie menggelitik pinggang Bela.


“Iya....iya....cukup geli aku....”