
Virnie mengantar Bela sampai di depan rumahnya.
“Vir.... ini baru jam 9. Elo menginap aja di rumah gue. Kita ngobrol lagi.” Ucap Bela. Ia memilin-milin ujung bajunya, berharap Virnie setuju. Sudah lama mereka berdua tidak tidur bersama.
“Eh, tawaran yang menggoda hehe.... Tapi kamar elo sekarang sudah dewasa kan Bel?” Virnie mematikan mobilnya.
“Maksud elo?” Bela memincingkan matanya ke arah sahabatnya.
Virnie terkekeh seolah mengejek Bela, “Masih ada Hun Bin di setiap tempat lowong di kamar lo?”
“Yah masih dong. Gue kan fangirl.” Bela menunjuk jari telunjuk ke pipinya sendiri.
“Hahaha...... masih meluk bantal Hyun Bin dong?”
“Masih.” Angguk Bela.
Mereka keluar dari mobil sambil tertawa.
“Pinjam baju ya say....” Kata Virnie lagi, mengingat ia tidak membawa pakaian ganti.
“Tenang aja, baju gue banyak sekarang.”
“Hah.... enaknya punya pacar tajir melintir.” Virnie mencolek dagu Bela sambil tertawa lepas.
“Ayo masuk.” Ajak bela.
Virnie mengunci mobilnya.
Ada sebuah motor Kawasaki Ninja parkir di depan rumah Bela.
Motor siapa ini? Apakah ada tamu di rumah? Pintu rumah juga terbuka lebar.
“Motor siapa Bel? Ada tamu ya?” Tanya Virnie melihat moge di depan rumah Bela.
“Entahlah. Rasanya gue tidak kenal motornya.”
Mereka berdua masuk ke rumah Bela. Dilihatnya Bang Ben dan Dian sedang duduk mengobrol berhadapan dengan seorang tamu laki-laki.
“Selamat malam Bang Ben.” Sapa Virnie.
“Met malam Vir....” Jawab Bang Ben.
“Lho.... tamunya ternyata Tommy.” Bela keheranan melihatnya. Apalagi ketika melihat tatapan mereka bertiga yang tidak dapat diterka maksudnya.
“Lo bisa ada di sini sih Tom?” Tanya Virnie penasaran.
“Ehem.....” Tommy mendehem. Wajahnya terlihat serius.
“Ini ada apa sih?” Tanya Bela.
“Duduk di sini dulu, Virnie dan Bela.” Bang Ben mempersilahkan keduanya untuk duduk. Virnie duduk di samping Bang Ben dan Virnie duduk di samping kursi kosong yang ada di sebelah Tommy.
“Tom.... kamu saja yang katakan pada Bela dan Virnie.” Pandangan mata Benny diarahkan lurus kepada Tommy.
“Begini Bel, Virnie....gue pacaran sama Dian. Sudah berjalan sebulan. Jadi, gue minta izin ke Bang Ben, juga minta izin ke kamu Bel.”
“Haaa????” Bela tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari Tommy. “Benar Dian?”
“Benar, kak. Aku pernah bilang ke kakak waktu kita belanja di pasar, aku sudah punya pacar dan akan kukenalkan ke kakak.” Dian menjelaskan kepada Bela. Bela mengingat-ingat yang kejadian waktu itu, kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kamu serius kan Tom? Bukan main-main?” Tanya Bela sedikit khawatir. Seingatnya Tommy bukanlah playboy. Paling tidak selama SMA, sosoknya merupakan lelaki yang setia dan tidak macam-macam. Ia lelaki baik-baik. Namun ia sedikit khawatir karena Dian masih kuliah dan umurnya jauh lebih muda dari Tommy, mungkin sekitar 5 tahun selisihnya. Dan baginya, Dian masihlah seorang adik kecil. Masih jelas dalam ingatannya, adik kecilnya ini
yang minta digendong. Dan sekarang, ada seorang lelaki yang jatuh cinta padanya.
“Serius. Kalau tidak serius. Aku tidak akan minta izinmu dan Bang Ben. Apalagi ini ada saksi lain, si konyol Virnie.” Tommy berkata dengan menengok ke arah Virnie.
“Cie yang serius nih...” Goda Virnie.
“Aku sih oke aja Tom.... yang penting Dian bahagia. Awas kalau kamu sampai menyakitinya.” Bela mengancam Tommy.
“Aku selalu ingin membahagiakan Dian. Benar kan Dian? Kamu bahagia kan bersamaku?” Tommy mengarahkan pandangan matanya kepada Dian. Sementara Dian hanya tersenyum malu.
“Auwww..... so sweet. Apa hanya gue yang jomblo di sini. Nggak kuat gue Bel....Liat yang romantis begini jadi baper. Gue ke kamar elo aja, Bel.” Virnie bangkit dan berjalan ke arah kamar Bela.
“Jaga adikku ya Tom....” Bela berbicara kepada Tommy. “Aku tinggal dulu. Bang Ben.... ayo kita tinggalkan mereka berdua.” Ajak Bela kepada abangnya.
Bang Ben mendorong kursi rodanya menjauhi ruang tamu.
Bela hendak berjalan ke arah kamarnya, namun ia mendengar suara klakson mobil....’tin...tin...tin...’ Siapa lagi ini? Batin Bela. Bela berjalan keluar rumah, dilihatnya mobil Donie terparkir di halaman.
Bela mengurungkan niatnya berjalan ke kamarnya, demi melihat mobil sedan audi milik Donie terparkir di halaman rumahnya, di samping mobil Virnie. Selain kedua mobil itu, ada sebuah mobil lain yang terparkir tepat di belakang mobil Donie. Bela menghampiri kekasihnya yang keluar dari mobil dan berdiri menekuk kaki kanannya menyender pada mobil sembali melipat kedua tangan di depan dadanya. Ia tersenyum memamerkan lesung pipinya kepada Bela.
Oh God, you are very handsome. Batin Bela bergemuruh. Ingin rasanya ia memeluk lelaki yang kini berada tepat di
hadapannya.
“Hai mas....ada apa, malam-malam kemari?”
“Kangen kamu, sayang. Masih ada tamu?”
“Iya, mas. Virnie di dalam, mau menginap disini. Juga ada Tommy.”
“Wah, ternyata kamu masih dibooking Virnie ya.” Donie agak kecewa mendengarnya. “Siapa? Tommy juga ada di sini?” Tiba-tiba rahang Donie mengeras. Pikiran negatif melintas di kepalanya.
“Ia, Tommy berkencan dengan adikku, mas.” Bela sedikit berbisik kepada Donie.
Mendengar itu, Donie bernafas lega. Ia meminta Bela mendekat dengan isyarat, menggunakan jari telunjuknya.
Bela mendekat, “Mas, itu mobil siapa? Mas kenal dengan mereka?”
“Itu tim keamananku yang akan mengikuti aku ke mana pun.”
Bela mengernyitkan alisnya keheranan, “Apakah ada masalah mas?”
“Tidak apa-apa. Jangan khawatir.” Katanya.
Kini Bela berdiri sangat dekat di depan kekasihnya. Donie menarik pinggang Bela dan memeluknya. “Kiss me, sweetheart.” Bisik Donie di samping telinga Bela. Ia membelai rambut keritingnya dan menyisipkan rambut di samping telinganya.
“Mas, orang-orangmu melihat. Aku malu. Kamu tidak malu dilihat orang?”
“Anggap saja tidak ada. Mereka akan terbiasa, sayang.”
Bela berjinjit dan hendak mencium pipi Donie, tapi lebih dahulu Donie menggeser kepalanya sehingga ciuman itu mengenai bibirnya. Mereka berciuman sesaat.
“Besok, aku yang booking kamu seharian, sayang. Aku pulang dulu.” Pamit Donie. Ia masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan Bela yang masih berdebar-debar mengingat ciumannya tadi.
***
Ting...
(Virnie) Selamat malam tuan.
(Andri) Belum tidur?
(Virnie) Belum.
(Andri) Apakah besok aku bisa bertemu lagi denganmu, nona cantik?
(Virnie) Tergantung besok, tuan.
(Andri) Apakah aku perlu merayumu, nona?
(Virnie) Hahaha.... apakah kita sedang dubbing telenovela, tuan?
(Andri) Haha.... Virnie, aku mau mengajakmu makan besok.
(Virnie) Aku tidak keberatan, kak. Tapi lihat agenda besok ya.
(Andri) Kamu bekerja di mana Vir?
(Virnie) Aku bekerja di perusahaan Adijaya, dekat dengan kantor Bela.
(Andri) Ow itu dekat sekali. Kenapa kita baru bertemu ya?
(Virnie) Mungkin waktunya pas, kak. Pas aku lagi makan bakso, jadi ada yang bayarin.
(Andri) Haha.... iya, betul. Sedang apa Vir?
(Virnie) Masih ngobrol dengan Bela.
(Andri) Kamu satu kamar dengan Bela?
(Virnie) Iya kak, aku menginap di rumahnya.
(Andri) Ok. Selamat melanjutkan ngobrolnya. Mimpi indah ya. Bye....
(Virnie) Bye kak.
“Chat dengan siapa Vir? Katanya mau curhat sama gue. Malah asyik wa sambil senyum-senyum begitu.” Bela mengamati Virnie sambil berganti pakaian. Sepertinya Virnie lebih memperhatikan ponselnya daripada keberadaannya.
“Iya kriwil. Tadinya gue mau curhat sama elo, tentang si mantan rombeng itu. Tapi gue jadi berbunga-bunga gini.” Virnie berguling-guling di tempat tidur Bela.
“Siapa sih yang bikin elo berbunga-bunga gitu?”
“Tebak....siapa....?”
“Ehm.... siapa ya? I have no idea.” Bela mengerakkan bahunya memberi isyarat tidak tahu.
“Ah, gampang sekali menyerah.”
“Siapa?” Bela menghempaskan badannya di tempat tidurnya, di samping Virnie.
“Kasih tahu nggak ya?”
Bela mengelitik kaki Virnie, membuat Virnie tertawa kegelian. “Salah satu ubur-ubur itu, Bela, si duren itu.”
“Pak Andrianto maksud lo?”
“Yup, tell me about him.” Virnie menatap lurus ke arah Bela, berharap Bela memberikan sedikit keterangan tentang lelaki ini.
“Hmm.... dia duda, tanpa anak. Sudah dua tahun dia bercerai dengan istrinya. Banyak karyawan yang kesengsem juga sama dia. Agak playboy dia Vir. Hanya itu info yang gue tahu.”
“Baiklah, lebih baik gue lebih dekat sama dia, biar lebih kenal.”
“Hahaha.... dasar....! Kenapa kita berdua terkena semprot racun ubur-ubur ya Vir?”
“Iya.... tapi siapa takut kena racunnya.”
Ddrrtt.....ddrrtt....
Ponsel Bela berbunyi, Video call dari Donie
Bela menerima panggilan dari Donie.
“Sudah sampai rumah, mas?” tanya Bela dengan memandang ponselnya. Dilihatnya Donie yang duduk di dalam kamarnya.
“Iya, baru saja masuk.” Donie mengamati Bela di ponselnya. Ia juga melihat Virnie yang duduk bersandar di tempat tidur, di samping Bela. Tapi fokusnya berubah ke arah bantal yang ada di pangkuan Bela. “Gambar siapa itu di bantal kamu?”
“Apa? Oh ini. Foto Hyun Bin, mas.”
“Siapa itu?”
“Itu aktor Korea.”
“Kamu tidur sama aktor Korea?”
“Yah....maklum deh mas.”
“Pak Donie, sudah tahu belum, pacar Bapak itu fangirl. Kamarnya penuh gambar aktor Korea.” Virnie menyela obrolan Bela dan Donie sambil terkekeh menggoda Bela.
“Apa benar Bel?”
“Eh, iya mas. Itu....itu....itu juga.” Bela menghadapkan kamera ponselnya ke arah gambar Hyun Bin yang terpampang di pintu kamar, pintu lemari, bahkan di dinding kamar.
“Astaga Bela.... segitunya kamu ngefans sama aktor.... siapa itu.... Ubin?” Tanya Donie sembari mengelengkan kepalanya seolah-olah tak percaya.
“Bukan Ubin, mas. Hyun Bin.”
“Ya sudahlah. Selamat tidur. Jangan mimpi dia. Mimpi aku saja.” Donie menutup teleponnya dengan sedikit kesal. Ia tak pernah membayangkan bahwa Bela sebegitu menyukai aktor Korea yang ia tidak tahu. Ia lalu mengambil ponselnya, diketiknya nama ‘Hyun Bin’ pada mesin pencari google. Sejenak ia memuaskan rasa penasarannya
dengan mengulik aktor kesukaan Bela.
“Virnie.... elo sih. Duh, mas Donie marah nggak ya?” Bela memajukan bibirnya.
“Makanya Bel, cerita deh kalau elo itu fangirl.”
“Duh, gimana ini Vir?”
“Lah.... tidak usah khawatir. Tidak mungkin pacar elo itu marah hanya karena hal sepele seperti itu. Dia juga belum tahu dong, hal konyol yang pernah elo lakukan selama jadi fangirl?”
“Belum Vir....”
“Hahaha...... sudahlah. Kita tidur say... semoga aja bos elo nggak ngambek.” Virnie merosot, merebahkan tubuhnya hendak tidur. “Gue juga mau meluk Hyun Bin ah, biar nyenyak mimpinya.” Virnie memeluk guling yang bergambar Hyun Bin itu dan berguling miring menghadap Bela.