My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 46



Cuaca di Yogyakarta sangat cerah, langit terlihat sangat biru dihiasi dengan sedikit awan putih. Saat musim


kemarau begini biasanya Jogja sangat panas di siang hari dan sangat dingin di pagi hari. Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Donie, Reino, dan Bela telah menuntaskan pekerjaannya memeriksa lokasi perluasan pabrik di daerah selatan Yogyakarta, yaitu di Kabupaten Bantul.


Di saat melewati Jl. Parang Tritis di Kecamatan Kretek, Bela teringat bahwa lokasi itu dekat dengan pantai Parangtritis dan Parangkusumo, “Mas, mau mampir ke pantai dulu sebelum pulang?” Ucapnya sambil menengok ke arah Donie yang duduk di sebelahnya.


Donie mengalihkan pandangan dari ponselnya menatap gadisnya, “Kamu suka ke pantai?”


“Yah, mungkin mas dan pak Reino ingin ke pantai.... mumpung dekat sini.” Jawab Bela menaikkan bahunya.


Reino tertarik dengan pembicaraan tentang pantai. Kebetulan ia sangat senang jika diajak berwisata ke pantai. “Pantainya beda dengan yang di Jakarta ya Bela?”


“Beda pak. Mulai dari Pantai Parang Tritis, Parang Kusumo, Depok, Samas, Goa Cemara, berbeda semua, ada keunikannya masing-masing. Di Jakarta, kita tidak bisa mendapatkan pemandangan seperti itu.” Cerita Bela.


Mendengar penuturan Bela, Reino semakin tertarik, “Menarik sepertinya. Kalau sore-sore begini bagus juga Bel?”


“Suasana sore begini justru paling pas, pak. Kita bisa melihat sunset kalau cuaca cerah seperti ini.” Bela kembali


menerangkan. Ia berusaha memberi cerita yang menarik agar Donie bersemangat.


“Ayo Don, kita mampir dulu, walaupun pakaian kita formal begini. Kenapa elo, bro? Kelihatan tidak bergairah.” Ajak


Reino.


“Itu si Bela pasti mau nostalgia ke tempat-tempat yang dulu pernah dikunjungi sama pacarnya.” Donie menjawab dengan ketus dan melihat ke arah ponselnya lagi.


“Ya elah.... cemburu ceritanya. Kayak abege aja sih lo? Bukannya sekarang Bela pacaran sama elo? Ngapain inget


yang dulu-dulu. Iya kan Bel?” Reino protes kepada sahabatnya itu.


“Iya pak.... dari semalam uring-uringan terus.” Kicau Bela merasa senang mendapat dukungan dari Reino.


Mendengar percakapan keduanya yang tidak baik-baik saja, Reino menggoda, “Oh ya? Nggak dikasih jatah semalem ya?”


“Jatah apaan sih pak?” dengan polosnya Bela bertanya.


“Iya...iya... oke.... kita ke pantai dulu. Mampir beli baju ganti dan sandal jepit.” Akhirnya Donie menyetujui dua


orang terdekatnya itu. Ia malas mendengar gurauan Reino. Pasti Bela yang polos itu tidak mengerti maksud perkataan Reino.


“Oke pak bos.”  Bela berkata dengan ceria.


Hari ini mereka bertiga yang masih berada di Jogja, sedangkan Stefani sejak kemarin sore seudah kembali ke Jakarta karena ia tidak dapat meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Tidak lupa Stefani berpesan kepada Bela agar ia mengawasi Reino. Stefani sangat mengerti dengan sifat Reino yang terlalu ramah dengan perempuan sehingga banyak perempuan yang salah menafsirkan keramahannya. Oleh karena itu, sore ini Bela mengajak mereka ke pantai dahulu sebelum kembali ke hotel sehingga lebih mudah mengawasi kekasih Stefani itu.


Sebelum sampai di pantai tujuan, mereka mampir ke toko pakaian pria, untuk membeli pakaian untuk Donie dan


Reino. Beruntung sekali, di sebelahnya ada toko pakaian wanita sehingga Bela bisa sekalian membeli  perlengkapannya.


Sebelum mereka memasuki toko, Bela mengingatkan, “Bapak-bapak, tolong diingat ya, jangan beli pakaian berwarna hijau.” Pantai ini tidak bisa lepas dari legenda Pantai Parangtritis yang sudah terkenal di Indonesia, dimana laut selatan, di sekitar Pantai Parangtritis terdapat sebuah Kerajaan yang dipimpin oleh penguasa laut selatan yaitu Nyi Roro Kidul. Sehingga apabila ingin ke Pantai terfavorit di Yogyakarta ini, disarankan untuk


tidak menggunakan baju berwarna hijau karena dapat ditarik masuk ke laut oleh penguasa laut selatan.


Donie mengernyitkan dahinya merasa heran, “Kenapa?”


“Nanti Nyai Roro Kidul jatuh cinta sama kamu, mas. Terus kamu ditawan.... aku ditinggal deh.” Jelas Bela dengan bergurau.


“Ah, ada-ada saja.” Kata Donie lagi dengan santai.


Melihat ketidakseriusan Donie, Bela kembali mengingatkan. “Eh, serius ini lho, mas. Walaupun mitos, jangan dicoba. Aku tidak mau pulang ke Jakarta tanpa kamu.”


“Ehemm..... oke, beibie. Eits.... jangan cari bikini, Bel.” Donie menarik tangan Bela sebelum gadis itu memasuki toko pakaian.


“Mana mungkin aku membeli bikini, mas. Ini di Jogja, bukan di Bali. Lagipula kamu pikir di pantai selatan kita bisa berenang? No..... bahaya. Kita hanya bisa menikmati pemandangan.” Jawab Bela lagi.


Mereka menyelesaikan urusan berbelanja dan melanjutkan perjalanan menuju pantai. Beruntung kali ini mereka


diantar oleh sopir yang mobil kantor yang disediakan oleh manajer pabrik, sehingga ia sangat mengetahui jalan di Jogja ini.


Sebenarnya ada puluhan pantai yang menarik untuk dikunjungi di Jogja, salah satu destinasi wisata paling favorit


di antara wisatawan sejak lama adalah Pantai Parangtritis. Dan kini mereka bertiga telah sampai di pantai tujuan mereka.


Pantai Parangtritis terkenal memiliki legenda yang melekat dengan Ratu Kidul dan  keindahannya tidak bisa bisa diragukan lagi karena pantai ini merupakan pantai paling luas di Yogyakarta dimana memiliki luas berkilo-kilo meter persegi, berbeda dengan pantai-pantai di kawasan Yogyakarta lainya seperti pantai di Gunung Kidul yang  ukurannya relatif kecil (Pantai Sundak, Krakal, Baron, dan lain-lain......nanti yah, di cerita yang lain).


Donie turun lebih dahulu dibandingkan Reino dan Bela. Melihat pemandangan yang terhampar di hadapannya, ia menjadi sangat tertarik, bahkan jika dilihat jauh lebih tertarik daripada Reino. Kemudian Reino juga Bela menyusul turun dari mobil.


Ada beberapa aktivitas menarik yang ditawarkan bagi para wisatawan di Pantai Parangtritis ini. Para wisatawan dapat mengelilingi pantai dengan menggunakan motor ATV,  kuda maupun delman, melakukan olahraga seperti sepak bola di pasir, bermain di pinggir ombak, bermain layangan, atau sekedar duduk-duduk sambil menikmati suasana Pantai Parangtritis. Kawasan Pantai Parangtritis ini memang benar-benar menyuguhkan pemandangan alami yang cantik, yaitu pantainya yang luas, dengan pasir berwarna hitam membuat kita tidak bosan untuk memandanginya. Pantai Parangtritis terbilang sebagai pantai yang unik, karena di pantai ini akan bisa ditemukan gundukan-gundukan pasir layaknya sedang di padang pasir Padang pasir yang ada di kawasan Pantai Parangtritis ini dinamakan Gumuk Pasir.


Bela berjalan menikmati suara ombak dan angin laut. Ia merentangkan kedua tangannya sembari tersenyum cantik, sangat cantik.... Diam-diam Donie mengabadikan momen itu dengan kamera ponselnya. Reino tidak lagi terlihat di dekat mereka berdua. Ia telah berdiri di kendaraan ATV hendak berkeliling menikmati pantai.


“Bela, apa yang akan kamu lakukan? Berjalan berkeliling seperti ini atau naik kuda, atau delman?” Tanya Donie dengan nada yang lebih lunak. Agaknya ia telah melupakan kejengkelannya.


Bela mengalihkan pandangan dari pantai dan menengok ke arah Donie yang kini telah berdiri di sampingnya. Donie menggunakan celana pendek, kaus putih dan outer batik khas Jogja. Tangan kirinya dimasukkan ke dalam sakunya sedangkan tangan kanannya bergerak bebas menunjuk ke sana ke mari.


Lelaki yang mempesona, yang menawan hatiku. Dengan melihatmu saja, sudah membuatku bahagia. Jantungku pun berdebar lebih keras jika kau berada di dekatku. Dan sentuhanmu mengalirkan aliran listrik ke dalam darahku.


“Hei, aku bertanya, sayang. Apa kamu melamun lagi?” Tanya Donie yang merasa jengah dengan tatapan Bela. Ia tak bisa menangkap apa yang dipikirkan Bela saat memandangnya tadi.


“Oh, aku ingin naik delman. Kita berfoto di delman saat sunset, ya mas. Kamu mau kan?”


“Oke.”


Mereka berdua berkeliling pantai menggunakan delman. Saat sunset, mereka berusaha mengabadikan momen indah itu dengan meminta tolong orang-orang di sekitarnya utnuk mengambil gambar mereka berdua.


Setelah puas berkeliling, mereka berkumpul kembali bertiga dan menikmati suguhan khas pantai, yaitu ikan, cumi, dan udang. Ternyata sangat nikmat jika disantap di pinggir pantai seperti ini.


“Pantai ini buka sampai malam, ya Bel?” Tanya Reino yang keheranan melihat sekelompok anak muda baru saja datang, padahal matahari sudah tanggelam.


“Iya, 24 jam.” Ucap Bela.


“Berapa kali kamu ke sini selama kuliah?” Tanya Reino lagi.


“Dua kali. Pertama saat baru seminggu menjadi mahasiswa, kami makrab di sini. Yang kedua saat ulang tahun Erna, temanku, kami berenam cewek-cewek sekelas, ke sini lagi, menginap juga di losmen dekat sini.” Bela menjawab pertanyaan Reino.


Donie mencermati jawaban Bela, ternyata ia tidak pernah datang ke sini dengan pacarnya. Perasaannya menjadi jauh lebih lega. Ia tersenyum dan menyatap makanan yang tersedia di depannya dengan lahap. Rasanya makanan ini menjadi semakin nikmat jika suasana hati lega.


“Teman kuliahmu cewek semua?” Reino tampak sangat antusias bertanya lebih jauh tentang Bela.


“Iya. Kami perempuan semua karena Akademi Sekretaris diminati cewek.”


“Garing dong, tidak ada cowoknya.” Reino tertawa. Ia membayangkan apabila dirinya bersekolah di tempat yang siswanya lelaki semua, sangat membosankan.


“Ah, biasa saja. Toh hanya di dalam kampus kami. Di sekitar kami banyak kampus lain tentunya banyak  mahasiswa yang berseliweran di sekitar kampus kami.” Bela tersenyum membayangkan begitu ramainya suasana


kelas yang berisi perempuan semua.


“Yah, kamu melamun lagi, Bel.” Donie curiga lagi.


“Hehe.... kebiasaan, mas.”


 


Hai readers, author lagi kangen Jogja nih, jadi membayangkan tentang Jogja sedikit mengurangi kerinduan. Karena saat ini tidak memungkinkan untuk jalan-jalan ke Jogja, jadi author membagikan suasana Jogja lewat cerita.  Mungkin ada yang kangen Jogja juga seperti author.


Stay at home, guys ..... stay safe and stay healthy.