
Hai guys, kira-kira seperti inilah visual Reino Darmawan, mirip dengan Park Hyung Sik
***di hotel***
Reino Darmawan, lelaki tampan berambut kecoklatan, bermata sipit, dengan raut muka yang ramah dan menyenangkan. Lelaki berumur 30 tahun, seumuran dengan Andrianto dan juga Donie sahabatnya. Ia memakai kemeja biru muda bergaris-garis vertikal dengan celana kain biru tua. Ia melipat tangan di depan dadanya. Ada sesuatu yang dipikirkannya saat ini.
Reino melihat melihat jam tangannya, pukul 14 siang.
Mungkin dia sedang sibuk di meja kerjanya. Apakah aku mengganggu jika menghubunginya? Ah, biar sajalah.... kurasa ia akan senang jika kuganggu. Sebaiknya kuhubungi dia 10 menit lagi.
Sepuluh menit kemudian, Reino menghubungi sebuah nomor kontak dari ponselnya.
“Hallo.... selamat siang pacar.” Jawab seseorang dari seberang.
“Selamat siang juga pacar cantikku.” Reino menjawab. Ia duduk di atas kasur, melonggarkan jam tanggannya dan membuka kancing bajunya. Ia bermaksud berganti pakaian.
“Baru saja terpikir untuk menghubungimu, pacar. Ternyata kita berpikiran sama.” Katanya lagi dengan gaya manjanya. “Kapan kamu pulang, pacar?”
“Besok. Kamu mau oleh-oleh?”
“Cukup kamu oleh-olehnya sayang. Aku kangen sekali.” Suara manja Stefani di seberang sana membuat pikiran Reino terbang mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, ketika keduanya menghabiskan waktu bersama sepanjang hari. Ini belum lebih dari 48 jam, tetapi ia sudah sangat merindukannya. Mereka berdua terus berbicara tentang segala sesuatu yang tidak penting. Sebetulnya yang dibutuhkan mereka berdua hanyalah saling mendengarkan suara masing-masing. Tidak penting bagaimana isi pembicaraannya.
“Pacar, aku teringat Bela, tadi dia lemas dan hampir pingsan saat pertemuan dengan klien kami. Tapi aku rasa bukan karena sakit, aku merasa masalah psikologis.”
“Oh, bagaimana dengan dia sekarang?”
“Sekarang sudah lebih baik. Aku tadi menghubungi Donie. Dia sudah tenang dan tertidur. Kamu mengenalnya sebagai asisten kamu berapa lama, Stefi sayang?”
“Ehmmm... tidak terlalu lama. Tidak sampai setahun. Tapi kami cukup dekat waktu itu. Ada apa?”
“Entahlah, aku agak curiga dengan klien yang kami temui tadi, sepertinya Bela mengenalnya tetapi sikapnya sangat tidak nyaman ketika bertemu. Kapan Bela bekerja di tempatmu?”
“Sudah lama sekali, ia baru lulus kuliah dari Jogja waktu itu. Tidak banyak yang aku ketahui tentang dia, pacar. Nanti aku hubungi dia, akan kutanyakan kabarnya. Semoga semakin baik. Tidak enak jika sakit di saat berada jauh dari rumah. Kamu juga pacar, jangan sakit. Aku sangat menantikanmu. Tidak sabar untuk menghabiskan waktu bersama kamu lagi.”
“Ehm.... aku sangat tersanjung, pacar. Aku akan keluar sebentar, pacar. Mencari sesuatu untuk kamu.”
“Ok. Jangan nakal, ya pacar. Aku mengawasimu dari sini.”
“Ahaha.... cup...cup.” Reino mengakhiri teleponnya.
***
Reino berjalan mengitari Malioboro Mall. Ia tidak mencari sesuatu yang penting di sana., hanya sekedar melihat-lihat pemandangan di dalam mall. Beberapa kali dilihatnya tatapan wanita ke arahnya. Wanita-wanita yang mengagumi ketampanannya. Kalau dilihat lebih seksama, wajah Reino terlihat jauh lebih muda dari umurnya. Mungkin suasana hatinya yang selalu ceria, juga senyum yang selalu menghias wajahnya membuat wajahnya terlihat jauh lebih muda. Tak heran jika siswi SMA pun mengidolakannya, seperti hari ini. Beberapa siswa SMA bergerombol cekikikan melihat ke arahnya, mungkin mereka membayangkan wajah yang dilihatnya adalah salah satu aktor Korea, Jepang, atau Chinna yang sedang berwisata ke Jogja.
Di salah satu sudut, ada seseorang menyapanya. “Pak Reino, kita bertemu lagi. Belum sampai setengah hari, kita
sudah dua kali bertemu.”
“Pak Albert, senang bertemu kembali dengan Bapak. Sedang jalan-jalan juga pak?” Tanya Reino melihat pria
berkacamata itu.
“Saya sedang mengunjungi anak saya. Ini perkenalkan, Trendy. Trendy, ini pak Reino, salah satu direktur Grup Sinar Wijaya yang sedang bekerja sama dengan ayah.” Kata Albert lagi sembari memperkenalkan anaknya.
Reino menyambut uluran tangan Trendy dan tersenyum ramah seperti biasanya. Sejenak mereka saling beramah tamah, membicarakan ini dan itu. Sempat juga Albert berkeluh kesah bahwa anaknya ini tidak mau ikut bekerja di perusahaannya. Trendy lebih memilih untuk bekerja kepada orang lain.
Sejanak Albert menjauhkan diri dari Reino dan Trendy karena menerima telepon. Kemudian kedua orang itu pun terlibat percakapan.
“Betah di Jogja, pak Reino?” Tanya Trendy berbasa-basi.
“Panggil saja Reino. Kita tidak dalam hubungan formal.” Kata Reino. Yang mempunyai hubungan kerja adalah
dirinya dengan Albert, begitulah yang dipikirkan Reino.
“Oh iya.” Trendy mengangguk.
“Saya senang di sini. Suasananya berbeda dengan di Jakarta.” Terlintas Jakarta yang semrawut dalam pikiran Reino.
“Belum pernah ke Jogja sebelumnya?”
“Tidak juga. Beberapa tahun yang lalu kami sering sekali kesini, ketika baru memulai membuka cabang di Jogja. Saya bersama Donie bahkan hampir setiap bulan ke Jogja. Namun setelah semuanya berjalan dengan lancar, baru kali ini kami ke Jogja lagi.”
“Sudah ke mana saja, di Jogja?” kata Trendy.
“Hhmmm kemarin kami diajak ke Pantai Parangtritis. Kalau kemarin sepertinya teman saya mengunjungi Merapi. Kebetulan salah satu teman kami dulu pernah bersekolah di sini, jadi dia menunjukkan tempat-tempat wisata kepada kami.”
“Hooo beruntung sekali, ada guide-nya. Berapa orang yang bertugas di sini?”
“Kami bertiga. Oh ya, saya baru ingat ada sesuatu yang hendak saya cari. Saya pamit dulu. Senang bertemu denganmu Trendy. Lain kali kita bisa bertemu lagi kalau aku ke Jogja lagi.” Reino undur diri meninggalkan kedua orang tersebut. Sebelumnya mereka sempat bertukar kartu nama.
***
Reino menyusuri sudut toko yang menjual pernak pernik olah raga, mulai dari sepatu, pakaian, sampai peralatan olahraga. Tiba-tiba .....
“MAS REI....MAS REI ....!!!” Telinganya menangkap suara wanita memanggilnya. Ia menoleh mencari sumber suara
yang memanggilnya tadi.
Seorang wanita berpakaian minim berjalan cepat, menghampiri Reino. Ia tidak menghiraukan beberapa orang yang
tampaknya datang bersama dengan wanita itu.
“Mas Rei kan?” Tanya si wanita berambut coklat dengan make up tebal itu.
“Iya. Maaf anda siapa ya?” Reino berusaha mengingat-ingat wanita yang ada di hadapannya. Rasanya memang ia
pernah mengenal wanita ini.
“Mas.... lupa ya sama aku? Sudah lama sekali, sudah bertahun-tahun. Aku Arini, yang sering menemani mas Oni , dulu.”
“Ah iya, aku lupa. Kamu Arini. Sudah lama ya, Rin.” Kata Reino sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rei itu adalah nama yang dikenal oleh Arini.
Ah, sial, kenapa harus bertemu dengan salah satu jalangnya Donie lagi? Pasti sebentar lagi ia akan bertanya tentang Donie. Semoga saja tidak.
***
Hari semakin sore. Trendy melihat lagi ke ponselnya. Ia menanti jawaban dari Bela, namun pesan yang dikirimnya
tadi pun belum juga dibaca. Akhirnya Trendy memutuskan untuk menghubungi Bela.
Kamu ada di mana, Abel?