
Donie mengerjapngerjapkan matanya, tubuhnya masih terbaring di atas tempat tidurnya di dalam apartemennya
pagi ini. Sinar mentari pagi menerobos masuk melalui sela-sela tirai jendela, membuat suasanya kamar menjadi terang. Namun yang membuat Donie terbangun, bukan sinar matahari pagi, tetapi aroma yang menggelitik hidungnya. Ia mencium aroma yang sangat enak, aroma cake. Ia segera beranjak dari tidurnya, mencuci muka dan menyikat giginya. Lalu Donie keluar dari kamar dan mendatangi sumber aroma yang menggugah selera di pagi hari. Ia mendapati gadisnya sedang memasak di pantry. Tampaknya Bela sudah rapi dengan kaus putih dan celana hotpants serta celemek yang tertali rapi di badannya. Nampaknya ia telah menyelesaikan beberapa masakan karena tercium aroma makanan yang berbeda-beda. Padahal ini baru jam enam pagi. Jadi jam berapa Bela bangun? Batin Donie.
Pemandangan yang langka. Belum pernah aku melihat Bela menyiapkan masakan sepagi ini di dalam apartemenku. Ia terlihat cantik dan seksi. Aku selalu ingin memeluknya dan menghirup aroma tubuhnya.
“Sayang, ini masih pagi. Tapi kamu sudah bangun. Kamu bikin apa, sayang? Baunya enak sekali. Membuatku menjadi lapar.” Donie memeluk pinggang Bela dari belakang dan meletakkan kepalanya di bahu Bela.
“Ini, aku buat cheese cake untuk camilan kamu kalau nanti lapar. Semoga saja kamu suka. Aku juga sudah buat bubur untuk sarapan, mas. Nanti siang, aku kirim bubur lagi.”
“Apapun yang kamu buat, pasti aku makan, sayang. Pasti rasanya enak. Mana pernah aku menolak masakanmu, sejak dulu.” Donie teringat ketika dimasakkan oleh Bela pertama kali, yaitu ketika pertama kali Donie mampir ke rumah Bela.
“Mas, kalau dipeluk terus begini, bisa-bisa masakannya nggak jadi lho. Aku jadi susah geraknya.”
“Biar masaknya romantis. Hehe....Sayang, kamu memang wanita terbaik yang harus aku jaga baik-baik. Aku sangat bersyukur bertemu dengan kamu. Terima kasih ya sayang, I love you sayang.” Kata Donie sambil menciumi rambut Bela.
Bela merasa gugup dengan sikap manis Donie pagi ini. “Love you, too. Mas cepat sehat ya. Nanti aku tinggal ke kantor.”
“Kamu tidak usah ke kantor, sayang. Lebih baik mengunggu aku saja.” Donie tidak juga melepaskan pelukannya, bahkan semakin erat memeluk Bela.
“Ih, kamu manja amat sih mas? Tidak mungkin aku izin hari ini. Sebentar lagi aku juga izin untuk pernikahan kita. Makanya, kamu jangan sakit.” Bela memegang kedua tangan Donie, berusaha melonggarkan pelukan kekasihnya itu.
“Tapi kamu itu sekretarisku, sayang. Kalau kamu tidak masuk juga tidak apa-apa. Kan aku bosnya.”
“Nanti pekerjaan menumpuk lho, kalau aku nggak kerja. Terus besok-besok lembur deh. Kamu mau, aku lembur lagi? Tidak mungkin kan mbak Hilda menghandle semua pekerjaan.”
“Iya deh... iya deh.” Donie berpikir lagi. “Nanti siang, aku telepon ke kantor, minta izin untuk kamu biar pulang lebih cepat. Aku mau bilang ada pekerjaan denganku. Jadi pekerjaanmu bawa pulang ke sini aja.”
“Huh....dasar modus...”
“Tapi suka kan sayang.”
“Iiiihhh.” Bela mencubit pinggang Donie.
“Kalau kamu tidak pulang cepat ke sini, nanti aku susul ke kantor.”
“Iya....iya.... nanti aku pulang cepat ke sini. Ayo, sekarang kita sarapan dulu”
Mereka sarapan berdua di meja makan. Donie terlihat mulai berselera makan. Mungkin juga karena gadisnya yang menyiapkan makanan sehingga ia lebih bersemangat makan.
Donie telah selesai menyantap buburnya. Ia meneguk air putih di hadapannya. “Nanti kamu bawa mobilku saja ke kantor. Kamu bisa menyetir kan?”
“Apa, bawa mobil kamu? Berlebihan deh mas. Aku bisa nyetir, tapi tidak pernah bawa mobil semewah itu. Nanti kalau ada apa-apa bagaimana?” Tanya Bela.
“Ada apa-apa bagaimana?”
“Ya itu, kalau mobilnya menyerempet sesuatu dan rusak. Waduh, nggak sanggup aku menanggung biaya reparasinya. Kamu tahu kan gaji aku tidak seberapa. Mau dibayar pakai apa?”
“Lho, kamu kenapa mikirnya jadi begitu. Yang optimis dong. Bawa mobil dengan yakin. Selamat sampai kantor. Lagipula kalau hanya mobilnya yang lecet atau perlu diperbaiki, tidak apa kok. Itu kan jadi mobilmu juga. Semua milikku jadi milikmu juga.”
“No.... nanti sopir aku suruh ke sini, untuk mengantar dan menjemput kamu.”
“Iya.” Jawab Bela dengan pasrah.
Bela mengganti pakaiannya dengan pakaian kantor. Ia juga memulaskan make up tipis pada wajahnya. Setelah
selesai berdandan, ia pun keluar dari kamar. Donie terlihat sedang serius menonton berita di telivisi, terutama ketika ditampilkan berita tentang perusahaannya. Air mukanya terlihat menegang. Tak lama kemudian ia berjalan keluar menuju balkon dan mengecek sesuatu di ponselnya, kemudian terlihat sibuk menghubungi beberapa orang. Pembicaraan Donie terlihat serius sehingga Bela tidak berani mendekatinya. Ia pun kembali masuk ke dalam kamar.
“Sudah siap, sayang?” Tiba-tiba Donie sudah mendekati Bela yang sedang memainkan ponselnya sembari duduk di tepi tempat tidur.
“Sudah mas.”
“Cantik sekali calon istriku ini. Aku tidak sabar melihat wajah cantik ini setiap hari, 24 jam.”
Wajah Bela merona merah.
Beberapa saat kemudian, suara bel terdengar. Sopir Donie telah datang menjemput Bela.
“Aku ke kantor dulu, mas.”
“Hati-hati sayang.”
“Bye....”
“Hei.... ada yang ketinggalan.”
“Apa mas?”
“Kiss me, baby.”
Dan.... Bela terkejut ketika bibir Donie mendarat di dahinya. Lagi-lagi wajahnya memanas menghadapi sikap manis calon suaminya ini.
***
Keadaan perusahaan grup Sinar Wijaya sangat sibuk akhir-akhir ini. Hal ini disebabkan karena tidak adanya posisi Presiden Direktur sehingga akan dilakukan persiapan untuk rapat. Rapat akan segera dilakukan oleh para pemegang saham dan dewan direksi untuk menentukan siapa yang layak menjadi Presiden Direktur. Tentu saja hal ini membuat Donie yang telah sembuh dari sakitnya menjadi sibuk luar biasa. Selain mempersiapkan pernikahannya, ia juga bersiap untuk mencalonkan diri sebagai Presiden Direktur. Dan kebetulan sekali rapat diadakan sehari sebelum acara pernikahan. Bagi Donie dan Bela, tentu menjadi hal yang sangat merepotkan. Untungnya bukan pesta resepsi yang direncanakan sepasang calon pengantin ini. Jadi mereka bisa lebih berkonsentrasi mempersiapkan segala sesuatu untuk rapat pemilihan Presiden Direktur.
“Mbak, hari ini kita lembur lagi deh.” Kata Bela kepada Hilda.
“Iya. Persiapannya banyak sekali. Pasti kamu lebih sibuk ya, mempersiapakan acara pernikahan juga.”
“Aku lebih sibuk dengan pekerjaan kantor, mbak. Kalau soal pernikahan, kami serahkan semua kepada WO. Biar mereka yang mengaturnya. Lagi pula, tidak pakai resepsi mbak. Sederhana saja supaya tidak merepotkan orang banyak.”
“Sstt .... Bela walaupun tidak pakai resepsi, tetap saja kamu harus jaga kondisi. Supaya nanti ketika hari H, kamu tidak terlalu capai. Capek lho jadi raja dan ratu sehari itu.” Terang Hilda lagi.
“Iya, mbak. Aku rajin minum vitamin, biar kuat seperti mbak Hilda....hehe....”