
Mereka berdua memasuki Kafe Roaster And Bear yang berada di daerah Jetis, Yogyakarta. Pengunjung dimanjakan dengan interior ornament yang menggunakan kayu, besi, dan juga kaca berkesan minimalis, namun klasik. Jika dilihat, setiap sudut sangat instagramable. Apalagi ada beberapa boneka beruang menggemaskan yang dapat menemani pengunjung untuk berfoto ria atau sekedar menemani menyantap makanan.
Kafe ini lebih banyak menyediakan berbagai macam western food, asian food, hingga macam-macam pastry dan cakes, serta banyak varian minuman.
Donie agaknya sudah terlebih dahulu memesan tempat untuk mereka berdua. Pelayan kafe mempersilahkan mereka menuju tempat yang telah disiapkan.
“Sayang, mau pesan apa?” Donie memberikan daftar menu yang diambilnya dari pelayan.
“Masakan Indonesia saja mas. Kalau masakan luar, aku takut lidahku menolak.” Kata Bela sambil melihat-lihat daftar menu.
“Yakin tidak mau mencoba menu masakan yang agak aneh di lidah? Mumpung aku di sini, sayang.”
Bela menggelengkan kepala.
“Aku pesan rawon robe dan iga bakar, minumnya juice melon.” Kata Bela lagi.
“Saya pesan sapi lada hitam dan sop cumi, minumnya coffe latte, serta dessert green tea cake.” Donie mengembalikan daftar menu kepada pelayan. Pelayan itu segera pergi.
“Bagus tempatnya, mas.”
“Kamu suka?”
“Iya, aku suka sekali. Ayo mas, kita foto-foto sembari menunggu pesanan datang. Fotonya pakai ponselmu saja, mas. Ponselmu jauh lebih bagus daripada punyaku. Tapi nanti kirim ke aku yah.” Kata Bela dengan manja.
Tak lama kemudian terlihat mereka berdua berfoto dengan berbagai background menarik. Terkadang karyawan kafe membantu mereka berdua mengambil gambar.
“Pasang fotoku di kamar kamu, Bela. Jangan gambar Hyun Bin saja yang memenuhi kamarmu.”
“Ih, kamu cemburu. Hehe... lagi pula kamu sedikit mirip Hyun Bin, mas.”
“Apanya?”
“Lesung pipinya kalau senyum. Tapi kalau bete, seperti beruang kutub.”
“Enak saja.” Donie memencet hidung Bela.
Makanan yang mereka pesan pun telah ditata di meja.
“Wah, banyak juga makanannya ya mas...” Bela takjub melihat makanan yang tersedia di meja.
“Makanlah yang banyak. Badanmu terlalu kecil, seperti tidak pernah makan.”
“Hohoho.... walaupun kecil begini, aku kuat makan lho mas.”
Akhirnya mereka makan dengan lahap. Bela terlihat sangat menikmati makanan yang terhidang. Bahkan sesekali ia minta makanan yang dipesan Donie. Menu utama pun telah tandas mereka makan. Kini saatnya menikmati dessert berupa green tea cake.
Terdengar lagu lawas milik Yovie and Nuno ‘Janji Suci’
........
Dengarkanlah, wanita pujaanku
Malam ini akan kusampaikan
Hasrat suci kepadamu, dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
'Tuk yang pertama dan terakhir
.........
*Flash back on*
Dddrrrttt....
Donie calling
“Hallo... Don, bisa nggak elo nelpon gue di waktu yang pas. Kenapa sekarang sih? Gue lagi pacaran kan. Kenapa sih lo, gak punya perasaan.” Tanya Reino dengan kesal. Dilihatnya Stefi yang bergelung di balik selimut, tidur pulas di sebelahnya.
“Bro, gue udah di Jogja.” Donie mengacuhkan omelan sahabatnya.
“Ha? Elo sudah di Jogja? Hotel mana?” Tanya Reino terkejut.
“Iya, satu hotel sama elo. Temenin gue cari cincin, bro....”
“Sssttt.... sorry banget. Ini gue lagi tanggung, Stefi tidak bisa ditinggal. Elo cari sendiri deh, di Malioboro Mall, di samping hotel kita. Ada toko perhiasan bagus, JJ.”
Donie mengumpat dan menutup ponselnya.
*Flash back off*
...........
Jangan kau tolak dan buat 'ku hancur
'Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
...........
Di saat Bela sedang memakan dessertnya sembari menikmati lagu romantis milik Yovie & Nuno, Donie menyenggol hiasan kain berbentuk lipatan menyerupai bunga di atas meja. Kain itu pun berantakan terjatuh di dekat kaki Bela. Dengan refleks, Bela menghentikan makannya dan mengambil benda yang jatuh itu.
Sebentar, kenapa kain-kain ini terlihat aneh? Ada kotak mungil di dalamnya. Batin Bela keheranan.
........
Dengarkanlah, wanita impianku
Malam ini akan kusampaikan
Janji suci, satu untuk selamanya
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
'Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buat 'ku hancur
'Ku tak akan mengulang 'tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
.........
Bela mengambil kain-kain itu dan menatanya di atas meja. Ada sesuatu tertulis di sana ‘ISABELA SANJAYA, WILL YOU MARRY ME ?’
Donie berbicara dengan pelan dan tegas, “Aku tidak pintar merangkai kata-kata Bela. Be my wife, because I love you.” Dibukanya kotak kecil berisi cincin untuk Bela.
Air mata Bela menetes membasahi pipi. Ia sangat terharu dengan perlakuan manis kekasihnya.
“Yes, I will. And I love you more.” Jawab Bela dengan isak bahagia.
Donie mendekati Bela, menyusut air mata dengan tangannya, kemudian memakaikan cincin di jari manis dan memeluk gadisnya dengan bahagia.
Donie dan Bela tidak menyadari sedari tadi ada dua pasang mata yang menjadi saksi mereka, bahkan beberapa kali mengabadikan momen bahagia itu.
“Hai..... Bela dan Donie.... Congratulation both of you.” Stefi menghampiri mereka berdua. Disusul Reino yang mengekor di belakan Stefani.
“Selamat ya Don, Bela juga. It’s so sweet. Tidak menyangka elo bisa seromantis itu bro.....”
“Terima kasih semuanya. Sudah lama di sini ya?” tanya Bela.
“Sejak dari saat kalian mulai makan, kami datang dan duduk di sebelah sana, jadi bisa leluasa melihat keuwuan kalian hahaha....” Stefani menjelaskan.
“Ayo, gabung saja ke sini.” Ajak Donie lagi.
Stefani dan Reino pun ikut bergabung. Mereka melanjutkan acara makan, obrolan, dan candaan. Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 10 malam. Mereka pun meninggalkan kafe dan hendak kembali ke hotel menggunakan taksi online.
“Kalian menginap di kamar no berapa?” tanya Bela.
“308” jawab Reino dan Stefani bersamaan.
“Kita satu lantai, bro. Gue di 302, Bela di 204.”
“Ok, sampai ketemu besok yah....” Kata Bela kepada Stefani saat mereka berpisah di lantai 3. Sementara Reino berjalan menuju ke kamar Donie karena ada sesuatu yang ingin didiskusikan.