
Astaga, aku lupa telah mengubah mode ponselku sejak tadi pagi. Dan sampai pukul lima ini, aku belum juga mengecek ponsel karena terlalu sibuk. Pantas saja aku tidak mendengar ponselku berbunyi sejak tadi.
Kenapa aku tidak curiga? Padahal tadi mas Donie memintaku untuk pulang lebih awal. Oh, di mana aku meletakkan ponselku? Oh, ini dia. Ternyata di dalam laci meja. Lebih baik segera kucek.
Bela mengambil ponsel dari laci mejanya dan mengeceknya. Wajahnya menjadi tegang melihat layar
ponselnya.
Oh My God.... puluhan panggilan dan ratusan chat. Mas Donie meneleponku 25 kali. Dan tiga puluh menit yang lalu, ia berada di depan lobby. Lebih baik kutelepon dulu.
Ddrrtt....
Bela calling....
Tiga kali Bela menghubungi Donie, tetapi tidak ada jawaban. Segera Bela membereskan mejanya dan membawa beberapa berkas untuk dikerjakan di rumah. Ia tidak ingin lembur di kantor. Lebih baik ia lembur di rumah Donie.
“Mbak, aku pulang duluan. Berkas yang belum selesai ini aku kerjakan di rumah saja karena aku ada urusan yang harus diselesaikan. Aku sudah bilang ke pak Donie kalau tugasnya aku kerjakan di rumah.”
“Ok. Hati-hati ya.”
“Ya mbak. Sampai besok ya.”
Bela segera meninggalkan ruangan dengan membawa banyak. Ia tampak kerepotan ketika membawa berkas dan tas laptop di tangannya.
Bruk.... di depan lift, Bela menabrak seseorang yang baru saja keluar dari pintu. Bela segera membungkuk dan membereskan barang-barangnya. Ia tidak memperdulikan seseorang yang kini menatapnya, tepat di hadapannya. “Maaf yah. Saya tidak sengaja.” Kata Bela dengan tetap menunduk.
“Abel.... itu kamu?” Kata lelaki itu menegur Bela.
Aku tidak asing dengan suaranya. Dan panggilan itu....Abel. Bukankah hanya dia yang memanggilku seperti itu. Apakah benar dia? Aku tidak berani melihatnya. Aku gugup....
Pelan-pelan Bela mendongakkan kepalanya. Ia terkejut melihat lelaki dengan manik mata coklat di hadapannya. Lebih tepatnya ia tak tahu harus bersikap bagaimana menghadapinya.
Kenapa dia ada di sini? Kenapa kami bertemu lagi?
“Sini aku bantu.” Lelaki itu menawarkan diri dan membantu Bela untuk membereskan berkas yang berserakan. Ia membungkukkan badannya dan mengambil beberapa berkas dan menyatukannya pada map yang dibawa oleh Bela.
“Kamu bekerja di sini, Bela?” Tanya lelaki itu.
Bela telah selesai membereskan kekacauan dibantu oleh lelaki itu. Ia kini bangkit dan berdiri sejajar dengan lelaki itu. Bela berusaha menatap manik mata cokelat di hadapannya. “Iya. Trendy, kenapa kamu tiba-tiba ada di sini?” Bela bertanya heran.
Tenang Bela, semua sudah berakhir. Tidak ada gunanya kamu gugup ketika bertemu dengannya.
Bela berusaha mendamaikan pikirannya.
Trendy mengamati gerak-gerik Bela. Menurut pengelihatannya, Bela tampak canggung ketika bertemu dengannya. “Aku sedang ada acara pelatihan di kantor pusat. Sekaligus menyampaikan beberapa berkas yang diperlukan ke perusahaan ini. Perusahaan ayahku bekerja sama dengan perusahaan tempatmu bekerja.” Kata lelaki itu dengan
senyum ramah.
Aku tidak mengira bertemu lagi dengan gadis ini. Aku merasa sangat senang. Kebetulan yang membahagiakan.
Bela mendengarkan dengan mengangguk-angguk. “Siapa yang ingin kamu temui?”
“Aku ingin menemui pak Donie.”
“Trend, hari ini pak Donie tidak ada di sini. Tapi kamu bisa menitipkannya kepadaku. Aku sekretarisnya.”
“Ehem...Bela, aku sudah ada di sini.” Sebuah suara yang berasal dari arah lift yang terbuka mengagetkan
Bela. Donie berjalan mendekati mereka berdua. Ia sempat mendengar bahwa lelaki itu ingin menemui dirinya.
Donie sangat ingat. Lelaki yang kini berbicara dengan Bela adalah lelaki yang ditemuinya beberapa minggu yang lalu di Jogjakarta. Lelaki yang diakui Bela adalah mantan pacarnya.
Apa yang mereka berdua bicarakan sebelum aku sampai di sini? Apakah lelaki itu sengaja mencari Bela? Dan kenapa juga ia ingin menemuiku?
Bela terkejut dengan kedatangan Donie yang tiba-tiba. Terakhir kali ia menghubungi melalui ponselnya, Donie tidak menjawab telepon.
“Sudah sembuh, pak?” Bela mencoba menghilangkan kecanggungannya dengan menyapa Donie secara formal.
“Sudah. Hampir satu jam saya sudah berada di kantor, Bela.” Donie mencoba menyindir Bela yang terlihat merasa bersalah.
“Maaf pak. Saya pikir bapak masih sakit. Maaf, tadi saya tidak tahu ada telapon dari bapak.” Bela mencoba menghilangkan sedikit rasa bersalahnya.
“Oh ya, tidak apa-apa.” Donie berusaha tenang walaupun hatinya masih jengkel mendengarnya.
“Pak Trendy perkenalkan, ini pak Donie. Pak Trendy ini diutus ayahnya untuk menemui pak Donie.” Bela menjelaskan dengan rasa canggung. Ia merasa seperti orang yang kepergok selingkuh, walaupun ia tidak melakukan hal apapun. Tapi ia juga bersyukur karena pernah bercerita tentang Trendy kepada Donie.
Trendy mengulurkan tangannya kepada Donie. Mereka berjabat tangan.
“Ayo pak Trendy, silahkan ke ruangan saya.” Donie mengajak Trendy. “Bela, tunggu di mobil. Suruh OB untuk membantumu membawa barang-barang itu kalau kamu merasa kerepotan. Hati-hati.” Kata Donie kepada Bela. Tak lupa pula ia meletakkan kunci mobil di atas berkas yang Bela bawa.
“Abel.... nanti kutelepon.” Kata Trendy sebelum Bela memalingkan wajahnya ke arah pintu lift.
Apaan sih, pakai ngomong mau nelepon, di depan mas Donie lagi. Aku saja masih merasa bersalah dengan puluhan telepon dan chat dari mas Donie yang tidak aku balas. Sekarang, bertambah lagi dengan ucapan Trendy
tadi. Ini mancing prahara baru. Semoga saja mas Donie bertemu pak Sabar di pinggir jalan tadi. Hmmmffftt....Dan kenapa pula kunci mobil diberikan kepadaku. Pasti sopir mas Donie sudah pulang duluan. Berarti nanti hanya ada
aku dan mas Donie yang berada di mobil. Ouw... pasti nanti dia marah-marah.
Bela menunggu Donie di dalam mobil dengan gelisah. Untuk menghilangkan kegelisahannya, ia mulai berkutat dengan beberapa file di laptopnya.
***
Mereka berdua tidak saling bercakap-cakap. Pemandangan yang sama dihadapi ketika pulang dari kantor, kemacetan. Kemacetan di kota ini sedikit mengalihkan kekhawatiran Bela.
“Mas, maaf. Ponselku tadi tidak aktif suaranya. Jadi aku tidak mendengar telepon dan chat dari mas. Tadi setelah rapat aku lupa untuk mengaktifkan suaranya lagi. Dan lebih parah lagi, aku lupa untuk mengecek ponsel karena terlalu fokus dengan pekerjaan hari ini. Maaf ya mas.” Bela berharap Donie tidak marah mendengar penjelasannya.
“Hemmm....” jawab Donie singkat.
Mti aku.... , mas Donie pasti marah mendengar penjelasanku yang mungkin terdengar tidak masuk akal baginya.*Aku harus ngomong apa dong supaya mas Donie tidak jadi marah?
“Mas......”
“Iya sayang.....”
“Mas marah ya?”
“Tidak sayang. Aku tahu, pekerjaan di kantor sangat banyak sehingga menyita perhatianmu.”
“Oh, syukurlah.” Bela bernafas dengan lega.
“Mas.....”
“Iya sayang....”
“Sudah sehat?”
“Sudah sayang.”
“Mas....”
“Iya sayang....”
“Aku tadi ketemu Trendy di depan lift, waktu mau pulang.”
“Hemmmmm....”
“Mas....”
“Iya sayang....”
“Kok gitu sih? Kayak nggak ikhlas deh ngomongnya.” Bela terlihat cemberut. Sekilas Donie melirik wajah gadisnya ini. Terlihat menggemaskan jika sedang cemberut seperti ini. Ia ingin menggodanya.
“Kamu nggak ingin tahu, aku ngomong apa sama mantan pacar kamu itu?”
“Iya. Aku penasaran.”
“Penasaran karena dia tidak segera menghubungimu? Kamu belum pernah bilang, kalau aku ini calon suami kamu?”
“Apaan sih? Bukan itu maksudku. Aku juga tidak punya kesempatan untuk menjelaskan hubungan kita. Bukan maksudku menutupi hubungan kita, mas.”
“Dengar sayang, mantan pacar kamu itu tidak akan menghubungimu lagi. Aku sudah bilang kalau beberapa hari lagi kamu akan jadi istriku.”
“Syukurlah, jadi aku tidak usah susah-susah menjelaskan.”
“Jadi yang ketemu kita di Jogja tempo hari itu mantan calon mertua kamu, ayahnya Trendy?”
“Iya mas.”
“Pantas kamu salah tingkah....sampai mau pingsan. Dia yang tidak setuju punya menantu kamu?”
“Iya. Tapi......kamu tidak berbuat sesuatu yang konyol karena itu kan?”
“Maksudmu, menggagalkan kerjasama ini?”
“Iya.”
“Aku ingin sekali menggagalkannya. Tapi ini sudah separuh jalan. Kalau saja aku tahu sejak awal, pasti proyek ini tidak akan aku ambil. Bagaimana, kamu mau balas dendam?”
“Tidak mas. Ini tidak ada hubungannya. Pekerjaan berbeda dengan urusan pribadi. Teruskan saja. Lagi pula semuanya sudah berlalu. Untuk apa persoalan yang lalu dibawa-bawa sampai sekarang.”
"Hemmm good girl." Donie mengusap puncak kepala Bela.
“Maaf ya mas, kamu jadi lama menungguku di bawah tadi.”
“Aku sabar kok. Menunggu seribu tahun pun tak masalah. Asalkan kamu yang aku tunggu.”
“Hiks..... kamu jadi nggombal gini sih mas.”
“Nggak suka?”
“Hehe....jangan keseringan. Nanti aku pingsan.” Donie membulatkan matanya.
***
Pria itu, ternyata calon suami Isabela. Aku tidak bisa bersaing dengannya. Tampaknya pria itu sangat sayang kepada Isabela. Ia juga memberi batasan kepadaku untuk mengerti dengan posisi Isabela yang merupakan calon istrinya. Beberapa hari lagi mereka kan melangsungkan pernikahan. Aku masih tidak rela melepaskan wanita yang pernah mewarnai hidupku itu. Aku merasa sangat menyesal atas apa yang pernah aku lakukan. Aku bahkan
tidak bisa berbuat apa-apa ketika orang tuaku tidak mengharapkan kehadirannya dalam hidupku. Yah, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dan ternyata aku tidak dapat menjaga berlian berharga yang pernah hadir dalam hidupku. Kalau saja Tuhan memberikan kesempatan kepadaku satu kali lagi, aku akan mempertahankannya.