
HALLO READERS, JIKA KALIAN SUKA, JANGAN LUPA YA BERI :
· Komentar
· Like
· Favorit
· Tip
SELAMAT MEMBACA
BAB 22
Stefani Hotman telah berada di dalam ruangan Donie.
“Hallo Don.”
“Hai. Apa kabar?”
“Baik. Baik sekali kamu mengirim orang yang sangat tepat waktu itu.”
“Reino maksudmu? Apa dia menyulitkan kamu?”
“Tidak. Justru saya sangat senang kamu mengirimkan dia.”
“Ehm.... maksudnya?”
“Bukan hanya cakap, dia juga cakep.”
“Hahaha..... pas yah Stef....”
“Kamu tahu selera saya Don....”
“Mau saya panggilkan?”
“Oh boleh. Saya senang sekali.....”
Donie menelepon Reino.
“Sebentar, beberapa menit lagi katanya. Sabar ya Stef.”
“Untuk pekerjaan kita, kesepakatannya ada sama Reino, Don. Saya sudah jelaskan detailnya.”
“Iya, Reino sudah sampaikan ke saya.”
“En.... untuk berita di media online. Maaf ya Don.... kamu jadi ikut terkenal. Hehe....”
“Ada apa?” Donie mengrenyitkan dahinya merasa heran.
“Yah.... kamu tau kan aku. Semua gerak gerikku jadi incaran penulis gosip. Dan pertemuan kita waktu itu, ada yang mengambil gambarnya. Kamu belum baca beritanya?”
“Saya jarang lihat berita gosip, Stef. Kamu tahu saya kan?”
“Iya. Kamu tuh serius orangnya.”
“Saya rasa orang-orang di kantor kamu sudah tahu. Terbukti dari saat saya datang tadi, mulai dari lantai satu, di lift........ sampai ke ruangan kamu, banyak yang kasak kusuk. Di wajahnya ada tanda tanya besar ‘apakah ini pacar baru Donie Wijaya?’”
Donie segera mengambil ponselnya dan mengecek berita. Dan ia sangat terkejut fotonya dan Stefanie terpampang jelas di berita gosip.
“Saya rasa, kita tidak perlu meyakinkan ortu kita, Don. Biar mereka tahu sendiri. Sampai tujuan kita tercapai, tidak perlu kita mengadakan klarifikasi. Bagaimana?”
Donie duduk bersandar pada kursinya lalu memijat pelipisnya. Tiba-tiba ia merasa pusing. Ia khawatir jika Bela membaca berita ini.
Tok....tok...tok....
“Masuk.”
Ceklek.....
Reino masuk ke dalam ruangan Donie dan disambut senyum centil Stefani.
“Hai Reino.....”
“Hai Stefi....” jawab Reino dengan senyum ramahnya.
Namun Reino memperhatikan sahabatnya yang terdiam sambil memijat dahinya. Seolah-olah tidak mengetahui kedatangan Reino.
“Elo kenapa Don?”
Donie menggeleng lemah. “Ehm..... No...... Bela masih ada di depan?”
“Mamp*s gue No....” Donie segera bangkit dari duduknya.
“Kenapa?”
Donie mengambil ponselnya. Kemudian ia menelepon sopirnya. “Pri.... saya mau ke mobil. Kamu tidak perlu mengantar saya. Nanti setelah selesai jam kantor kamu boleh pulang.”
“Stef, saya tinggal dulu yah. No...... gue tinggal dulu. Gue mau nyari Bela.”
Donie segera meninggalkan ruangan.
“Donie kenapa Reino? Tadi Bela ada di depan waktu saya masuk.”
“Entahlah. Mungkin masalah dengan pacarnya.”
“Pacarnya? Bela maksud kamu?”
“Iya.”
“Bela pacaran dengan Donie?”
“Iya.”
“Oh no no no.... ini bisa jadi salah paham Reino. Saya tidak mau jadi orang ketiga dalam hubungan mereka.”
“Maksud kamu apa Stef?”
“Coba baca berita ini.....” Stefani mengulurkan ponselnya kepada Reino. Di situ tertera berita tentang Donie dan Stefani.”
“No..... tolong bantu saya menjelaskan ini kepada Bela.”
“Bakal ada perang dunia ini Stef.....” Reino berucap sambil tetap membaca berita gosip.
****
Flashback
Stefanie Hotman memasuki ruang kerja Donie Wijaya.
“Mbak Hilda, aku keluar sebentar ya. Ada perlu. Maaf sekali mbak. Mungkin sampai sore nanti aku nggak balik.”
“Kamu kenapa Bel? Muka kamu pucat sekali.”
Hilda memegang dahi Bela, tidak terasa panas. Suhunya normal. Tapi ada bulir-bulir keringat di dahi Bela.
“Kamu sakit, Bel?”
“Nggak enak badan, mbak. Tolong sampaikan ke Pak Donie ya mbak.”
“Iya, nanti aku sampaikan.”
Lima belas menit kemudian....
Ceklek....
Pintu ruangan Donie terbuka.
Donie keluar dengan gusar.
“Hilda, Isabela ke mana?”
“Izin pulang pak. Dia terlihat pucat dan sakit.”
“Sudah lama?”
“Belum pak..... mungkin belum ada setengah jam.”
“Baik. Tolong agendakan ulang jadwal saya sore ini. Yang bisa ditunda, tunda dulu. Yang tidak bisa ditunda, bicarakan dengan Direktur Reino. Saya ada keperluan. Dan jangan hubungi saya kalau tidak perlu sekali.”
“Baik pak.” Jawab Hilda.
Ada apa sih pak Donie? Keliatan sewot amat. Dan itu pacar barunya malah ditinggal berdua dengan Pak Reino. Kenapa ya?
Hilda mengetuk-ngetuk mejanya dengan ballpoint sambil berfikir keras.