
Pukul 13.00. Bela dan Donie berdampingan duduk di sebuah pesawat kelas bisnis di Bandara Soekarno Hatta, menuju ke Yogyakarta.
Duduk di pesawat kelas bisnis adalah hal yang belum pernah dirasakan Bela. Kali ini dia menikmatinya bersama dengan kekasihnya. Tempat duduk yang nyaman, dan beberapa fasilitas lain yang berbeda dibandingkan dengan duduk di kelas ekonomi.
“Kenapa senyum-senyum sendiri?” Tanya Donie.
“Baru kali ini aku merasakan duduk di kelas bisnis. Rasanya nyaman sekali. Kita menginap di mana mas?” Bela menyandarkan punggungnya dan membelai kursi penumpang dengan takjub.
“Hotel Ibis. Eits,.... jangan diusap-usap begitu kursinya.” Kata Donie yang terheran-heran melihat kelakuan Bela.
“Yang di Malioboro itu?” Tanyanya kepada Donie.
“Kok tahu?”
“Iyalah. Aku dulu kuliah di Yogyakarta.”
“Di mana tempat kuliahmu dulu?”
“Di Akademi Sekretaris, dekat dengan Jl. Godean, dekat dengan SMAN 2. Ah, aku cerita pun kamu tidak akan mengerti, mas.”
“Ceritakan tentang masa kuliahmu.”
“Seperti biasa, kuliah, pulang ke kos, kerja jadi babu di kafe, pulang ke kos, lalu besok kuliah lagi. Tidak ada yang istimewa.”
“Punya pacar kamu sewaktu kuliah?”
“Ih, apaan sih. Tanya yang aneh-aneh.” Bela memalingkan mukanya dari tatapan Donie. Tapi hatinya sedikit tercubit dengan ucapan Donie. Ia jadi teringat sosok Trendy Wibisono, cowok tinggi, berkulit hitam manis, berwajah tegas, dengan bola mata berwarna coklat yang selalu menemani hari-harinya dua tahun terakhir di Yogyakarta. Tiba-tiba ia merasa rindu dan sakit yang bersamaan.
Apa kabar Trendy? Apakah ia sudah menikah? Terakhir mereka bertemu seminggu setelah Bela wisuda. Mereka berdua memutuskan untuk mengakhiri hubungan karena Bela harus kembali ke Jakarta sedangkan orang tua Trendy sangat tidak setuju dengan Bela. Itu karena Bela berasal dari keluarga yang tidak jelas bibit, bebet, dan
bobotnya. Akhirnya Trendy pun memilih berhenti memperjuangkan Bela di depan kedua orang tuanya. Apalagi mereka berdua akan hidup jauh terpisah. Masih jelas di ingatan Bela, rasa sakit yang ditinggalkan akibat berakhirnya hubungan mereka.
Sekitar 45 menit kemudian pesawat mendarat di bandara Adisucipto Yogyakarta. Dari bandara, Donie memesan taksi yang mengantar mereka berdua menuju Hotel Ibis yang terletak di kawasan Malioboro.
Alunan tembang jawa terdengar dari sudut hotel, menenteramkan hati. Bela merasa kembali ke suasana saat ia kuliah dahulu.
Donie melakukan chek in. Ia memesan dua kamar yang berdampingan. “Bela, kamu jangan pergi-pergi sendiri. Ingat peristiwa semalam, jangan ceroboh. Selalu bawa ponselmu. Dan ingat, jangan asal menabrak sesuatu yah.”
“Baik, pak bos.” Bela mengangkat tangannya seolah memberi hormat kepada bosnya.
“Nanti kita bertemu jam 6 sore, sekalian mencari makan malam. Istirahat saja dulu.”
“Baik pak....” Donie mengacak-acak rambut Bela. Dan mereka memasuki kamar masing-masing.
***
Di dalam kamar, Bela tidak bisa tidur. Ia terbayang-bayang wajah teman-teman semasa kuliah dulu. Selain itu ia juga terigat dengan tempat-tempat yang pernah didatanginya bersama dengan Trendy. Kembali perasaan rindu sekaligus sakit.
Bela memeriksa ponsel dan mengecek teman-teman semasa kuliah yang mungkin bisa dihubunginya. Tertera nama Erna. Ia teringat gadis mungil berambut sebahu, berkacamata yang sering mengendarai motor bebek kesayangannya, Honda Supra. Gadis mungil yang alamatnya di Sleman itu setiap hari mengendarai motornya untuk sampai ke kampus. Biasanya ia mampir di tempat kos Bela dan berangkat bersama menuju kampus. Enam tahun sudah kenangan itu berlalu.
“Hallo..... AAA.... cah ayu.... piye kabare [anak cantik, bagaimana kabarnya] ?” jawaban Erna mengejutkan Bela. Tak disangka Erna masih menyimpan nomor teleponnya. Bela merasa sungguh senang.
“Hallo Er. Kabarku apik [kabarku baik]. Piye kabarmu [bagaimana kabarmu] ?”
“Hooo apik banget. Dirimu ning endi cah ayu? Kok kelingan nelpon aku? [ Baik sekali. Kamu di mana, anak cantik? Kok teringat untuk meneleponku] ?” Erna bertanya lagi.
“Aku di Jogja Er. Di Hotel Ibis. Tiba-tiba kangen sama kamu. Kamu masih tinggal di Sleman bersama ortumu?”
“His.... ora, cah ayu. Aku saiki wes duwe bojo, anakku loro. Omahku ning Baciro. Eh, dolan neng omahku, mumpung ning Jogja. Aku ora iso lungo, anakku isik cilik-cilik. [His.... tidak, anak cantik. Aku sekarang mempunyai suami, anakku dua. Rumahku di Baciro. Eh, main ke rumahku, mumpung di Jogja. Aku tidak bisa pergi, anakku masih kecil-kecil].”
“Iya Er... aku sempatkan deh, main ke rumahmu.”
“Bel, kamu menginap di Hotel Ibis kan? Berarti dekat dengan tempat kerja mantanmu lho, Trendy. Dia kerja di Malioboro Mall, supervisor di counter farmasi. Aku dengar dia hampir menikah tiga tahun yang lalu, dijodohkan orang tuanya, tapi calonnya meninggal sebelum mereka menikah.......bla...bla...bla.....” Erna terus bergosip tentang Trendy. Bela mendengarkan sembari berguling-guling di tempat tidur.
Bel pintu kamar Bela berbunyi.
“Erna, sorry, nanti disambung lagi ya obrolannya. Ada tamu.”
“Ok, cah ayu. Sampai ketemu yo.”
“Bye Erna....”
Bela menuju pintu. Ia sangat yakin bahwa Donie yang berada di depan pintu kamarnya. Sebenarnya pada saat ia menelepon Erna, Donie menelepon ke ponselnya, tapi ia mengabaikannya.
Ceklek...
“Kamu menelepon siapa? Dari tadi kutelepon, sibuk terus. Hampir setengah jam kucoba mengubungi kamu.”
“Maaf mas. Aku tadi menghubungi teman kuliah. Keasyikan mengobrol.”
“Siapa? Mantan pacar kamu?”
“Ih, mas Donie cemburu. Bukan mas, Erna sahabatku.”
“Ayo kita keluar.”
“Sebentar mas, aku bersiap dulu. Silahkan duduk.”
Bela mengambil pakaian ganti dan segera masuk ke kamar mandi. Tak perlu waktu lama untuk berdandan. Bela hanya menyapukan bedak tipis di wajahnya dan lipgloss di bibir merahnya. Rambutnya dikucir kuda dengan ikat rambut berwarna pink. Pakaian yang ia gunakan blouse pink lengan pendek berkancing di punggung, dan celana panjang hitam. Sepatu sneakers putih dipakainya, sepadan dengan tas cangklong putih yang ia bawa.
“Ayo mas, aku siap.”
***
Bela dan Donie naik taksi menuju restoran.
“Kita mau ke mana mas?”
“Makan.”
“Di mana?”
“Roaster and Bear. Kamu pernah ke sana?”
“Oh, yang di Jl. Mangkubumi? Ya jelas belum pernah, mas. Aku ini orang susah. Mana pernah ke tempat-tempat begitu. Tidak ada waktu kongko – kongko di kafe.”
Bela mendengar suara langkah kaki kuda ketika taksi melewati delman. Suara itu membuat sensasi suasana yang berbeda ketika menikmati perjalanan. Yogyakarta, Malioboro, dan Delman, begitu menyatu membuat siapa saja selalu ingin kembali menikmati suasana ini.
Mereka melewati jl. Mataram, lalu melewati Kota Baru. Bela menikmati pemandangan melalui kaca mobil. Ia seolah-olah merasa kembali ke dalam kenangan enam tahun yang lalu.
“Aku bahagia, bisa kembali ke sini, mas. Entah kenapa aku selalu rindu Jogja. Kota ini begitu berkesan bagiku.”
Donie tidak menjawab. Ia memilih untuk membiarkan Bela larut dalam kenangannya. Ia hanya mengamati Bela yang duduk di sebelahnya. Mendengar penuturan Bela, hatinya pun turut merasa senang. Bagi Donie, ini adalah kunjungan ke sekian kalinya. Namun selama ini tidak ada yang berkesan. Jogja sama dengan kota-kota yang lain. Ia hanya singgah sementara untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kunjungan kali ini terasa berbeda, mungkin karena kehadiran Bela.
“Aku sering ke Kota Baru ini mas. Seminggu sekali aku kursus piano. Sudah lama sekali. Aku tidak pernah mempraktekkannya lagi.” Bela memilin-milin anak rambutnya dengan tangan kanan.
“Kamu bisa main piano di rumahku, kalau mau.”
“Ada piano mas, di apartemenmu?”
“Iya. Di kamar tidur tamu. Kamu belum pernah masuk ke sana kan?”
Dari jl. Sudirman, taksi berbelok ke kiri menuju jl. Mangkubumi. Sampailah mereka di Roaster And Bear. Setelah Donie membayar tagihan, mereka keluar dan memasuki kafe unik itu.