
Di dalam kamar yang tidak terlalu besar itu, mereka membahas berbagai macam topik pembicaraan, mulai dari pekerjaan, tempat wisata yang menarik di Jogja, hubungan pacaran, sampai pembicaraan yang tidak jelas. Satu jam telah berlalu. Tampaknya pembicaraan mereka berdua belum akan berakhir. Ketika membicarakan pekerjaan,
mereka berdua sesekali memeriksa file di dalam laptop. Kemudian beberapa berkas disusun dan diperiksa kembali.
“No, ada kabar buruk. Tadi sore, Wiliam menghubungi gue. Katanya dia sudah ada buktinya tentang penyebab kecelakaan papi, meninggalnya om Hartanto adiknya papi, dan kakak gue yang meninggal setelah beberapa hari dilahirkan. Gue tidak pernah membayangkan ini semua, No. Ternyata semua laporan palsu tentang kematian
mereka dibuat untuk menghilangkan jejak. Bodohnya gue waktu itu tidak mau pikir panjang, percaya saja dengan laporan-laporan yang gue terima. Akhirnya gue malah meninggalkan mami dan sekolah di luar. Mami bisa syok lagi kalau mendengar ini semua. Entahlah semua kejadian itu nantinya akan menuju ke arah mana.”
“Ternyata mengerikan sekali. Kapan elo mau bikin laporan ke polisi ?”
“Secepatnya, sepulang gue dari sini.”
“Sepertinya semua orang yang dekat dengan elo bisa saja jadi korban selanjutnya, Don. Kalau kejadiannya saling berkaitan, pasti ada dalang dari semua kejadian ini. Apa mungkin yang menimpa Bela kemarin malam juga ada hubungannya dengan ini?”
“Sudah diperiksa Wiliam. Pelakunya terlihat samar-samar, mungkin juga pelaku itu orang suruhan.”
“Bela..... Kenapa elo tinggalin di kamar yang lain? Elo tidak khawatir, bro?”
“Ah, sial.... kenapa gue baru kepikiran.” Donie berbicara dengan gusar dan khawatir.
“Sebaiknya gue balik ke kamar gue. Elo urus si Bela, jangan lepas dari pengawasan lo. Dia titik kelemahan elo.” Reino berjalan keluar dari kamar Donie, diikuti Donie yang juga keluar dari kamar. Reino menuju 308, sedangkan Donie menuju 304.
***
Bela memasuki kamar 304. Hari ini ia merasa sangat bahagia dengan lamaran Donie tadi. Sungguh di luar dugaan. Bela benar-benar merasa seperti Cinderella yang menemukan pangeran tampan dan mengangkatnya dari lingkungan kumuh. Sebetulnya tidak ada dalam rencananya untuk menemukan calon pendamping hidup secepat ini. Rencana hidupnya hanyalah mencari pekerjaan yang mapan, membiayai adiknya hingga selesai kuliah. Ia bahkan tidak memikirkan rencana tentang dirinya. Bertemu dengan calon pendamping hidup setampan dan semapan Donie merupakan anugerah terindah dalam hidupnya. Ia lagi-lagi masih tidak mempercayai apa yang telah dialaminya, semuanya bagaikan mimpi. Akankah esok ia terbangun dari mimpi?
Diamatinya cincin indah pemberian Donie yang melingkar di jari manisnya. Kembali ia berfikir, apakah ini nyata?
Pasti cincin ini mahal banget ya. Apakah harus kutaksir harganya? Begini rasanya jadi calon istri mas Donie. What.... calon istri? Aku merasa geli mendengarnya. Memikirkan menjadi istri seseorang pun aku tak pernah.
Sembari melamun, Bela mengganti pakaiannya dengan baju tidur, sejenis tanktop dan hotpants. Ia terlalu bahagia sehingga tidak dapat memejamkan matanya. Ingin rasanya ia berlari ke arah Virnie dan bercerita. Sayang sekali, ini sudah malam dan Virnie tidak ada di dekatnya. Jadi ia hanya bisa tersenyum-senyum sendiri sembari melihat-lihat galiry di ponsel. Kini ia memiliki bebarapa foto bersama Donie. Ingin sekali, sebagai seorang perempuan, membagikan kenangan indah itu di medsos. Namun ia mengurungkannya, mengingat kekasihnya adalah Donie Wijaya. Sabar ..... sabar.... Akhirnya ia memilih gambar cincin yang sedang dipasangkan di jari manisnya saja untuk di-upload, tanpa ada gambar wajah.
Belum sampai satu menit, foto di-upload di instagram, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Virnie calling....
“Hallo Vir. Baru aja gue mau nelepon.... udah keduluan.”
“Hai kriwil. Elo dilamar sist?”
“He em... tadi. Kaget banget gue Vir....”
“Aih.... selamat deh. Gue turut senang. Elo dapet orang yang tepat. Donie sayang banget sama elo.”
“Terima kasih sist. Bentar ya Vir.... rasanya gue masih susah nafas.”
“Haha.... ceritain dong gimana tadi doi ngelamarnya.... terus kalian kan di Jogya ya?”
Bla....bla....bla......
Cerita yang tidak ada ujungnya. Semua keluar dari mulut mungil Bela. Virnie pun menanggapi dengan senang setiap cerita ceria dari sahabatnya itu. Dan mungkin memang suara Virnie merupakan obat tidur paling mujarab bagi Bela. Akhirnya Bela pun tertidur dengan senyum bahagia.
Entah berapa lama Bela terlelap. Sayup-sayup ia mendengar suara air dari kran kamar mandi, semakin lama suaranya makin keras dan membuat Bela sesak. Ia merasa tidak dapat bernafas, seolah-olah ada sesuatu yang menekan di atas dadanya.
“AAAAA.....TOLONG!!!!!” susah sekali suara itu keluar dari mulut Bela. Ia berusaha berteriak dengan keras, namun yang terdengan dari telinganya hanyalah suara rintihan kecil. Sekali lagi diusahakannya lebih keras lagi berteriak. Lagi-lagi hanya rintihan kecil yang didengarnya sendiri. Keringat mengalir deras dari dahinya dan semakin sulit rasanya ia menangkap oksigen melalui hidung dan mulutnya.
Tiba-tiba.... ting tong.... ting tong....
Suara bel di pintu mengagetkan Bela. Ia terbangun dari mimpi buruknya. Sejenak dikumpulkan kesadarannya dengan duduk dan mengambil nafas dalam-dalam. Ia masih berada di kamar hotel, bukan di rumahnya. Lalu Bela berjalan pelan mengintip dari lubang di pintu. Ia melihat sosok Donie berdiri di depan pintunya.
Ceklek.....
“Mas....” Kata bela dengan rambut kusut, wajah berkeringat dan tangan gemetar.
“Kamu kenapa?” ucap Donie dengan khawatir.
“Aku mimpi buruk, mas. Kejadian kemarin seperti terulang lagi.” Bela memeluk Donie.
“Tenang, sayang.” Donie membelai punggung kekasihnya dan mengecup puncak kepalanya. Donie merasakan tubuh Bela bergetar ketakutan.
Perlahan Donie membimbing Bela kembali ke tempat tidur. Mereka berdua duduk di tepi tempat tidur. Donie masih memeluk pinggang Bela dan Bela menyandarkan kepalanya di dada kekasihnya. Bela sedikit merasa lebih aman dan tenang.
“Kamu tidur di sini aja, mas.”
“Iya.”
“Tidur sana. Aku mau ke kamar mandi.”
Bela naik ke tempat tidur dan mencoba tenang. Pikirannya masih belum stabil.
Sementara di dalam kamar mandi.
Ah, sial. Kenapa Bela pakai baju seksi banget.
Donie keluar dari kamar mandi dengan wajah kusut. Ia melihat Bela di atas tempat tidur, tanpa selimut.
Bela terkesiap dengan ucapan Donie. Baru saja dirinya tersadar bahwa pakaiannya ini terlalu tipis dan seksi. Ia segera bersembunyi di balik selimut. “ Maaf mas. Aku tidak tahu kamu bakalan datang ke sini.”
“Sudahlah, aku tidur di sofa saja.”
“Mas.... di sini saja. Kalau aku mimpi buruk lagi bagaimana?” Kata Bela lagi dengan polosnya.
Bisa-bisa gue tidak tidur semalaman kalau begini caranya, batin Donie. Ia menghempaskan tubuhnya di tempat tidur, di samping Bela. Bela memberi batasan dengan menyusun dua bantal di tengah-tengah mereka. Donie sedikit geli melihat tingkah Bela.
Mata Bela terpejam, ia berusaha tidur, namun ada hal aneh yang melintas di pikirannya. Ia bukanlah seorang wanita yang bisa menahan diri untuk bertanya.
“Mas, sudah tidur?”
“Hemmm.... belum.”
“Mas pernah tidur sama perempuan?” Inilah yang mengganggu pikiran Bela. Entah kenapa, tiba-tiba saja terbayang sosok Donie dengan perempuan yang meliuk-liuk di atas tempat tidur. Dan itu sangat mengganggunya.
“Maksud kamu, tidur begini?”
“Bukanlah.... kamu tahulah maksudku apa. Masa harus aku jelasin sih?”
“Eh.... apa? Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan itu?”
“Aku penasaran. Aku juga mau tahu, apa calon suamiku pernah tidur dengan perempuan sebelumnya.” Bela baru tersadar dengan ucapannya, calon suami. Ia sendiri geli mendengar dua kata itu keluar dari mulutnya.
Donie terdiam. Tidak ada satu katapun keluar dari mulutnya. Tiba-tiba saja bibirnya terkunci. Ingin sekali ia menghindari pertanyaan itu. Kalau bisa, ia ingin segera pergi dari kamar ini. Atau sekiranya mungkin ia ingin menenggelamkan dirinya di balik tumpukan bantal.
“Kalau tidak mau jawab ya sudah. Aku tidak memaksa.” Bela berubah haluan, menghadap ke dinding dan membelakangi Donie. Karena mereka memakai satu selimut, tentu saja selimut yang ada di tubuh Donie ikut tertarik ke arah Bela.
“Bel.... selimutnya jangan ditarik semua. Aku tidak kebagian.”
“Nih....” Bela mendorong selimutnya ke arah Donie dengan kasar.
“Maaf Bela, kamu harus mendengar ini. Aku rasa kamu tidak akan senang mendengarnya.” Donie memberi jeda ucapannya dengan menarik nafas dalam-dalam. Berat baginya untuk bercerita. Belum lagi mulai bercerita, Bela sudah ngambek seperti ini, apalagi jika ia berkata jujur.......
“Aku pernah melakukannya dulu sekali. Itu dulu sekali, Bela. Sudah lima tahun lebih aku berhenti. Aku ingin hidup lebih waras dan bertemu dengan wanita baik-baik.”
Bela sudah membayangkan akan jawaban Donie. Namun tetap saja dadanya terasa sakit. Walaupun itu semua dilakukan pada masa lalu, jauh sebelum mengenal Bela, tetapi rasa cemburu berkobar di hatinya.
“Bel.... Bela.... sayang. Kamu masih mendengarkan?”
Bug.... sebuah bantal menghantam perut Donie. Serba salah rasanya mengikuti kemauan wanita ini. Dijawab jujur, salah; tidak dijawab jujur, lebih salah. Wanita yang selalu benar, batin Donie. Ia diam saja menerima amukan Bela.
“Berapa kali kamu pacaran sebelum denganku?”
“Dua kali.”
“Dua-duanya kamu tidurin?”
“Ehm...... i.... iya.”
“Terus dengan perempuan lain pernah?”
“Pernah, beberapa kali ......One night stand, Bela.”
“Beberapa kali itu, tidak jelas. 10 kali, 20 kali, baru jelas.”
“Maaf sayang. Aku tidak ingat.....Aku tidak pernah menghitungnya. Maaf aku memang bukan lelaki baik-baik.”
“Aku baru tahu ya mas. Kamu parah, ternyata kamu sama sekali bukan tipe pemilih.”
“Bela, sekali lagi maaf. Itu masa laluku yang tidak bisa aku ubah. Aku hanya berharap kamu mau menerima aku apa adanya, bahkan dengan masa lalu yang seperti itu. Aku tidak akan melakukannya lagi sebelum menikah. Dan hanya denganmu, tidak akan ada yang lain. Aku berjanji Bela.”
Bug....bug....bug....
Bela kembali memukuli Donie dengan bantal. Hatinya kesal luar biasa. Tadi sore adalah saat yang paling indah baginya, namun malam ini justru menjadi malam yang menyebalkan. Dan hanya satu orang ini yang menyebabkan hatinya mengubah mood dengan cepat.
“Bela... jangan ngamuk dong sayang. Dengarkan aku dulu.”
“Iya, aku sudah dengar. Aku maafkan, walaupun tidak iklas.”
“Yah, tidak papa deh walaupun belum iklas sekarang, yang penting dimaafkan. Lamaranku tetap kamu terima yah.”
“Iya......tapi aku masih ingin memukulmu lagi, sampai puas.”
Bug....bug....bug.......
Donie pasrah menerima pukulan bantal dari Bela. Setelah memuaskan kejengkelannya, Bela merasa lelah. Ia kembali meluruskan tubuhnya di tempat tidur. Menyadari gadisnya mulai tenang, Donie kembali berbicara.
“Kamu ternyata berbakat jadi preman, sayang. Oh iya Bel,... besok pagi kalo udah bangun, jangan kentut ya Bel.”
Bug...bug.... pukulan bantal kembali bersarang di perut Donie.