
Hilda mengalihkan pandangannya sejenak dari tumpukan pekerjaannya. Diputuarnya kursi menghadap Bela, “Sstt....Bela.... kamu jelaskan dong kepadaku. Sebenarnya apa hubunganmu dengan pak Donie? Apakah benar yang dibicarakan orang-orang bahwa kamu menjalin hubungan khusus dengan pak Donie?”
Sontak Bela terkejut dengan pertanyaan Hilda. “Eh, kata siapa mbak Hilda?”
“Seluruh isi kantor membicarakanmu. Aku juga melihatmu sewaktu acara ulang tahun kantor. Pak Donie dan kamu selalu berdua. Benar tidak Bela?”
Bela memilin-milin ujung bajunya. Ia bingung jika Hilda bertanya lebih jauh, apa yang akan dia jawab. Sebetulnya Donie tidak ingin menyembunyikan hubungan mereka, hanya Bela saja yang belum siap menghadapi reaksi karyawan-karyawan kantor. “Waktu itu tugasku memang mendampingi pak Donie, mbak. Ingat kan mbak?”
“Iya juga. Dan kemarin kamu pergi dinas luar dengan pak Donie ke Jogja. Jadi?”
“Kami bertiga lho mbak. Pak Reino juga ke sana.”
“Oh.... iya.” Hilda mengangguk-angguk dan berpikir, mungkin memang harus seperti itu.
“Kalau kita ngobrol terus seperti ini, bakalan lembur deh. Sudah mbak, nggak usah dipikirin omongan orang.” Bela kembali menghindar dari pertanyaan-pertanyaan yang sekiranya akan dilontarkan Hilda.
“Iya juga sih. Kamu belum punya pacar kan Bel?”
“Oh, aku sih sudah punya pacar, mbak.”
“Sebentar, sini.... sepertinya ada yang berbeda. Cincinmu lho.... bagus banget. Mahal pastinya. Baru hari ini aku lihat. Dari pacar kamu Bel?”
“Iya.” Jawab Bela singkat. Tapi ia tidak lagi meladeni pembicaraan Hilda. Ia segera duduk di dalam kubikelnya dan mulai mengetik di laptopnya.
Aduh, beruntung mbak Hilda tidak bertanya lagi.
Kalau Bela sudah punya pacar, tidak mungkin dong, pak Donie mendekati Bela?Pikir Hilda.
“Pak Donie belum datang?” Hilda bertanya sembari bekerja.
“Belum mbak. Tadi katanya sekitar jam sebelas baru bisa datang. Lagipula beliau tidak ada acara pagi ini.” Jawab Bela.
“Oh, ya sudah. Aku tadi mau minta tanda tangan berkas ini. Nanti siang saja deh.”
***
Bela mengambil ponsel yang ada di mejanya. Dilihatnya waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 “Mbak, makan dulu yuk.... sudah waktunya makan siang. Pak Donie juga belum kelihatan, jadi kita bisa pergi berdua.”
“Iya Bel, perutku juga sudah berbunyi sejak tadi. Kita makan soto ayam di kantin yuk.” Ajak Hilda. Akhir-akhir ini Hilda makan siang sendiri karena beberapa hari ini Bela tugas luar. Ia merasa senang karena hari ini mereka berdua dapat pergi ke kantin bersama.
“Ayo mbak. Ternyata pikiran kita sama yah. Soto ayam.”
“Hehe... iya.”
Hilda dan Bela berjalan melewati beberapa karyawan kantor untuk menuju lift. Mereka turun ke lantai 1 melalu lift. Nampaknya para wanita di kantor tidak henti-hentinya membicarakan tentang Donie dan Bela. Ketika Bela melewati para wanita itu, mereka berbisik-bisik dengan mata melirik ke arah Bela. Terutama, para wanita senior yang merasa lebih pantas mendekati Donie dibandingkan Bela.
"Sstt.... benar kan kataku. Mereka membicarakanmu." Bisik Hilda.
"Biarkan saja mbak. I don't care." Jawab Bela dengan cuek.
Bela makan siang berdua dengan Hilda di kantin kantor. Hari ini Bela ingin sekali makan soto ayam kegemarannya. Sejak di dalam kantor tadi, ia sudah membayangkan soto ayam dengan kuah panas dilengkapi kecap, sambal, dan perasan jeruk nipis. Hmmm menggiurkan sekali.
Sesampainya di kantin, mereka berdua memesan soto ayam. Beruntung sekali, pesanan soto ini tidak butuh waktu lama untuk menyiapkannya. Tidak sampai lima menit, pesanan Bela dan Hilda telah terhidang di hadapannya.
“Mbak Hilda, soto ini membuatku selalu kangen makan di sini. Hemmm menggugah selera.”
“Iya Bel. Kantin ini memang andalannya soto ayam spesial ini. Rasanya sangat khas, berbeda dengan soto ayam biasanya.” Ia menuangkan kecap dan sambal ke dalam mangkuknya.
“Iya mbak. Setuju aku. Mungkin ada bumbu khususnya ya mbak.”
“Hihi... mungkin juga.”
Mereka berdua menyantap soto dengan lahap.
Ketika Bela dan Hilda sedang menyantap makanan di kantin, ada tiga orang wanita menghampirinya. Ketiganya memakai pakaian yang kantor yang terlihat agak minim dan seksi. Mereka bertiga merupakan pegawai kantor Grup Sinar Wijaya yang telah cukup lama bekerja di sana. Dan yang perlu diketahui, mereka bertiga masih berstatus
Nila yang langsung mengambil kursi di hadapan Bela dan duduk di sana. Sementara dua wanita yang lain berdiri di belakang Nila.
Nila menjentikkan jarinya di depan wajah Bela yang sedang menyantap makanannya. Ia bermaksud mengalihkan perhatian Bela dari acara makan siangnya, “Hei... pegawai kontrak.. jangan sok cantik deh.”
“Iya, jangan kecentilan.” Neli menimpali dengan berkacak pinggang.
“Maksud mbak-mbak apa ya?” Tanya Bela keheranan. Ia sangat jengkel karena makan siangnya terganggu.
Daniati mengacungkan telunjuknya ke arah Bela, “Kamu, nggak usah deketin pak Donie.”
“Kata siapa saya deketin pak Donie? Mbaknya salah lihat kali.” Bela malas menjawab sebenarnya.
Nila menyahut dengan jutek. “Nggak usah ngeles deh. Kamu kan yang suka gandeng tangannya pak Donie, terus nempel dia terus di mana pun.”
Hilda mencoba menengahi ketegangan itu, “Mbak-mbak, tolong jangan buat keributan deh. Ini di kantin. Nanti banyak yang menonton kita. Jangan bikin malu, mbak. Sudah ya.”
“Hilda, kamu juga tidak usah ikut campur!” Nila langsung membentak Hilda, diiringi dengan pelototan kedua wanita yang berdiri di belakangnya. Hati Hilda langsung ciut melihat ketiga seniornya itu.
Nila memegang dagu Bela dan mencengkeramnya, “Eh, kamu kalau mau deketin dia, harus lewat kami dulu.”
Bela segera menepis tangan Nila dan berdiri, “Maaf ya mbak. Saya tidak mengerti maksud mbak sekalian. Bikin saya tidak selera makan lagi. Cih...”
“Eh.... kamu mau cari masalah?” Kata Nila lagi.
“Sudah-sudah, jangan bikin ribut. Bisa jadi tontonan kita nanti.” Walaupun agak takut, Hilda mencoba lagi untuk menghentikan pertengkaran. Ia tidak ingin karyawan lain melihat pertengkaran antara mereka.
Hilda segera menarik lengan Bela, membayar soto dan mengajak Bela meninggalkan kantin.
“Awas kamu!!!” Ancam Nila dengan mengepalkan tangannya ke arah Bela.
“Ayo kita tinggalkan ketiga orang gila itu, Bel. Tidak ada gunanya bertengkar dengan mereka.”
Bela mengikuti Hilda berjalan kembali ke kantor, walaupun hatinya masih jengkel dengan ketiga orang itu.
Kalau tidak ada mbak Hilda, ketiga orang itu sudah kutinju. Aku tidak akan diam saja kalau mereka menggangguku lagi.
“Mbak, Nila dan dayang-dayangnya itu memang suka cari ribut ya?”
“Iya, mereka sering cari masalah. Terutama kalau ada yang dekat dengan pak Donie, pak Reino, dan pak Andrianto yang tampan.”
“Sebegitunya mbak?”
“Iya, hindari saja kalau kamu bertemu dengan mereka. Sudah banyak korbannya.”
“Hemmm.... harusnya diberi pelajaran mereka itu mbak. Dasar nenek lampir !!”
“Sudah, tidak usah diambil hati. Anggap saja angin lalu.” Hilda teringat, dirinya juga pernah menjadi korban pembulian mereka bertiga ketika baru saja ditempatkan menjadi sekretaris pak Reino beberapa tahun yang lalu. Beruntung dia tidak sampai mengalami kekerasan fisik dari ketiga nenek lampir itu.
Bela belum tahu, betapa menjengkelkannya mereka bertiga.
GUYS, JIKA KALIAN SUKA, JANGAN LUPA YA BERI :
Komentar
Like
Favorit
Tip
Vote
TERIMA KASIH SUDAH MAMPIR