
Setelah melihat Irawan Sanjaya di rumah sakit, Donie bertolak menuju makam ibu kandungnnya. Wiliam memberikan informasi mengenai ibu kandungnya tadi pagi.
Kini Donie telah berada di sebuah pemakaman umum, di salah satu sudut kota Bandung, tempat ibu kandungnya
dimakamkan. Sebelumnya ia sempat menanyakan kepada juru kunci untuk menunjukkan lokasi makamnya. Terlihat sebuah makam terawat dengan rumput menghijau di sekitarnya.
Donie berjongkok, mengusap batu nisan itu. Ia meletakkan serangkaian bunga di atasnya. Indah Berliana, begitu nama yang terpatri di batu nisan itu, berumur 30 tahun saat meninggal. Sejenak Donie memanjatkan doa-doa untuk ibunya. Kemudian ia memegang makam itu dan berbicara di dalam hatinya.
Ibu, maaf aku baru bisa mengunjungimu. Aku baru mengetahuinya hari ini. Ibu, aku merindukanmu. Hidup ibu sungguh berat. Aku tidak dapat membayangkannya. Namun aku sangat bangga dan berbahagia, ibu memilih
untuk mempertahankan aku dan mencintai aku sehingga aku masih bisa hidup sampai saat ini. Aku tidak bisa membayangkan seandainya pada saat itu, ketika ibu menghadapi hidup yang berat, ibu memilih untuk tidak mempertahankan aku. Terima kasih ibu, untuk cintamu yang begitu besar kepadaku. Untuk segala yang telah dilakukan ayah, kiranya ibu dapat memaafkannya. Aku juga masih berusaha berdamai dengan perasaanku, ibu. Berdamai dengan apa yang telah dilakukan ayah di masa lalu. Itu semua demi membahagiakan aku, demi untuk melindungi aku, walaupun jalannya keliru. Semoga sekarang ibu telah berbahagia di surga. Aku mohon doamu juga ibu, untuk kehidupanku yang akan aku jalani selanjutnya. Aku menemukan calon pendamping hidup. Restui kami ibu. Maaf, aku belum sempat mengajaknya menemui ibu. Aku berjanji, lain kali, ia akan kuajak. Ibu, aku pamit. Sekali lagi terima kasih untuk semuanya.
Tanpa disadari, setetes air meluncur dari mata bening Donie Wijaya. Ia menundukkan kepala, mencium nisan dan beranjak dari duduknya. Ia membayangkan mencium ibunya yang tidak ia kenali wajahnya. Namun perasaannya terasa lebih lega sekarang. Kini ia akan kembali ke Jakarta dan membereskan semua masalahnya.
***
Pukul delapan malam ketika Donie sampai di apartemennya. Ia membuka pintu apartemen. Dilihatnya keadaan yang gelap, tidak ada satu pun lampu yang menyala. Ia memeriksa di setiap ruangan, berharap menemukan Bela di suatu tempat. Namun tidak seorangpun yang ia dapatkan.
Kemana Bela? Sudah malam seperti ini belum pulang juga. Apakah ia masih berada di kantor? Atau ia ada acara lain? Mengapa ia tidak menghubungiku? Apakah ada sesuatu yang dihadapinya?
Berbagai pertanyaan terlintas di benak Donie. Perasaan khawatir mulai merambati hatinya. Ia segera mengambil ponsel dari kantong celananya dan menghubungi Bela.
Ddrrtt..... ddrrtt.....
“Hallo...” suara Bela menyapa dari seberang sana.
“Hai sayang, kamu di mana?” Tanya Donie.
“A...aku ada di rumahku mas.” Kata Bela dengan gugup.
“Kenapa tidak memberi kabar, sayang?” Donie heran dengan sikap Bela yang tidak seperti biasanya.
............
Hening sejenak tidak ada jawaban. Donie cukup peka dengan apa yang ada di pikiran Bela. Kemungkinan
Bela berkutat dengan pikiran-pikaran buruk. Namun ada yang ia khawatirkan, yaitu Bela berpikir untuk meninggalkannya. Sesuatu yang sangat tidak diharapkannya.
“Sayang, do you leave me?”
“...... mas, maaf..... hiks....”
“Bela...., listen to me, please. Stay with me...... Bela....” Donie memohon. Ia ingin mendekap gadisnya itu dan memeluknya erat sehingga Bela tidak pernah berpikir untuk meninggalkannya.
“Hiks.....aku butuh waktu untuk berpikir, mas. Tolong biarkan aku malam ini. Sebentar saja.”
“Bagaimana dengan besok?”
“Besok, aku akan masuk seperti biasa ke kantor. Kita bicara besok.”
“Sayang, tolonglah, jangan berpikir yang tidak-tidak. Jangan kembangkan pikiran negatif itu. Aku mengerti yang kamu khawatirkan. Itu tidak akan mengubah apapun. Dengar sayang, I will always love you.”
“Mas, kita bicara besok yah....”
Donie meletakkan ponselnya di atas meja dengan kasar. Ia meremas rambutnya dan menghempaskan
tubuhnya ke atas sofa. Ia merasa lelah. Lebih tepatnya hatinya merasa lelah. Ia berharap malam ini bertemu dengan gadisnya dan dapat mengurangi sedikit kekacauan hatinya. Namun harapannya tidak terwujud. Ia menghela nafas kecewa. Kemudian dinyalakannya musik. Ia beranjak menuju pantry hendak mengambil minuman. Terdengar
lagu Taylor Swift dan Zayn Malik. Namun rasanya lagu itu menampar hatinya.
...........
Baby, baby, I feel crazy, up all night, all night and every day
Give me something, oh, but you say nothing
What is happening to me?
I don't wanna live forever, 'cause I know I'll be living in vain
And I don't wanna fit wherever
I just wanna keep calling your name until you come back home
I just wanna keep calling your name until you come back home
I just wanna keep calling your name until you come back home
I'm sitting eyes wide open and I got one thing stuck in my mind
Wondering if I dodged a bullet or just lost the love of my life
Baby, baby, I feel crazy
Up all night, all night and every day
I gave you something, but you gave me nothing
What is happening to me?
I don't wanna live forever, 'cause I know I'll be living in vain
And I don't wanna fit (fit, babe) wherever (wherever)
I just wanna keep calling your name until you come back home
I just wanna keep calling your name until you come back home
I just wanna keep calling your name until you come back home
...........
Donie duduk bersandar di sofa, meletakkan kakinya di atas meja, menikmati minumannya dan kegundahan
hatinya. Tangan kanannya memegang minumannya dan tangan kirinya memijat-mijat pelipisnya. Kepalanya serasa ingin meledak. Ia masih menggunakan pakaian kerjanya. Malam ini ia hanya berharap agar cepat berlalu. Ia ingin segera mendapati hari esok dan berharap semua akan baik-baik saja esok hari.