
Ruangan Donie masih kosong, Bela baru saja meletakkan berkas di meja Donie.
Ceklek....
Pintu ruangan terbuka, dilihatnya Donie memasuki ruangan sembari menenteng tas kerjanya.
“Mas. Ini berkas untuk kegiatan hari ini. Sudah aku beri tanda.”
“Ya sayang.” Donie lalu duduk di kursinya. Bela masih berdiri di samping Donie.
Kring...kring...telepon di meja Donie berbunyi.
“Ya Hilda.”
“Pak, ada pak Thomas, ingin bertemu bapak.”
“Oh ya, suruh masuk.”
Donie meletakkan gagang telepon dan segera menarik Bela untuk bersembunyi di bawah kolong meja kerjanya.
“Apaan sih mas?” tanya Bela.
“Ssst... jangan berisik. Diam di situ.” Jawab Donie pelan dengan satu jari telunjuk di depan bibirnya. Bela menuruti perkataan Donie dengan bersembunyi di kolong meja walaupun sebenarnya hatinya bertanya-tanya.
Ceklek....suara pintu dibuka.
“Selamat pagi om.” Sapa Donie. Ia mencoba untuk bersikap biasa saja setelah memasukkan laporan ke pihak kepolisian. Pamannya ini mempunyai banyak orang suruhan, tetntu saja ia sudah mengetahui laporan itu.
Thomas mendekati Donie yang sedang duduk di balik meja kerjanya. Jari telunjuknya diarahkan kepada Donie ketika berbicara. “Donie.... jangan berbuat sembrono. Cabut kembali laporanmu. Aku tahu kamu telah melaporkan aku kepada pihak kepolisian. Kamu tidak tahu apa-apa tentang yang aku lakukan Don....”
“Tenang om, silahkan duduk. Om.... tentang itu. Seseorang harus bertanggung jawab dengan apa yang telah dilakukan, Om.” Donie mencoba menenangkan pamannya ini.
“HENTIKAN!!!” Bentaknya. Matanya membulat lebar, rahangnya mengeras dan kedua tangannya mengepal. Tatapan matanya berapi-api ke arah Donie.
“Maaf om, aku tidak bisa.” Donie menggelengkan kepalanya. Ia masih duduk di kursinya.
Thomas mengusap wajahnya dengan tangannya. Ia tampak frustasi menghadapi keponakannya ini. “Don, kamu tidak tahu. Berapa banyak yang telah aku perbuat untuk meluruskan jalanmu? Untuk mempermudah kau mendapatkan posisimu? Untuk memberikan fasilitas dan pendidikan terbaik untukmu?” Nada bicaranya tidak lagi meledak-ledak seperti tadi. Ia terduduk di sofa besar yang terdapat di ruangan itu.
“Apa maksud om?”
“Berbaik hatilah dengan membalas apa yang sudah kulakukan padamu, Don. Hentikan penyelidikanmu dan cabut laporanmu.” Thomas kembali meminta kepada Donie.
“Om adalah orang yang selalu aku hormati, yang selalu membantu aku mengurus perusahaan papi. Tapi aku tidak terima dengan apa yang telah om lakukan terhadap papi dan perusahaan ini. Aku ingin menjaga apa yang sudah papi perjuangkan, om. Dan aku tahu, om yang membuat papi tidak ada di dunia ini. Sebaiknya om mempertanggung jawabkan perbuatan om selagi masih sempat bertanggung jawab di dunia ini..”
“Lancang sekali kau Don. Papi...papi.... dia bukan ayahmu.” Nada suaranya kembali meninggi. Ia sangat tidak suka Donie mengatakan bahwa Steven adalah ayahnya.
“Dia ayah yang aku kenal seumur hidupku, om.”
“Pikirkan baik-baik. Steven ayah angkatmu. Aku menyingkirkan Steven, adiknya bahkan keponakanku yaitu anak kandungnya sendiri hanya untuk mengusahakan kamu aman berada di perusahaan ini.”
“Apa?” Donie merasa pusing. Ia mengubah posisi duduk di kursi kerjanya. Yang ia tahu melalui Wiliam, pamannya ini membunuh ppinya, tapi ia tidak tahu bahwa pamannya ini juga yang menghilangkan nyawa adik papinya dan Donita saudaranya.
“Apa maksud om?” Tanya Donie lagi, masih tidak percaya.
“Aku melakukannnya untukmu Don.”
“Karena kau hanya anak angkatnya. Bisa saja saudaranya mengambil alih perusahaan atau anaknya si Donita itu. Dan yang lebih tepatnya karena aku menyayangimu.”
“APAAA???” Donie semakin pusing mendengarnya. Ia menarik rambut dengan kedua tangannya. Diusapnya wajahnya dengan kedua tangannya. Ia tak habis pikir dengan apa yang dikatakan pamannya. Berarti Om Thomas yang telah menyebabkan kecelakaan yang menyebabkan kematian papi dan adik papinya. Donie masih berusaha memahami apa yang dipikirkan pamannya ini.
“Donie, kamu itu anak kandungku.”
“A...a...pa om?” Donie terhenyak mendengar pengakuan pamannya. Ia memutar kursinya sembari meremas kepala dengan kedua tangannya. Serasa petir di siang bolong, ucapan pamannya ini.
“Iya, kamu adalah anak kandungku.”
“Bohong..... om tidak sedang bercanda kan?”
“Huh... untuk apa aku bercanda, sementara sebentar lagi kau akan menggiringku masuk ke dalam jeruji besi? Memenjarakan ayah kandungmu sendiri.”
Donie semakin tidak percaya dengan pamannya ini. Ia merasa apa yang diucapkan pamannya semakin kacau. Tidak mungkin benar. “Tapi... bukankah aku diadopsi dari panti asuhan dan om tidak pernah mempunyai istri?”
“Iya. Aku yang menitipkan kamu di panti asuhan. Karena ibumu menderita sakit parah dua tahun setelah melahirkanmu. Aku jadi mempunyai ide untuk memasukkanmu ke dalam lingkungan keluarga Wijaya, mengingat statusmu yang tidak jelas waktu itu. Aku dan ibumu tidak pernah menikah. Aku meninggalkannya saat dia mengandungmu. Aku tidak siap untuk menerimanya sebagai istriku. Tetapi setelah dia melahirkanmu, dan ternyata dia menderita sakit kanker, aku memutuskan untuk merawatnya. Sementara kamu, aku titipkan di panti asuhan. Hampir selama delapan tahun ibumu berjuang untuk melawan kankernya. Pernah dinyatakan sembuh, namun penyakit itu kembali datang. Aku mengusahakannya berobat di rumah sakit terbaik di luar negeri dan di dalam negeri. Aku berjanji, jika dia sembuh, akan kunikahi dan kuajak hidup bersama dan membahagiakannya. Tapi akhirnya ia menyerah. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuanku saat melakukan pengobatan
terakhir kali di Singapura. Aku mulai menyingkirkan satu per satu orang-orang yang kira-kira akan menghambatmu menjadi pewaris tunggal kerajaan Wijaya. Beruntung Steven dan Lidya tidak mencari sendiri anak untuk diadopsinya. Mereka berdua mempercayakannya kepadaku. Jadi aku bisa menitipkanmu sebagai pewaris tunggal kerajaan Wijaya....hahaha.... tapi...”
“Stop om. Aku tidak percaya semua yang om katakan.” Donie memotong pembicaraan pamannya.
“Terserah padamu. Huh.... akhirnya aku dipenjarakan oleh anak kandungku sendiri.”
Donie terhampas lemas, duduk di kursinya. Kepalanya serasa akan pecah dengan pikiran-pikiran yang lalu lalang di otaknya. Ia menjadi sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia tidak lagi menghiraukan pamannya yang telah pergi meninggalkan ruangannya. Kenyataan ini sangat tidak diduga. Tapi ia berusaha untuk tidak begitu saja percaya dengan apa yang telah diucapkan oleh pamannya. Ia harus tetap melakukan penyelidikan. Apakah memang benar pernyataan dari pamannya tadi. Atau pamannya hanya mencoba menggoyahkan niatnya supaya mencabut laporan.
Oh Tuhan.... kenyataan apa ini? Kenapa aku harus melihat kebenaran ini? Ternyata ayah kandungku yang membunuh papi, om, bahkan saudaraku.
Ah, menjengkelkan sekali......
Donie mengumpat sumpah serapah dalam hati. Dilemparnya barang-barang yang berada di atas mejanya ke segala arah. Hatinya sangat kacau. Lalu digebraknya meja dengan sekuat tenaga.
“AAAAAA......” Bela memekik kaget mendengar suara gebrakan di meja. Tampaknya Donie lupa bahwa Bela masih berada di kolong mejanya.
Bela keluar dari kolong meja. Kedua tangannya disilangkan di dadanya. Ia masih gemetar karena terkejut. Ia pun merasa sangat takut melihat ekspresi wajah Donie yang tegang.
Ketika melihat Bela keluar dari kolong meja, Donie sedikit terkejut. Ia melupakan kekasihnya yang bersembunyi. Tetapi ia merasa sedikit tenang demi melihat wajah Bela.
“Mas baik-baik saja?” Bela mengusap-usap bahu kekasihnya.
“Bela aku tidak tahu, apakah aku harus mempercayainya.”
“Aku merekam semua pembicaraan tadi menggunakan ponselku, mas. Mungkin suatu saat dibutuhkan.”
“Bela, aku butuh bantuanmu. Tinggalah di sisiku.”
Apakah mami perlu mengetahui semua kenyataan ini?
Aku tidak bisa membayangkan reaksi mami jika mendengar berita ini.
***
Hilda melihat Thomas yang keluar dari ruangan Donie dengan wajah merah dan semrawut. Ia sempat mendengar bunyi barang-barang dilempar dan teriakan-teriakan dari ruangan Donie pada saat presiden direktur itu sedang berada di ruangan Donie.